Air Mata untuk Fernando

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 29 May 2013

Newcastle Senior High School. Ya, hari ini adalah hari yang sangat bersejarah bagi Carole karena hari ini adalah hari pertama ia membuka lembaran hidupnya di masa terindah para insan Tuhan, yaitu masa SMA. Sama seperti SMA mayoritas di Indonesia, di Newcastle High School yang terletak di negeri kangguru ini, seluruh siswa siswi diwajibkan mengikuti serangkaian kegiatan MOS selama 3 hari. Berbagai perasaan semangat, takut, senang, penasaran pun bercampur di hatinya. Ini adalah hari pertamanya, oleh karena itu ia harus memberikan “first impression” yang terbaik kepada teman-teman barunya. Ia pun memeriksa kembali segala perlengkapan yang sudah ia siapkan di tas semalam. Setelah merasa beres, ia pun bergegas pergi.

Waktu baru menunjukan pukul 5:00 AM di layar Iphone nya, tapi hampir setengah lapangan sudah terisi oleh siswa dan siswi baru serta para panitia penyelenggara MOS yang tidak lain adalah anggota “NHS Student Organization” atau OSIS. Peraturannya memang setiap murid diwajibkan datang paling lambat pukul 5.30 selama hari MOS. Carole pun mengambil tempat di belakang di sebelah cowok yang berkulit putih, bermata sipit, dengan badan yang padat berisi. Carole pun berpendapat di dalam hatinya bahwa cowok ini sangat imut dan menarik. Nampaknya ia lulusan dari Newcastle Junior High School, karena ia memakai seragam sekolah itu. Para senior memang mewajibkan para murid mengenakan seragam sekolah lamanya. Bagi para siswa tidak ada peraturan yang terlalu penting, namun para siswi diharuskan untuk menguncir rambut mereka menjadi 2 di sebelah kiri dan kanan serta memakai ikat pinggang. Mereka juga diwajibkan memakai papan nama dari karton yang digantungkan di leher. Di papan tersebut terpampang foto setiap individu serta asal sekolah mereka.

‘PRIIIIIIIITTTT PRIIIIIIIITTTT!!!’ terdengar suara peluit dibunyikan. Ini adalah tanda dari senior bahwa waktu menunjukan pukul 05.30. Ini berarti semua murid sudah harus berkumpul di lapangan dan tidak boleh ada yang terlambat. Namun, di luar lapangan masih terlihat banyak murid baru yang berlari-lari dengan tampang takut karena mereka sadar bahwa mereka telat dan dalam bahaya.

Beberapa senior segera menghampiri terlebih dahulu mereka yang telat. “Hey kalian! Baru hari pertama aja uda telat. Gimana kedepannya? Ini lagi satu cewek. Mau sok cantik kamu dek? Rambut suruh di kuncir dua malah di gerai” teriak Kak Bella sambil memberi tatapan tajam pada seorang gadis mungil cantik bernama Virginia.

Dari penjuru lapangan lain terdengar teriakan Kak Nathan yang ternyata dari tadi berjalan mengamati setiap murid apakah mereka sudah berpenampilan sesuai peraturan atau belum. “Wah wah wah, kayaknya kita dapet banyak mangsa nih hari pertama. Liat deh sini, banyak banget yang gak pake belt. Mantap nih kak kalo kita bikin hukuman massal! Woi dek, yang merasa gak pake belt atau atribut lainnya yang sudah diwajibkan, langsung ke depan ya! Gak usah pake di suruh dulu baru ke depan! Inisiatif dek, jangan jadi pengecut!” Carole pun segera meraba pinggangnya dan sadar bahwa ia tidak memakai belt. Ia pun mencoba mencari pinjaman secara diam-diam ke sekelilingnya apakah ada yang membawa belt lebih. “Eh sorry, lo bawa belt lebih ga?” “Heh? Nggak,” jawab cowok imut yang duduk di sebelahnya. Akhirnya dengan berat hati pun ia menuju ke depan dan bergabung dengan anak-anak lain yang tidak memakai atribut lengkap.

“Waduh, ini sih kayaknya rekor deh guys! Liat deh yang ga pake atribut sebanyak ini! Ini sih hampir setengah dari jumlah. Ckckck…” “Iya gila gila.. Anak jaman sekarang mah berasa hebat kali yah, mau nantang, mau sok sok jadi bad boys, bad girls biar di bilang keren” “Hahahha ga keren kali kak! Bodoh namanya mau sok eksis dengan cara ngelanggar peraturan. Kan lumayan diliatin temen-temen barunya di hukum kedepan, jadi eksis deh” Terdengar sindiran dan caci maki dari para senior.

Setelah puas, akhirnya satu persatu murid yang melanggar diperbolehkan kembali ke tempat masing-masing. Mereka pun melanjutkan segala macam kegiatan hingga siang hari. Setelah kegiatan selesai, banyak murid yang memilih untuk berkumpul bersama teman-temannya di gerbang sekolah, pergi makan ke café, atau ada juga yang langsung pulang. Carole memilih untuk bergabung bersama beberapa teman baru yang tadi berkenalan saat kegiatan berlangsung, yaitu Silvia, Celine, Anabelle, Charlotte, Annie, Miranda, Jane, Hazel, Virginia, serta dua teman dari sekolah lamanya yaitu Catherine dan Megan. Mereka pun saling bertukar cerita mengenai sekolah lama mereka hingga tentang para senior. Baru hari pertama saja sudah langsung mengincar para senior yang tampan, ujar Carole dalam hati.

Tiga hari masa MOS pun berlalu. Di hari terakhir para senior meminta maaf kepada para murid baru jika selama tiga hari itu berperilaku menyebalkan dan tentunya membuat mereka muak dan sebal. Namun tujuan mereka adalah agar para murid baru siap secara mental untuk menjalani hari-hari kedepan di Newcastle Senior Highschool yang terkenal favorit dan sulit pelajarannya. Bagi beberapa murid menganggap 3 hari tersebut sebagai 3 hari terburuk yang pernah mereka alami. Namun bagi Carole dan sebagian besar murid, 3 hari tersebut merupakan hari yang mengasyikan dan tak akan terlupakan.

Akhirnya, tiba saatnya mereka melihat pengumuman kelas. Ia dan teman-temannya pun segera menuju papan pengumuman tersebut. Mereka sangat berharap agar mereka semua sekelas, karena mereka sudah merasa nyaman dengan kelompok kecil mereka dan mereka takut jika kelas barunya nanti di isi dengan murid yang eksklusif, sombong, atau centil. Di tengah kesibukan mencari nama mereka, Carole menemukan Ysabella Carole Synyster di daftar kelas X1. Ia sangat kecewa karena ia tidak sekelas dengan satu pun dari teman-temannya tersebut. Catherine dan Silvia masuk di kelas yang sama, yaitu X3. Megan, Celine, Virginia masuk di kelas yang sama juga, yaitu X4. Sedangkan Charlotte, Annie, Miranda masuk di kelas yang sama, yaitu X6. Jane dan Hazel memiliki nasib yang sama dengan Carole, mereka terdampar sendiri di lingkungan asing bagi mereka. Namun mereka bertiga merupakan orang yang pandai bergaul, sehingga mereka tidak begitu takut untuk mencari teman baru di kelas barunya nanti.

Hari ini adalah hari pertama dimana para murid resmi memulai kegiatan belajar mengajar mereka di kelas masing-masing. Ternyata Carole sekelas dengan cowok yang ia duduk di sebelahnya saat hari pertama MOS, namanya adalah Fernando. Entah mengapa ada perasaan senang yang melanda hati Carole. Namun ia tidak mau memikirkannya lagi. Di hari pertama ini, Carole memilih tempat di barisan ujung kanan dekat pintu, tepat kedua dari belakang. “KRINGGGGGG….KRINGGGGG..” Bel sudah berbunyi namun bangku di sebelah Carole masih kosong dan belum terisi, sedangkan meja sudah terisi dengan sepasang bangku yang sudah diduduki oleh para murid. ‘Huh, hari pertama saja belum mendapat teman di kelas, bagaimana nantinya,” batin Carole di dalam hati. Namun tidak lama kemudian, masuklah seorang gadis manis dan duduk di sebelahnya. Carole pun merasa lega akhirnya ia mendapatkan teman sebangku.

Ternyata namanya adalah Margareth. Baru hari pertama saja ia sudah merasa akrab dengan Margareth. Margareth merupakan teman yang seru dan baik menurut Carole. Mereka juga berkenalan dengan Stacy, Viona, Jenie, dan Jeanette. Hari-hari pun berlalu dengan cepat, mereka selalu menghabiskan waktu bersama dengan mengobrol, curhat, bergosip, dan tertawa bersama. Namun seiring berjalannya waktu, mereka berenam terbagi menjadi tiga pasang sahabat yang lebih menonjolkan kedekatan. Carole lebih banyak menghabiskan waktu dengan Jeanette, Stacy dengan Viona, dan Jenie dengan Margareth.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Carole pun merasa sangat nyaman berada di antara keluarga kecil X1 ini. Meskipun ia tidak dekat dengan semuanya, namun setiap hari ia sering mengobrol dengan teman-temannya yang lain, tidak melulu dengan sahabatnya. Suasana X1 selalu menyenangkan berkat aksi dan kekonyolan para muridnya, terutama Richard, Fernando, James, dan Stefan. Richard merupakan sahabat Fernando. Ia dan Fernando selalu menghidupkan suasana di kelas dengan aksi mereka dan lontaran candaan mereka. James merupakan ketua kelas di X1, sedangkan Stefan adalah sosok cowok yang menurut sebagian cewek tampan dan idaman, karena berpenampilan seperti badboys dan berkelakuan sangat jahil. Di kelas, Fernando, Richard, James, dan Stefan dekat dengan Angel, Keira, dan Esther. Mereka sering duduk berkelompok di saat pelajaran dan curhat mengenai masalah masing-masing. Mereka juga tidak jarang tertawa keras-keras saat pelajaran sehingga sering membuat para guru naik darah saat mengajar. Entah mengapa ada sedikit kecemburuan yang muncul di dalam hati Carole terhadap Angel, Keira, dan Esther yang bisa dekat dengan Fernando.

Sebenarnya mudah untuk Carole bergabung dan tertawa bersama Richard, James, dan Stefan. Namun susah untuk memulainya jika disitu juga ada Fernando. Bila berada di dekat Fernando, ia tidak nyaman untuk bertindak biasa aja. Seringkali ia bercerita kepada Jeanette mengenai apa yang dirasakannya, dan Jeanette memberi kesimpulan bahwa perasaan yang di alami oleh Carole adalah perasaan suka. Namun Carole mencoba untuk melupakannya.

Bulan Desember telah tiba. Carole pun merasa sangat senang karena ini berarti Natal dan Tahun Baru semakin dekat dan liburan hamper tiba. Namun di satu sisi ia juga merasa sedikit kecewa karena ini berarti waktu untuk bersama dengan teman-teman kelasnya menjadi lebih sedikit. Pagi ini terasa begitu berbeda. Sepertinya Tuhan berpihak pada dirinya, pikir Carole. Karena sejak hari ini, Richard dan Fernando memilih untuk duduk di depan Carole dan Jeanette. Tidak hanya itu, hari ini juga hari pertama persahabatan di antara mereka berempat. Mereka mulai terbiasa untuk tertawa bersama, berkumpul untuk saling menceritakan masalah, mengungkapkan cita-cita, serta pandangan kami masing-masing terhadap sebuah masalah. Perubahan yang terjadi ini membuat Carole merasa sangat bahagia. Entah mengapa ia tidak lagi merasa canggung berada dekat Fernando, ia kini merasa nyaman. Bahkan sangat nyaman. Semakin lama pun Carole menyadari bahwa ia benar-benar menyukai Fernando. Ia pun tidak segan-segan untuk mulai cerita mengenai perasaanya kepada Richard, sahabat Fernando. Namun ia memohon agar Jeanette dan Richard tidak menceritakan rahasia ini kepada Fernando, karena ia takut apabila persahabatan diantara mereka hancur apabila Fernando mengetahui perasaan nya.

Beberapa hari setelah itu, Carole dan Jeanette di undang Fernando untuk menghadiri surprise makan malam untuk ulang tahun Richard. Skenarionya adalah Richard dikerjai oleh teman-teman satu gank nya sebelum akhirnya ia dibawa ke restoran untuk makan malam. Carole, Jeanette, Angel, dan Keira sudah menunggu di restoran tersebut. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya mereka datang. Ada Fernando, George, Jesse, Rey, Charless, Billy, dan masih banyak lagi. Kami pun menyantap makanan yang dipesan oleh keluarga Richard, setelah itu dilanjutkan dengan sesi foto dan menyayikan Happy Birthday. Mata Carole dan pikirannya sedari tadi tertuju kepada Fernando yang sedari tadi sedang sibuk bbm sambil tersenyum. Carole dan Jeantte yang lainnya pun menggoda Fernando. Ia hanya tersenyum mendengar godaan teman-temannya. Senyuman juga terbingkai di wajah Carole walaupun dalam hatinya ia merasa sedih dan perih.

Akhirnya tibalah saat hari terakhir belajar sebelum libur Natal di mulai. Carole sudah menyiapkan tiga buah hadiah untuk Jeanette, Fernando, dan Richard. Hadiah yang diberikan bukan sekedar hadiah, karena ia menulis surat pribadi untuk ketiga sahabatnya itu. Di setiap surat ada pesan tersendiri untuk masing-masing sahabatnya. Kemudian ia pun memberikannya. Pertama ia memberikan kepada Jeanette. Nampaknya Jeanette merasa senang karena ia mendapat kamera dalam air. Carole memberikan kamera tersebut dengan alasan Jeanette adalah orang yang cukup narsis. Setelah itu ia memberikan hadiahnya yang lain kepada Richard dan Fernando. Awalnya Carole merasa takut apabila mereka berpikiran yang macam-macam apalagi menolak hadiah darinya. Namun perasaan tersebut perlahan hilang setelah mendapati Richard yang tersenyum ketika membuka hadiah dan surat dari Carole. Tak lupa ia mengucapkan terimakasih. Begitu juga dengan Fernando. Hari itu merupakan hari yang sangat membahagiakan bagi Carole karena ia bisa memberikan sesuatu untuk orang yang ia sayangi, yaitu sahabat-sahabatnya.

Libur pun tiba. Hari Natal dan malam tahun baru pun menjadi momen yang paling di tunggu bagi Carole sejak kecil. Di kedua perayaan tersebut, biasanya Carole merayakan dengan pesta dan makan malam di hotel bersama keluarganya. Namun tidak dengan Natal dan malam tahun baru sejak dua tahun terakhir. Semenjak ibunya menderita kanker stadium empat, ayah Carole memilih untuk membuat pesta kecil-kecilan di rumah dan mengundang keluarganya. Di 2 tahun terakhir ini, Carole selalu berdoa di kamar atau di pinggir sungai dekat rumahnya untuk mengucap syukur karena memberikan kesempatan bagi ibunya untuk hidup lebih lama lagi. Sedangkan dokter memperkirakan bahwa umur ibunya hanya tinggal 3 bulan sejak operasi pertama dilakukan. Bagi Carole dan keluarganya ini merupakan sebuah anugerah dan mujizat besar jika ibunya masih boleh ada hingga detik itu. Namun di setiap hari yang ia lewati, ada ketakutan tersendiri terhadap kondisi ibunya yang tidak menentu. Malam itu, setelah berdoa sendiri di kamarnya, Carole memilih untuk mengucapkan sahabat-sahabtnya Selamat Tahun Baru dengan voice notes dari Blackberry. Namun, hanya beberapa orang sahabatnya yang membalas. Jeanette dan Richard membalasnya, namun tidak dengan Fernando. Hal ini pun membuat Carole kecewa. Akhirnya tahun 2013 pun tiba. Rutinitas sekolah pun kembali dimulai bagi semua murid.

Hari ini adalah hari pertama siswa siswi kembali belajar di tahun 2013. Pagi hari koridor penuh dengan tawa dan semangat kegembiraan para murid menceritakan malam tahun barunya yang spekatkuler. Namun ada juga murid yang merasa kesal dan bete karena tidak ada sesuatu yang special di malam tahun baru. Carole hanya tersenyum, baginya merasakan kehadiran dan nafas kehidupan ibunya saat malam tahun baru adalah hal terindah yang patut ia syukuri sebelum kesempatan tersebut hilang untuk selamanya. Hari ini Fernando dan Richard tidak lagi duduk di depan Carole dan Jeanette. Ia kembali duduk dan menghabiskan waktu bersama Angel dan teman-temannya. Namun mereka masih tetap sering mengobrol dengan Carole dan Jeanette. Saat habis dari kantin, tidak sengaja Carole menendang tas Fernando. Ia pun bermaksud untuk membenarkan posisi tas tersebut, namun ia melihat ada bungkus kado yang ia pakai untuk membungkus hadiah Natal waktu itu. Ia pun mengambil nya dari tas Fernando. Betapa kecewanya ia saat mengetahui bahwa hadiah tersebut masih terbungkus di dalam tas bersama dengan surat yang ia berikan. Ia sempat berpikir jika ini artinya Fernando sama sekali tidak menyentuhnya setelah ia menerimanya. Jika memang Fernando tidak menyukainya, lebih baik ia letakkan saja atau simpan saja di rumahnya dan tidak usah digunakan. Daripada hanya diletakkan berhari-hari di tas, pikirnya. Ia pun menceritakan ini kepada Jeanette. Jeanette pun berpendapat bahwa Fernando sangat tidak menghargai pemberian orang. Selama beberapa hari Carole merasa kesal dengan hal tersebut.

Kedekatan akhirnya terjalin lagi di antara Carole, Jeanette, Fernando, dan Richard. Setelah sekian lama mereka tidak berkumpul untuk bercerita, akhirnya mereka berkumpul kembali dan bercerita satu sama lain. Kali ini Fernando bercerita mengenai kedekatannya dengan seorang perempuan yang berasal dari kelas X3. Gadis itu adalah Silvia, teman lama Carole saat MOS. Ia bercerita bahwa ada sebuah perasaan indah saat mereka menghabiskan waktu bersama ketika workshop diadakan tahun lalu. Kebetulan ia sekelompok dengan Silvia di Cooking Class. Ia menganggap ini semua sebagai takdir. Ia pun mulai tertarik dengan Silvia. Masa pendekatan pun di mulai. Setiap hari mereka chatting. Setiap kali menceritakan ini kepada teman-temannya, Fernando selalu tersenyum bahagia. Carole sadar bahwa saat ini status tertinggi yang ia miliki di mata Fernando adalah sebagai seorang sahabat. Oleh karena itu Carole mencoba untuk memberikan saran dan tanggapan yang baik kepada Fernando untuk kelanjutan hubungannya dengan Silvia. Meskipun di lubuk hati terdalam Carole merasakan sebuah kepedihan, namun ia tetap menyembunyikannya terhadap Jeanette sahabatnya sekali pun. Satu prinsipnya saat ini adalah bersyukurlah selagi ada waktu untuk menghabiskan waktu bersama seseorang yang anda sayangi, jangan pernah menjerumuskan seseorang yang kita sayangi ke dalam bahaya demi keinginan diri sendiri. Ia sadar bahwa waktunya bersama Fernando hanya tinggal beberapa bulan lagi sebelum berpisah. Ia sadar semakin hari ia semakin menyayangi Fernando. Banyak sekali Carole menyukai lelaki yang menarik dan tampan yang ia temui, namun perasaanya hanya tertuju kepada Fernando. Dimana pun dan kapan pun, pikirannya hanya tertuju untuk Fernando.

Bulan Februari pun tiba. Ya, Februari merupakan bulan yang identik dengan bulan kasih sayang. Banyak orang yang mencoba menyatakan perasaan mereka terhadap pujaan hati mereka saat hari Valentine. Untuk perayaan Valentine tahun ini, para senior dari “NHS Student Organization” menyiapkan jasa layanan bagi mereka yang ingin mengirim surat, cokelat, atau bahkan mawar ke orang yang mereka suka tanpa ingin diketahui identitasnya. Para murid pun sibuk membicarakan hal tersebut. Carole berpikir bahwa ini adalah kesempatan untuk memberikan Fernando surat pernyataan perasaanya tanpa perlu diketahui identitasnya. Lagipula seandainya diketahui pun tidak masalah, karena sekarang tidak jarang wanita yang menyatakan perasaan terlebih dahulu. Namun ia tetap mengurungkan niatnya tersebut.

Hari Valentine pun tiba. Para murid di kelas sibuk memikirkan dan menerka-nerka apakah ada kiriman dari para senior untuk mereka. Banyak juga murid yang sibuk untuk memberikan coklat kepada teman-temannya. Carole mendapat cukup banyak cokelat dari teman kelasnya maupun dari teman-temannya di kelas lain. Ketika Carole sibuk mengucapkan “Happy Valentine’s Day” kepada teman-temannya, tiba-tiba Fernando datang dengan tampang yang begitu gembira hari ini sambil menggenggam mawar yang ia titip dari salah satu siswi X5. Kabarnya hari ini ia akan menyatakan perasaanya kepada Silvia. Carole merasa biasa saja saat itu. Akhirnya setelah bel masuk berbunyi, anak-anak di X1 ramai membicarakan rencana Fernando untuk menyatakan perasaan terhadap Silvi. Richard, James, dan Stefan sibuk membuat gaya-gaya lucu yang mengumpamakan seperti apa Fernando nanti saat berhadapan dengan Silvia. Carole pun ikut tertawa dan senang melewati saat itu. Tiba-tiba datang senior untuk membawakan surat, mawar, serta cokelat untuk orang-orang yang dituju. Setiap nama yang disebutkan mengundang teriakan dan ledekan khas remaja yang dilontarkan para murid lainnya. Nama Jeanette dan Carole dipanggil. Mereka sama-sama mendapatkan beberapa paket mawar, cokelat, dan surat dari orang yang tidak mereka ketahui identitasnya. Beberapa lama kemudian, ada senior lagi yang masuk dan menitipkan paket lagi untuk Carole. Aneh, batin Carole. Selama ia bersekolah disitu, ia tidak pernah chatting atau memiliki hubungan dekat selain lebih dari sahabat dengan para lelaki. Teman-teman yang lain pun sibuk membuka isi surat yang Carole terima. Mereka segera menyelamati Carole dan menggoda Carole. Namun Carole tidak merasa special dengan semua yang ia terima, karena itu semua bukan berasal dari seseorang yang ia harapkan. Ada pepatah mengatakan, seseorang bisa merasa kesepian di tengah banyak orang dan merasa ramai hanya dengan seseorang. Begitu juga dengan Carole, sekian banyak hadiah yang ia terima tidak membuatnya bahagia. Ia akan merasa sangat bahagia hanya dengan satu hadiah dari Fernando, pikirnya.

Anak-anak pun kembali menyorakkan semangat dan dukungan Fernando yang sedang menyiapkan segala keberaniannya untuk menyatakan perasaannya terhadap Silvia. Hanya ada dua kemungkinan cerita yang akan mengisi halaman buku kehidupannya setelah ini, apakah kebahagiaan cinta ataukah duka karena cinta. Setelah siap, Fernando serta hampir semua murid X1 pun bergegas menuju kelas X3. Setiap langkah yang Fernando hentakan, membawa ketakutan dan kecemasan tersendiri di hati Carole. Namun Carole tahu jika ia harus terus berada di belakang Fernando, mendukung Fernando. Sepertinya murid di X3 pun telah mengetahui apa yang akan terjadi, karena mereka menyorakkan nama Silvia. Fernando pun masuk dan mulai menuju kearah Silvia sambil menggenggam mawar. Setiap murid berusaha mengambil posisi yang strategis untuk menyaksikan peristiwa tersebut, namun tidak dengan Carole. Ia memilih untuk berada jauh dari tempat peristiwa tersebut berlangsung. Ia memilih untuk melihat dari kejauhan. Murid yang lain pun sibuk dan ramai menyiapkan kamera dan video recorder dari Blackberry mereka untuk merekam peristiwa bersejarah tersebut. Rasa sakit, pilu, pedih memenuhi relung hati Carole saat itu. Ketika sorakkan “CIEEEEE HUUUUUU” mulai disorakkan oleh para saksi, Carole pun berlari keluar diiringi oleh air mata. Jeanette menyusul Carole. Di koridor dan di depan CCTV Carole menangis di pelukan Jeanette. Ia tidak peduli dengan CCTV yang ada. Yang ia inginkan hanya menangis untuk melampiaskan kesedihannya. Ia tidak sanggup, ia tidak kuasa melihat pemandangan tersebut. “Lo gak bisa bohongin perasaan lo sendiri, lo ga bisa bohongin gue. Lo masih suka sama Fernando, Carole. Gue tau sakit banget itu, tapi lo harus rela. Dia sahabat lo,” ujar Jeanette sambil mengelus pundak Carole.

Hari itu adalah hari yang bersejarah bagi pasangan Fernando dan Silvia. Begitu juga dengan Carole. Ini merupakan hari Valentine terindah bagi sepasang insan, dan terburuk bagi seorang gadis rapuh yang kalah dengan perasaannya. Carole pun memilih duduk di kelas bersama Jeanette. Saat Fernando kembali, yang lain sibuk memberikan selamat kepadanya. Air mata masih membasahi pipi Carole. Ia memilih untuk pura-pura memainkan Blackberry nya agar tidak ada yang menyadari bahwa ia habis menangis. Ia pun semakin pilu karena di layar recent updates, semua murid mengganti profile picture mereka menjadi gambar dimana Fernando memberikan setangkai mawar kepada Silvia. Setelah berhasil mengontrol emosinya, Carole pun memberanikan diri memberikan selamat kepada Fernando. Ucapan selamat yang aneh dan singkat. Carole merasa semakin sedih jika mengingat sejak SMP, setiap kali ia menyukai seorang pria, pada akhirnya ia hanya bisa menjadi tempat curhat pria tersebut. Lebih parah lagi, curhat yang mereka lakukan isinya hanya tentang perempuan yang mereka suka. Semakin hari pepatah “Cinta Tidak Harus Saling Memiliki” semakin nyata di hidup Carole.

Hari berganti hari, tidak terasa kebersamaan Carole dan sahabat-sahabatnya di X1 hanya tinggal sebentar lagi. Sejak peristiwa itu, akhirnya secara perlahan ia bisa menerima kenyataan yang ada. Meskipun ia belum bisa move on dari Fernando, kini ia sudah tidak merasakan sedih dan perih di hatinya. Ia menyayangi Fernando dengan rasa yang berbeda. Rasa sayang yang bukan hadir di antara sepasang laki-laki dan wanita untuk berusaha melindungi karena mereka saling memiliki, tetapi rasa sayang tulus yang tetap ada sekalipun ia sudah dimiliki orang lain. Bahkan rasa sayang itu semakin kuat mengiringi semakin singkatnya waktu yang mereka miliki untuk bersama. Tidak pernah muncul di pikiran Carole untuk membuat mereka putus atau semacamnya. Bahkan, Carole selalu berusaha memberikan solusi terbaik jikalau ada masalah di antara Fernando dan Silvia.

Hingga pada suatu pagi di tanggal 3 Mei 2013, Fernando memanggil Carole. Sudah sejak ia datang ke sekolah, Carole memperhatikan wajah Fernando yang sedari tadi murung tidak ceria seperti Fernando yang biasa. Ia pun mengatakan bahwa mereka sudah putus. Aneh rasanya, seharusnya Carole merasa senang dengan berita ini, namun yang terjadi malah sebaliknya. Carole bisa melihat bahwa Fernando mencoba untuk bersikap tegar, namun tergambar kesedihan di matanya. Ini merupakan sebuah hal yang cukup memukul hati Carole, melihat orang yang ia sayangi hampir menangis. Carole pun mencoba menghibur Fernando.

Hari-hari berlalu, nampaknya Fernando mencoba menyembunyikan kesedihannya tersebut. Tidak banyak orang yang mengetahui putusnya hubungan antara Silvia dan Carole. Namun beberapa hari terakhir di bulan Mei ada sesuatu yang berubah di antara Carole dan Fernando. Mereka yang tadinya sering bersama, bercerita, tertawa, kini seperti ada celah yang memisahkan mereka. Fernando sekarang bersikap dingin terhadap Carole. Ia tidak lagi bermain dengan Carole seperti biasa. Ia tidak lagi curhat dengan Carole. Carole menyadari itu dan Carole merasa lebih sakit dibandingkan ia harus menyaksikan peristiwa di hari Valentine waktu itu. Harapan Carole untuk bisa menghabiskan waktu bersama Fernando dengan kenangan bahagia di hari-hari terakhir sepertinya tidak dikabulkan oleh Tuhan. Ia tidak menunjukan perubahan yang berarti terhadap Jeanette ataupun yang lainnya, tetapi hanya dengan Carole. Ia juga sekarang lebih dekat dengan Margareth. Entah mengapa Carole memiliki perasaan tidak rela jika ia dimiliki oleh Margareth.

Carole tidak akan sedih dan akan mendukung jika seandainya Fernando kembali bersama Silvia, namun ia tidak akan rela jika Fernando bersama Margareth. Namun Carole berterimakasih dengan Tuhan atas segala sesuatu yang telah ia lewati. Ia tidak pernah menyesal telah bertemu Fernando. Fernando yang membawa tangisan dan kebahagiaan di dalam hidupnya. Satu hal yang tidak akan dilupakan dalam hidupnya adalah, kebersamaanya dan pertemuannya dengan Fernando telah membawa potongan-potongan kesedihan dan kebahagian yang menjadi serangkai kenangan berharga di hidupnya.

Cerpen Karangan: Renata Herawan
Twitter dan Instagram : @renataherawan
Path : Renata Herawan

Cerpen Air Mata untuk Fernando merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebuah Janji

Oleh:
Tessa seorang gadis yang duduk di bangku kelas 2 SMA itu tak henti hentinya memandangi alan, seorang senior yang tidak pernah memberikan contoh yang baik kepada juniornya, sering membolos

Peluang Hebat yang Terdekat

Oleh:
Pindah sekolah? Siapa yang menginginkannya? Aku rasa tak ada, kecuali mereka yang punya masalah di sekolahnya, tapi aku bukan mereka. Aku tak menginginkan apalagi membayangkan riwayat pendidikan SMPku di

Rinai Hujan

Oleh:
“Hujaaan… Gigi kelinci!” teriak gadis jelita di sampingku. Saat kami di dermaga dan ada tetesan gerimis. “Iya… Rinai, hujan,” sahutku. “Ayo pulang!” ajakku. “Tidak mau, aku mau di sini

Suki

Oleh:
Dia adalah Raziel Raddian. Dia tidak memiliki kepercayaan diri terhadap pandangan orang lain kepadanya. Pria yang suka sendirian dan kesepian. Tapi sebaliknya, dia adalah tipe pria yang bersikap keren.

Cinta Sejati

Oleh:
Aku melangkah dengan tubuh sempoyongan. Kepala ku sama sekali tak berani untuk mendongak. Mataku hanya menatap permukaan jalan dengan menyusuri setiap langkahan kaki ku. Benar-benar hari ini hari yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Air Mata untuk Fernando”

  1. deboraaa says:

    itu true story ya kak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *