Di Bawah Bayang Bayang Pohon Ek (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction)
Lolos moderasi pada: 28 August 2021

Ered Luin (Tahun 2797, Zaman Ke Tiga)
Langit di atas Ered Luin masih gelap. Bahkan beberapa rasi bintang masing gilang-gemilang diufuk timur, menggantung bak permata putih yang mulai memudar seiring dengan merambatnya sinar matahari. Angin dingin berhembus cukup keras sehingga ranting-ranting pohon apel tua di sebelah rumah besar di tengah desa itu menggaruk-nggaruk salah satu daun jendelanya.

Frerin terbangun karena mendengar suara-suara gesekan ranting pohon di jendela kamar-nya yang sederhana. Ia berkedip beberapa kali untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih menggelayuti matanya kemudian bangkit dan duduk. Dia menoleh kearah sumber suara yang membuatnya terbangun, melemparkan selimutnya ke sisi lain ranjang dan turun menuju jendela kamarnya.

Perlahan ia mengangkat engsel pengunci kemudian membuka kedua daun jendela itu. Semilir udara pagi yang dingin menyapa wajahnya, ia menggigil lalu mengintip keluar jendela. Masih gelap, pikirnya. Namun sudah pagi hanya saja amat sangat pagi. Bulan sabit masih menggantung di langit biru gelap meski warnanya lebih pucat karena sinar keperakannya akan segera digantikan oleh hingar-bingar keemasan sang surya.

Dwarrow muda itu menguap lalu merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Mungkin tubuhnya masih mengantuk tapi pikirannya tidak. Otaknya masih jelas mengingat hasil pertemuan semalam. Kata-kata tegas kakeknya masih terngiang-ngiang di telinganya. Kita akan merebut kembali Khazad-dum!

Perang. Tak lama lagi ia akan maju berperang bersama kaumnya untuk merebut kembali kerajaan kuno yang hampir terlupakan. Ia bahkan tak pernah melihat langsung rupa Khazad-dum atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Moria –Jurang gelap. Pilar-pilar perkasa Dwarrowdelf atau melihat langsung keindahan Kheled-zaram yang konon airnya sejernih cermin kristal. Ia memang sering mendengar cerita kejayaan kerajaan dwarf itu dari dongeng-dongeng juga dari cerita kakeknya di depan perapian yang nyaman di rumah mereka, Erebor. Ah, betapa ia rindu tempat kelahirannya itu, dinding-dindingnya yang indah namun kokoh, lantai-lantainya yang hitam mengkilat layaknya permata hitam dan denting-denting palu penambang yang beradu dengan batu-batu keras kepala yang menyimpan rapat-rapat hartanya. Erebor, kerajaan yang hilang. Erebor, kerajaan yang dulu dibencinya karena mengikat kebebasannya. Erebor, rumahnya.

Pangeran muda itu menggelengkan kepalanya, tak ada gunanya meratapi rumahnya yang sekarang didiami seekor naga yang mengeluarkan nafas api. Lagi pula, Ered Luin bukanlah tempat yang buruk. Ia memiliki rumah diatas tanah dan bukannya dibawah gunung yang selalu diimpikannya. Hutan-hutan terhampar luas juga padang rumput yang lebarnya bermil-mil sebagai tempatnya untuk berlari-lari bebas. Langit biru yang menaunginya, sungai-sungai kecil yang mengalir deras, serta bintang-bintang yang tak kalah indahnya dengan tumpukan permata yang ada di Erebor. Dan yang paling penting ia bersama keluarganya. Itu sudah cukup baginya, namun tidak untuk kakeknya.

Frerin menghela nafas panjang. Entah apa yang akan dihadapinya di medan perang. Mungkin hanya goblin, atau juga troll, mungkin juga warg atau orc, atau malah Kutukan-Durin itu sendiri? Ia tak tahu. Tentu saja ia tak tahu. Dia bahkan belum pernah ikut bertempur sebelumnya, alih-alih berperang.

Sinar samar matahari musim gugur mulai menerpa wajahnya, kehangatan tipis menyentuh pipinya yang agak pucat. Sadar telah lama melamun di ambang jendela, Frerin bergegas menuju almari pakaiannya dan segera berganti baju. Mengenakan tuniknya juga mantel kulit yang biasa ia pakai saat pergi berburu, memakai boot-nya, mengambil busur, anak panah juga menyelipkan pisau ke ikat pinggangnya yang berwarna keperakan. Ia tidak repot-repot berhenti di depan kaca untuk memeriksa penampilannya dan langsung menuju pintu kamarnya.

Jika memang cepat atau lambat ia akan menuju peperangan, tak ada salahnya memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk berlatih senjata –juga bersenang-senang, hanya untuk berjaga-jaga, jika terjadi kemungkinan terburuk. Namun Frerin putra Thrain putra Thror adalah dwarf yang selalu berpikir positif, atau setidaknya mencoba berpikir positif. Di awal hari itu ia mengenyahkan semua pikiran-pikiran muram dan menyongsong hari dengan ceria. Dan itu bukanlah pilihan yang buruk, sama sekali bukan pilihan yang buruk.

Setelah mengambil dua buah apel merah dari dalam keranjang buah di ujung meja dapur, pangeran muda itu berjalan pelan-pelan menuju pintu depan. Rumahnya masih sunyi sepi, itu artinya semua keluarganya masih tertidur dan ia tak ingin membangunkan mereka hanya karena dia sedang bersemangat untuk keluar rumah pagi-pagi buta. Dan dia pun melangkah keluar dari pintu.

Udara pagi benar-benar menyegarkan. Kabut tipis masing mengambang disana-sini, rumput-rumput liar basah oleh embun-embun musim gugur yang dingin, di kejauhan tampak sederetan pohon-pohon keemasan yang sebentar lagi akan kehilangan semua daunnya. Iring-iringan suara merdu burung-burung pipit menemani langkah-langkah berat si dwarrow muda. Tak ada tempat yang lebih menyenangkan selain hutan di Ered Luin, baginya memandang deretan pohon-pohon dan menikmati kicauan burung merupakan hal yang paling menenagkan hati.

Ia berjalan dan terus berjalan sampai siluetnya ditelan deretan-deretan pohon yang lebat dan menghilang kedalam hutan yang berwarna emas.

Ia berhenti setelah sampai di depan pohon ek tua yang tumbuh tak jauh dari jalan setapak di tengah hutan. Ia menenggadah dan mengagumi betapa besar dan kokohnya pohon ek itu, ia menduga pohon itu pasti telah melewati ratusan musim gugur dan masih berdiri dengan elok dan tak tergoyahkan. Bonggol-bonggol kayunya yang menonjol dari batang pohon besar itu membuatnya tampak semakin kuno, penuh kenangan dan hal-hal yang lama berselang.

Entah dari bisikan dedaunan pohon ek itu atau memang dia telah memiliki niat di dalam hatinya, Frerin memanjat pohon ek tua itu. Setelah beberapa waktu akhirnya ia sampai di dahan besar yang menjorok ke arah jalan setapak, dan ia pun duduk disana. Merenungi kenangan-kenangan indah sembari memandang hutan di sekelilingnya. Begitu damai hutan di akhir musim gugur itu, semilir angin menggoda rambut cokelat gelap panjangnya yang tak teratur, hanya dua kepangan di kedua sisi pelipisnya dengan penjepit perak di masing-masing ujungnya yang tampak seidikit rapi. Bola mata biru gelapnya menerawang, memantulkan pelbagai warna emas dan merah dedaunan. Wajahnya yang masih butuh waktu untuk berjanggut lebat menikmati hembusan dingin angin.

“Selamat pagi.”
Terdengar suara rendah dan tua dari bawah pohon. Frerin menengok kebawah dan mendapati sesosok pria tua dengan jubah abu-abu yang tak kalah tuanya dan topi besar berwarna biru dengan ujung runcing. Janggutnya yang juga berwarna abu-abu menggantung lebat sampai hampir mencapai pinggangnya. Ia berdiri di tengah jalan setapak dengan bertekan pada sebuah tongkat kayu panjang, matanya yang berwarna biru berkilat-kilat di bawah alis lebatnya yang mencuat. Pria itu menenggadah kearah dwarrow muda itu sambil mengangkat sedikit ujung pinggiran topinya, seulas senyum hangat tersungging di wajahnya yang tampak penuh dengan garis-garis kerutan.

Selama beberapa waktu pangeran muda itu terdiam, matanya tak pernah lepas dari sosok asing yang tiba-tiba muncul entah dari mana itu. Ia sering diperingatkan oleh kakek, ayah juga kakaknya agar jangan gampang percaya dengan manusia, terutama manusia yang belum dikenal. Namun ada sesuatu pada pria tua ini yang membuatnya tidak merasa takut ataupun curiga, entah karena sosok tua kelabu itu tampak tak berbahaya atau karena aura kebijaksanaan yang entah bagaimana memancar disekelilingnya. Frerin tak yakin.

“Um, selamat pagi.”
Pria tua dibawah sana tertawa kecil. Ia awalnya mengira melihat seorang elf yang tengah bersantai diatas pohon lengkap dengan busur dan anak panahnya, alih-alih seorang dwarrow muda. “Pagi yang cerah, bukan begitu Master dwarf?”
Untuk pertama kalinya Frerin tersenyum, meski hanya sebuah senyum tipis tapi itu senyuman tulus.
“Ya, memang. Tapi mungkin akan hujan nanti.”
Lagi-lagi pria tua itu tertawa. Ia kemudian memandang langit biru pucat diatasnya lalu kembali memandang dwarf muda itu, alisnya yang lebat mengerut sampai nyaris menyentuh matanya. “Tidak, tidak. Aku rasa tidak, Tuan dwarf yang baik. Hari ini akan cerah sampai matahari kembali terbenam nanti petang!” katanya berseri-seri.
Pangeran muda itu tertawa kecil. Sungguh aneh dan tak biasa, bagaimana ia bisa tertawa bersama orang tua asing yang baru saja ditemuinya.
“Nah, dan jika tidak merepotkan –dan tidak mengganggu,” ia menambahkan dengan bergumam pelan. “aku khawatir pria tua ini terlalu lapar untuk melanjutkan perjalanan, bisakah anda tunjukan pohon buah-buahan terdekat, Master dwarf?”
Frerin berkedip beberapa kali lalu ia berpikir. Memang ada beberapa pohon buah liar di hutan ini, namun ia tak yakin jika masih ada buah yang tersisa di akhir musim gugur seperti sekarang ini.
“Tentu saja Tuan, namun aku tak yakin jika ada buah yang masih tersisa di dekat sini,” jawabnya. “yang tidak ada pemiliknya tentunya.” Pria tua itu tampak agak kecewa dan entah kenapa Frerin juga merasakan kekecewaan yang sama, lalu tiba-tiba ia teringat akan apel-apel yang dibawanya.
“Kecuali, anda mau berbagi makanan sederhana dengan orang asing di tengah hutan ini,” ujar Frerin ceria sambil mengeluarkan dua buah apel merah besar dari sakunya yang mengkilap diterpa sinar matahari pagi. “Jika anda berkenan.”
Pria tua itu tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tentu, tentu saja Tuan dwarf yang baik.” Katanya dengan suara rendah dan tua. “Tak ada salahnya berbagi makanan dengan orang asing yang baik hati ditengah hutan begini. Seperti sebuah petualangan yang tak terduga-duga!” tambahnya sambil mengedipkan matanya.

Frerin akhirnya turun dari dahan pohon ek dan menuju pria tua yang masih berdiri ditengah jalan setapak yang dipenuhi daun-daun yang gugur dengan dua buah apel di tangan.
“Frerin, siap melayani anda.” Katanya sambil membungkuk hormat begitu ia berada di depan pria tua itu.
“Gandalf, siap melayani anda.” Pria tua itu juga membungkuk hormat dengan tata krama dwarf.
Frerin menyeringai lebar sambil mengulurkan sebuah apel kepada Gandalf yang menerimanya dengan senang hati. Gandalf melihat sesuatu yang tak biasa pada diri dwarf muda itu, terlepas dari busur dan anak panah yang dibawanya; keramahan dan kesederhanaan. Hal yang jarang ada pada diri seorang dwarf, lebih-lebih untuk orang dari ras lain.
“Terima kasih banyak.” Kata Gandalf sungguh-sungguh. Dwarf muda itu tersenyum.

Disisi lain, si dwarf muda merasa familiar dengan nama Gandalf namun ia tak ingat pernah mendengar nama itu dari mana. Tapi ia yakin nama itu tidak asing di telinganya. Akhirnya ia mengangkat bahunya, mungkin bukan hal yang terlalu penting.

“Bolehkah aku duduk di bawah pohon ini denganmu, Tuan Frerin?” tanya Gandalf sambil tersenyum. “sambil menikmati sarapan pagi kita.” Sambungnya dengan mengangkat apel merah yang baru saja diterimanya. Frerin tertawa kecil.
“Tentu saja, Tuan Gandalf. Dan tolong panggil aku Frerin saja, aku rasa aku belum cukup tua untuk dipanggil ‘Tuan’.” Jawabnya masih dengan tertawa. Matanya berkilat-kilat jahil.
“Baiklah, Frerin, kalau begitu.” Kata Gandalf ceria. Ia duduk di atas salah satu akar besar pohon ek tua itu, meletakkan tasnya dan menyandarkan tongkatnya didekatnya. Dwarrow muda itu juga mengambil tempat duduk di atas akar besar di sebelah Gandalf dan mulai menggigit apel-nya.

Selama beberapa saat hanya terdengar suara gigitan-gigitan apel, kicauan burung serta gemerisik dedaunan yang diterpa angin. Dua insan berbeda ras dan usia itu duduk membisu sambil menikmati makanan mereka yang sederhana. Sampai akhirnya Frerin angkat bicara.
“Jika aku boleh bertanya, anda berasal darimana, Tuan Gandalf?”
Gandalf menoleh kearah dwarf itu dan tersenyum. “Aku berasal dari negeri yang jauh, jauh di barat sana, anak muda.” Frerin mengerutkan alisnya.
“Seberapa jauh?”
“Sangat jauh.”
“Kira-kira berapa jauh?”
“Jauh sekali, dan aku tak pernah mengukurnya.”
“Berapa hari perjalanan?”
“Aku tak pernah menghitungnya.” Tukas Gandalf.
“Apa nama negerinya?”
“Aku tak bisa mengatakannya.”
“Kenapa tidak?”
“Karena aku tidak bisa!” Gandalf mulai jengkel pada pertanyaan dwarrow muda itu. Ia tak menyangka bahwa kenalan barunya ini adalah bocah yang menjengkelkan.

Cerpen Karangan: R. Safir
Blog / Facebook: Not All Who Wander Are Lost

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 28 Agustus 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Di Bawah Bayang Bayang Pohon Ek (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Nyata

Oleh:
Aku terdiam di kamar, memandang kosong dinding ruanganku yang berwarna putih bersih tanpa ada coretan abstrak disana. Tukk tukk Jendela ruanganku tiba-tiba diketuk oleh seseorang, kutolehkan pandanganku pada sesosok

High School Music

Oleh:
Pho Hye Jin menatap lembar kertas yang menunjukkan jika Sungyeol berpatner dengannya. Padahal ia benci pemuda itu. Sampai mereka dipasangkan berduet bersama. “Ah Aigoo, aish… aku benci bernyanyi dengannya

Four Leaf Clover

Oleh:
Saat rasa cinta dan kesetiaan diuji. Saat separuh hati yang disayang tak lagi mempunyai harapan hidup. Kita harus tetap tegar menjalani setiap hari Setiap detik, menit, jam atau bahkan

Memori

Oleh:
Aku seakan memiliki memori dengannya. Ia adalah cinta pertamaku. Tapi setelah kecelakaan maut itu. Aku kehilangan segalanya. Aku tidak mengingat dia. “Li, lo kenapa?” “Nggak kok, gue ngerasa cuma

Urineun Mwoya (Part 2)

Oleh:
“Oppa, mengapa kau biarkan dia pulang sendiri eoh? Apa kau tak khawatir pada sahabatmu? Hari sudah malam oppa dan itu tidak baik untuk yeoja cantik sepertinya. Bagaimana kalau ada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *