Because I’m Possible

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 May 2017

Tidak semua orang bisa mengertiku saat ini, termasuk matahari sekalipun. Tugasnya hanya bersinar di pagi hari sampai senja lalu menghilang sesukanya. Tidak termasuk mendengar curhatanku, bukan?

Ya, namaku Fandi. Sudah beberapa hari ini tak ada lagi semangat atau spirit yang ada di dalam hidupku. Semuanya jadi kacau ketika aku tahu semuanya gagal di tengah jalan. Bagaimana mungkin aku bisa menerima kenyataan yang seharusnya ada dalam daftar tabu hidupku. Oh mungkin banyak yang bertanya, Kenapa kamu?
Seringkali aku hendak menceburkan diri ke dalam jurang, tapi bukan jurang betulan. Melainkan masalah masalah lain yang tiba tiba muncul. Sekarang tidak ada lagi kedamaian yang terselubung di hidupku, semua menjadi random dan banyak drama.

“Sebaiknya kamu jangan putus asa begitu, Fan,” kata seorang temanku dengan upaya agar aku kembali hidup seperti biasa. Tapi kenyataannya tidak.
“Asal kau tahu, menjadi diriku itu tidaklah mudah,” timpalku. “Bahkan dibandingkan soal kimia, kisahku ini bagai langit yang jatuh ke bumi lalu dihantam banjir dan jadi uap yang tak berguna.”
Mereka, teman temanku hanya bisa bertanya dan bertanya. Dan yang bisa kulakukan hanyalah merengkuh mimpi buruk, menyalakan emosi dan menjadi sebagian dari kehampaan yang tak lain adalah kekosongan abadi.

Tidak ada yang mengerti diriku, tidak ada. Aku selalu dihadapkan dengan berbagai pilihan dan berbagai rintangan yang semakin menyudutkanku. Kesemuanya bahkan menjadikanku makin sulit. Tak terarah.
Sudah banyak cara yang aku tempuh agar kehampaan ini sirna. Atau paling tidak minggat sedikit demi sedikit. Namun kenyataannya? Entahlah.

Hari hariku makin sulit saja. Sekarang apalagi, tidak fair sekali bagiku. Aku kembali bersekolah di sekolahku yang baru, yang mungkin dapat dikatakan pilihan yang telah kupilih dengan matang. Aku sudah menimbang nimbang, mana yang paling tepat dan sesuai dengan passionku. Meski tidak seperti dulu lagi, aku mencoba menggali lagi mimpiku. Barang kali aku dapat menemukan sesuatu yang dapat mewujudkan impianku, mematahkan segala hambatanku dan menyembuhkan luka luka ini. Semoga saja.

Hari ini sekolah pertamaku, dimana aku menjadi siswa baru dan banyak bertemu anak anak baru pula. Di antara teman baruku, tidak ada yang aku kenal sebelumnya. Hanya beberapa yang pernah kujumpai di event sekolah waktu SMP.
Waktu pun berjalan, perlahan aku mulai bisa beradaptasi dengan teman baruku, menjalin pertemanan, dan mulai merasakan akrab yang menjadikan hari hariku hangat.

“Kamu dari SMP mana, Fan?” tanya seorang temanku.
Aku tersentak karena sedang melamun, dan akhirnya menjawab, “Oh, aku? Dari SMP Nusa Bangsa.”
“Kamu sebelum masuk ke sini, daftar ke mana saja?”
“Pernah ke SMA Negeri Banyumas, dan pernah ke-” aku agak ragu mengatakannya. “SMK Negeri Jawa Tengah.”
“Hah!” temanku terlonjak. “Gila itu sekolah bagus banget, temenku saja cuman bisa lolos di seleksi pertama. Omong omong kamu gimana?”
Tiba tiba aku merasakan getir, “Seleksi yang kedua,” jawabku. Sedangkan temanku berdecak tanda tak percaya.
“Hebat kamu, lha terus?”
Aku hanya menggelengkan kepala. Dan setelah itu tidak ada mood lagi untuk mengatakan apapun. Rasanya semua seperti awan mendung yang tinggal nunggu hujannya. Dan aku seperti awan itu.

Tidak ada yang tahu jika aku selalu merenung di malam hari, melamun sepanjang hari, bahkan seperti orang baru putus cinta. Tapi lain, aku merasakan seperti ada kegalauan yang tak kunjung hilang. Semacam mimpi buruk yang datang baik saat sadar maupun tidak. Aku tidak tahu itu.

“TEEEEEETTT!!”
Bel istirahat berbunyi. Lalu, aku beranjak dan berdiri. Tiba tiba ada yang memanggilku dari kejauhan. “Faaaan!”
Kontan aku menoleh, dan dari ujung sana terlihat Iko, temanku sedang berdiri tegak sambil membawa setumpuk buku. Kemudian, aku berjalan ke arahnya sambil memasang muka cemberut.
“Ikut aku antarin buku yuk,” katanya dengan bersemangat. Namun diriku masih terlihat lesu, tak ada semngat sama sekali.
“Jangan lama- lama,” timpalku. Kemudian, aku dan Iko berjalan ke ruang guru. Sepanjang perjalanan banyak kakak kelas yang curi curi pandang kepadaku. Entah karena ada sesuatu, atau aku yang baru pernah keluar kelas, sehingga mereka seperti melihat anak baru.

Sesampainya di ruang guru, kami masuk dan langsung menaruh buku buku itu di atas meja. Lalu, kami beringsut menuju pintu keluar. Baru melangkah keluar tiba tiba ada suara yang memanggil namaku lagi.
Saat kutengok ke belakang, ternyata Pak Rudi tengah berjalan ke arahku. Aku pun kontan membalikkan badan dan menyapa beliau. “Iya pak, ada apa?”
“Ayo ikut saya,” ucap beliau. Lalu, aku mengikutinya menuju depan ruang guru. Kemudian, beliau menyilahkanku untuk duduk. Hingga akhirnya Pak Rudi menatapku dengan serius. Sedangkan aku terpaku karena bingung dengan kelakuan beliau.

“Kenapa kamu mulai jarang ikut ekskul?” tanyanya.
Aku hanya terdiam. Lama.
“Kamu juga menghindari saya, sebegitu bencinyakah kamu dengan saya?” tanyanya lagi, tapi lebih tajam dan serius.
Aku merasakan kaget yang luar biasa dengan perkataan Pak Rudi. Apalagi sekarang aku masih bungkam, tapi aku harus menjawab pertanyaan itu. Sebisa mungkin.
“Maaf pak, saya akhir akhir ini menghindar dari bapak. Bukan karena saya yang mau, tapi saya sedang ingin sendiri.”
“Kamu ada masalah? Silahkan cerita. Jangan pakai aksi kabur dan tidak bisa dihubungi.”
Mendengar itu aku langsung tersentuh, lalu aku mulai bercerita tentang segalanya. Bagaimana aku bisa sampai diam begini. Dan alasan apa yang sudah membuatku kacau begini. Semua mendadak tercurah tiada henti, seperti air yang mengalir di atas daun, lalu jatuh ke tanah. Aku merasakan lega yang selama ini hanya ada dalam mimpi.

Pak Rudi menatapku lagi. “Terkadang mimpi boleh setinggi langit, tapi kamu jangan lupa, kamu itu tinggal di bumi dan menapak di tanah,” kata beliau sambil menghela napas.
“Dan jangan pernah membatasi diri kamu dengan apa yang kamu suka, kadang yang kita benci adalah jalan kita yang sesungguhnya meski untuk menerimanya butuh pengorbanan dan kesabaran.”
Napasku mendadak tertahan. Dalam otakku berputar kejadian tiga bulan yang lalu. Bagaimana kegagalan itu telah banyak mendatangkan masalah, membuatku amburadul, mengacaukan sekian waktu dan kesempatanku.
Tapi berkat Pak Rudi, kini aku teryakinkan. Tidak ada lagi yang perlu kutangisi, karena yang berlalu biarlah berlalu. Aku pun semakin percaya, bahwa mimpiku pasti kenyataan.

…. Pasti Kenyataan.

Cerpen Karangan: Fhanius Russel

Cerpen Because I’m Possible merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jalan Pintas

Oleh:
Ketika pagi tengah merayap merambati hari, saat itulah aku dan Amin bergegas pulang ke kampung halaman. Kampung: indah dan umum sekali kedenggarannya. Senang rasanya, setelah setahun lamanya kami tinggal

Arti Sebuah Nama

Oleh:
Berawal dari hidupku yang teramat membosankan dan tidak akan bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Aku terlahir pada malam sabtu pahing dan ditakdirkan menjadi seorang anak. Konon katanya menurut penanggalan

Sebuah Renungan Perjuangan

Oleh:
Dinginnya pagi bersama terpaan angin dengan campuran embun yang jatuh dari langit, menemani perjalananku menuju sebuah tempat beribadah yaitu sebuah masjid. Suara gemericik air terdengar oleh telingaku, bersumber dari

Because Only You

Oleh:
16 MEI 2016 Malam ini sepi. Bulan dan bintang tertutup awan kelabu. Keadaan malam ini seperti hatiku, malam ini, aku baru saja ditinggalkan oleh orang yang aku sayangi, dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *