Zhenxiang’s Love: Mencari Cinta Yang Abadi (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 26 November 2015

Di tepi kolam yang tenang, seorang wanita sedang membasuh wajahnya yang putih nan bersih. Tampak tak seorang pun berani mendekati wanita itu yang lain hanya bisa menunggu wanita itu dari kejauhan. Wanita itu berjalan menuju ke tengah kolam tanpa menyadari bahwa seseorang yang tepat berada di belakang pohon pinus telah siap untuk melontarkan anak panahnya. Ketika anak panah itu melesat, gerakan tangan wanita itu pun menghentikan anak panah tepat di depan wajahnya. Semua orang yang ada di sana takjub sekaligus takut.

Lalu tak lama kemudian anak panah itu patah. Si wanita hanya tersenyum sinis lalu kembali ke pinggir kolam dan mendekati seorang pemanah berjerawat di pipi. Wanita itu memegangi leher sang pemanah. Lalu ia melepaskannya. Beberapa menit kemudian, sang pemananh menjerit kesakitan. Sang wanita hanya tertawa lepas. Lalu ia mengayunkan jari telunjuknya ke arah sang pemanah, lalu sang pemanah berhenti berteriak dan memohon ampun. Wanita itu tersenyum dengan lembut. Lalu ia mendekati pria itu dan berbisik.
“Jika kau berani melakukan itu lagi, tak segan akan ku penggal kepalamu dengan satu ayunan tanganku.” Kata wanita itu yang segera berlalu.

Semua orang yang di situ langsung menolong sang pemanah. Ia membawa sang pemanah kepada seorang tabib. Tabib itu hanya menggeleng. Ketika ia melihat sebuah lingkaran hitam di leher sang pemanah, sang tabib pun berteriak. “Siapa yang lakukan?” Serunya kepada kerumunan orang. Seorang gadis kecil berkata.
“Seorang monster. Ia mengayunkan tangannya dan sang pemanah kesakitan.” Ujar gadis itu jujur.
Mata sang pendeta terbelalak. “Shenxiang. Apa sudah waktunya?” Gumam sang tabib. Semua orang heran melihat raut wajah sang tabib.
“Hyesun, cepat jaga pria ini.” Ucap sang pendeta memanggil seorang pelayan laki-laki bertubuh kekar dan berpakaian compang-camping. Sang tabib segera pergi dari kliniknya dan menuju ke hutan selatan dengan kuda putih kesayangannya.

Sang tabib tiba di sebuah hutan dengan ribuan bambu yang terbentang luas.
“Shenxiang!” panggilnya. Tak seorang pun menjawab. “Shenxiang.” Teriaknya lagi, namun kali ini hanya bunyi dedaunan bambu yang ada. Tiba-tiba sebuah tangan halus menggenggam erat tangan sang tabib. Sang tabib yang terkejut langsung melepaskan genggaman tangan tersebut.
“Shenxiang.” Ucapnya sedikit gugup. Wanita itu hanya tersenyum lalu mulai duduk di ata batang bambu yang melengkung ke arah bawah.
“Ada apa kau kemari tabib Chen?” tanya Shenxiang.

“Kenapa kau ganggu dia?” tanya tabib Chen.
“Aku tak mengganggunya jika ia tak menggangguku. Mereka menggunjingku, mencoba membunuhku apa kau tahu, rasanya setiap kali kau datang mereka akan menggunjing, menjauhiku dan mencoba membunuhku. Aku sama seperti mereka hanya saja aku sedikit berbeda dari mereka, Kakek. Aku mencoba hidup dengan mereka. Berbaur, tetapi mereka malah menghindariku seolah aku ini hewan buas yang jika didekati maka aku akan menerkam mereka. Kakek, aku tak mau hidup seperti itu. Dia bukanlah tandingan untukku. Sang pemanah itu, berikan saja dia ramuan gingseng agar dia lekas sembuh. Dia tak apa hanya syok belaka.” Ucap Shenxiang panjang lebar yang membuat tabib Chen kehilangan kata-kata.

“Apa yang kau mau Shenxiang?” Ucap tabib Chen.
“Kakek, aku ingin menjadi manusia seutuhnya. Aku tidak ingin terus saja menjadi manusia separuh rubah. Kenapa dulu Ayah menikah dengan Ibu yang jelas betul seeorang siluman rubah?” Tanya Shenxiang seraya menghapus genangan air di matanya.
“Kakek tahu Shenxiang. Kakek akan cari cara agar kau berubah menjadi manusia.” Janji tabib Chen.
“Berjanjilah Kakek.”
“Kakek berjanji. Sementara Kakek memintamu untuk tinggal di sini. Tunggu Kakek hingga Kakek kembali.”
“Baik.” Ucap Shenxiang senang.

Tabib Chen segera berbalik pergi. Shenxiang pun menurut. Ia pun langsung masuk ke sebuah batang bambu dan bermukim di batang bambu. Tabib Chen kembali dengan raut wajah yang sedikit sendu. Tak banyak kata yang ia ucap hari itu setelah ia bertemu dengan Shenxiang. Setelah memberikan ramuan gingseng, Tabib Chen pergi ke seorang biksu. Biksu itu diam dan menganggukkan kepala ketika mendengar cerita tabib Chen.
“Shenxiang, adalah cucumu.” Kata biksu. Tabib Chen hanya mengangguk.
“Seorang Gumiho.” Ucap biksu.
“Benar.” Ucap tabib Chen sedikit gugup. Biksu itu berlalu menuju ke sebuah rak buku yang terletak di pojok ruangan.

“umur 8 tahun Shenxiang mampu menuliskan bersajak-sajak puisi untukmu, Shenxiang bahkan mampu mengobati orang yang bahkan kau sendiri tak mampu, umur 9 tahun bola mata Shenxiang menjadi merah, dan kau mengurungnya di loteng rumahmu. Umur 12 tahun Shenxiang mengeluarkan sembilan ekor putih dan kau membawanya ke hutan dan meninggalkannya sendirian. Umur 14 tahun Shenxiang telah membuat seseorang terluka, tetapi dia mampu mengembalikannya seperti semula walaupun masih ada sisa racun yang dimiliki Shenxiang membekas.” Ucap Biksu itu sembari mengambil buku merah dan meletakannya tepat di depan tabib Chen.
“Taiyou?” tanya tabib Chen.
“Matahari. Dalam hal ini cucumu termasuk dalam siluman matahari merah. Di buku inilah kau akan tahu cara menjadikan cucumu menjadi manusia. Aku tak bisa membantumu karena itu bukan wewenangku. Aku hanya bisa memberimu informasi.” Ucap Biksu itu.

Tabib Chen langsung membawa buku itu ke rumahnya. Ia membaca lembar demi lembar hingga ia menemukan cara untuk membuat cucunya menjadi manusia. Malam itu juga ia pergi ke hutan bambu dan memanggil Shenxiang. Shenxiang yang senang dengan kedatangan Kakeknya langsung memeluk tabib Chen.
“Kakek tahu caranya.” Ucap tabib Chen. Shenxiang yang senang langsung merebut buku merah yang dipegang tabib Chen. Shenxiang membacanya hingga ia tak kuasa menahan rasa senangnya hanya saja ketika ia membaca kata terakhir dari buku itu, kesenangan Shenxiang meredup.

“Pengorbanan nyawa pria yang mencintai kita?” tanya Shenxiang. Tabib Chen hanya mengangguk.
“Bukankah hanya menjalani puasa selama 40 hari Kakek?” tanya Shenxiang.
“Kau bukanlah Gumiho matahari kuning. Kau gumiho matahari merah Shenxiang.” Ucap tabib Chen sabar.

“Mana ada yang mencintaiku dengan tulus hingga rela mengorbankan nyawanya hanya untukku Kakek?”
“Shenxiang, kau harus bersabar. Semua orang di dunia ini hidup memiliki pasangan. Terikat oleh benang merah. Tunggulah benang merahmu. Umurmu baru saja menginjak umur 17 tahun dan itu waktu di mana kau sudah mencapai puncak kekuatanmu. Kau harus kendalikan kemarahanmu Shenxiang. Ayahmu pasti tak akan senang melihat ini semua.”
“Omong kosong. Ayah tak pernah peduli denganku. Omong kosong macam apa itu.”
“Shenxiang. Tenanglah..” Angin berhembus sangat kencang.

Shenxiang mulai mengeluarkan ekor putihnya satu persatu. Rambutnya mulai melambai-lambai terkena angin. Dan baju yang Shenxiang pakai pun mulai melambai-lambai dengan indah. Mata tajam Shenxiang tertuju pada tabib Chen. Ketika tabib Chen mendekati Shenxiang, angin berhembus sangat kencang. Barulah ketika tabib Chen menggenggam tangan Shenxiang, angin mulai mereda. Shenxiang yang lemah langsung jatuh tersungkur ke tanah. Hujan pun mulai datang. Tabib Chen membawa Shenxiang naik ke kudanya dan membawanya menuju ke Biksu yang ia temui tadi.

Biksu itu pun merawat Shenxiang dengan baik. Ia mengajari Shenxiang untuk mulai mengendalikan emosi, tata cara menjadi manusia dan lain-lain. Semenjak saat itu orang-orang mulai melupakan Shenxiang siluman rubah. Kini mereka lebih mengenal Shenxiang sebagai gadis cantik yang pintar meracik obat. Shenxiang kini tinggal bersama tabib Chen dan mulai membantu tabib Chen meracik obat.

Suatu hari klinik tabib Chen kedatangan tamu 2 orang pemuda. Pemuda pertama bernama Yunshik, seorang sarjana muda yang tampan namun terlalu memedulikan penampilan. Dan pemuda kedua bernama Zhaoli. Zhaoli adalah sarjana cerdas yang sederhana. Ia tampan, tetapi tak setampan Yushik. Yunshik datang dengan membawa 12 tail perak sebagai persembahan agar Shexiang mau menjadi istrinya. Sedangkan Zhaoli datang hanya untuk membeli obat untuk penasihatnya yang jatuh sakit. Shenxiang menolak ajakan Yunshik dan lebih tertarik pada Zhaoli. Shenxiang selalu mengantar obat tersebut ke rumah Zhaoli. Setiap hari ia datang, namun ia tak pernah sekalipun bertemu dengan Zhaoli. Ia hanya pernah bertemu sekali. Ketika Zhaoli pergi ke klinik Kakeknya.

Hari ini ia membawa sebongkah obat untuk dibawa ke rumah Zhaoli. Ia pergi dengan memakai baju sutra yang indah dengan sulaman benang emas di pinggir roknya. Rambutnya pun dibelah dua dan digelung. Tak lupa ia juga menambahkan jepit teratai emas di masing-masing gelungan. Ia berjalan menyusuri pasar dan pemukiman sederhana. Hingga ia sampai pada rumah bercat merah dengan lentera merah yang tergantung di depan rumah. Ia mengetuk pintu dan seorang pelayan datang dan menyuruhnya untuk masuk.

Shenxiang masuk dengan harapan dapat bertemu dengan Zhaoli. Setelah mengobati penasihat Zhaoli, ia mendengar sebuah gesekan antar pedang berbunyi nyaring di telinganya. Ia pergi menuju ke sumber suara. Ia berjalan sangat perlahan hingga tak seorang pun mendengar gerak kakinya. Ia menuju ke sebuah lapangan luas, tepat di belakang rumah Zhaoli. Di sanat terdapat dua orang pria yang tengah berlatih pedang. Salah satu pria tersebut adalah Zhaoli. Dengan mengenakan baju sutra berwarna merah dengan burung Pheonix di bagian dada. Shenxiang sangat terpukau dengan Zhaoli hingga ia tak sadar bahwa ia menginjak sebuah kotoran kuda yang masih hangat. Shenxiang yang tersadar langsung berteriak. Ia melepaskan sepatunya dan mencoba membersikannya dengan pasir. Mengetahui ada seseorang, Zhaoli bergegas mengakhiri permainan pedangnya dan langsung menghampiri Shenxiang yang tengah sibuk menggesekkan sepatunya ke pasir.

“Nona Chen. Maaf karena tak pernah menyambutmu. Terima kasih atas obat anda. Kini penasihat saya sudah hampir pulih.” Ucap Zhaoli ramah.
“Ja…jangan panggil nona panggil saja Shenxiang, itu lebih baik dibandingkan dengan nona.” Ucap Shenxiang segera.
“Shenxiang. Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Zhaoli.
“Kotoran kuda ini sangat menjijikkan dan menjengkelkan. Sangat susah hilang dari sepatu dan bau.” Ucap Shenxiang sangat terus terang.
“Mari saya bersihkan.” Ucap Zhaoli yang langsung mengeluarkan sapu tangannya dan melepaskan sepatu yang dikenakan Shenxiang. Zhaoli memanggil pelayannya dan menyuruh pelayannya untuk mencuci sepatu Shenxiang. Dengan senang hati, Zhaoli melepaskan sepatunya untuk dikenakan oleh Shenxiang walau kebesaran untuk Shenxiang.

“Ah. Tuan Zhaoli ini terlalu merepotkan anda. Lebih baik saya yang mencuci sepatu itu dan membawanya pulang.” Ucap Shenxiang.
“Tidak. Biar saya yang membersihkannya. Tolong jangan ucapkan kata tuan untuk saya. Itu terlalu bagus untuk nama seorang yang baru menjadi sarjana.” Ucapnya.
“Zhaoli, sepatu ini sangat besar dan tidak nyaman. Lebih baik saya bertelanjang kaki untuk pulang.” Ucap Shenxiang sembari melepas sepatu itu dan memberikannya pada Zhaoli.
“Jika begitu saya akan menggendong anda sampai ke rumah anda.” Ucap Zhaoli yang segera mengenakan sepatu. Lalu ia berjongkok dan menyuruh agar Shenxiang berada di pundaknya. Shenxiang menurut dan menyerahkan dirinya dalam gendongan Zhaoli. Zhaoli berjalan sangat lamban.

“Apa kau lelah Zhaoli?” tanya Shenxiang.
“Tidak. Aku sudah terbiasa menggendong karung beras sendiri dulu.” Ujar Zhaoli.
“Kau tahu. Kau pria pertama yang menggendongku. Kau sangat baik. Pasti tunanganmu senang dapat mendapatkanmu.” Ucap Shenxiang.
“Ah. Kau terlalu memujiku. Aku belum memiliki tunangan.” Ucap Zhaoli seraya tersenyum.
“Setampan kau belum ada yang memiliki… ckckckckck.” Ucap Shenxiang seraya tersenyum senang.

“Kau sendiri? Yunshik pasti akan marah jika tahu tunangannya ku gendong seperti ini.” Ucap Zhaoli.
“Yunshik? Aku bukan tunangannya. Kakekku tidak menerima hadiah pertunangannya dan aku menolak untuk ia jadikan istri. Dia terlalu sombong.” Ucap Shenxiang sambil menggerutu.
“Benarkah? Tapi orang-orang sering membicarakan kalian. Mereka bilang kalian telah tunangan.” Ucap Zhaoli yang segera menurunkan Shenxiang.
“Terima kasih telah mengantarku. Apa kau mau masuk dulu untuk mencicipi teh buatan Kakekku. Itu teh herbal cocok untuk memelihara tubuh.” Ucap Shenxiang yang segera pergi ke dalam dan mengambil sekantung teh.

“Shenxiang, aku harus pulang.” Ucap Zhaoli.
“Tunggu. Bawalah ini untuk keluargamu.” Ucap Shenxiang yang segera mengikatkan kantung teh itu pada pergelangan tangan Zhaoli. Zhaoli pun pergi berlalu setelah mengucapkan selamat tinggal. Ia berjalan di tengah terik sinar matahari dengan perasaan senang yang berkecamuk di hatinya. Ia terus saja memancarkan senyum. Shenxiang yang di belakang tersenyum senang dan bergumam, “Jika seandainya dia yang ku cari.” Gumamnya.

Shenxiang memerhatikan punggung Zhaoli dengan penuh rasa senang.
“Shenxiang, kau lihat siapa?” Tanya tabib Chen.
“Seorang pria yang mengantarku tadi.” Ucap Shenxiang yang segera masuk.
“Pria? Yunshik?” Tanya tabib Chen penasaran.
“Zhaoli namanya. Ia tak menyebutkan marganya dan aku pun sama.” Ucap Shenxiang yang segera duduk di bangku.
“Di mana sepatumu?” Tanya tabib Chen yang melihat cucunya duduk dengan kaki telanjang.
“Di rumah Zhaoli. Tadi aku menginjak kotoran kuda dan dia menyuruh pelayannya untuk mencuci sepatuku.” Ucap Shenxiang senang. Tabib Chen hanya diam dan terus saja meracik obat untuk para pasiennya.

Setibanya di rumah, Zhaoli langsung menuju ke kamarnya. Ia membuka kantung teh itu dan menghirupnya.
“Krisan.” Ujarnya. Ia mengambil teh itu satu jumputan dan mencampurkannya dalam poci kecil. Ia meminumnya hingga tak bersisa. Dengan senang ia menegak teh itu dengan sendirinya tanpa ada yang menemani. Ketika ia sedang merapikan poci dan cawannya, seorang pelayang datang dengan membawa sepatu yang berbordir bunga krisan emas yang menawan. Berwarna merah yang dipadu dengan emas. Pelayan itu memberikan sepatu itu tanpa berucap apapun dan pergi berlalu.

Zhaoli mengamati sepatu mungil itu dan terus bergumam. “Shenxiang.” Dengan hati hati ia membungkus sepatu itu dengan kain sutra berwarna merah muda dan meletakannya di atas tempat tidur. Tiba-tiba seorang wanita berbaju merah muda datang dan langsung duduk di tempat tidur. Wanita itu adalah adik Zhaoli yang bernama Shumei. Shumei membuka bungkusan sutra merah muda dan menemukan sepatu berbordir krisan tersebut. Ia memakainya tanpa izin dengan Zhaoli. Zhaoli yang tahu bahwa adiknya memakai sepatu itu pun langsung marah. Shumei membungkus dan meletakkannya di tempat tidur kembali.

Bersambung

Cerpen Karangan: Lim Naafisa
Facebook: Lim Naafisa
Kelas: delapan
Sekolah: SMP NEGERI 3 UNGARAN
Nama Asli: Naafisa Maulida pratama

Cerpen Zhenxiang’s Love: Mencari Cinta Yang Abadi (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Diriku

Oleh:
Berawal ketika matahari terbit begitu menyilaukan, aku terpekur di depan cermin dengan sisir di tangan. Terdiam membisu mengamati bayangan yang kian tua dan tumbuh. Teringat olehku kejadian seminggu yang

Indah Pada Waktunya

Oleh:
Aku mendengar kabar bahwa orang masa laluku akan segera menuju pelaminan, sungguh rasanya seperti terlempar 1000 buku ensklopedia, sakit tak tertahan. Hari esok setelah ku mendengar kabar, undangan merah

Harta Berharga Ayah

Oleh:
Seyum manis itu telah menghiasi wajahnya. Untuk terakhir kalinya, aku melihat seyuman itu. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, ia sempat mengatakan sesuatu “Ayah akan mewariskan sesuatu yang berharga untukmu. Pergilah

Sheila: The Last Day (Part 1)

Oleh:
Apa yang dilakukan saat ajal menjemputmu? Menangis. Tak ada yang dapat ku lakukan kecuali menangis sepuas-puasanya. Setiap saat. Selama tiga hari belakangan, setidaknya hingga bayang kengerian tentang kematian kering

Fobidden Love (Part 1)

Oleh:
Penyesalan seperti daun yang telah gugur. “Mengapa dulu aku tak memegang kuat tangkainya”. “Bu, aku mencintainya! Mengapa ayah tak suka dengan itu?” Tanyanya, “Ayah menginginkan yang terbaik untukmu sayang”,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *