Aku, Kamu, Kita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 4 November 2013

Udah hampir 6 jam gua mantengin layar laptop dan gua gak tau mau mulai ngetik dari mana? gua gak tau gua harus mulai dari huruf apa? bahkan sempat beberapa kali gua ketik dan gua hapus lagi. Gua GAlAU! iya, gua Galau bukan karena gua gak tau mau ngetik apa, tapi gua galau karena perasaan gua yang lagi sekarat, sekarat karena gua baru aja putus dari pacar gua, ironisnya masih ada hal yang gua rasa belum bisa berlalu gitu aja.

Intan, nama yang masih aja muter-muter di kepala gua, nama yang masih aja jadi nama yang keramat kalo gua denger, nama yang udah buat hidup gua kaya sekarang… iya GALAU TINGKAT DEWA kaya sekarang.

Tepat 2 bulan yang lalu gua kenal dia, pertama kali ketemu dia… jujur aja gua sempat blank dan gak tau mau ngomong apa, gua cuma bisa diem, gua jadi lemot dan bahkan untuk kenalan sama dia, jalan pikiran otak gua butuh waktu 15 menit cuma untuk bilang “hai”, karena dia fix punya semua hal yang gua idam-idamkan selama hampir 3 tahun, dia punya senyum yang manis, tatapan yang indah, dan sikap yang lembut. Gua gak mau nunggu lebih lama lagi, gua gak mau gini” terus sampai akhirnya gua beranikan diri untuk bisa kenalan, ngobrol kecil, dan minta nomer hp nya.

Hari-hari gua berikutnya mulai berbeda dari biasanya, mulai dari buka mata sampai mau merem lagi, kita pasti smsan, gak perduli lagi sibuk atau enggak, lagi dalam kondisi apapun gua berusaha untuk nyempetin bales sms dari dia, gua semangat dan gua ngerasa seolah baru bangun dari tidur panjang gua semenjak dia hadir di kehidupan gua.

1 Minggu berlalu dan hari ini adalah hari sabtu yang berarti malam minggu pertama setelah kenal dia, dan menurut prinsip gua kalo malam ini adalah saat-saat paling menentukan untuk kelangsungan hubungan gua sama dia kedepannya, dan malam itu gua beranikan diri untuk ajak dia jalan-jalan, gak butuh waktu lama untuk tiba di rumahnya, senyum manis itu seolah menjamu kedatangan gua dan kita akhirnya berangkat. Selama di jalan kita ngobrol tentang banyak hal, gua banyak cerita tentang hidup gua dan gua juga banyak mendengar cerita hidupnya dia, kita juga menelusuri jalan braga sambil bercerita tentang perasaan, dan itu menyadarkan gua kalo ini adalah saatnya untuk nyatain perasaan gua ke dia. Gak kerasa kita sama-sama capek keliling-keliling kota dan mampir ke sebuah minimarket, membeli minuman dan setelah itu kita istirahat sebentar di depan minimarket itu, gua mulai membicarakan tentang perasaan, gua mulai merinding, jantung gua mulai gak karuan, dan lebih parahnya lagi adalah gua jadi mules. Tapi, gua gak mau kesempatan itu lewat gitu aja, gua akhirnya nembak dia dan tepat malam itu juga dia bilang kalo dia nyaman sama gua dan mau jadi pacar gua. Gua loncat-loncat kegirangan bahakan tukang parkir gua ajak joget, tapi di balik bahagianya gua malam itu, dibalik senyumannya saat ngelihat gua bahagia, ada keraguan di matanya bahkan lebih kepada tatapan takut.

1 Minggu setelah pacaran semuanya pun berubah, hp yang biasanya sering bunyi karena ada sms dari dia sekarang mulai hening, sms yang tadinya bisa sampai 2 halaman layar, sekarang kurang dari 160 karakter bahkan dari 2 baris, suaranya yang biasanya nemenin gua di malam hari sampe ketiduran sekarang cuma laptop dengan puluhan playlist galau yang nemenin malam gua. Beberapa kali, gua coba untuk ketemu dan minta penjelasan atas sikapnya dia, tapi dia cuma selalu jawab kalo dia sibuk kerja dan gua berusaha kok untuk terima, walaupun gua mulai ngerasa ada sesuatu yang gak beres.

1 Minggu berikutnya hubungan gua makin gak jelas sama dia, bahkan sms gua kemarin baru di bales hari ini, gua bukan gila perhatian atau gak bisa ngertiin tapi gua butuh penjelasan, gua cuma butuh alasan atas sikap dia yang makin lama makin gak bisa gua tolerir lagi. keadaan makin memburuk, hari minggu dan malam ini harusnya jadi malam dimana hubungan gua sama dia akan terhitung 1 bulan, gua berharap dia ingat, walaupun gua tau sebaliknya. Gua beranjak dari kasur, siap-siap, dan langsung bergegas keluar rumah, kepala gua rasanya mau pecah, dinding kamar gua semuanya wajah dia, gua akhirnya mutusin untuk pergi ke tempat gua biasanya makan sama dia, tapi malam itu gua gak pernah duga kalo semua bakal jadi seburuk ini, gua gak pernah punya firasat kalo gu akan ketemu dia disitu… dia gak sendiri kok ! dia sama cowok lain dan positif thinking gua berakhir pula ketika mereka suap-suapan makan dan cowok itu ternyata teman gua sendiri, teman yang selama ini ngikutin updetan curhatan gua tentang dia, teman yang selalu jadi tempat gua untuk cerita begitu banyak hal… iya teman yang gua gak pernah nyangka untuk separah ini.

Gua masih aja diam di belakang mereka dan gak tau mau ngelakuin apa, kaki gua gak mau melangkah pergi, dan akhirnya Intan tanpa sengaja menyadari keberadaan gua disitu, dia kaget, bingung, salah tingkah, dan temen gua berusaha untuk nyuruh gua tenang dan dia akan ngejelasin semuanya. Gua cuma bilang “CUKUP!!”, iya gua cuma bilang “cukup sakit rasanya dikhianati sama 2 orang yang berarti buat gua”. Gua melangkah pergi dari situ bahkan Intan masih sempat untuk nahan gua, tapi dia di tahan sama temen gua.

hari demi hari, dan minggu-minggu gua berikutnya mulai normal dan kembali seperti dulu, gua pacaran sama laptop gua, gua curhat sama laptop gua, kalo ditanya move on, gua rasa move on dalam versi gua adalah untuk melanjutkan hidup yang udah gua tinggalin cukup lama, dan tetap mencintai dia, dan bahkan untuk juga masih merangkul bahu teman gua.

Gua cukup sakit dengan keadaan yang gitu-gitu aja, gua paham dengan keadaan dimana gua gak bisa terus-terusan untuk pasang muka biasa aja di depan mereka berdua, tapi cuma dengan cara itu mereka akan mikir kalo gua udah bisa mengikhlaskan dan itu juga jadi satu cara untuk gua bisa terus ketemu Intan, satu-satunya cara untuk gua bisa lihat dia senyum, bisa lihat matanya, bahkan cuma itu satu-satunya jalan untuk gua bisa bertahan walaupun perlahan itu juga jadi alasan untuk gua serapuh serapuh ini.

Belajar dari apa yang gua rasain sekarang, gua tau gimana bahagianya mereka berdua, karena gua pernah ada disitu dan pernah merasakan apa itu bahagia dengan wanita yang sama… INTAN!!
gua belajar dengan mengikhlaskan apa yang bukan milik gua untuk tetap ada disana, dan jadi milik orang lain. Gua menghargai diri gua sendiri, gua memilih untuk meniadakan apa yang seharusnya memang tidak pernah ada, gua memilih untuk belajar melepaskan sesuatu yang belum benar-benar jadi milik gua.

Tapi ironisnya masih ada 1 hal yang gua rasa belum bisa berlalu gitu aja.. gua cuma mau bilang ke dia untuk jangan pernah lupakan KITA, jangan pernah biarkan KITA ditelan waktu, karena KITA pernah sama-sama merasakan apa itu cinta dan apa itu bahagia, sebelum ada kalian pernah ada KITA kan?

“Berbahagialah kamu di sana, tapi ingatlah KITA.. iya Aku sama Kamu sebagai Aksara paling abadi dan Aku masih ingin untuk mencintai Kamu sekali lagi agar akan lagi KITA setelah kalian”

01 September 2013
18:06

Cerpen Karangan: Bram Cahyadi Massa
Blog: bewinchester.wordpress.com
Facebook: Bram Cahyadi Massa
Twitter : @abammassa

Cerpen Aku, Kamu, Kita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bintang Bersinar Bulan

Oleh:
“Laaaan! Gue dapet formulir panitia mahasiswa baru nih!”, teriak Kenari sambil berlari ke arahku yang sedang sibuk di depan barang berhargaku: laptop. “Aih… kenapa sih lu demen banget buat

Gadis Tribute Hall

Oleh:
Semakin ku membuka mata, rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Kakiku seperti akan meledak. Ku merasa berjam-jam lamanya aku tidak sadarkan diri dalam posisi berdiri dengan tali tambang yang melilitku

Di Antara Kita

Oleh:
“Akhirnya, berhenti juga hujannya” ucap Veny. Tiba-tiba handphone birunya berdering, ternyata itu sms dari sahabatnya Rino. “ven, lagi apa? jalan yuk. Gue bete di rumah” kata Rino. Veny pun

Kecewa

Oleh:
“Hei! Kamu! Mau ke mana kamu? Buruan beresin tuh sisa-sisa makanan yang bertaburan di lantai! Gak pake lama! Buruan!” suara Kak Lea menggema di aula. Nasib-nasib, ya beginilah nasib

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Aku, Kamu, Kita”

  1. Ariani 'c' says:

    pager makan tanaman tuch,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *