Kapten Jack dan Kapal Blackpearl

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction)
Lolos moderasi pada: 1 April 2021

Malam itu, kapal Blackpearl melaut gagah di Laut Kematian yang terkenal akan keganasan ombak dan badainya. Kapal yang dipimpin kapten Jack, begitu ia dipanggil awaknya, mengarungi lautan untuk memenuhi ambisinya menemukan harta karun.

“Kapten! Badainya semakin ganas, apa kita akan terus berlayar?” tanya seorang awak kapal di balik kemudi.
Kapten Jack menutup kompas yang ia letakkan di atas peta harta. Jarinya menunjuk ke arah badai dengan petir menyambar-nyambar.
“Terus maju sampai kita menemukan harta itu! mengerti?”
“Aye ye kapten!” seru awak kapal.

Sebuah petir menyambar tiang kapal dengan kuat, merobohkannya. Akibatnya, sebuah lubang besar di haluan terbentuk. Kepanikan bertambah ketika perlahan air laut memenuhi lambung kapal.

Petir menyambar untuk kedua kalinya, kali ini menghancurkan buritan tempat kemudi berada. Kapal itu terombang-ambing selama beberapa saat sampai sebuah ombak besar menelan mereka.
Seluruh awak kapal termasuk kapten Jack terombang-ambing di Laut Kematian. Beberapa awak tewas terseret ke pusaran yang terbentuk, sisanya tenggelam karena tidak bisa berenang. Kapten Jack beruntung karena meraih puing-puing kapal sebagai pelampung.

Kapten Jack sampai ke tepian, tapi sayang kepalanya membentur karang dengan keras. Di antara sadar atau tidaknya, ia melihat sebuah kotak harta yang penuh dengan emas di dekatnya.

“Hei… hallo…” teriak seseorang di telinga kapten. “Susah banget dibangunin,” decaknya kesal.
“Yauw…” teriak kapten kesakitan. Seekor kepiting mencapit hidung mancungnya. Dengan cepat, kapten membuang kepiting itu jauh-jauh.
“Hahaha… bangun juga,” kekeh orang itu.
“Argh, kepalaku…” ringis kapten. “K-kau siapa? D-dan aku di mana?”
“Aku Rain,” ramah perempuan itu mengenalkan diri. “Kau ada di pulauku. Omong-omong, namamu siapa?”
Kapten menggeleng. Ia tidak ingat siapa dirinya dan kenapa bisa ada di sini. Di bibir pantai pasir putih dengan sibuknya dermaga yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
“Kau tak ingat? Kalau begitu aku memanggilmu Lucifer.”

Setelah perkenalan cukup panjang di bibir pantai, Rain mengajak Lucifer ke rumah pamanya.
Mereka menyusuri jalanan berbatu di antara perkampungan. Sebagian besar rumah di sana terbuat dari kayu dengan jala ikan terpajang di setiap pintu rumah. Jauh di atas sana, menjulang sebuah gunung yang menembus awan sehingga puncaknya tidak terlihat.
“Itu rumah pamanku,” tunjuk Rain ke sebuah rumah di atas bukit.

Tok… tok… tok!
“Paman… keponakanmu sudah pulang.”
Tidak lama, seseorang membuka pintu dari dalam. Seorang pria tua dengan kepala seluruhnya putih berdiri di baliknya. Pria itu menggunakan kacamata bulat dengan sebuah tabung reaksi di tangan kanannya.
“Rain, cepat sekali kau kembali. Di mana kerang-kerang yang kau cari?” tanya pria itu melihat Rain pulang dengan tangan kosong.
“Oh…. aku lupa paman, tapi aku menemukan orang ini pingsan di pantai. Jadi, aku putuskan untuk membawanya pulang.”
“H-hai, paman,” sapa kapten malu-malu.
“Masuklah, aku seduhkan kalian teh hangat.”

Mereka duduk di kursi kayu ruang tamu. Lucifer memperhatikan setiap sudut rumah yang terbuat dari kayu. Beberapa lukisan dan alat menjala terpajang di dinding rumah menjadi perhatiannya.
Kepulan asap tipis keluar dari cangkir teh yang dibawa paman. Semerbak aroma melati menusuk penciuman Lucifer ketika teh itu tepat di antara mereka bertiga.

“Jadi, siapa namamu?”
“Dia lupa ingatan, paman, tapi aku memanggilnya Lucifer.”
“Nama yang bagus, Rain,” puji paman. “Aku Smith, paman Rain.”

Hari semakin siang ketika mereka menyadari suhu udara naik. Paman Smith mengajak mereka ke kebun belakang rumah untuk sekedar berjalan-jalan.
Di lembah bukit, Lucifer terpesona melihat kebun apel berhektar-hektar luasnya. Orang-orang bercaping tampak antusias memetik apel-apel yang mulai memerah dari pohonnya.
Di lain sisi, domba-domba berkeliaran menikmati rumput hijau. Seorang anak duduk di bawah pohon memainkan serulingnya. Lantunan melodi merdu masuk ke telinga mereka yang terus turun ke aliran sungai.

“Paman, kenapa kincir air itu tidak bergerak?” tanya Lucifer.
“Entahlah, sudah beberapa kali aku memperbaikinya, tapi tetap saja gagal,” sedih paman.
“Boleh aku coba memperbaikinya?” tawar Lucifer.
Paman Smith mengangguk.

Lucifer memperhatikan kincir air yang mulai dipenuhi sarang laba-laba. Tangannya meraba berusaha memutarnya manual. Cukup lama sampai Lucifer menyadari ada yang hilang dari kincir air itu.
“Ada beberapa yang harus diperbaiki, paman,” ucap Lucifer menepuk-nepuk baling-baling kincir air.
“Kalau begitu, pergilah ke pasar. Rain, temani Lucifer.”
“Baik, paman.”

Sesampainya di pasar, Lucifer dikejutkan dengan sibuknya kegiatan jual beli. Berbagai barang unik yang jarang ada dapat ditemukan di sini. Mulai dari perhiasan mewah sampai ke kebutuhan tersedia.
“Apa yang mau kau beli?”
“Beberapa barang kecil, dan minyak pelumas mungkin cukup.”
“Hei, lihatlah! Bukankah ini kompas yang indah?” tunjuk Rain ke kompas yang dibiarkan berantakan di antara barang lainnya.
“Siapa Jack?” gumam Rain melihat ukiran nama di balik kompas.
Lucifer mengambil kompas yang baru saja diletakkan Rain. Kompas dari emas bertuliskan “Jack” di belakangnya membuat Lucifer terlonjak.

“Lucifer, kau kenapa? Hidungmu… berdarah. Kita pulang saja!” panik Rain.
“A-aku…” ucap Lucifer menahan kepalanya yang mendadak sakit.
Memori di kepalanya bertubrukan. Seketika ia ingat namanya adalah Jack, bukan Lucifer. Ia juga ingat, waktu itu badai menghancurkan kapalnya ia hanyut dan kepalanya membentur karang.

“Aku Jack!” teriaknya. “Kau siapa?”
Kapten Jack memelototi setiap orang di pasar dengan tatapan mata yang tajam. Dengan cepat, kapten Jack mencekik perempuan di dekatnya menyebabkan semua orang panik. Termasuk paman Smith yang tiba-tiba datang.
“Lepaskan keponakanku!” paksa paman.
“Diam!”
“L-lepaskan aku dulu!”
Jack melepas cekikannya, membuat perempuan itu jatuh.

Perempuan itu mengatur napasnya yang berantakan. Cekikan tadi benar-benar mendekatkannya dengan kematian.
“Tadi aku menemukanmu pingsan di pantai, jadi aku membawamu ke rumah paman,” jelas Rain menarik napas lagi. “Sekarang kita pergi untuk mencari keperluan kincir air, kau ingat?”
Setelah mendengar penjelasan dari perempuan itu, ingatan bertabrakan antara jati dirinya sebagai bajak laut dan keinginannya untuk memperbaiki kincir air. Seketika tatapannya kosong.

“Sudahlah, tak apa,” ucap Rain menepuk pundak Jack yang ia kenal sebagai Lucifer.
“Lalu, di mana awak kapalmu?” tanya paman Smith.
“Mereka tewas karena badai, paman,” sedih Jack.
“Sudahlah, mulailah hidupmu yang baru. Lagi pula, apa untungnya mencari harta karun?” ucap paman mencairkan suasana.
Akhirnya, mereka semua kembali ke rumah. Jack mengganti namanya menjadi Lucifer. Mereka hidup sebagaimana penduduk pada umumnya sampai suatu hari Lucifer kembali berlayar sebagai kapten Jack.

Cerpen Karangan: Muh Faddlan
Blog / Facebook: Muhammad Faddlan Restu Setiawan

Cerpen Kapten Jack dan Kapal Blackpearl merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Bawah Bayang Bayang Pohon Ek (Part 2)

Oleh:
Frerin terdiam dan makan apelnya lagi. Ia mulai berpikiran mungkin Gandalf adalah seseorang yang mengemban misi rahasia yang sama sekali tak boleh dibicarakan pada siapapun juga. Dan dia sebenarnya

Na Jaemin, Kisah yang Tak Sempurna

Oleh:
“Malam membelenggu bersama pelukan yang kian merekat, air mata sudah tak tertahankan dan terjun bebas dari kelopakku menuju pipi. Kepergian tentangnya menjadi mimpi buruk yang pernah ada di hati.

Tears Of The Phoenix (Part 2)

Oleh:
Beberapa hari lalu Prilly dan Ali sudah melanjutkan perjalanan mereka karena memang kaki Prilly sudah membaik. “Di sini tidak ada pemukiman yah” Ucap Prilly melirik kesekitarnya. “Sepertinya tidak. Kenapa?

I Miss You, Ace

Oleh:
Aku ingin… Bertemu denganmu Sejak kematianmu, aku terpuruk. Sekarang aku tak punya kakak lagi. Kenapa kau pergi, Ace? Bukankah kau sudah berjanji, kau tak kan mati? Kau bohong, Ace

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *