Bait Bait Curahan Hati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 28 July 2014

Lautan awan putih membentuk riak-riak gelombang saling kejar satu sama lain. Hawa dingin di ketinggian memaksa penghuni yang ada di sekitarnya untuk memakai baju tebal, termasuk diriku. Namun keindahan panorama alam di pagi hari ini membuat jiwa jauh lebih tentram. Orang-orang mulai sibuk dengan aktifitas masing-masing. Tanah kelahiran orangtuaku ini memiliki keindahan yang mampu menarik pengunjung dari mancanegara. Tempat ini merupakan salah satu kebanggaan milik Sulawesi, yang dikenal dengan nama Tanah Toraja.

Dengan sebuah rok*k yang telah berasap serta secangkir Kopi Toraja menemani lamunanku di pagi ini. Aku menerawang menembus lapisan awan untuk bernostalgia dengan kenangan-kenangan saat masih SMP dulu. Yang membuatku terkadang tidak sadar bahwa aku sedang tersenyum ketika mengenang kenangan itu. Hingga lamunanku mengantar pada sosok wanita yang mampu membuatku merasa dag dig dug bahkan hingga sekarang saat aku mengenangnya. Dia adalah adik kelasku, orang yang membenci dan terkadang selalu menjauhi saat aku dan teman-teman mendekatinya. Tapi aku menyukainya.

“Jhul… barang-barang kamu sudah dimasukkan semua di tas kan?” Suara wanita dari dalam rumah membuyarkan lamunanku dalam seketika. Tanpa berbalik ke belakang, aku sudah mengetahui bahwa suara itu adalah suara kakak perempuanku. Aku biasa dipanggil dengan dengan nama Jhul yang diambil dari nama panjangku dari Dzulfikar.
“Iya, sudah dari semalam. Memangnya kita berangkat ke Sarjo jam berapa?” aku berdiri dan masuk ke dalam rumah sambil membawa gelas kopi yang sudah tinggal ampasnya saja.
“Sudah tidak lama lagi. Mobil jemputannya sudah mau datang kok” jawab kakakku.
“Mobil itu kak?” aku menunjuk ke mobil yang perlahan masuk ke halaman rumah kami.
“Oh.. iya yang itu” Kakakku berkata yang masih melihat ke arah mobil tersebut dari jendela rumah.

Sarjo merupakan salah satu nama Kecamatan di Sulawesi Barat yang berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah. Di tempat itulah waktu kecil aku tinggal dan menyelesaikan pendidikan Sekolah Menegah Pertama. Setelah lulus SMP, aku ikut orangtua ke Kalimantan untuk melanjutkan Sekolah Mengah Atas. Aku pergi meninggalkan Sulawesi untuk beberapa tahun termasuk meniggalkan cinta pertama yang masih membekas hingga sekarang.

Perjalanan dari Toraja Menuju ke perbatasan antara Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah itu yang merupakan tempat kerja kakakku ini cukuplah jauh. Mungkin kerena perjalanan yang panjang inilah membuat lamunanku kembali menuju ke masa-masa ketika aku sekolah di tempat itu.

Saat itu, aku dan beberapa temanku termasuk anak yang cukup bandel. Kami biasa juga disebut gangster cilik di sekolah kami. Mengganggu siswa lain, berkelahi sesama siswa, sesekali bolos sekolah, dan terkadang memalak siswa-siswa tersebut.

Suatu ketika saat jam istirahat mata pelajaran, kami pergi ke tempat siswi-siswi adik kelas berkumpul untuk sedikit usil atau menggoda mereka. Salah satu di antara mereka malah bersikap menantang dan mulai memaki kami dengan kata-kata anak nakal. Anak itu berdiri bagai seorang ksatria wanita yang mencerminkan tidak ada rasa takut di wajahnya dalam menghadapi musuh-musuh. Namun tetap memiliki keanggunan layaknya seorang putri dengan rambut hitam panjang melambai dihembus angin sepoi. Dia mengarahkan pandangan dari kami ke arah teman-temannya lalu mengajak mereka untuk pergi jauh dari kami.

“Perempuan tadi siapa?” tanyaku ke teman-teman.
“Astaga Jhul.. itu satu kampung denganmu. Masa kamu tidak kenal?” jawab Erwin, teman gengku.
“Aku sepertinya tidak pernah lihat dia” Kataku sambil memikirkan kata Erwin bahwa gadis itu adalah anak sekampung denganku.
“Dia memang anaknya jarang main-main keluar rumah. Sudah ah.. ayo ke kantin!” sambung Firman yang berdiri di sampingku.

Setelah hari itu entah mengapa aku mulai tertarik dengan adik kelasku itu. Dari teman-teman pula namanya ku kenal, yaitu Cahya Ramadhani yang kerap dipanggil Nani. Aku bersama teman-teman mulai sering menggodanya sejak saat itu. Setiap kali kami mendekatinya, Nani dan teman-temannya selalu saja menjauh menghindari kami. Aku juga sering membahas tentangnya bersama teman jika lagi kumpul-kumpul. Hingga akhirnya aku menyampaikan usul kepada teman-teman SMPku itu.
“Nani orangnya unik, dia manis, cantik, dan juga paling pintar di kelasnya. Tapi takut untuk kita dekati.” Aku mulai membuka pembicaraan kami.
“Memangnya kenapa Jhul?” Tanya Firman menanggapi pernyataanku itu.
“Sebenarnya aku tertarik sama anak itu.” Jawabku sambil tersenyum ke arah mereka.
“kalo kamu suka Nani, sebaiknya katakan saja sama dia.” Sambung Adi yang juga teman sekalasku.
“Tapi kamu bagusnya bilang kalau Nani lagi sendiri, soalnya dia sering sekali selalu sama teman-temannya juga.” Lanjut Erwin.
“Aku malu bilang langsung kalau aku suka dia.” Jawabku. Kami yang ada di tempat kumpul itu terdiam hampir bersamaan. Suasana kami saat itu seolah mencerminkan sekumpulan anggota Dewan yang sama-sama sedang berfikir mencari solusi terbaik untuk rakyat yang diwakilinya.
“Bagaimana kalau lewat surat saja?” Firman memecah keheningan kami.
“oh.. iya. Kamu diam-diam saja simpan surat itu ke laci mejanya Nani.” Kata Erwin sambil menatapku.
Pembicaraan kami terus berlanjut sampai kami beranjak dari tempat kumpul itu hanya membahas tentang aku dan Nani saja. Namun hingga selesai sekolah SMP dulu, aku tidak pernah mengatakan perasaanku kepada Nani atau bahkan hanya sekedar memberitahunya melalui surat.

Aku tersenyum sambil tertawa tertahan ketika mengingat dimana aku dan teman-teman SMPku berkumpul seakan sedang musyawarah. Mengingat usia kami, tentu yang terlintas di fikiran kita saat ini, anak seusia itu tahunya pasti hanya main-main.

Mobil melaju di atas jalan trans Sulawesi dengan mulus. Aku menatap keluar melihat segala yang dilewati oleh mobil ini seolah lari berlawanan arah. Keindahan alam pegunungan, sawah-sawah, serta perkebunan sesekali terlihat ketika mobil kami melewatinya. Perjalanan yang panjang menuju Sarjo membuatku lebih memilih untuk tidur di tengah perjalanan, sambil berharap nanti akan mimpi indah sebagai penghibur dalam perjalanan ini.

Perjalanan dari Tanah Toraja menuju Sarjo menghabiskan waktu tempuh sekitar 20 jam. Kami tiba di rumah kakakku di Kec. Sarjo ketika adzan subuh di masjid sekitar masih berkumandang. Keletihan diam di atas mobil seolah menjalar ke seluruh tubuh ketika aku mulai menginjak tanah daerah ini untuk pertama kalinya setelah lulus SMP dulu. Aku langsung merebahkan tubuh di atas kasur, entah selang beberapa sesaat aku langsung terlelap dalam tidur.

“Jhul… Jhul… Bangun. Sudah sore. Di ruang tamu ada Erwin sudah tunggu kamu” Suara kakakku terdengar sambil menggoyang tubuhku agar aku bangun tidur.
“Haaa? Erwin teman SMPku dulu? Tanyaku spontan ketika dengar nama Erwin.
“Iya. Kamu pergi mandi dulu.” Perintah kakakku.

Aku melirik jam tangan digitalku, di layarnya telah tertera 15.37. Aku bangun, menuju kamar mandi. Rasa segar menyelimuti tubuh ketika tersiram air. Tenagaku terasa kembali pulih setelah mandi.
“Erwin, wah… lama tidak jumpa, kamu tambah cakep saja.” Godaku sambil menjabat tangan sobat kecilku ini.
“Hahaha… ini aku masih sama seperti dulu Jhul”. Jawabnya. “Oh ya, jalan-jalan keluar yuk sambil cerita-cerita. Sudah 4 tahun tidak ketemu pasti banyak yang mau diceritakan kan? Sambungnya.

Kami pun berjalan kaki di sekitar kampung ini sambil bercerita panjang lebar satu sama lain. Cerita tentang masa-masa SMP dulu, sampai tentang cerita kehidupan masing-masing setelah lulus SMP.
“Itu ramai di lapangan, banyak stand-stand, memangnya mau ada acara apa Win?” Tanyaku kepada Erwin ketika melihat Lapangan Sarjo yang meriah dengan stand yang dihiasi dengan dekorasi yang berbeda-beda.
“Oh… itu persiapan Pesta Rakyat. Nanti malam pembukaan acaranya, makanya di situ ramai.” Jawabnya sambil mengarahkan matanya ke lapangan tersebut.
“Beruntungnya aku cepat datang. Jadi bisa melihat moment Pesta Rakyat ini.” Ujarku pada Erwin.

Setelah melihat-lihat kesibukan yang terjadi di lapangan untuk persiapan pembukaan Pesta Rakyat nanti malam, kami memutuskan untuk kembali pulang. Aku dan Erwin juga sudah janjian untuk pergi bersama ke acara tersebut nanti malam. Warna langit yang mulai memerah menandai sebentar lagi sang mentari akan bersembunyi dari tanah perbatasan wilayah ini. Mesjid-mesjid mulai ramai memutarkan kaset lantunan ayat-ayat Al-Quran, menandakan waktu maghrib sudah tiba. Mayoritas penduduk di Sarjo ini memeluk agama Islam. Berbeda di Tanah Toraja yang penduduknya Mayoritas memeluk agama Kristen.

Setelah hampir pukul 8 malam, aku dan Erwin menuju lapangan tempat di rayakan Pesta Rakyat. Suasana lapangan yang meriah begitu ramai di datangi pengunjung, baik dari Kec. Sarjo maupun dari luar kecamatan. Namun kemeriahan dan kegembiraan orang-orang yang terjadi di lapangan ini, tidak selaras dengan cerahnya langit malam. Bintang-bintang langit malam seolah malu menampakkan dirinya, sehingga lebih memilih bersembunyi di balik punggung awan.

Kami berkeliling melihat-lihat pameran yang di sediakan di setiap stand. Ada hasil-hasil bumi masyarakat setempat, kerajinan tangan, bahkan beberapa stand yang mewakili instansi pemerintah. Pembukaan yang diresmikan oleh Camat Sarjo disambut tepuk tangan meriah dari para pengunjung. Tidak ada kepedihan yang tersirat sedikitpun di wajah pengunjung malam ini. Semua menikmati perayaan dengan suka cita.

Dalam langkah kecil aku berbincang dengan sahabat kecilku ini di tengah lapangan yang penuh dengan orang-orang. Kedua kakiku tiba-tiba berhenti, aku berdiri terpaku, tangan kananku refleks menghentikan langkah Erwin, sahabatku ini memandangku penuh keheranan dalam diamnya. Tanpa berbalik ke arah Erwin, mataku masih menatap lurus ke depan tertuju pada sosok wanita remaja yang berdiri dengan seorang anak laki-laki berusia 8 tahun.
“Ada apa, Jhul?” Erwin akhirnya bertanya, mungkin dia tidak mampu membendung rasa penasaran yang hampir 2 menit aku terdiam sejak menghentikan langkahnya.
“Perempuan yang bersama anak kecil di depan sana, dia adiknya Dhita kan?” Jawabku dengan menyebut nama kakak perempuan tersebut sambil menunjuk ke arahnya.
“Iya. Itu Nani. Dia adik kelas kita dulu. Memangnya kenapa?” Jawabnya yang langsung bertanya keheranan lagi.
“Tidak apa-apa. Aku kira tadi salah orang. Ternyata betul dia.” Jawabku santai. Namun, di balik tulang rusuk ini, jantungku berdetak lebih cepat. Setelah kurang lebih 4 tahun, inilah pertama kalinya aku melihat kembali sosok yang aku suka waktu SMP dulu.
“Win…” Aku menyebut nama Erwin untuk meminta perhatiannya dari membaca SMS di handphone.
“Wah… Jhul. Mohon maaf sekali nih. Aku harus pulang duluan. Ibuku manggil, nanti aku balik kemari. Tunggu saja di sini. Aku cuma sebentar.” Kata Erwin sambil menatapku.
“Oh… iya tidak apa-apa.” Aku menanggapi Erwin dengan senyuman sambil menepuk pundaknya.
Aku melihat punggung sahabatku itu menjauh. Aku terdiam mematung sambil kembali melihat sosok wanita tadi.

Kakiku melangkah perlahan menuju ke arah Nani. Fikiran dan hatiku berkecamuk. Fikiranku berbisik bahwa Nani bisa saja tidak mengenaliku lagi. Tapi hatiku berteriak merindukannya. Wanita yang pernah mencuri hatiku di masa SMP dulu. Bahkan sering mengusik rinduku padanya meskipun aku telah selesai SMA. Aku tiba-tiba kembali berhenti mematung ketika jarak kami sekitar 3 meter.

“Nani?” Akhirnya bibirku berani menyebut namanya di tengah keramain orang-orang. Perlahan dia berbalik dan mengarahkan kedua matanya ke arahku. Tanpa sepatah kata, dia berdiri dan mengampiri tempat di mana aku masih berdiri mematung. Mata ini bagai tak bisa lepas memandanginya berjalan mendekatiku, kedua tangannya yang menjulur menggapai tangan kananku pun tak pernah kusadari. Dia telah bertindak dalam diam di tengah keramaian suasana Pesta Rakyat.

Langit mulai menangis, menjatuhkan butiran-butiran air yang mengawali pertemuan kami. Rintik-rintik hujan seakan mengusir pengunjung untuk mencari tempat berteduh. Aku terdiam setelah menyadari perilaku Nani yang tiba-tiba tadi. Perasaan yang telah kutenggelamkan di dasar hati kini tiba-tiba merontak untuk muncul ke permukaan. Hingga tak sadar ku telah menggenggam erat tangannya.

“Aku masih menyimpan kertas yang berisi bait-bait curahan hati kak Jhul.” Kata nani yang telah berdiri di sampingku dengan tangan kami yang masih berpegangan.
“Aku dulu tidak sengaja menemukannya ketika jadwal piket pagi di kelasku waktu sekolah SMP dulu.” Sambungnya. “Sejak hari aku temukan surat itu, aku menyimpannya. Aku ingin menyampaikan tentang surat itu ke kak Jhul, tapi kakak setelah lulus SMP sudah tidak ada kabarnya hingga malam ini.” Nani kembali terdiam menanti tanggapanku dari ceritanya sambil menatap ke wajahku.

Aku tertunduk, ingatanku dipaksa untuk mengingat tentang surat itu. Surat yang berisi tentang apa yang kurasakan pada cinta di masa kecilku ini telah berada di tangan tujuannya, yaitu Nani. Surat itu memang ada. Tapi aku tidak pernah memberikannya atau menyelipkan di laci meja Nani sewaktu SMP. Hujan malam ini masih tidak membuat kakiku melangkah dari pijakannya. Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benakku, yang membuatku masih terdiam di samping Nani. Siapa yang membawa suratku ke kelasnya? Kapan surat itu Nani temukan? Apa saja yang telah kutuliskan di dalam surat itu? Dan yang lebih terpenting, mengapa Nani masih menyimpannya sampai sekarang? Apakah Nani juga… memiliki persaan suka yang sama denganku? Ah… aku seperti ingin hilang saja dalam gelapnya langit malam saat ini jika terus memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu.

“Aku memang pernah membuat surat itu, tapi aku tidak pernah berani memberikan langsung atau membawanya ke kelasmu.” Kataku berusaha jujur padanya.
“Kakak masih ingat bait-bait yang ada di dalam kertas itu?” Dia kembali bertanya.
Hal ini membuatku terdiam lagi. Saat ini aku sepenuhnya lupa tentang isi surat itu. Yang aku ingat bahwa aku pernah membuat surat itu dan namaku ada di sudut kanan bawah kertasnya. Dan yang lebih berbekas adalah tentang perasaanku yang masih ada dengannya hingga sekarang.
“Kamu yakin itu surat yang aku buat?” tanyaku memastikan.
“Iya yakin.” Jawabnya sambil melepaskan genggaman tangan kami. Dia kembali merangkul lengan kanan dan bersandar di pundakku.
“Jika besok atau entah kapan kakak mengingat kembali bait-bait di atas kertas itu, beritahu aku. Aku yang akan mencari kak Jhul.” Kata Nani seakan dia telah membaca fikiranku bahwa aku telah lupa dari isi surat itu. Namun aku tidak bisa menagkap maksud dari kalimatnya. Ucapannya yang mengandung arti tapi membuatku sekali lagi bertanya-tanya.

Berdiri berdua dengan kepala Nani yang masih bersandar di pundakku membuat kami jadi pusat perhatian di tengah lapangan ini. Tidak ada siapa-siapa lagi di sekitar kami. Semua pengunjung telah berteduh, menghindari air hujan yang telah turun sejak tadi. Aku dan Nani masih berdiri terdiam, meresapi setiap detik dari perjumpaan kami di bawah gelapnya langit yang meneteskan air. Aku sangat ingin mengatakan kepadanya saat ini, aku menyangimu. Tapi bibirku tak mampu digerakkan untuk kalimat itu.

Aku berusaha membayangkan apa yang terjadi esok antara aku dan dia. Tapi aku menepisnya, membiarkan kisah ini menjadi cerita yang aku pun tidak tahu akan berakhir dimana. Andaikan ku bisa menghentikan waktu saat ini, disaat dirinya telah berada di sampingku. Meskipun sekarang dia bukan kekasihku, asal aku selalu bersama. Karena aku ingin menjadi orang yang berarti dari wanita yang kucintai.

Cerpen Karangan: Hirwansyah
Facebook: https://www.facebook.com/wansaraphditt

Cerpen Bait Bait Curahan Hati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Remember You

Oleh:
7 Mei 2013 Surat pemberitahuan tentang Perpisahan Angkatan tergeletak dengan pasrah di tanganku. Aku terpaku. Aku mau lulus, ya? Cepat sekali. Sebentar lagi masa ini akan berakhir. Lalu bagaimana

Ah!

Oleh:
Esok, aku genap berumur 17. Atau harus aku sebut ganjil? Aku yang tak bisa tidur bak setusuk sate yang dibolak-balik di atas panggangan. Gelisah. Perayaan ulang tahun yang marak

Asal Kau Bahagia

Oleh:
Bagaimana bisa sangat mudah bagimu. Sedang aku masih saja sama. Berdiri di tempat ini. Tempat dimana kau mengikatku dengan janji-janjimu. Namun kau berlalu tanpa menoleh. Tak juga memberiku ucapan

Bodoh

Oleh:
Rasa itu tak sepenuhnya menghilang. Masih tertinggal jejakmu di sini. Jendela kelas yang paling pojok itu masih sama, masih sama persis seperti saat kamu menjengukku kala itu. Parkiran itu

Sahabat Masa Lalu Ku (Part 1)

Oleh:
– Aku sangat menyukainya, mengaguminya, bahkan mencintainya. Menyayangi dirinya bukanlah kesalahan besar bukan? Cinta itu buta, dan terkadang sulit untuk meraihnya dengan mudah. Tapi, aku yakin di balik itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Bait Bait Curahan Hati”

  1. IKDO says:

    bagus bingict cerita nya
    dua jempol deh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *