All About Raka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 31 December 2013

Aku berhenti menulis. Aku merasa sangat lelah. Entah kenapa, aku kembali merasa seperti ditembus ribuan peluru. Hatiku seperti terbang dan kemudian terhempas jatuh ke tanah. Entahlah. Seperti inikah rindu? Rindu akan seseorang yang tak mungkin ada di hadapanku. Seseorang yang namanya telah ku pendam jauh di sudut hatiku.

Ara dan Raka. Demikian teman-teman memanggilku dan dia. Raka, jagoan basket di sekolahku. Raka yang juga mampu merebut hatiku. Membuatku menjadikannya sebagai matahari. Ya, matahari. Bukankah matahari sangat indah? Seindah itulah ia bagiku.

Raka menjelma menjadi sosok laki-laki impianku. Aku yang terbiasa sendiri diajaknya menikmati kebersamaan. Bersama itu lebih menyenangkan, katanya. Raka yang selalu tersenyum manis dan membuatku tanpa sadar juga ikut tersenyum. Semua tentang Raka mampu membuat jantungku berdebar kencang. Mungkinkah ini yang dinamakan cinta? Raka, nama yang tak mampu ku sebut ketika berada di depannya.

“Ka, kamu bisa gak main catur? Kita main, yuk!” Aku memintanya menemaniku bermain catur. Kulihat ia hanya tersenyum.
“Ayolah. Jangan-jangan kamu tidak bisa, ya? Nanti aku ajarin kamu deh.” Aku kembali memintanya.
“Bukan begitu, Ra. Tapi disini gak ada catur. Jadi, bagaimana kita bisa main? Kapan-kapan saja, ya?” sahutnya.
“Ya udah. Tapi kamu harus janji kalau nanti kamu akan menemaniku main kapan-kapan.” Kulihat ia hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

Sampai sekarang pun janji itu tidak kesampaian. Raka tidak pernah menemaniku bermain catur. Ya, jika diingat mungkin sudah dua tahun berlalu sejak janji itu. Aku sendiri tidak tahu apakah dia masih mengingat hal itu atau tidak.

“Selamat ulang tahun, Ara. Semoga panjang umur dan sehat selalu. Semoga kamu makin pintar dan makin dewasa. Oh, iya. Semoga kamu makin sayang sama aku. I love you, Ara.” Aku masih ingat doa Raka ketika ulang tahunku. Itu adalah ucapan ulang tahun yang pertama dan terakhir kalinya dari Raka. Di ulang tahunku berikutnya, dia sudah tak ada lagi di sampingku. Cincin pemberiannya pun sudah ku kembalikan ketika kami berpisah. Aku tidak mau menyimpan barang darinya karena aku tidak ingin semakin sedih ketika mengingatnya.

Aku tidak pernah mengerti dengan alasan kepergiannya. Entahlah. Mungkin aku yang terlalu naif sehingga tidak mengerti kalau dia sudah tidak menyayangiku lagi. Setelah perpisahan itu, ia bersama gadis lain. Itu sangat menyakitkan bagiku. Tak pernah aku merasakan rasa sakit seperti saat itu.

Raka, orang yang sanggup memberi rasa sedih sebanyak rasa bahagia yang aku terima. Orang yang kadang-kadang masih aku rindukan kehadirannya dalam hidupku. Mungkin sulit untuk diakui. Tapi, aku tidak menampik jika aku masih mencintai dia.

Tentang Raka. Orang yang ku kirim pesan berkali-kali namun tak pernah dibalasnya. Orang yang mampu membuatku tersenyum ketika airmata jatuh menetes. Orang yang masih aku tunggu. Disini.

“Ara, tahu gak kalau Raka sudah punya kekasih lagi? Dia kan sudah putus sama Lita. Sekarang dia menjalin hubungan dengan adik kelas kita. Nia, kamu kenal, kan?” Bak petir di siang hari. Aku seperti terlindas ribuan mobil ketika mendengar Bunga bercerita padaku tentang Raka. Nia, orang kedua yang dicintai Raka setelah berpisah denganku. Tak ada kesempatan untukku kembali, pikirku. Aku masih ingat bagaimana saat itu aku begitu terluka. Aku dan Nia memang lumayan dekat. Ditambah lagi saat itu aku masih belum terbiasa tanpa dia.

Satu tahun berlalu semenjak perpisahan kami. Ku dengar ia sudah berpisah dengan Nia. Sedikit menyenangkan. Tapi, hatiku kembali terkoyak ketika kudengar ia bersama Chika. Raka dan Chika. Pasangan yang mampu meluluhlantakkan hatiku. Hari-hari terasa semakin kelam bagiku. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku masih mengharapkan Raka. Tak peduli ia menyakitiku begitu dalam. Aku tetap memikirkan dia.

Aku menutup lembaran diariku. Semuanya masih tersimpan rapi. Perasaan bahagia, cerita sedihku. Semuanya masih ada. Semua tentang Raka yang tertulis disini. Diariku tentang Raka.

Ku rebahkan tubuhku di ranjang. Aku masih ingat kejadian hari ini. Tadi pagi kenaikan kelas sekaligus pembagian kelas baru. Aku tidak sekelas dengan Raka karena beda jurusan. Besok, aku menjadi ketua panitia MOS dan Raka merupakan salah satu anggota panitia. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan dia jika aku harus melihat dia setiap hari?

Kubuka diariku lagi. Aku ingin menulis tentang harapanku.. harapanku tentang Raka. Harapan agar ada kesempatan kembali dan memperbaiki semuanya. Ya, ku dengar ia sedang sendiri sekarang. Setidaknya aku bisa menjadi temannya. Tapi, aku mengharapkan lebih dari itu jika boleh. Lebih dari sekedar teman untuknya
Belum sempat aku menulis harapanku, tiba-tiba handphoneku berbunyi. Kulihat layarnya dan aku menemukan sebuah pesan.

From: Raka
Time: 20:10:30
Date: June 30, 2013
Aku hanya ingin menjadi temanmu. Tidak lebih. Aku sudah mempunyai pilihanku sendiri. Ra, aku ingin kamu menemukan cinta yang lain di hidupmu. Bukan aku. Jika kamu tidak bisa melakukannya maka kamu harus pergi dari hidupku. Kamu ngerti, kan. Ara?

Ya Tuhan. Apa ini? Apakah ini balasan dari beberapa pesanku kepadanya. Sekarang begini jadinya. Padahal, kupikir masih ada kesempatan untukku.

Tak terasa bulir-bulir bening mengalir dari mataku. Sangat sakit. Hatiku terasa sangat perih. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Bagaimana besok? Bagaimana aku jika bertemu Raka besok. Ya, Tuhan. Apa lagi sekarang. Aku benar-benar tak tahan lagi. Sepertinya tak ada gunanya mempertahankan semua ini.

Raka sudah memilih orang lain. Bukan aku. Ia sudah menemukan orang yang tepat untuknya dan itu bukan aku. Aku harus melupakan dia mulai sekarang. Karena tak ada harapan yang tersisa untukku. Ya, Tuhan. Kuatkan aku.

27 Mei 2014
“Ara, kamu nanti kuliah dimana? Oh, iya. Ini kan hari terakhirmu melihat Raka. Bagaimana perasaanmu, Ra?” Aku tersenyum ketika mngingat pertanyaan Bunga tadi pagi. Hari ini kami mengadakan acara perpisahan kelas XII sekaligus perayaan kelulusan kami. Dan Bunga masih sempat-sempatnya bertanya tentang hal itu padaku.

Entahlah. Sepertinya aku sudah tidak mempunyai perasaan apa-apa lagi kepada Raka. Seiring waktu, aku sudah terbiasa tanpanya. Aku tidak berharap lebih padanya. Mungkin karena aku terlalu lelah menunggu. Atau mungkin ia yang tak kunjung datang sehingga aku berhenti disini. Karena aku sadar, Raka. Aku sudah tidak ada di hatimu. Bahkan untuk sedetik saja. Dan aku harus terima itu, bukan?

Tentang Raka. Kurasa cukup sampai hari ini. Hari terakhirku melihatnya. Hari terakhir dengan hiasan bayang-bayangnya. Cukup sampai disini. Semua airmata, kepedihan dan kerinduan rasanya tak lagi menyesaki dadaku. Aku tahu. Mungkin karena aku sudah bisa menerima kenyataan sekarang. Karena ada beberapa hal ddi dunia ini yang tidak bisa kita miliki. Mungkin bagiku, itu Raka.

Sekarang, Raka sudah tidak ada lagi disini. Di hati ini. Aku sudah lupa banyak hal tentang dia. Aku hanya mengingatnya sebagai orang yang pernah hadir di dalam hidupku. Dan rasa itu sudah menghilang.

Dan untuk terakhir kalinya, aku mengingat Raka. Di antara asap-asap hitam dari diari yang ku bakar. Diari tentang Raka. Dan ia hanyalah kepingan dari masa laluku. Semua sudah kucukupkan sampai disini. Maaf. Aku berhenti disini, Raka.

Cerpen Karangan: Rahmi Pratiwi
Facebook: Rahmi Chelsea Ayumi Aprilia

Cerpen All About Raka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sekuntum Cinta

Oleh:
“Sekuntum cinta untuk dia yang nyata” Aku tidak pernah berpikir untuk apa perasaan ini, dan kepada siapa akan berlabuhnya. Mereka bilang aku bodoh karena cinta, aku gila karena cinta.

Surat Untuk Harry

Oleh:
Aku menulis surat ini untukmu Harry, aku tahu kamu tak membuka dan membacanya tapi aku percaya kau melihat dari sana aku sedang menulis surat ini dengan tawa dan senyumku

Berjuang Demi Masa Depanku

Oleh:
Hay, namaku Riri umur 20 tahun anak pertama dari dua bersaudara dan saat ini lagi kuliah di jurusan pendidikan matematika salah satu universitas swasta. Ayahku bekerja sebagai petani dan

Tentangmu

Oleh:
Menyebalkan, Itulah satu kata yang bisa ku ungkapkan untuk menggambarkan apa yang ku rasakan sekarang. Hari ini di sekolah, Cerpen yang ku tulis di note pribadiku, tiba-tiba sudah terpajang

Cinta Dalam Diam

Oleh:
“Dear Bestfriend, You’re the best, and I just canbe your friend… Hopefully more than that…” Kamu.. Lelaki misterius yang selalu tampil rapih di depanku… Misterius? Ya.. Aku tak pernah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *