Yuki Onna

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 21 April 2016

“Shinjuku, shinjuku.. Terima kasih sudah memakai jasa kami semoga hari Anda menyenangkan.”

Jam bundar raksasa berwarna putih yang menggantung tepat di dinding tengah stasiun berdetak dengan keras. Jarum jam menunjukkan pukul 22.25. Ryu, pria yang baru saja pulang bekerja karena lembur itu terdiam. Dengan napas memburu di musim dingin yang menusuk hingga tulang. Ia berjalan menuju mesin minuman. Berniat memilih kopi agar tubuhnya terasa sedikit hangat. Ia bergerak sesuka hatinya di stasiun yang sudah sangat sepi itu, ia masih malas untuk berjalan pulang ke apartemennya. Apalagi cuaca buruk memaksanya agar bermalas-malas di stasiun.

“Mungkin.. Akan datang badai.” gumamnya pasrah. Srek, tersentak ia yang mendengar suara kaki terseret pun memekik pelan. Ia berpikir sejenak sebelum menoleh. “Kenapa ada suara kaki? Ada penumpang lain? Di stasiun sesepi ini? Atau, “Srek.. Suara seretan kaki itu semakin keras. Ryu menoleh perlahan dengan wajah pucat. “Ha..” ia menganga. Ia berteriak seraya mundur ke belakang. Bruk! Tubuhnya menghantam mesin minuman cukup keras. Ryu mengerjapkan matanya. Ia merasakan pusing hingga pandangannya menjadi kabur. Ia pun memejamkan matanya dan tak sadarkan diri begitu saja.

“Kau tahu Yuki Onna?”
“Yuki Onna?”
“Iya, siluman salju, dia perempuan yang cantik sekali, rambutnya hitam terurai berwarna hitam berkilau, dan dia..”
“Dia apa Nek?”
“Dia akan..”
“Akan apa?”
“Membawa anak pria nakal yang berkeliaran saat salju lebat turun! Apalagi jika keluyurannya seorang diri, dia akan membawamu!”
Kata-kata sang nenek pada Ryu yang masih kecil teringat kembali. Mitos itu! Mitos yang paling Ryu tak suka karena ia jadi tak berani ke luar di malam hari. Apalagi di saat salju lebat. Tapi, kenapa setelah Ryu dewasa dan melupakannya, ia dibuat percaya dan takut lagi.

Perlahan Ryu membuka matanya yang lebar dan agak agak sipit. Ia meringis merasa sakit pada bagian punggung dan kepalanya yang terbentur. Namun yang lebih membuatnya meringis, ia merasakan dingin yang luar biasa pada sekujur tubuhnya. Ia menggigil dan membuka matanya lebar-lebar. Ia terkekeh dengan wajah pucat pasi. Tubuhnya terbaring di atas tumpukan salju di taman tengah kota, ia terperangah dan langsung duduk. Diliriknya kanan dan kiri. Ia menelan ludah getir. Ryu mematung di tempat. Cuaca ekstrim di tengah kota membuatnya tak berkutik. Angin dingin berhembus menusuk kulit. Ia melotot melihat siapa yang ada di hadapannya. Berdiri dengan anggun. Kaki-kakinya yang mulus dan pucat telanjang di atas dinginnya salju. Ryu kelabakan dengan napas sesak.

“Yu, Yuk Yuki, ”
“Yuki Onna!!”

Yuki Onna, siluman cantik dengan rambut hitam legam yang panjang terurai hingga pinggang sangat terlihat cantik nan elok, matanya yang bulat berlensa biru laut yang dalam mengandung banyak makna, kulit putih bersihnya seakan bersinar di tengah putihnya salju yang bertebaran, baju kimononya sangat tebal dan panjang hingga menapak di tanah. Kimono biru putih berwarna biru laut, namun sayang wanita cantik nan anggun ini menatap tajam ke arah Ryu seakan ingin menguburnya dengan ribuan es pecahan es yang sangat runcing. Siluman es ini tak akan ramah pada seorang pria. Konon katanya wanita berhati es ini akan membuat seorang pria mencintainya. Jika pria itu sudah benar-benar mencintai Yuki. Yuki membunuhnya dengan cara membekukan hatinya.

“Jangan bunuh aku! Ku mohon! Aku kan tak suka padamu! Aku bahkan takut padamu!” mohon Ryu dengan sangat.
Yuki melirik wajah Ryu lekat lekat, “Kita buat perjanjian,”
“Ha?”
“Aku tinggal denganmu,”
“A.. Apa? Kau gila?”
“Kau bilang aku gila? Berani sekali kau?!”
“Ah ma maaf aku tak bermaksud,”
“Dengarkan,”
“Jika kau jatuh cinta padaku, sedikit pun kau cinta padaku aku akan membekukan hatimu dengan segera, jika kau mengungkapkannya akan ku bunuh kau langsung dnegan pedang pedang esku.”
“Mengerti?” Ryu menatap Yuki dengan wajah pucat pasi. Ryu pun menjatuhkan badannya ke tumpukan salju seakan ia mati.
“Tolong,” Sejak membuat perjanjian dengan sang Yuki Onna.. Kini ia..

“Oi! Oi! Ja.. Jangan buka buka kulkasku terus!” protes Ryu yang duduk jauh dari Yuki di sudut ruang tv. Wajahnya ketakutan, namun kesal melihat Yuki yang mengeluarkan banyak es dari kulkas Ryu dengan santainya. Seakan tak berdosa, “Tak boleh? Aku gerah.” Yuki meralat dengan wajah datarnya namun suaranya menggema seisi ruangan. Ryu terkekeh. “Ti.. Tidak boleh! Kau sudah dingin untuk apa buka-buka kulkas hanya untuk mengambil es? Bikin saja sendiri!”

“Setiap orang pasti pernah kegerahan.”
“Tapi kau bukan orang! Kau bahkan siluman es!”
“Siapa yang peduli,”
“Kenapa kau mengganggu hidupku yang sudah tenang ini?!” Ryu mencakari tembok dengan miris.

Namun dengan tinggalnya siluman itu di rumahnya. Kini hidupnya yang penuh kesendirian mungkin tak terlalu sepi lagi. Ia mulai terbiasa melihat wujud Yuki yang membawa hawa dingin jika lewat di hadapannya. Atau, melihat Yuki melayang ke sana ke mari seenaknya hingga menubruk barang-barang yang ada. Setiap pagi selalu ada es di bawah kasur Ryu. Yuki yang selalu memekik keras dengan polosnya saat melihat api lalu akan melesat dengan cepat ke tempat dingin.

Tapi, Yuki yang harusnya membuat Ryu jatuh cinta tak kunjung bersikap manis atau membuat hati Ryu berbunga-bunga. Yang ada malah kelakuan-kelakuan menjengkelkan dari Yuki, Ryu berpikir dengan seksama kenapa siluman es itu tidak bertindak, “Ia terlalu polos atau apa,” gumam Ryu heran seraya membaca ulang buku mitos yang ia punya. Dalam mitos itu memang seharusnya Yuki Onna itu membuatnya jatuh cinta lalu membekukan hati Ryu hingga mati. “Ngeri juga, wanita itu..” Ryu menoleh ke arah Yuki yang duduk melipat lututnya sembari memainkan kucing milik tetangga yang berbulu tebal dan gemuk. Sesekali ia tersenyum karena kucing itu bertingkah lucu. Yuki merengek karena kucingnya hendak mencakarnya dan hampir kabur. Ryu menggeleng pasrah.

“Dengan kelakuanmu yang seperti ini saja.. Aku sudah jatuh hati.” gumam Ryu dengan suara nyaris tak terdengar. Yuki hendak menoleh. Namun, Yuki berhenti. Ia terdiam dengan bibir sedikit terbuka. Seakan ingin mengatakan sesuatu. Kucing yang Yuki pegang pun mengeong cukup keras lalu pergi begitu saja. Hembusan angin membuat Ryu tersadar dengan apa yang ia ucapkan. Ditutup mulutnya dengan rapat lalu pergi ke kamarnya dengan cepat. “Bodoh! Aku bilang apa! Jika tadi dia mendengar mungkin aku bisa mati,” Ryu membenamkan wajahnya ke bantal. “Tapi bukankah Yuki bisa membaca isi hati pria yang menyukainya?” Ryu membuka matanya lebar lebar lalu melotot dengan khawatir. “Berarti, dia tahu aku suka padanya..” bisik Ryu histeris

Tok.. Tok.. Tok.. Ryu menjerit dalam hatinya. Ia menoleh ke arah pintu nya yang terketuk, pasti Yuki! Pasti Yuki! Pasti Yuki! Aku mati aku mati!!! Ryu mendesah pelan lalu mengepal kuat kuat tangannya. “Masa bodohlah!” ia pun bangkit dan membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Benar saja Yuki yang mengetuk pintu kamarnya karena tak mungkin kucing yang mengetuk pintu. Ryu menatap Yuki senormal mungkin. Yuki yang berwajah datar pun membuka mulutnya. “Ayo bicara..” ajaknya. Ryu terdiam sejenak. Ia pun mengangguk heran. Ryu duduk di samping Yuki dengan perasaan khawatir. Namun, ia tutupi dengan senyum tak jelas. Yuki diam dan terus diam. Ia tak angkat bicara. Ryu pun akhirnya ikut diam.

“Ceritakan!” pinta Yuki tiba-tiba .
“Ha?”
“Ceritakan padaku,”
“Ap.. Apa?”
“Keluargamu, dan hidupmu.” pinta Yuki dengan mata sendu penuh arti.
Ryu berusaha mencerna permintaan Yuki itu, lalu tersenyum getir. Ia pun duduk perlahan seraya melihat ke depan mengamati kucing yang bermain ke sana-sini di halaman rumahnya.

“Ehem.. Ya..” Ryu ambil suara dan melirik Yuki sekilas karena bingung. Namun menatap wajah Yuki yang sendu ia terkekeh sesaat lalu tersenyum tipis. “Saat aku SD Ayahku meninggal dalam kecelakaan, Ibuku sakit dan meninggal 2 tahun yang lalu. Aku lebih sering diasuh oleh Nenek dan Kakekku. Aku bekerja sebagai karyawan salah satu perusahaan percetakan buku, tak ada yang istimewa dalam hidupku maksudku, ah begini saja.” Ryu menoleh ke arah Yuki. “Aku tahu kenapa kau menanyakan ini padaku..” tutur Ryu.

“Kau ingin mendengar cerita sedih dari hidupku sehingga kau bisa menjadikannya alasan agar tak membunuhku. Agar kau tak membunuhku dengan alasan kasihan.” sambungnya. Yuki mendongkak melihat Ryu dengan wajah kaget. Mata Yuki berbinar. “Jika aku harus mati hanya karena mencintai seseorang. Tak akan rugi, hidupku juga membosankan, temanku hanya kucing gemuk yang bisanya makan, keluarga pun tak ada, aku saja tak tahu tersenyum untuk siapa? Tertawa karena siapa? Bahkan, aku tak tahu harus membuat senang siapa? Tak ada orang yang bisa ku tunjukkan rasa sayang.” Ryu menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tak gatal.

“Tak bisa!” tutur Yuki marah bercampur dengan suara lirih yang ia keluarkan.
“Jika kau menyukaiku.. Kau akan beku dan mati! Mau begitu saja?!”
“Kau bodoh?!”
“Kenapa jika sudah tahu akan mati dengan hati beku, kenapa tetap membiarkanku tinggal di sini?! Kenapa tak mengusirku atau menjauh dariku sejak pertama kali bertemu!” Yuki berteriak dengan serius.

Ryu terdiam dengan wajah kaget. Namun Ryu pun tertawa. Yuki terkekeh. “Kau masih bisa tertawa? Kau pikir lucu?”
“Tidak,” jawab Ryu ramah.
“Bagaimana bila aku bertanya balik?”
“Kenapa jika sudah tahu aku akan mencintaimu. Kenapa kau tetap tinggal bersamaku? Tidak! Kenapa kau membuat perjanjian itu? Kenapa jika kau sudah tahu seorang pria akan mencintaimu dan pada akhirnya kau bunuh, kenapa kau tetap mendekati pria dan memainkan hatinya sesuka hatimu?” tanya Ryu dengan wajah prihatin. Mata sendu dan suaranya yang lantang membuat Yuki terdiam.

“Itu karena kau butuh perhatian..”
“Kau kesepian dan ingin memiliki teman hidup di dunia ini, tapi kau selalu saja membekukan pria itu lebih dulu karena kau takut, kau trauma kau tahu bahwa kau itu abadi sedangkan manusia tidak,”
“Jadi..”
“Kau takut akan kehilangan seseorang di kemudian hari, kau tak mau sendirian dan ditinggal pergi, lagi.”
“Kau memilih memerankan sang penjahat padahal kau hanya tak ingin kecewa lagi..”

Yuki terpaku. Hawa dingin di sekitar tubuhnya menghilang. Kakinya yang biasa melayang kini menapak di lantai. Ryu tersenyum dengan hangat. “Aku tak melihat wanita jahat di depanku, yang ku lihat hanya gadis polos yang menjengkelkan. Berusaha membuat orang kesal dengan berbagai cara.” Ryu tertawa pelan.
Yuki menitikkan air matanya dengan wajah tak percaya. Yuki pun menangis. Ryu menaruh telapak tangannya di kepala Yuki. “Kenapa kau sangat bodoh?” Yuki menangis seraya mengelap air mata dan ingusnya dengan lengan kimononya. Ryu tersenyum lega, “Aku baru tahu siluman ber-ingus,” gumamnya.

Angin musim semi pun berhembus. Wangi bunga-bunga memenuhi halaman itu.

“Musim panas nanti bagaimana ya? Kau meleleh tidak ya jika terkena panas? Jika meleleh aku tak bisa mengajakmu berlibur, bgaimana ya? Apa terus ku payungi saja..” tutur Ryu. Yuki tersenyum tipis nyaris tak terlihat. “Terima kasih,” Yuki menunduk dengan senyum merona di wajahnya. Ryu tersenyum lebar dengan senang. “Em!” sahutnya.
Keduanya pun mendongkak menatap langit cerah dengan angin segar yang membawa kisah baru. Bisa saja suatu saat nanti Yuki akan membekukan hati Ryu, tapi mungkin akan terlambat, karena hati Yuki telah mencair terlebih dahulu.

Selesai

Cerpen Karangan: UI
Facebook: UInuraini
Pelajar yang masih belajar gimana caranya ngajar?/ apa dah.

Cerpen Yuki Onna merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Joddy & Kampung Bejo

Oleh:
Di Kampung Bejo (sesuai namanya yang berasal dari sebuah kata bahasa jawa yang berarti “untung”) keberuntungan terjadi setiap saat disini. Siapapun orangnya, bagaimapun kondisinya, dan kapanpun waktunya keberuntungan hampir

Rumah Nenek

Oleh:
Hari ini, Shasya menginap di rumah neneknya. Ia menginap bersama ayah dan ibunya. Malam ini, shasya tidur di kamar neneknya seorang diri. Shasya sebenarnya tidak menyukai kamar neneknya, dikarenakan,

Wanita Yang Terjebak Dalam Drama

Oleh:
Siang itu mendadak saja gelap menyelimuti bilik kamarnya, hanya sekilas, sebelum ia berada di dalam pendopo keagungan istana. Adalah bisa juga disebut ritual rutinitasnya. Kegelapan itu digunakannya memanggil keharmonisan

My Dream

Oleh:
Aku selalu mendengar suara hembusan angin dari luar jendela kamarku. Tapi sudah lama aku tidak mendengar suara lembut seseorang. Dia yang biasanya membangunkanku di saat pagi hari. Yup… dia

Kembalilah Untuk Kami, Gabriel (Part 1)

Oleh:
“Namaku Aria Alexandra. Biasa dipanggil Aria.” Gadis itu mengenalkan diri di depan teman-teman barunya. Hari ini adalah hari pertama dirinya masuk, tetapi Ia sama sekali tidak menunjukkan rasa antusias.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Yuki Onna”

  1. Arya says:

    Cerpen yang menarik. 8/10

  2. Ita says:

    Uuu~~ ceritanya kawaii banget. Good job! ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *