Zhenxiang’s Love: Mencari Cinta Yang Abadi (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 26 November 2015

“Kau bertemu wanita ya kak?” tanya Shumei. Zhaoli hanya diam dan menyeduh kembali tehnya yang sudah habis tanpa menawarinya pada Shumei.
“Kakak.” Ucap Shumei dengan raut wajah yang senang. Zhaoli hanya memandang Adiknya dengan tatapan datar. Yang sekarang ia pikirkan hanyalah Shenxiang, si lotus Shenxiang.
“Kakak!” bentak Shumei yang membuat Zhaoli tersendak.
“Ada apa? uhuk.” Ucap Zhaoli sembari terbatuk.
“Aku, aku akan meminta Ayah menunangkanku dengan Yunshik. Si sarjana tampan Yunshik.” Ucap Shumei sumringah.
“Yunshik? Cao Yunshik. Pemuda berstatus bangsawan yang ditolak Shenxiang.” Gumam Zhaoli.

“Kakak, kau bilang Shenxiang? Gadis bodoh itu. Kakak menyukainya?” Ucap Shumei penuh selidik.
“Tidak. Hanya mendengar desas-desusnya saja.” Ucap Zhaoli dengan muka yang memerah.
“Apa arti bulan untuk Kakak? Yunshik mengajukan pertanyaan itu padaku.” Ucap Shumei yang segera bangkit menuju ke depan bangku yang terletak tak jauh dari bangku Zhaoli.
“Bulan sebuah pancaran yang menyejukkan. Pasangan dari matahari yang terik dan menenangkan matahari yang marah. Walaupun tak bertemu tetapi dianggap sebagai pasangan sempurna.” Ucap Zhaoli melantur.

“Kakak jatuh cinta. Aku hanya bertanya tentang bulan bukan bulan pasangan matahari. Sudahlah susah jika bertanya pada orang yang sedang jatuh cinta.” Ucap Shumei yang segera beranjak pergi.
Zhaolipun masih saja membayangkan wajah Shenxiang ketika Shenxiang mengikatkan sekantung teh herbal untuknya, juga ketika Shenxiang menggesekkan sepatunya pada pasir di lapangan. Ia juga ingat ketika Shenxiang sedang dalam gendongannya. Semua itu memenuhi pikiran Zhaoli.

Keesokan harinya, Zhaoli sudah berdandan rapi tepat sebelum matahari berkokok. Ia duduk di pekarangan rumah dengan tenang. Sesekali ia membaca bukunya lalu kembali ke dalam kamarnya. Ia duduk di bangkunya dengan penuh rasa gelisah.
“Permisi, saya Shenxiang mau mengantar obat untuk tuan Han yang sedang sakit.” Ucap Shenxiang seraya mengetuk pintu. Tiba-tiba Zhaoli langsung melesat pergi ke depan pintu gerbang mendahului pelayan yang akan membukakan pintu gerbang untuk Shenxiang. Dengan degup jantung yang kencang, Zhaoli membuka pintu gerbang tersebut.

“Silahkan masuk Shenxiang.” Ucap Zhaoli ramah.
“Oh, Zhaoli. Di mana pelayanmu yang sering membukakan pintu ini?” Tanya Shenxiang heran.
“Eh. Dia sedang sibuk. Mari ku antar ke kamarnya dan aku ingin tahu perkembangannya.” Ucap Zhaoli segera.
“Dia sudah sembuh, tapi masih harus menjalani pengobatan. Mungkin besok ia sudah sembuh.” Ucap Shenxiang.
“Benarkah? Syukurlah.” Ucap Zhaoli yang memancarkan wajah senang. Dalam hati ia merasa sedih karena setelah itu ia tak dapat bertemu Shenxiang. Ia membawa Shenxiang pada penasihatnya yang duduk di bangku kamarnya.

Setelah pemberian obat selesai, Shenxiang pun beranjak pergi dengan mengucapkan salam. Namun ketika Shenxiang ingin membungkuk, sergeralah Zhaoli langsung berkata, “Tunggu.” Ucapnya segera.
“Ada apa?” Ucap Shenxiang yang pipinya segera memerah seperti tomat.
“Maukah kau berjalan-jalan denganku. Aku bosan di sini dan ingin berjalan-jalan. Di sekitar danau ku dengar ada tanaman indah di sana.” Ucap Zhaoli.
“Bunga lotus itu? Lotus itu sangat indah tapi Kakek selalu mengambilnya untuk obat.” Ucap Shenxiang.
“Benarkah? Maukah kau ke sana bersamaku?” Ucap Zhaoli. Shenxiang mengangguk setuju.

Akhirnya merekapun berjalan bersama. Tak ada percakapan antar mereka. Yang ada hanya hembusan angin sepoi-sepoi. Ketika menuju ke hutan bambu, seorang preman menghadang. Mereka meminta agar Shenxiang dan Zhaoli menyerahkan 10 tail perak untuk mereka. Shenxiang menolak. Akhirnya mereka pun jadi bulan-bulanan preman itu. Ketika melihat Shenxiang disakiti, Zhaoli mengambil pedangnya dan mencoba menusukan pedang itu ke tubuh si preman, namun preman itu berhasil menghindar dan ia pun berhasil mengambil pedang Zhaoli dari tangan Zhaoli.

Preman yang bertubuh kekar pun menusukan pedang itu tepat ke perut Zhaoli. Shenxiang yang masih dalam ikatan preman bertubuh kekar yang satunya pun marah. Ia meneteskan air matanya ketika melihat Zhaoli jatuh ke tanah dan tak berdaya. Dengan emosi yang memuncak, ia menjatuhkan preman yang memegangi pergelangan tangannya dengan kuat. Lalu angin berhembus membentuk angin puting beliung. Preman itu langsung melawan Shenxiang dengan pedang maupun tongkat mereka. Namun dengan sekali ayunan tangan Shenxiang, mereka terjatuh berkali-kali. Lalu, pedang yang digenggam sang preman terlepas dan kini dikendalikan oleh Shenxiang.

Shenxiang mengayunkan pedang tersebut ke arah perut preman lalu dengan perlahan menusukkannya. Preman satunya pun langsung lari terhuyung-huyung. Namun, ia tak berhasil lolos. Dengan ayunan tangan kiri Shenxiang, preman itu mati di tempatnya berlari. Setelah membereskan para preman, Shenxiang membawa tubuh Zhaoli ke sebuah gua yang terletak di tebing tinggi yang sepi. Shenxiang menumpahkan rasa sedihnya dengan menangisi Zhaoli yang terbaring lemah. Shenxiang lalu menyayat Ibu jarinya dan ketika darahnya mengalir, ia langsung meneteskan darah itu ke bagian perut Zhaoli yang terluka. Darah itu menetes dengan sempurna lalu dengan sekejap tubuh Zhaoli langsung pulih tak berbekas. Bahkan pakaiannya pun tak tampak sobek kembali.

Lalu dengan sepenuh hati, Shenxiang membawa Zhaoli ke danau yang diinginkan Zhaoli. Seorang pedagang minyak pergi ke hutan bambu dan dia melihat 2 mayat preman terbaring di tanah dengan mengenaskan. Pedagang itu pun segera berlari menuju ke perkampungan. Ia menyebarkan berita itu. Tabib Chen yang mendengar berita itu pun langsung menuju ke hutan bambu. Ia melihat 2 mayat yang sangat mengenaskan. Lalu ia mengambil sebuah bulu yang lembut dan putih. Ia pun bergumam, “Shenxiang.” Sebelum para kerumunan warga datang, ia pun segera membawa mayat itu pergi ke sebuah pemakaman dan memakamkannya dengan layak di sana. Setelah itu ia pun pergi kembali ke hutan bambu dan membersihkan noda darah yang bercecer di sana.

“Mana mayat itu?” Tanya si pedagang minyak. Para kerumunan warga pun mulai curiga dan menuduh si pedagang minyak hanya membual. Di danau, Shenxiang terus mengobati Zhaoli hingga Zhaoli pulih. Ia menyobek bajunya dan kain itu pun dibuatnya debagai kompres untuk Zhaoli. Ketika Zhaoli sadar, Zhaoli pun mengusap pipi kiri Shenxiang dan berkata, “Kau baik-baik saja. Dan dimana para preman itu?” tanya Zhaoli dengan lemah.
“Mereka sudah mati.” Ucap Shenxiang sedikit gugup.
“Mati. Siapa yang membunuh mereka?” Ucap Zhaoli penuh selidik.
“Kau tak ingat. Kau yang menusuk mereka. Lalu para warga membawa mereka ke pemakaman dan memakamkan mereka, sedang kau dibawa mereka ke sini.” Ucap Shenxiang bohong.

“Aku ingat aku yang tertusuk tapi mengapa aku tak merasa sakit. Bahkan luka ataupun koyakan saja tak ada. Hanya ada darah di tanganku dan kenapa tanganmu banyak sekali darah Shenxiang?” Tanya Zhaoli penuh curiga.
“Ini adalah noda darahmu yang tadi. Sebenarnya kau terluka di tanganmu.” Kata Shenxiang sembari menunjuk ke tangan kanan Zhaoli. Kali ini Zhaoli percaya saja dengan yang diucapkan Shenxiang. Lalu mereka pun duduk bersama di bawah pohon pinus dan berbincang. Mereka membahas tentang berbagai hal di dunia ini termasuk bintang mengapa ada di langit dan kenapa langit biru. Entah kenapa Zhaoli sangat senang berada di dekat Shenxiang. Begitu pula Shenxiang. Ketika hari mulai gelap, mereka pun kembali. Zhaoli mengantar Shenxiang ke rumah Shenxiang dan setelah itu ia pun kembali pulang.

Ketika sampai di rumah, seorang pedagang minyak bercerita pada pembantunya. Pedagang itu berkata. “Tadi aku melihat mayat itu di hutan bambu tapi setelah kembali mayat itu menghilang. Apa itu perbuatan siluman?” Ucap pedagang itu dengan wajah ketakutan. Zhaoli datang da menepuk bahu pedagang itu lalu berkata.
“Mana ada Siluman. Itu hanyalah dongeng belaka. Jangan percaya semua itu. Semua itu tipuan saja.” Ucap Zhaoli ringan. Lalu ia pun masuk ke kamarnya. Dan lagi-lagi ia pun menyeduh teh dari Shenxiang untuknya di poci yang kini menjadi kesayangannya.

Setibanya di rumah, tabib Chen langsung mengajak Shenxiang untuk minum teh bersamanya. Dengan perasaan ceria mengatakan.
“Ku rasa aku tidak akan lagi ingin jadi manusia.” Ucap Shenxiang. Tiba-tiba saja tabib Chen terbatuk. Lalu ia segera menutup jendela dan pintu yang ada di ruangan itu. Dengan sedikit gugup ia berkata.
“Jangan mencintai pria itu. Lebih baik kau menikah dengan Yushik. Itu akan lebih baik.” Ucap tabib Chen seraya mengelus pergelangan tangannya yang entah kenapa terasa gatal.
“Bagaiman Kakek tahu jika aku mencintai Zhaoli. Apakah Kakek membuntutiku?” Ujar Shenxiang.
“Tadi, ditemukan dua orang mayat manusia yang mati mengenaskan. Dan kau membunuhnya hanya karena sarjana bodoh itu.” Ucap tabib Chen.
“Iya, dua orang itu adalah preman yang akan merampok kami. Percayalah. Dan jangan sebut Zhaoli bodoh kek. Aku lebih baik mati dibanding harus menikah dengan Yunshik.” Ucap Shenxiang.
“Pria itu bisa membuatmu menjadi manusia Shenxiang. Kau akan lebih baik.” Ucap tabib Chen.
“Lebih baik aku mati daripada aku harus mengorbankan dirinya hanya untukku.” Ucap Shenxiang yang segera pergi. Tabib Chen hanya bisa menghela napas panjang.

Keesokannya, pagi-pagi sekali tabib datang ke rumah Zhaoli dengan perasaan yang tak menentu. Tabib Chen memperkenalkan dirinya dengan baik di hadapan Zhaoli. Keringat gugup terus mengalir dari keningnya.
“Ada apa tabib Chen ke mari?” Ucap Zhaoli dengan sopan.
“Ada sesuatu hal yang harus ku bicarakan padamu. Sebenarnya ini sudah ku pikirkan semalaman.” Ucap tabib Chen. Zhaoli hanya mengangguk mengerti.
“Kau mencintai Shenxiang?” Ucap tabib Chen.
“Ya. Saya sangat mencintai Shenxiang sejak pertama kali saya bertemu dengannya. Dia wanita yang cantik dan baik. Dia juga wanita yang polos.” Ucap Zhaoli berwibawa.

“Shenxiang adalah siluman rubah matahari merah. Siluman yang sejenis dengan siluman berdarah dingin.” Ucap tabib Chen yang segera mengeluarkan sebuah benda semacam belatik perak yang berukirkan mantra-mantra.
“Saya tidak percaya. Mana mungkin di dunia ada siluman.” Ucap Zhaoli penuh keyakinan.
“Jika kau tak percaya, cobalah untuk mengajaknya ke hutan bambu malam ini. Lalu kau bawa seember air, lalu suruh Shenxiang untuk bercermin dari ember air itu. Sebelum itu campurkan serbuk ini ke dalam air, maka kau akan melihat wujud asli Shenxiang. Lalu…”

Tabib Chen segera pergi setelah memberikan belati itu pada Zhaoli. Setibanya di klinik, ia melihat Shenxiang sedang duduk menghadap ke arah jendela dengan wajah yang sendu. Ia menyisir rambutnya serapi mungkin lalu ia pun membasuh wajahnya dengan air sari bunga sakura. Dan ketika tabib Chen menghampiri, Shenxiang langsung berdiri dan berjalan ke arah tabib Chen berada.
“Aku sangat menyayangi Kakek. Jika seandainya aku nanti tak pulang, berarti aku telah tiada. Aku minta tolong Kakek untuk terakhir kalinya, bawakan suratku sekaligus jepit rambut ini untuk Zhaoli. Dan Kakek, aku sangat berterima kasih untuk apa yang akan dilakukan untukku. Mungkin di kehidupan mendatang aku akan jauh lebih bahagia.” Ucap Shenxiang yang memaksakan senyum kepada tabib Chen.

Ketika malam mulai tiba, Shenxiang yang telah rapi pergi bersama dengan Zhaoli menunggangi kuda putih yang amat menarik. Mereka berjalan-jalan di hutan bambu.
“Apa kau senang?” Ucap Zhaoli sedikit gugup.
“Sangat senang. Sekarang kita berhenti di sini saja.” Ucap Shenxiang.
“Baiklah.” Ucap Zhaoli yang segera berhenti dan turun dari kudanya untuk membantu Shenxiang turun.

“Kau ingin melihat wujud asliku bukan?” Tanya Shenxiang dengan sedikit senyum yang bisa ia pancarkan.
“Apa maksudmu?” Ucap Zhaoli yang segera tercengang ketika melihat mata Shenxiang yang menjadi merah dan ekor yang muncul dengan serempak. Sembilan ekornya pun mulai mengayun-ayun dengan indah, namun tak lama kemudian Zhaoli mengeluarkan belatiknya dan menusuk Shenxiang. Tepat di jantung Shenxiang seraya bertanya.

“Dimana Shenxiang yang asli?” Ucapnya. Shenxiang yang kesakitan pun hanya bisa tersenyum lemah.
Lalu ia berkata, “Inilah Shenxiang yang sebenarnya. Aku akan mencintaimu walaupun kau telah menusukku. Aku sangat mencintaimu. Aku telah melewati batas yang seharusnya tak kita lalui. Kini aku akan kembali ke tempatku berada dan akan menunggumu di kehidupan mendatang. Aku mencintaimu..” Ucap Shenxiang yang segera memejamkan mata.
Zhaoli hanya diam, lalu tak beberapa lama kemudian tabib Chen datang dengan membawa jepit dan surat dari Shenxiang. Dengan sedikit kaget melihat Shenxiang yang terbaring di tanah, ia memberikan surat dan jepit itu. Zhaoli membaca sura itu dengan seksama.

“Zhaoli, mungkin ketika kau baca surat ini aku telah tiada. Aku mendengar semua percakapanmu dengan Kakek. Sebenarnya preman itu mati karena diriku. Aku yang membunuh mereka. Dan luka tusukan itu, aku meneteskan sedikit darahku untukmu, semoga kau tak jijik dengan kehadiran darah itu. Hari ini aku melihat burung-burung berkicauan di depan jendelaku, jadi aku menyisir rambutku dengan halus. Salah seorang burung berkata bahwa mungkin kau akan datang untuk membawaku ke hutan bambu malam ini.”

“Aku sangat senang namun juga sedikit sedih. Aku sangat senang ketika duduk bersamamu di atas kuda putih itu. Itu kesempatan terakhir yang bisa ku rasakan padamu. Oh ya tentang mengapa matahari itu di siang hari. Itu karena matahari tak dapat melewati batasnya menuju ke malam hari. Jadi ia hanya bisa bertemu bulan hanya beberapa kali dalam beratus tahun. Terima kasih atas cintamu untukku. Aku pun sama. Aku mencintaimu lebih dari matahari yang merindukan bulan. Aku mencintaimu dengan tulus.
Chen Shenxiang.”

Zhaoli pun langsung meneteskan air matanya. Ia berlutut di depan mayat Shenxiang dan menangis sejadi-jadinya. Dalam tangisan itu ia berkata maaf hingga beribu-ribu kali. Ia memeluk dengan erat tubuh Shenxiang yang terkulai lemas. Rambutnya yang turun mulai melayang-layang ketika terbawa angin sepoi-sepoi. Tabib Chen diam-diam juga ikut menangis. Jepit yang kini ada di genggaman tangan Zhaoli pun langsung ditancapkan saja ke tubuh Zhaoli sediri.
“Aku telah membayar apa yang telah aku perbuat. Aku akan bersamamu di sana. Menjagamu dan melindungimu. Tenanglah. Di kehidupan mendatang aku akan berjodoh denganmu karena benang merah tak akan salah menggiring jodoh. Kau bagaikan Chang’e di hatiku.” Bisik Zhaoli di telinga Shenxiang.
Mereka pun akhirnya mati. Di hutan itulah cinta mereka terpisah.

Cerpen Karangan: Lim Naafisa
Facebook: Lim Naafisa
Kelas: delapan
Sekolah: SMP NEGERI 3 UNGARAN
Nama Asli: Naafisa Maulida pratama

Cerpen Zhenxiang’s Love: Mencari Cinta Yang Abadi (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelangi di Malam Hari

Oleh:
Ah, dia muncul lagi di depanku. Ini membuatku semakin tak mampu untuk melupakannya. Berbagai cara telah kulakukan untuk melupakan semua tentangnya, namun hasilnya nihil. Aku tak berhasil. Sudah lebih

Daisuki, Hatori Sama

Oleh:
“Meong,” aku menjilat pipi majikanku, membangunkannya dari tidur panjang. Ia menggeliat lalu mengelus kepalaku, aku melanjutkan menjilat pipinya yang putih bak susu. “Sudah pagi, ya?” ia membuka matanya yang

Mata Abu-Abu

Oleh:
Nama anak laki-laki itu, Bianka. Setiap pagi ia selalu berdiri sejenak di depan pintu gerbang sekolah. Menatapi setiap anak dari kumpulan komunitas putih abu-abu. Setiap anak yang memiliki titik

Thalesfaria (Part 1)

Oleh:
Rumah Cinderella berkabung. Awan hitam pekat tiba-tiba muncul di atas rumahnya. Ya, rumah dengan interior sederhana itu menampakkan keseramannya. Beberapa tetangga memasang wajah ketakutan melihat seolah rumah itu sedang

Topeng

Oleh:
Pada suatu ketika hidup seorang pria dengan sebuah topeng di tangannya, topeng yang sangat berat buatnya, dengan topeng itu, dia bisa menyembunyikan wajahnya, kemanapun dia pergi dia selalu menggunakan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *