Berakhir Pada Rumput, Ilalang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 June 2017

Pohon-pohon rindang yang berdaun ikal dan pohon sakura yang indah tumbuh subur di kepala citra. Tanaman pemberontak seperti rumput juga ilalang bahkan tumbuh di tempat yang sama memenuhi lahan kosong. Dia menatap atap kamarnya yang terbuat dari bilik. Sesekali ia menepuk-nepuk jidatnya pelan. Cahaya terang mulai terlihat di otaknya, yang membuat rumput, ilalang, pohon besar juga pohon sakura terlihat begitu indah. “Ilalang dan rumput tumbuh subur, di sisi lain pohon sakura dan pohon rindang yang besar berdaun ikal pun juga tumbuh.. lalu apa yang harus kubuang?” Dia berkata sendiri “rumput pun bisa dijadikan makanan sapi bukan?” Dia menjawab pertanyaannya sendiri tanpa mengalihkan pandangannya yang menatap atap.

Kini citra mulai mengoreskan tinta pada selembar buku. Mencoba merontokkan rumput dan pohon-pohon yang tumbuh subur di otaknya. Bagai massa pohon-pohon besar itu mulai berkurang setelah tinta itu tergores memenuhi kertas kosong. Hangat tubuhnya mulai ia rasakan, tak lagi berkeringat dingin karena terlalu dalam berfikir Atau lebih tepatnya otaknya yang bekerja sendiri tanpa permisi.

“Buanglah salah satu di antara rumput atau pohon, otak tak berguna!” Ujarnya yang menepuk-nepuk kepalanya.
“Dasar bodoh, semuanya terlihat menarik!” Jawabnya kemudian yang berteriak. Seakan bayangan lain tinggal dalam diri gadis itu. Seperti ada dua orang yang saling berkata dengan tekanan suara yang seperti tak ingin kalah.
“Otakmu akan meledak bila rumput dan pohonnya tumbuh subur!”
“Aku sanggup menghentikan ledakannya pemberontak, ini otakku bukan otakmu”. Dia seperti orang gila.

Otak citra mulai terkontrol, ia tak lagi berkata sendiri dengan tekanan tinggi. Ketika ia telah menulis dua kata pada bagian berbeda di atas kertas lain. “DOKTER” dan “PENULIS” dua kata berhasil ia tulis dengan huruf kapital dan berukuran besar. Dia menyukai kedua cita-citanya, namun ia benci bila harus memilih keduanya. Dalam tulisan yang penuh majas dan rima, dia selalu berkata ingin menjadi dokter. Tapi dengan menulis, dia juga punya ilalang yang tumbuh subur tak terkendali yang tak memerlukan pupuk seperti pohon rindang dan juga pohon sakura.

Malas makan, jika dibolehkan ia akan berpuasa saat datang bulan. Karbohidrat, protein dan mineral bagai pupuk, kompos, urea dan air yang membuat pohon dan rumput kembali tumbuh subur. Dia berharap, kedua jenis tanaman itu mati kekurangan nutrisi. Dia kembali berfikir, jika keduanya mati artinya ia juga akan musnah atau jika keduanya tumbuh subur maka dia juga akan gila. “Tahan citra, jangan makan nanti kedua tumbuhan itu akan tumbuh subur” “diam kau, aku akan mati bodoh”. Sepanjang hari dia hanya diam di kamar menikmati cahaya gelap.

“Pohon bisa membuatmu terkenal” “rumput pun bisa membuatmu bergelar hebat dan mempunyai gaji tiap bulan” “diamlah pohon dan rumput bodoh, kalian membuatku harus mencangkok otak agar tak gila!”. “Cepatlah minggu berlalu” lanjutnya kemudian dengan nada pelan. Bahkan sekarang bukan satu bayangan lain yang mendiaminya, sekarang bayangan lain mulai bertambah. “Tidak, tidak, aku menyukai keduanya” senyumnya kini terukir.

Gadis itu kembali termenung, duduk di kursi menyembunyikan wajah cantiknya dengan tangan yang ia lipat di atas meja. “Maafkan aku pohon rindang juga pohon sakura yang indah, rumput dan ilalang mungkin bagai parasit tapi bagiku mereka sangat cantik. Mereka tak butuh pupuk dan urea seperti kaian. Maaf aku akan mematikan kalian” ucapnya yang menangis sesegukan. Dia kini tersenyum. beberapa lama dia merenung, Akhirnya gergaji tajam telah memotong pohon rindang yang berdaun ikal juga pohon sakura itu. lalu dia mengahapus tulisan “DOKTER” pada kertas itu.

Cerpen Karangan: Renita Melviany
Facebook: Renita melviany

Cerpen Berakhir Pada Rumput, Ilalang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


1441 Pages

Oleh:
Leo tengah menundukkan kepala, matanya bergerak ke kiri ke kanan berulang-ulang. Tak lama ia membalik halaman yang sudah ia baca, dibukanya halaman selanjutnya. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang.

Love U Adek Kecil

Oleh:
“haha lo ngaco, mana mungkin gue suka sama anak kecil” Shilla menyeka sudut matanya, berulang kali ia cerna ucapan rio di taman belakang tadi, tertawa remeh menganggap shilla (anak

Rencana A, B, C, D dan E

Oleh:
Sebulan sudah Aku ingin menulis sebuah CERPEN, dan barulah kini saya coba untuk menbuatnya. Ketika waktu itu, saya sempat kelebihan akal untuk menulis sebuah karya yang mungkin terbilang sangat

Cinta Yang Tak Pantas

Oleh:
“Cinta tidak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan, itulah keberanian atau mempersilakan.” (Ali bin Abi Thalib) Kutipan tersebut seakan menjawab keraguanku selama ini kepada seorang pria, sebut saja

Pelangi Abu-Abu

Oleh:
Hujan….. adalah satu satunya hal yang membuat diri saya dapat merasa relaks dan tenang entah kenapa setiap kali awan mendung menyelimuti bumi yang diiringi dengan angin dingin yang berhembus,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *