Waveboard dan Peri Angin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 21 June 2017

“JADI IKUT LATIHAN, kan?”
Sebuah pesan singkat nongol di layar ponsel. Dari Raldo, teman karibku. Otak langsung ingat janji yang terucap sore kemarin. Secepat kilat langsung loncat, mencampakkan selimut hangat di pembaringan.

“Ya. Tunggu di tempat biasa. Aku bersiap dulu ya.”
Jemari saling berpacu mengetik huruf. Klik. Pesan terkirim. Buru-buru kutuju kamar mandi, membasuh muka. Setelan olahraga terpasang memeluk badan. Langkah sigap mengarah lapangan sekolah, tempat yang dijanjikan.

HARI-HARI BELAKANGAN, hatiku meleleh tersebab waveboard. Hasratku tak mampu dibendung untuk tidak menungganginya.
Namaku Boy Sandika. Aku baru pindah sekolah ke kota ini, mengikuti ayah yang bulan lalu dipindahtugaskan untuk mengurus perusahaan yang tegak di pulau Batam ini.

Di sebuah petang, menjelang senja, kukayuh sepeda berkeliling komplek perumahan. Sepeda membawaku mendekati lapangan sekolah yang memang adanya tidak jauh dari rumah. Tak sengaja, bola mata bertaut melihat kawan sebaya di lapangan sekolah sedang meluncur kesana kemari. Memikat hati.
Kubawa sepeda mendekati bibir lapangan. Permainan skateboard-kah ini? Hati berkata. Ah, bukan. Ini bukan skateboard. Aku kenal skateboard, memiliki satu papan dan empat ban. Tapi benda ini memiliki dua papan dan dua ban.

“Kalian sedang surfing ya?!” tanyaku dibarengi sedikit tawa. Sontak anak-anak yang tengah nikmatnya bermain berhenti. Menatapku sejenak. Mereka terkikik bak kuda di pacuan. Tapi bukan mengejek.
“Betul, Boy. Lagi surfing” lelaki berbadan bongsor menjawab sekenanya dan kembali bersiap meluncur mengitari lapangan.
“Skateboard?” ucapku hampir tak terdengar.
“Bukan. Ini waveboard namanya. Kau mau main?” anak gempal itu menawarkan.
Hmm… Waveboard?
“Thank’s. Pinjam dan ajarin ya!” senyum renyah, menerima tawaran. Dengan senang hati bocah berkaos hijau meminjamkan waveboardnya. Sesuai petuah yang diwejangkan, perlahan kutempelkan kaki kiri di papan bagian depan. Sementara kaki kanan menyiapkan diri mendorong dari belakang.

Deg-degan. Semua menahan napas melihat aksi yang hendak kutampilkan. Kurasakan aura sekitar mulai tidak nyaman. Keringat dingin bergulir membanjiri tubuh. Aku gugup. Kuakui, aku belum pernah memainkan papan seluncur yang satu ini.

“Satu… Dua… Tiga… Ayo, Boy!” koor serempak.
“Waduh!” Aku merintih. Papan gagal meluncur. Menabrak tembok pembatas taman sekolah. Semua menolongku berdiri. Kucoba bangkit lagi. Kembali kutempelkan kaki kiri di papan bagian depan, dan kaki kanan siap mendorong dari belakang. Papan sedikit mendapat dorongan, dengan gegas kunaikkan kaki kanan. Kini, dua kakiku menginjak papan waveboard. Dalam posisi meluncur ke depan, kugerakan kedua kaki ke depan dan belakang bergantian. Ini menambah kecepatan laju waveboard. Begitulah berulang, hingga candu memainkan waveboard melekat dalam diri.

Waktu bergulir. Tiada terasa, senja membayang di ufuk barat. Samar-samar terdengar azan menggema.
“Allahu Akbar… Allahu Akbar!” Magrib memanggil. Inginku melanjutkan permainan ini, tepatnya latihan. Tapi tak bisa. Kupasang tampang kecewa. Raldo, lelaki itu serius membaca raut kecewa yang hinggap di wajah.
“Don’t be sad Boy! Besok kan minggu. Paginya kita latihan, gimana?” Raldo menghibur. Aku mengangguk, menurut bagai kanak-kanak habis kehilangan mainan.

Seperti malam yang lain, menjelang lelap di pembaringan, ayah bakal mendongeng untukku.
“Kamu tahu Peri Angin?” perlahan ayah membuka buku dongeng yang hendak disajikannya malam ini. Sejenak menatapku lekat. Mataku nyalang diikuti gelengan kepala. Ayah menyungging senyum, pertanda telah berhasil membuatku penasaran tak kepalang. 1001 Kisah Peri Angin, judul yang tertera di sampul buku.
“Peri Angin itu adalah peri kecil transparan, biasanya mereka membawa labu-labu kaca di balik pakaian yang mereka kenakan”
“Mereka bertugas meniupkan isi labu-labu kaca itu ke seluruh tempat di bumi ini. Peri angin ini bisa terbang dengan sangat cepat lho!” anganku membara, membayang peri melayang-layang di udara, serupa dengan kisah ayah. Bertemu dengan peri tersebut, itulah kehendak hatiku.
“Apa isi labu itu dan untuk apa mereka meniupkan isi labu itu ke bumi, Yah?” penasaran makin menggelayuti rasa yang kupunya.
“Macam-macam isinya, ada beragam macam bibit tanaman dan bunga, suara merdu hewan, hingga pasir berwarna keemasan”
“Semua itu dimaksudkan agar bumi dapat ditumbuhi beragam tanaman dan bunga, hingga keindahan serta kedamaian menghiasi planet kita ini” kisah ayah berlanjut hingga kelam pekat mendekap malam sampai lelapku menemani, tak sadarkan diri dibuai mimpi.

Pagi yang cerah. Mentari memamerkan senyumnya yang merekah tiada terkata. Ramai orang membanjiri lapangan sekolah, lapangan yang ada di halaman sekolahku. Kebanyakan mereka melepas penat usai jogging berkeliling komplek dan lapangan ini. Lapangan yang cukup luas. Biasanya digunakan warga sekitar komplek buat olahraga, terutama hari libur seperti hari minggu ini.

Usai subuh tadi, telah kuinjaki kaki di lapangan ini. Ku berlari membawa waveboard menempel di bagian kiri kaki. Kaki kananku mulai mendorong papan dari belakang. Meluncur mengejar angin. Aku gegas berdiri di atas papan dan mencoba menyeimbangkan posisi agar tubuhku tidak jatuh. Sekarang, aku cuma perlu memertahankan posisiku sambil tetap mengejar angin menyegarkan badan.

Semilir angin menyapa keringat yang bergantungan di kulit. Teramat sejuk. Aku suka ini. Semangatku buncah mendorong papan waveboard.
Kurasakan ada perubahan, angin yang semula bertiup sepoi itu menjelma jadi guruh dan membentuk lorong semacam gua. Awalnya hanya bagai pusaran kecil, lalu pusaran tersebut membentuk lorong memanjang keatas dan menembus langit.

Kulihat sekitar, benda apapun yang tersentuh lorong panjang itu menjadi luluh-lantak tak beraturan. Lorong angin tersebut mengundang awan pekat dan gumpalan air. Suasana meremang. Sinar mentari terhalang pekatnya awan. Dan tetiba gelap mewujud. Tampak orang-orang yang tengah rehat tadi panik, meneriaki namaku.

“Lari… Boy! Tinggalkan waveboardmu… Puting beliung!” puluhan warga berusaha meraih tanganku, mencoba menyelamatkanku dari kejaran puting beliung. Anehnya, aku tak merasa cemas apalagi takut dengan ancaman pusaran beliung tersebut. Bahkan kudekati. Kekuatan beliung membawaku beserta waveboard memasuki lorong panjang ke atas langit. Sekali lagi, aku tak merasa cemas apalagi takut. Malah sebaliknya, menikmati ‘perjalanan ini.’

Tubuhku menghilang tertelan lorong beliung. Kudengar gemuruh angin bagai gema segerombolan tawon sedang kawin. Waveboard tak lagi hinggap di kakiku. Menghilang tak tahu tempatnya. Kucoba bertahan menghadapi amukan angin ganas ini. Tak kuasa. Beliung lebih perkasa memutarbalikan badanku, pusing kepala tak kepalang. Ingin ku memuntahkan semua isi ususku. Benar saja, semua isi perutku tumpah ruah.

Kembali kucoba bertahan. Kali ini, usahaku tak sia-sia. Kusentuh dinding lorong nan gelap itu, tetiba dari lorong itu, samar-samar terlihat sesosok makhluk. Kututup kelopak mata, kubuka lagi dan mencari jelas apa itu. Makhluk itu mendekat, serupa serangga, tapi berwajah manusia. Rambutnya tergerai panjang berkilau.
Di punggungnya bertengger sepasang sayap. Mata beningnya memandangku. Aku merinding. Dia tersenyum. Ya, tersenyum padaku. Ku tak percaya pandangan ini. Kugosok kelopak mata. Inikah Peri Angin yang didongengkan ayah menjelang tidurku?

Belum pernah kulihat Peri Angin. Baru kali ini. Jantung berdetak cepat. Penasaran menghampiriku. Tangan berusaha menyentuh makhluk yang tiada penat mengepakkan sayapnya itu. Makhluk itu kaget, dengan sekali kibasanku, Peri Angin menghindar. Dia berbalik dan sekejap kemudian menghilang. Kecewaku meradang.

“Hei, tunggu!” teriakku serak. Tersadar, aku telah digulung beliung. Peri Angin tiada tampak lagi. Aku terjun dari ketinggian seribu kaki. Menerobos udara. Badanku berputar-putar.
“Tolong… Tolong… Peri Angin…” tanganku menggapai-gapai.
“Peri Angin… Ja…ngan Pergi!”
Tak lama pekikanku bertahan. Bersamaan beliung yang mereda, tubuhku jatuh, kepala menabrak kerasnya lapangan sekolah. Mataku nanar. Hening. Dan semua menjadi gelap.

“Boy, Bangun!”
“Katanya mau latihan waveboard!” Ayah mengguncang tubuhku. Mata terbelalak. Kulihat ponsel. Satu pesan masuk. Dari Raldo.
“Jadi ikut latihan, kan?”

Cerpen Karangan: Danil Kampai
Facebook: Danil Kampai

Cerpen Waveboard dan Peri Angin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bermain Kasti

Oleh:
Pemanasan di halaman depan SD Kawruh 2 masih berlangsung. Bambang adalah salah satu siswa kelas III yang menyukai praktek di pelajaran olahraga. Mereka bisa belajar di luar ruang kelas

Best Friends Forever

Oleh:
“Shizuku!” Teriak seorang gadis berkucir dua, dia adalah Adine, teman Shizuku. “Ada apa?” Tanya Shizuku. “Ada lomba mengarang Cerpen. Kamu ingin ikut enggak?” Tanya Adine. “Ayo! Kita daftar ke

Finger’s Sparkle

Oleh:
Suatu hari, aku berada di sebuah ruangan di sekolah baruku. Hanya ada sekelumit sinar kecil. Itu pun hanya sebatas menerangi lorong. Di sore yang mendung ini, aku terjebak di

Sahabatku Adalah Kembaranku

Oleh:
“jangan mendekatinya nanti Tika bisa mencueki kita” “dia dijauhi ya” “dia itu sok sekali ya mentang mentang anak orang kaya” “betul makanya aku gak mau temenan samanya bisa bisa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *