Angkot

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Remaja, Cerpen Rohani
Lolos moderasi pada: 24 March 2017

Angkot. Kendaraan umum yang selalu kunaiki saat pulang sekolah. Kendaraan berwarna biru yang bertuliskan angka 61 yang biasa kunaiki. Suasana angkot yang tidak luput dari rasa tak nyaman dengan kepengapan karena panas di siang hari dan berdesakan dengan penumpang lainnya menjadi santap siangku setiap harinya. Namun, aku tak mempedulikan hal tersebut. Justru aku sibuk sendiri dengan imajinasi yang memenuhi pikiranku.

Berimajinasi dan merenung memang hal yang selalu kulakukan saat di dalam angkot. Meskipun ada teman sekolah dalam satu angkot, aku tidak banyak mengobrol. Hanya menjadi pendengar yang baik dengan memberi tanggap “YA” atau “TIDAK” di setiap obrolan. Bukannya tidak peduli, tapi hanya merasa bahwa aku harus lebih banyak merenung dalam pikiranku sendiri. Merenungi apa saja yang bisa kurenungi. Masa lalu, masa depan, kejadian di sekolah, bahkan sampai si “dia” yang kukagumi turut menjadi bahan perenunganku. Si “dia” yang belakangan ini jarang bertemu denganku di angkot. Entahlah, sebelumnya tak jarang kita satu angkot. Semakin hari dia selalu ada dalam pikiranku. Sosok yang menurutku tidak berlebihan, tapi itulah yang kukagumi darinya

Bel tanda pelajaran telah usai yang sedari tadi sudah ditunggu para siswa akhirnya berbunyi juga. Hari ini sungguh melelahkan. Aku ingin cepat pulang ke rumah dan beristirahat. Seperti biasa, aku harus menunggu angkot biru 61 yang akan mengantarkanku pulang. Untunglah aku tak perlu menunggu lama, karena angkot yang kutunggu datang juga. Setelah menyetop angkot itu, aku segera menaiki angkot tersebut. Ternyata hanya aku satu-satunya penumpang di angkot ini. Sepanjang perjalanan, tak ada penumpang lain yang memenuhi angkot ini. Tapi hal tersebut tidak kupedulikan. Seperti biasa, aku selalu merenung dan berimajinasi hal-hal yang tidak kalian pahami.

“Ah! Bodohnya aku! Kenapa aku tak pernah bersikap dewasa? Berbuatlah lebih baik dari itu! Tak bisakah aku lebih baik dari hari kemarin?!” Tak henti-hentinya aku menyalahkan diriku sendiri. Terkadang aku merasa bodoh. Mungkin aku memang benar-benar bodoh. Bertindak semaunya tanpa berpikir panjang dan tak dapat mengendalikan emosi, yang berakhir pada tindakan konyol yang seharusnya tak perlu kulakukan. Banyak sekali penyesalan hari ini.

Tiba-tiba aku teringat Sang Pencipta. Tanpa diperintah otakku memutar semua hal-hal yang mengingatkanku pada semua nikmat yang telah diberikan-Nya. Tak sepatutnya aku menjelek-jelekkan diriku sendiri. Mungkin Allah sedang memberi pelajaran padaku atas kejadian hari ini.

Aku semakin tenggelam dalam lamunanku. Saat aku mengalihkan pandanganku ke kaca depan angkot, kulihat seberkas cahaya yang menyilaukan mata membuat angkot oleng dan berputar-putar beberapa kali dan akhirnya gelap.

“Korban diperkirakan dua orang, Pak. Seorang sopir dan pelajar. Masih dalam proses evakuasi” Sayup-sayup kudengar suara keramaian.
“Suara siapa itu? Apa korban yang dimaksud itu aku? Apa aku sudah mati?” Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri dengan kepanikan luar biasa. Kucoba sekuat tenaga untuk membuka mata, tapi apalah daya, mata ini tak mampu terbuka. Kucoba menggerakkan badan, tapi terasa sangat berat seperti diberi beban yang sangat besar. Sekarang tubuhku seperti mati rasa. Kini aku hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi padaku. Berusaha menerima jikalau aku benar-benar mati.

Sayup-sayup kembali kudengar suara “Cilandak Mall, Cilandak Mall!” Suara itu membuka mataku. Kulihat sekeliling. Aku masih berada di dalam angkot yang sedang mengetem di depan Mall Cilandak. Kali ini angkot dipenuhi para penumpang yang sedari tadi memandangiku dengan aneh. Lalu kulihat diriku sendiri yang penuh dengan peluh di sekujur tubuh. Kucubit tanganku dan dapat kurasakan sakitnya, badanku bisa digerakkan meskipun tidak leluasa karena angkot yang penuh sesak. Ternyata aku masih hidup. Syukurlah, kecelakaan itu hanya mimpi. Mimpi yang benar-benar terasa nyata bagiku. Alhamdulillah aku masih diberi panjang umur. Ini kali pertama aku ketiduran di angkot, mungkin karena terlalu lelah karena padatnya kegiatan di sekolah.

Setelah beberapa menit mengetem, angkot kembali berjalan. Tak terasa sebentar lagi aku akan turun.
Akhirnya aku sampai ke tujuan. “Kiri Bang!” kataku pada sopir. Seketika angkot berhenti. Saat aku akan turun, tiba-tiba seorang kakek yang duduk di sebelahku berkata “Ingatlah Dia selalu, Nak!” seraya tersenyum padaku. Belum habis rasa panikku karena mimpi itu, aku kembali dibuat bingung oleh perkataan si kakek. Aku hanya tersenyum kecil padanya, lalu turun angkot dan membayar.

Di jalan, aku kembali merenung. “Dia? Dia siapa? Apa dia yang dimaksud oleh kakek itu cowok yang kukagumi?” kataku berbicara sendiri. Aku mencoba mengaitkan semua ini dengan mimpiku tadi.
“Oh, Aku mengerti maksud kakek itu. Dia yang dimaksudkan oleh kakek adalah Dia Sang Maha Pencipta”.
Aku tertegun. Selama ini yang selalu memenuhi pikiran dan hatiku hanyalah si dia, teman sekolah yang kukagumi. Seseorang yang belum tentu ada aku di dalam hati dan pikirannya. Seseorang yang belum tentu mencintaiku seperti aku mencintainya. Sedangkan Tuhan, tanpa kuminta Dia sudah mencintaiku dan memberiku kenikmatan yang luar biasa hingga detik ini. Sudah seharusnya aku mensyukuri dan membalas cinta-Nya, bukan hanya sibuk mencari-cari siapa yang harus kucintai dan siapa yang mencintaiku di dunia ini.

Cerpen Karangan: Uma Yugure
Pengarang: Nessa Rfl
Facebook: Nessa Stwrt

Cerpen Angkot merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terbalas

Oleh:
Namaku Sandy Widya Nurhaliffa, tapi aku lebih akrab dipanggil eby. Aku adalah seorang murid yang cukup pandai di sekolah menurut teman-temanku. Di usiaku yang sudah menginjak 14 tahun, tentu

Kesabaran Yang Indah

Oleh:
“Aaaaaaa..” Sebuah teriakan memecahkan keheningan pagi di kelasku. Tak lain dan tak bukan adalah Sudar, seorang siswa yang selalu dijahili oleh siswa yang lain. Mungkin karena dia begitu patuh

Gangguan Kejiwaan

Oleh:
Tak kusangka, ternyata aku memiliki gangguan kejiwaan yang SANGAT BERBAHAYA. Tidak, memiliki gangguan kejiwaan bukan berarti gila, namun orang yang gila sudah pasti jiwanya terganggu. Gangguan kejiwaan ada banyak

Setidaknya

Oleh:
Seorang cowok lari tertatih-tatih di bandara Juanda, Surabaya. Dengan nafas yang tersengal-sengal, ia lihat di sekelilingnya. Ke arah Timur, Barat, Utara, dan Selatan, seperti mencari seseorang yang sangat penting.

Setengah Penuh Menggapai Candi

Oleh:
Di satu pagi yang cerah, di sebuah kafe seberang kampus di bilangan Kemanggisan, Jakarta Barat. “Ini kesempatan terakhir kamu, aku atau mereka?!”. Itu yang Nadya bilang pada Arman, di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *