Aku Atau Cinta Yang Salah?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 21 January 2017

Tepat malam raya lebaran setia membaca berita tidak mengenakan untuk dia.

Lita mengirimkan luka yang begitu menyakitkan melalui pesan singkat, seperti lita ingin menjauh dari setia, berbanding terbalik dengan malam sebelumnya, lita memerintahkan setia untuk tetap tinggal, lita berkata “jangan pernah tinggalkan aku ya!” tanpa ragu setia mengiyakan permintaan lita.

Memang benar, sebelumnya mereka tidak pernah berpacaran atau menjalin hubungan lebih dari sekedar teman, namun kedekatan mereka sudah lebih dari sekedar satu kata yaitu pacar, setia tak pernah menutup mata bahwa lita sudah dimiliki seseorang, setia sadar dan tahu akan semua itu. Memang terdengar sedikit aneh bukan?

Sebelum pertama mereka bertemu, saling memandang, dan berakhir seperti sekarang. Setia mengira bulan ini adalah bulan cobaan, bulan kesakitan, dan kesedihan baginya, terpuruk dia rasakan di awal bulan. Jauh lebih menyakitkan dari orang yang sedang terjun bebas tanpa parasut dari atas tebing, dan di bawahnya sudah banyak duri duri hitam tajam yang seakan ingin melihat tubuhnya hancur berantakan.
Setia merasa semangatnya hilang, siangnya tak cerah, malamnya tak berbintang, makan tak enak, tidur tak nyenyak, karena harus memikirkan beban-beban kehidupannya, terutama dari keluarganya yang harus bercerai berai. Setia merasa lebih baik membakar kepalanya di perapian agar tidak lagi ia pikirkan beban dan mati dengan ketenangan.
Kepalanya dipenuhi dengan pemikiran janggal, ia berpikir “Apa aku harus menelan matahari agar tidak ada lagi hari? Atau hanya sekedar mencabik cabik bulan agar tidak ada lagi malam?”
Ia berdoa agar tidak ada lagi kehidupan.
Tak lama kemudian ia tersadar, itu semua tak bisa ia lakukan. Mengapa? Karena ia bukan tuhan.
Sedih, sakit, lelah, yang dia rasakan semuanya bersatu menggrogoti tubuh dan hatinya perlahan.

Namun di tengah perjalanan menuju kematian seketika lita datang melambaikan tangan menari setia kembali ke atas tebing berbintang menyelamatkan setia dengan caranya, Setia tidak tahu apa tujuan lita entah untuk pelarian dari masalah hubungannya, atau sekedar ingin bersenang-senang, entahlah, yang jelas setia tidak tahu maksud dari lita.

Pertama kali mereka bertemu setia mengaku tak merasakan apa-apa, namun setelah beberapa hari kenal dengan lita ia merasa semua berbeda. Menurutnya lita mampu menyirami hati setia dengan cinta, memberinya sayap untuk terbang bebas, memberinya pengharapan untuk hidup lebih indah.

Lita mencari, memaki, menanyakan setia ketika tidak ada pesan yang ditinggalkan darinya untuk lita, setia merasa penting dan diperlukan untuk hidup lita.

Ternyata setia salah, bulan kemerdekaan ini bukan bulan kesedihan untuknya. Hari berganti pekan mereka semakin dekat, setia semakin dalam, ia tidak bisa menjelaskan alasan, mengapa? karena setia tahu dan yakin cinta itu bukan alasan tapi kekuatan.

Disela sela kelelahannya bekerja ia sempatkan membuat kertas karton yang bertuliskan i love You, beberapa hari kemudian ia beri bunga mawar yang layu untuk lita. Sampai suatu hari dia memberanikan diri untuk mencium lita, tidak di dahi namun di atas kepala ubun-ubunnya, lisan setia lancar membisikin kata “aku sayang kamu” di telinga lita, mungkin itu cara setia untuk menyatakan perasaannya

Setia merasakan kenyamanan, nyaman dengan keadaan tersakiti, nyaman menjadi pilihan nomor sekian, ia nyaman. Sampai akhirnya Terbesit dalam pikirannya untuk menanyakan kejelasan hubungannya.
“sampai kapan kita seperti ini?”
Namun lita menjawab “aku tidak tahu, aku butuh waktu” dan bla bla bla.
Akhirnya setia putuskan untuk tidak lagi menanyakan hal seperti itu kepada lita, karena ia tahu pasti ia akan mendapatkan jawaban yang sama.
Dia jalani kesakitan itu dengan sabar, karena sakitnya itu tidak lebih besar dari cintanya, Bisa diibaratkan sakit setia itu hanya seluas waduk buatan, namun cintanya sebesar lautan.

Setiap malam akhir pekan ia merelakan waktunya dibagi dengan penjaga hatinya lita yang sudah lampau dikenalnya, sudah lama ada di hidup lita.
Setia menunggu kabar dari pujaan hatinya ketika lita sedang asik bercumbu.
Setia menunggu terus sampai larut malam, “memang seharusnya begini untuk seorang yang tidak terlalu dipentingkan, mungkin”. begitulah pikir setia
Sampai akhirnya muncul kabar itu, yang berisikan lita tak tega melihatnya seperti ini, lita ingin menjauh dari setia.
namun berulang kali setia meyakinkan lita
Dia berkata “jangan terlalu khawatirin dan pikirin aku, aku tidak apa-apa seperti ini”
Kata itu selalu ia sampaikan pada lita berulang kali dengan maksud ingin menahan lita sebentar, menahan lita untuk menemaninya duduk di bangku taman yang sudah lama kosong, menahan lita agar tidak pergi darinya

Entah, lita yakin atau iba kepada setia.

Hubungannya berjalan seperti biasa, saling menyayangi dan mengingatkan,

Selalu teringat dalam benak setia 3 hari yang membahagiakan mereka selalu bersama dari pagi sampai larut, berawal dengan makan-makan dengan teman-teman satu pekerjaanya, lita menemani setia bermain futsal, walaupun sebenarnya setia tahu lita tidak benar-benar bermaksud menemaninya, sampai di hari terakhir mereka merencanakan nonton film yang bisa mengobati luka semua orang yang gila karena dunia, film yang bisa bikin tertawa.
Mereka nonton berlima setia dan lita tertawa bersama, saling memanja, setia menyuapi lita dengan popcorn sedikit demi sedikit, sampai akhirnya lita mengecup pipinya, itu yang membuat sayap setia melebar sepuluh kali lipat lebih besar, itu yang membuat ia terbang ke awang awang.
Senang gembira ia rasakan hilang beban, hilang kesedihannya saat itu.
Setia mencintai lita karena sikap lita yang apa adanya tidak mengada-ada..

Selanjutnya mereka tetap menjalani hubungan ini seperti biasa. Bahagia yang setia rasa. Namun ia tak tahu apa yang lita rasakan.

Sampai akhir pekan mereka merencanakan untuk pergi, untuk berfoto atau hanya untuk sekedar melepas penat. Mereka pergi ke suatu pelabuhan. Mereka berangkat berempat bersenang senang, pulang mendahului senja yang datang, mereka makan di pinggiran, sesudah makan lita buru-buru mau pulang setia mengantar, walau tidak sampai kepada tempat peraduan, ia mengantar hanya ke persinggahan besi api nan panjang.

Sambil menunggu ibu lita datang ke stasiun setia mengatakan “aku sayang kamu”
Tanpa ragu lita pun membalas kata-kata setia dengan berkata sebaliknya “aku juga sayang kamu” begitu katanya.
Mungkin itu kata-kata mesra terakhir yang keluar dari hati melalui mulutku seorang pemuda yang tulus mencintai wanita orang.

Sampai akhirnya mereka berdua pulang. Sampai di rumah setia tidur kelelahan tak tahu mengapa tidurnya tak nyenyak, pikirnya mungkin karena televisi yang masih berwarna nyala bersuara, tapi dugaan ia salah, ia terbangun dimalam buta dilihatnya layar handphone, terlihat ada pesan dari lita, pesan yang menyakitkan bagi setia, pesan yang memutuskan pengharapannya, pesan yang berisi lita ingin menyudahi semua kisah singkatnya bersama setia, pesan yang mewakili pilihan lita, pesan yang bermaksud lita lebih memilih kekasihnya ketimbang setia,

Malam itu sunyi senyap, tak didengarnya suara, seakan telinganya tertutupup pilu atau memang benar sepi.
Ia merasakan kesedihan yang mendalam, ia coba membendung air matanya agar tidak membanjiri muka. Ia coba namun ternyata ia tak bisa, air matanya terjatuh sedikit perlahan membasahi bantal yang setiap malam menemani mimpi mimpinya bersama lita..
Ia coba melupakan semua itu namun tak bisa, ia tak sanggup meghapusnya.

Ia menuliskan di buku kosong yang kotor
“Hatiku berperang degan ego untuk memilikimu sepenuhnya, hatiku berperang saat akan melepasmu”.
Sebenarnya ia tak ingin melakukan itu, namun ia harus mengingkari janjinya sendiri karena kemauan lita. Ia berkata kepada lita melalui pesan singkanya
“Maafkan aku atas keingkaran ini, jangan hukum aku!”

Sebelumnya Ia bertanya-tanya kepada sunyi malam.
“Aku atau cinta yang salah?”
Mereka acuh dengan pertanyaannya, kecuali angin, angin membisikan bahwa “mereka tidak salah, harapmulah yang salah, kamu yang terlalu tinggi menggantungkan cita-cita dan mimpi, tanganmu yang telalu pendek untuk menggapainya”.

Sejak dulu ia sadar ia akan kalah dalam gerilya cintanya, ia tahu kekasih lita lebih punya banyak amunisi senjata ketimbang dia yang panah pun tak punya, jelas lita lebih condong berpihak kepada kekasihnya. itu yang ia yakinkan dan memang benar kenyataan. Kekasih lita bisa melindungi lita dari lawan-lawan dan binatang buas dengan senjata senjatanya. Sedangkan setia tak bisa melindungi lita melindungi dirinya sendiri saja belum tentu bisa.

Namun ia bertekad untuk menunggumu lita.
Sampai matahari bertanya
“Sampai kapan?”
“Entahlah, aku tak peduli sampai kapan, akan kuhabiskan waktuku untuk menunggunya datang”

Setia menitipkan pesan kepada embun pagi
“Aku pulang, aku pecundang, dia pemenang. Walaupun sebenarnya aku tak benar-benar pulang, aku akan menunggumu di pinggir jalan jalan yang berlubang, menunggumu bila suatu saat kau butuhkan, bila memang tak jua datang biarkan ku dipenuhi debu dan asap kendaraan sampai ku lupa cara membersihkan dan tertabrak mobil yang lalu lalang”

Sampai sekarang saya mendengar setia masih menunggu lita datang.
Semoga lita sadar akan sabar setia.

Cerpen Karangan: Ridwan Setiawan
Facebook: ridwansetiawan886[-at-]yahoo.com.au

Cerpen Aku Atau Cinta Yang Salah? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Dan Air Mata

Oleh:
“Aku mengenal luka lebih dulu sejak mengenalmu, dan kau pun merasa sakit setelah aku tak ingin mengenalmu,” Hari ini adalah hari dimana aku dengan Erwin tepatnya 3 tahun berpacaran

Malam Minggu Yang Menyakitkan

Oleh:
Tepat pada malam minggu dengan gemerciknya suara hujan Ulo dan Mabi seperti biasa selalu sms-an. Ditengah kedamaian tersebut, Ulo ingin membicarakan sesuatu dan disitu pun perasaan mabi sudah tidak

Antara Aku dan Bintang

Oleh:
Aku sudah lama kenal Bintang, lama sekali, sejak SMP. Bintang selalu ada untukku, selalu menemaniku, tempat aku mengadu, tertawa bersama, bahkan saat aku ada masalah Bintang lah yang pertama

Tembok Kilometer

Oleh:
Orang bilang, cinta adalah anugrah terindah bagi manusia. Dengan bertemunya sepasang manusia yang tidak saling kenal awalnya, menciptakan pertemanan, menjalin kasih, lalu berpisah. Orang bilang, cinta adalah hal terkuat

Kehilanganya

Oleh:
Aku memcoba membukakan mata ku, yang terbangun dari mimpi indah ku, sorotan sinar mentari memantul ke arah jendela kamar “ya ampun sudah siang” gumam ku dalam hati segera ku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *