Baru Kusadari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Galau, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 23 September 2013

“Tu Tika! Aduh… musim liburan seperti ini kenapa tidak pergi bersama teman-teman sih! Lihat teman-temanmu sudah pada cantik dan siap untuk bertamasya. Kamu nggak boleh diam di kamar terus… Ayo belajar bergaul dengan muda-mudi di sini…” Terdengar suara perempuan yang sedang memarahi anaknya karena dia merasa kesal dengan tingkah laku anak semata wayangnya yang bernama Ni Putu Kartika Dewi. Ketika itu baru pukul 10 pagi. Kartika sebenarnya tumben ada di rumah karena para mahasiswa STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik) sedang liburan. Selama satu tahun dia sudah melanjutkan studinya di STIS ikatan dinas yang bertempat di Jakarta.
“Ibu… aku sedang belajar… Tolong jangan menyuruhku yang aneh-aneh deh Bu.” Kata Tika yang sedang menulis sesuatu di kamarnya.
“Apanya yang aneh-aneh Tika, Ibu ingin kamu santai sedikit, jangan terlalu mengekang diri untuk belajar…”
“Ibu, tolong Bu! Aku sedang sibuk sekarang! Jadi, jangan ganggu aku lagi.” Tika kelihatannya marah kepada ibunya. Selama ini dia merasa ibunya selalu bertentangan dengannya.
“Ya sudah kalau begitu! Belajar terus aja, kamu ini, kenapa membentak Ibu seperti itu…”
“Maafkan aku Bu, aku benar-benar tidak mau diganggu sekarang. Tugasku sangat banyak.” Tika mereda sambil tersenyum.

Begitulah Kartika. Hatinya agak keras, sekeras didikan ibunya. Dia memang tidak terlalu senang berlancong di saat ada banyak tugas. Apalagi berlancong di warung dan duduk-duduk bersama teman-temannya. Baginya hal itu hanya membuang-buang waktu saja. Bagaimana mau berlancong, dalam masalah percintaan pun dia tidak mau terlibat. Tujuannya cuma satu, yaitu menjadi seorang pegawai perstatistikan yang berprestasi. Begitulah cita-citanya semenjak SMA.

Liburan pun berakhir. Kini Tika harus kembali ke Jakarta. Ayah dan ibunya mengantarnya sampai di Bandara Ngurah Rai, Bali. Di sana dia sudah ditunggu oleh teman-temannya yang dari Bali juga.

Sesampainya di Jakarta.
“Tika… tunggu aku…” Teriak Gede Dimas sambil berlari mengejar ketertinggalannya dari Kartika.
Kartika hanya menoleh ke belakang dan terus berjalan. Dia merasa tidak ada waktu lagi untuk menunggu Dimas.
“Tik, gimana liburannya, menyenangkan?” Akhirnya Dimas berhasil mengejar Tika.
“Aku tidak kemana-mana.” Jawab Tika dengan pendek.
“Apa? Kenapa tidak menghubungi aku aja Tik, kita kan sama-sama dari Bali…”
“Kenapa aku harus menghubungimu? Memangnya apa yang akan kamu lakukan kalau aku menghubungimu?” Kata Tika.
“Paling tidak kamu kan bisa berlancong denganku.”
“Ah…” Tika mempercepat langkah kakinya. Dia merasa sebal mendengarkan Dimas.
“Hah? Tika, kamu, kenapa seperti itu?” Gumam Dimas sambil mengejar Tika.

Hampir setiap hari Tika berdiskusi dengan dosennya. Hampir tidak pernah ada waktu untuk bersantai bersama teman-temannya. Hal ini membuat dia kurang akrab dengan mahasiswa yang lain. Kalau ada sms yang tidak penting, dia abaikan. Dimas yang selalu ingin mengenalnya pun selalu diabaikannya.

Suatu hari dalam perjalanan menuju ke asrama masing-masing, Dimas menghampiri Tika yang sedang berjalan sendiri.
“Hai Tik, kamu pasti ikut lomba menulis karya ilmiah remaja ini kan?” Tanya Dimas sambil memperlihatkan brosur lombanya.
“Em… mungkin.”
“Pasti ikut ya, tidak boleh mungkin. Kamu mau kan satu kelompok denganku?”
Tika menoleh kepada Dimas. “Apa? Maaf, aku tidak butuh bantuanmu. Aku bisa berusaha sendiri.”
“Tapi Tik…”
Tika berjalan cepat-cepat dan meninggalkan Dimas. Dimas tidak bisa mengejarnya lagi karena Tika sudah memasuki area asrama putri.

Keesokan harinya di waktu istirahat, Tika sedang duduk di bawah pohon besar sambil membaca buku. Banyak terdengar kata-kata yang menusuk hatinya.
“Hai, lihat tu Si Tika, memangnya dia mau menggantikan presiden, belajar terus kerjaannya.” Bisik seorang mahasiswi kepada dua orang temannya.
“Buat apa pintar seperti itu, kalau dia tidak punya kawan…” Kata seorang lagi.
“Mana mungkin punya kawan, setiap orang yang mendekatinya selalu dicuekannya.” Kata seorang lagi.
“Kenapa Dimas yang seganteng itu dicuekannya juga ya? Padahal jelas sekali kalau Dimas menyukainya.” Kata pembicara pertama.
Semua suara pedas itu didengar oleh Tika, tapi dia diam saja. Dia tidak mau berurusan dengan hal seperti itu.
“Hei, kenapa kalian berbicara seperti itu, tidak baik membicarakan orang…” Kata Renata.
“Hah, maaf.” Mereka bertiga lalu pergi.
Renata lalu mendekati Kartika.
“Biarkan saja.” Kata Kartika.
“Apa?” Renata terkejut.
“Aku bilang biarkan saja. Nggak penting.” Kata Kartika.
“Mereka sudah membicarakanmu Tik, apa kamu tidak tersinggung?”
“Mereka benar kan? Sudahlah, biarkan saja. Sebaiknya kamu berhenti memperhatikanku seperti ini.” Kata Tika.
“Tapi Tik… Tika, kenapa kamu seperti ini?”
“Aku… Aku memang seperti ini, memangnya aku salah? Sekarang ini yang ada di pikiranku cuma satu, aku ingin mengejar impianku menjadi seorang mahasiswa yang berhasil. Selain itu aku tidak peduli.”
“Apa kamu yakin?”
“Ya, aku yakin.”
“Ya sudah, selamat berjuang ya, aku akan mendoakanmu dan tetap menjadi temanmu.”
Tika hanya menoleh kepada Renata. Sepertinya Renata sudah maklum dengan sikap Tika yang keras dan pendiam seperti itu.

Suatu sore, Dimas diam-diam menaruh bunga di depan asrama putri. Tanpa disengaja Tika melihatnya dari belakang, lalu Tika berhenti sampai Dimas pergi dari sana. Setelah Dimas pergi, Tika melanjutkan perjalanannya ke kamar asrama. Sedikit pun tak dihiraukannya bunga tersebut.

“Tik, apa tadi kamu sempat bertemu dengan Dimas?” Tanya Renata yang sepertinya suka kepada Dimas.
“Aku tidak bertemu dengannya, tapi tadi aku lihat dia menaruh bunga di depan asrama putri ini. Bunga itu pasti untukmu.” Kata Tika.
“Benarkah? Apa kamu yakin?”
“Pernahkah aku membohongimu?” Kata Tika.
“Ya sudah, aku ambil dulu ya…”

Renata sangat gembira setelah ditemukannya bunga yang dibilang oleh Tika. Lalu dia mengambil bunga itu dan dibawanya ke dalam.
“Tik, ternyata benar, makasi ya…” Tiba-tiba ada segulung kertas jatuh dari bunga itu. Secepat kilat Renata mengambilnya lalu membacanya.

Berikut isinya:

Kartika, maukah kamu menjadi pendamping hidupku?
Aku mencintaimu…
Dimas

“Apa?” Renata terkejut. “Tika, apa kamu ingin memainkan perasaanku? Baca ini!” Renata pergi ke kamarnya sambil menangis. Bunganya dia berikan kepada Tika.
“Apa? Benar-benar gila!” Kata Tika setelah membaca surat itu.

Besoknya dia bertemu dengan Dimas. Dimas menyapanya, tapi dia hanya diam saja.
Mawar merah telah menunggu di depan asrama putri. Melihat itu, Tika cepat-cepat mengambilnya lalu membaca suratnya. Hatinya sangat kesal, mengapa Dimas selalu menulis namanya di surat itu. Tanpa berpikir panjang, dia merobek surat itu. Ide yang cemerlang pun timbul, surat baru ditulisnya dengan mengganti nama Tika menjadi Renata. Setelah itu dia taruh kembali bunga itu di tempatnya semula.

Renata datang dan mengambil bunga itu. Dia langsung memberikannya kepada Tika.
“Tika, ini ada bunga lagi.”
“Kenapa memberikannya kepadaku? Coba baca dulu suratnya, siapa tahu untukmu.”
Renata lalu membacanya.
“Apa? Benaran…? Aku tidak percaya… Tika…” Renata sangat gembira.
“Mungkin kemarin dia salah menulis nama.” Kata Tika. Tika lalu masuk ke dalam kamarnya. Dia merasa lega karena mampu mengendalikan Dimas.

Kejadian pengiriman bunga itu berulang terus-menerus.
Suatu hari Dimas menyapa Tika. Tapi Tika tetap saja tak peduli. Dimas ingin mengejar Tika, tapi Renata datang.
“Dimas, apa kabar…?” Renata gemetaran karena tidak mampu menahan perasaannya.
“Hai Re, aku baik-baik saja. Kamu gimana?”
“Aku baik Di. Dimas, makasih bunganya selama ini ya Di.”
“Apa? Bunga?”
“Ya, bunga yang kamu kirimkan untukku setiap sore di depan asrama putri…”
“Itu, kamu sudah menerimanya?”
“Ya, aku terima. Terima kasih Di. Aku ke kelas dulu ya…”
“Kenapa bisa seperti ini? Apa Renata tidak membaca suratnya?” Kata Dimas di dalam hatinya. “Re, tunggu… Apa kamu masih menyimpan surat-suratnya?”
“Surat-suratnya? Oh, surat yang kamu taruh di bunga itu?”
“Ya, benar Re. Masih ada kan?”
“Masih Di, aku akan simpan selamanya.”
“Re, boleh aku minta kembali semua surat itu?”
“Meminta kembali? Untuk apa Di?” Renata heran dengan sikap Dimas.
“Aku cuma ingin melihatnya Re. Tolong nanti kamu berikan kepadaku ya, nanti sepulang dari kampus aku cari sampai di depan asrama putri ya.”
“Baiklah Di. Aku duluan ya.”
“Ya, makasi Re.”

Sepulang dari kampus, Dimas pergi ke asrama putri. Renata memberikan semua surat yang Dimas minta.
Di bawah pohon yang rindang dekat kampus, Dimas memperhatikan suratnya. Dia sangat terkejut karena yang diterima Renata bukan suratnya.
“Kenapa bisa berubah? Ini kan bukan tulisanku? Siapa yang telah mempermainkanku?” Kata Dimas.
Dimas sangat bingung, surat palsu itu membuatnya merasa akan menyakiti hati Renata.
“Apa yang harus aku lakukan?” Kata Dimas.

Suatu hari tanpa sengaja Dimas menemukan sebuah buku catatan yang tertinggal di atas meja Tika. Setelah dibukanya, dia merasa mengenal tulisan itu.
“Ya, benar, ini tulisan di surat itu.” Kata Dimas.
Dimas lalu mengeluarkan surat yang dimintanya dari Renata.
“Sama persis! Ini dia orangnya!” Dimas melihat cover buku itu. Tertulis nama Kartika. “Apa? Kartika yang melakukan semua ini? Aku tidak percaya!” Dimas sangat terkejut, hatinya kecewa sekali. “Berarti, Tika sudah tahu kalau sebenarnya bunga itu kuberikan kepadanya sebagai ungkapan hatiku. Tapi kenapa dia lakukan ini kepadaku, apakah dia benar-benar tidak mencintaiku? Kalau dia tidak mencintaiku, seharusnya dia bilang langsung kepadaku. Meskipun hatiku sakit, aku akan berusaha untuk memahaminya, tapi… kenapa dia tega membohongi Renata? Aku kecewa padamu Tika!” Setelah mengatakan semua itu, air mata Dimas menetes. Kali ini dia merasa hampa, hatinya sakit karena cintanya bertepuk sebelah tangan.

Keesokan harinya sebelum ke kampus, Dimas duduk di sebuah kursi kayu di tepi jalan menuju kampus. Dia menunggu Tika. Ternyata benar Tika melewati jalan itu. Tapi Tika diam saja, sedikit pun dia tidak menyapa Dimas.
Dari belakang Dimas berkata, “Tika, kenapa… Kenapa kamu lakukan semua ini?”
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.” Kata Tika.
“Ini, kenapa kamu mengubahnya?” Kata Dimas sambil menunjukkan surat-surat itu.
“Oh, ternyata hal nggak penting itu lagi.” Tika membalikkan badannya untuk melanjutkan perjalanannya. Tapi Dimas menarik tangannya.
“Kartika tunggu! Kamu anggap ini masalah kecil? Ini menyangkut perasaan. Apakah di hatimu memang tidak pernah ada cinta?”
“Aku tidak mau terjebak ke dalam omong kosong itu! Kalau kamu sudah tahu bagaimana aku, kenapa kamu menaruh perasaan kepadaku? Sekali lagi aku katakan, aku tidak akan pernah mau berurusan dengan hal omong kosong seperti itu! Jadi, tolong jangan katakan cinta kepadaku!” Tika sangat kesal. Selama ini dia memang anti dengan yang namanya cinta. Di pikirannya telah dipenuhi oleh impian sebagai ahli perstatistikan saja. “Jangan ikuti aku lagi, aku sudah terlambat.”
Dimas sakit hati. Dia kecewa dengan Tika. Dia tidak percaya dengan hidup tanpa cinta seperti yang Tika katakan.
“Apa boleh buat, aku harus terima.” Dimas berjalan menuju kampus.

Sepulangnya dari kampus, Dimas menemui Renata dan mengajak Renata ke taman.
“Re, apakah kamu benar-benar mencintaiku?” Kata Dimas kepada Renata.
“Dimas… Aku benar-benar mencintaimu. Bagaimana dengan kamu?”
Tanpa disengaja, Tika melihat mereka berdua dari kejauhan. Kata Tika, “Cinta? Kurasa mereka berdua telah terjebak kedalamnya.”

Di malam yang terang karena langit disinari Sang Rembulan yang ceria, Tika sedang menulis tugas di meja belajarnya. Hatinya gelisah. Dia sulit berkonsentrasi.
“Oh Tuhan, kenapa saya menjadi seperti ini. Perasaan saya sangat sedih. Oh, ada apa denganku? Kenapa aku memikirkan dia? Tidak! Aku tidak boleh seperti ini. Tapi… Apakah aku mencintai Dimas? Tidak!”

Semenjak kejadian di jalan kampus itu, Tika menjadi jarang bertemu dengan Dimas. Suatu hari, dia melihat Dimas di taman sedang ngobrol bersama Renata. Tak tahu kenapa, hatinya merasa sakit melihat Dimas bersama-sama dengan Renata.
Malam hari di tempat tidurnya, dia menangis.
“Kenapa aku jadi seperti ini? Meskipun aku berkata tidak terhadap cinta, tapi, hatiku tidak bisa kulawan. Kurasa inilah karma pala yang harus kuterima. Ternyata kalau cinta tumbuh, ku tak berdaya.” Tika terus menangis karena menyesal.

Jam dinding menunjukkan pukul delapan pagi. Tika keluar dari asrama menuju ke kampus. Di depan asrama dia bertemu dengan Dimas. Sepertinya Dimas benar-benar kecewa dengan Tika. Dia diam saja ketika melihat Tika. Begitu pula Tika, meskipun dia merasa bersalah terhadap Dimas, tapi dia tidak mau berkata apa-apa. Dia tahu saat itu Dimas sedang menunggu Renata. Mereka hanya saling pandang sebentar.
“Apa yang terjadi, hatiku sakit sekali melihat dia. Kenapa bisa sesakit ini? Seperti inikah? Mengapa malah aku sendiri yang terjebak ke dalam cinta ini?” Kata Tika dalam hati.
Di mana pun, kapan pun, Tika selalu melihat Dimas bersama-sama Renata. “Mereka begitu serasi, keduanya berhati mulia. Renata memang cocok untukmu.” Begitulah kata hati Tika. Dia benar-benar menyesal. Kali ini dia menyadari bahwa cinta tak bisa dihindari.

Enam bulan berlalu, kini para mahasiswa STIS sudah melewati semester tiga. Sebelum liburan, mereka mengadakan acara kampus, yaitu pertunjukkan bakat dari para mahasiswa. Pada pertunjukkan tersebut, Tika bingung harus menunjukkan bakat apa. Tanpa persiapan sama sekali, dia datang ke acara tersebut. Tak disangka, sebagai mahasiswa yang berprestasi, dia disuruh naik panggung oleh dosennya. Hatinya mulai gugup.
“Kartika, sebagai mahasiswa yang berprestasi, kamu harus menunjukkan bakatmu sekarang ya.” Kata dosennya yang sedang berdiri di depan panggung bersama Tika.
“Tapi Prof, saya tidak bisa…” kata Tika.
“Ayo Tika…” teriak mahasiswa lainnya.
Karena tidak bisa mengelak, Tika terpaksa. Dia hanya bisa menyanyi. “Hanya nyanyian Rossa yang ada di pikiranku saat ini. haruskah aku menyanyikan lagu ini?” Kata Tika di dalam hatinya. Akhirnya dia menyanyikan lagu Rossa, ‘Aku Bukan Untukmu’.

Semuanya merasa tersentuh dengan lagu yang dinyanyikan oleh Tika. Tika sangat menjiwai lagu itu, bahkan air matanya menetes ketika bernyanyi sambil memainkan piano di depan panggung. Sebenarnya lagu itu adalah lagu penyesalannya, dan menyatakan perasaannya saat itu.

Dimas merasakan sesuatu dari lagu yang dinyanyikan oleh Tika. “Apakah semua ini benar?” Dia lalu menemui Tika di belakang panggung.
“Tika, ikut aku!” Dimas menarik tangan Tika, dan mengajaknya ke suatu tempat yang agak sepi. Saat itu Tika tiada berdaya, dia hanya diam dan menurut saja karena hatinya sedang sakit.
“Tika, lagu tadi… Apa semua itu mengungkapkan perasaanmu sekarang ini?” Tanya Dimas sambil memandang Tika.
“Apa? Sudahlah Di, semua itu adalah urusanku.”
“Tika, tolong jawab dengan jujur! Apakah kamu mencintaiku sekarang? Apakah lagu tadi menunjukkan penyesalanmu?”
“Aku… maafkan aku Dimas. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku harus pergi.” Tika membalikkan badannya dan berlari menjauhi Dimas. Dia menangis, ya dia menangis.
Dimas mengejarnya dan berhasil menangkap tangan Tika. “Tika, kamu menangis? Maaf, tolong jujur padaku sekarang. Apakah kamu mencintaiku? Tika, aku mencintaimu… aku tidak bisa membohongi perasaanku terus-menerus meskipun sudah kulawan. Apakah kamu bisa mengerti Tika?” Dimas sangat serius dan meneteskan air mata.
“Maaf… Maafkan aku… Aku sudah mengecewakanmu Dimas. Sebenarnya lagu tadi adalah ungkapan penyesalanku. Apakah kamu bisa memaafkanku?” Tika menangis dan memandang Dimas dengan penuh arti.
“Tika, masalah itu lupakan saja, aku sudah memaafkanmu, jujur, aku tidak bisa membencimu. Kalau kamu tidak mencintaiku, aku bisa mengerti sekarang. Sudahlah, jangan paksakan perasaanmu lagi ya. Pergilah, jangan bebankan pikiranmu dengan rasa bersalah.”
“Aku mencintaimu Dimas, sangat… aku sangat mencintaimu…” Tika tiba-tiba berkata seperti itu.
Dimas terkejut, “Apa? Benarkah yang aku dengar ini?”
“Benar Dimas, aku mencintaimu.”
Dimas memegang erat kedua tangan Tika sambil menangis bahagia. “Aku juga mencintaimu Tika…”
“Tapi…” Tika melepaskan tangannya.
“Tapi apa Tik?”
“Renata, Renata pasti sangat kecewa denganmu. Aku merasa tidak enak dengannya. Tapi aku juga tidak bisa menahan penyesalanku lebih lama lagi.”
“Tika, tidak akan terjadi apa-apa. Kamu tenang saja ya…” Dimas berkata sambil tersenyum.
Ternyata benar, Renata datang dan melihat semuanya. Dia lalu mendekati Dimas dan Tika. “Tika, aku tidak menyangka ya, kamu tega-teganya menyakiti hatiku! Aku tidak akan biarkan Dimas jatuh ke padamu!” Kata Renata dengan marah.
“Re, dengarkan aku dulu. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku ingin minta maaf kepadamu. Aku… aku sudah menyadari kesalahanku selama ini. Maafkan aku.” Tika berusaha menjelaskan kepada Renata.
“Bilang saja kalau kamu mencintai Dimas kan?”
“Aku tidak akan melanjutkan perasaanku ini, Re. Kamu tahu kan siapa aku? Tidak akan kubiarkan cinta menguasai diriku. Jadi aku… Ambil saja dia.” Tika pura-pura bersikap seperti yang sering dia lakukan.
“Ha…ha…ha…” Renata dan Dimas tertawa. Hal ini membuat Tika merasa heran. Renata lalu mendekati Tika dan memeluknya.
“Tika, maafkan aku, sebenarnya tadi itu cuma sandiwara. Aku dan Dimas hanya berteman, dulu aku memang pernah memintanya menjadi pacarku, tapi Dimas tidak bisa, dia memilih untuk tetap menunggumu. Jadi, cintailah dia dengan sepenuh hati, jangan setengah-setengah ya…” Kata Renata.
“Renata… aku minta maaf, maafkan aku…”
“Sudahlah, Tik. Aku juga minta maaf.”
Akhirnya mereka berdua menjadi sahabat yang setia. Mereka bertiga tersenyum damai dan saling memandang.

Cerpen Karangan: Ni Wayan Karmila Putri
Facebook: Karmila Putri
Semoga menjadi awal yang baik dengan menulis cerpen 🙂

Cerpen Baru Kusadari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Galau

Oleh:
Hari ini mendung menyapaa, bintang pun tak kunjung datang. Apakah malam ini menturkan hatiku? Yaa, hatiku sedang tak karuan. Entah melayang kemana. Ingin rasanya ku menangis, menangis sekeras-kerasnya, agar

Antara Aku dan Bintang

Oleh:
Aku sudah lama kenal Bintang, lama sekali, sejak SMP. Bintang selalu ada untukku, selalu menemaniku, tempat aku mengadu, tertawa bersama, bahkan saat aku ada masalah Bintang lah yang pertama

Penyesalan

Oleh:
Pagi itu, ku terbangun dari tidur karena hari sudah menunjukan pukul 6 pagi. Ku buka korden kamarku, dan cahaya matahari pagi menyinari kamarku yang indah ini. Aku berjalan menuju

Semuanya Berwujud Kamu

Oleh:
Hujan, Di bawah kanopi halte bus di pinggiran taman kota denggung yogyakarta.. Tak ada yang spesial sebenarnya, Jogja masih sama seperti beberapa bulan yang lalu, lampu warni-warni di pinggiran

Takdir Membelakangi Harapan

Oleh:
Matahari menyinari dengan perlahan seakan-akan malu untuk muncul. Burung-burung bersiul menyambut pagi yang indah. Kini hari baru telah dimulai. Dan hari ini adalah hari senin, hari dimana waktunya sekolah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Baru Kusadari”

  1. ica febrianti says:

    good 🙂 :*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *