Aku, Kalian, Kita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Perpisahan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 13 October 2017

“Cepat sekali, ya…”
Tanpa sengaja aku menggumamkan sesuatu di tengah lamunanku. Suasana kelas yang sunyi membuatku berpikir akan sesuatu. Ini bukanlah tentang betapa cepatnya laju angin hingga menyeret awan bersamanya. Ini tentang tahun terakhirku di SMA…
Terlalu cepat, seakan tiba dengan tempo yang dipercepat. Tanpa kusadari ternyata sudah terlewat dua generasi semenjak aku bersekolah di sini. Dalam benakku, aku merasa menjadi murid di sini belum begitu lama, tetapi secara mendadak hanya tinggal empat bulan saja hingga Ujian Nasional terlaksana.
Ya Tuhan, kenapa sih, waktu yang terasa menyenangkan selalu datang dan pergi begitu cepat?

Dulu, dulu sekali, aku selalu mengocehkan tentang betapa inginnya aku segera menyelesaikan bangku sekolah, kemudian mencari pekerjaan tetap dan memulai sebuah kehidupan baru. Sebegitu inginnya aku bergerak maju menuju tangga “kedewasaan”.
Tapi, yang terjadi sekarang malah sebaliknya. Aku ingin, sangat ingin waktu dapat terhenti. Aku tidak ingin saat-saat ini terlewati dan hancur oleh derasnya aliran waktu. Aku tau, waktu tak akan terhenti sekalipun aku memohon. Aku tau, waktu tidak akan dapat diputar kembali untuk alasan apapun. Aku sangat tau.
Tetapi, bisakah kehangatan yang kurasakan ini tetap kugenggam? Tak bisakah sensasi yang kurasakan saat ini selalu menemani tidurku hingga lelap datang?

Masih segar dalam ingatanku, untuk alasan tertentu aku merasa yakin saat itu.
Sebuah pertemuan akan selalu membawa perpisahan di dalamnya.
Dengan keyakinan itu, aku mengkukuhkan diri, membuat dinding tak kasat mata, yang senantiasa membatasiku untuk dekat dengan mereka. Itu karena suatu hal yang aku percayai dari dulu hingga sekarang:
Perpisahan adalah hal yang menyakitkan…

Sebuah pengalaman, perpisahan adalah sesuatu yang pahit. Tetapi, meski telah kucamkan dalam pikiran, alam bawah sadarku tidak dapat dibohongi. Meski aku selalu mengatakan kesendirian merupakan yang terbaik bagiku, nyatanya hati kecilku menolak mempercayai itu. Alam bawah sadarku membutuhkannya, membutuhkan tangan yang mampu menggapaiku untuk bangkit dari jurang yang dalam itu. Dan mereka memberikanku. Mereka memberikan uluran tangan yang mampu menggapaiku.
Dalam rentang waktu yang tidak singkat aku mengerti. Aku telah terjebak di antara mereka. Aku telah terjebak oleh hubungan erat dengan mereka.
Aku tau, sudah terlambat bagiku menyadari itu. Jurang perpisahan sudah tepat di depan mata, tanpa terdapat jembatan yang menghubungkannya.
Kenangan akan menjadi pahit, jika terdapat kenangan yang manis dan kau sadar berusaha mengulangnya adalah hal yang percuma.

Ya, aku memang tidak mampu mengulang kenangan itu. Mereka akan mulai menghilang suatu saat. Manusia tidak mampu merekam setiap kenangan yang mereka alami. Memori yang terdapat di kepala perlahan akan pudar, seiring usia manusia yang semakin menua.
Tapi, terdapat satu hal yang tidak mampu manusia lupakan, terdapat satu hal yang akan selalu manusia ingat. Adalah perasaan, perasaan dimana momen itu diciptakan.

Perasaan adalah sesuatu yang tidak nyata.
Sampai saat ini pun aku masih memegang teguh ucapanku. Perasaan tidaklah nyata, tetapi momen yang aku habiskan bersama kalian adalah sebuah fakta yang nyata. Aku pernah bercanda dengan kalian adalah hal yang nyata. Aku pernah menikmati waktu bersama kalian adalah fakta yang nyata. Itulah hal yang juga aku percayai.
Mungkin terlalu cepat, terlalu cepat bagiku mengucapkan perpisahan, tapi biarkan aku berharap satu hal. Meskipun butuh waktu yang lama untuk kembali bertatap muka, bahkan sekalipun kita tidak akan berjumpa, biarkan aku tetap berharap, bahwa kalian tidak akan melupakanku, bahwa kalian akan selalu mengingat setiap butir kenangan bersamaku…
Mungkin terlalu cepat, terlalu cepat bagiku…
Tapi ijinkan aku mengucapkan pada kalian:
Selamat tinggal dan… sampai jumpa…
Semoga setiap jalur pintaian takdir yang kalian buat, akan mempertemukan kita suatu saat nanti.
Semoga kita dapat membuat kenangan bersama lagi suatu hari nanti.

Aku menyayangi kalian…
Kuharap akan tiba saatnya kita kembali berbincang tentang aku, tentang kalian, tentang kita.

Cerpen Karangan: Sipa Mashiro
Facebook: Sipa Mashiro
Pria tapi wanita.

Cerpen Aku, Kalian, Kita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Puncak Gunung Single

Oleh:
Hiks hiks hiks! Hasan sedang menangis tersedu-sedu di pojok kantin sekolah. Satria datang menghampirinya, “Kenapa kamu menangis San?”. Hasan menoleh sambil sesenggukan, “Anakku minta dibeliin pulsa!” Kata Hasan dua

Sang Pencari Sahabat Sejati

Oleh:
Sang mentari nampak enggan memperlihatkan keanggunannya, sang jangkrik masih asyik melakukan pestanya, berisik tak menenggang. Sebuah bangunan melantunkan lagu yang tak pernah luput dalam hati sang muslim. Semua orang

Tak Seburuk Perpisahan

Oleh:
Plafon keabu-abuan membuat Yuta kecewa ketika sekali lagi terbangun. Sementara di luar, garis jingga membentang indah di langit. Yuta cukup akrab dengan semua itu. Tempat yang ingin ia coba

Pergilah Dengan Dia

Oleh:
Teeeeeet.. semua murid bersorak gembira setelah bel pergantian les berbunyi. Iya, guru PKN ini sangat kiler dan membosankan, siapapun akan merasa senang jika bel pelajarannya habis. Setelah bel, aku

Akan Ku Ingat Selalu Dirimu

Oleh:
Tak terasa waktunya, Apa yang di katakannya kemarin itu benar terjadi, malam itu juga ia pergi meninggalkanku. Sahabat yang ku sayamgi telah pindah. Aku mengerti apa yang di alaminya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *