Berhenti Menunggu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Galau, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 11 January 2016

Di sini, di tengah gelapnya malam aku masih menunggunya, menunggu dia yang amat ku cintai, walaupun mustahil untuk kembali tapi aku tetap menunggunya. Aku menjadi bodoh karena cinta aku tahu di sana dia bahagia bersama pasangannya tapi aku masih tetap menunggunya aku percaya suatu saat dia kembali, kembali ke pelukanku. Aku berharap hempasan angin malam ini membawa perasaan rinduku kepadanya.

Aku tidak bisa melupakan hari itu, hari dimana dia meninggalkanku, saat itu cinta telah meninggalkanku dan itu terus menyakiti, tapi bodohnya aku tidak pernah mengizinkan rasaku menghilang, bahkan saat dia terlihat jauh sampai semuanya menjadi bagian dari masa lalu aku masih disini dengan rasa yang sama.

Semenjak aku ditinggal olehnya, aku tidak lagi mempunyai keberanian untuk membuka pintu, ada beberapa yang mencoba mengetuk tapi aku enggan membukanya, aku masih nyaman berada di zona ini, aku berusaha menghadirkan orang baru di hidupku tapi itu tidak pernah berhasil tidak ada seorang pun yang bisa menggantikannya. Jogging adalah hobi baruku, aku berusaha lari dari kenyataan, kenyataan yang sulit diterima oleh akal sehatku, tiba-tiba aku mendengar suara yang sudah begitu akrab di telingaku, Yah suara Andri.

“kamu dari mana sih?” teriaknya sambil menarik rambutku.
“apaan sih, sakit tahu.”
“siang tadi kamu ke mana? kenapa tidak menemuiku di cafe?”
“oh iya astaga hari ini aku janjian sama kamu, aku lupa beneran.”
“lalu kenapa nomor kamu gak aktif.”
“aku matikan sih, sengaja supaya gak ada yang ganggu, maaf ya maaf banget.”

Andri mencoba mengerti, dia memang sahabat terbaikku dia yang menuntunku saat tak menemukan arah, dialah satu-satunya orang yang mengerti perasaanku saat ini. Malam ini aku nginap di rumah Andri, menemani adik perempuannya karena orangtuanya ke luar kota. Sama seperti malam-malam sebelumnya aku selalu duduk di bawah sinar rembulan, hatiku selalu beradu dengan logika, aku selalu tersenyum seolah semuanya baik-baik saja, walaupun sebenarnya ada luka yang amat perih.

“kamu ngapain di sini?”
“aku lagi cari angin, di dalam sumpek.” jawabku menyembunyikan kegalauan, tapi Andri cukup pintar membaca raut mukaku, dia pun duduk di sebelahku, suara tangisku memecah keheningan, Andri berusaha menenangkanku, dia tahu betul ada luka yang sedang aku sembunyikan.
“aku tahu kamu merindukannya, kamu masih memikirkannya, tapi apakah dia juga memikirkanmu? sampai kapan kamu membuang waktumu demi hal yang sia-sia? Ayolah Rin masih banyak cahaya di luar sana.”

“lalu bagaimana dengan perasaanku?” Tanyaku sambil meneteskan air mata.
“biarkan rasa itu bermuara dengan sendirinya, dengan seseorang yang tepat, ingat Rin jodoh tak akan ke mana, temukan perasaanmu kembali agar kamu tidak dipermainkan oleh perasaanmu sendiri.” jawabnya, aku terdiam berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan Andri. Hatiku mulai memberontak, “sudah sangat lama aku berada di zona ini, sudah saatnya aku melangkah menjemput kebahagiaanku sendiri.” pikirku.

Cahaya jingga yang tersibak dari timur memberi kehangatan tersendiri di pagi ini, membuat mataku enggan menyapa sang fajar, tiba-tiba suara hp-ku berbunyi bertanda ada pesan masuk, ku raih benda itu dengan mata yang masih tertutup.

“hei apa kabar? aku ada di makassar ketemuan yuk?” begitulah isi pesan yang sukses membuat mataku terbelalak. Entah ada angin apa kenapa dia begitu tiba-tiba menyapaku, sudah cukup lama dia tidak menghubungiku. Aku masih memandangi layar ponselku, dengan sejuta pertanyaan di kepalaku. “kenapa harus sekarang? Kenapa di saat aku mencoba melupakanmu kenapa kamu kembali datang? Kenapa kamu menghentikanku di saat aku sudah mulai melangkah?” aku marah pada diriku sendiri karena aku tidak bisa melupakannya sampai saat ini aku masih menyayanginya.

Aku tidak membalas pesan dari dia, teleponya pun tidak aku jawab, begitu pun dengan telepon Andri. Hari ini aku janji ketemuan dengan Andri di tempat biasa tapi kakiku sangat lelah untuk melangkah, aku memutuskan untuk tidak menemui dua-duanya. Terdengar suara Andri dari luar rumah, aku sudah menceritakan semua yang terjadi hari ini, aku pun bergegas membuka pintu.

“ada apa Ndri malam-malam?”
“kamu baik-baik saja kan?” Tanyanya.
“iya, maaf tadi aku gak bisa datang.” jawabku datar.
“oh ya Rin ini ada surat dari pengemar rahasiamu?”
“haaa pengemar rahasia? Siapa?” tanyaku heran.
Andri berlalu meninggalkanku tanpa menjawab pertanyaanku, ku bukalah surat itu dengan sangat hati-hati, nampaknya sebuah puisi.

“kenapa tak pernah kau tambatkan perahumu di satu dermaga? padahal ku lihat, bukan hanya satu pelabuhan tenang yang mau menerima kehadiran kapalmu, kalau dulu memang pernah ada satu pelabuhan kecil yang kemudian harus kau lupakan, mengapa tak kau cari pelabuhan lain yang akan memberikan rasa damai yang lebih? Seandainya kamu mau buka tirai di sanubarimu, kau akan tahu pelabuhan mana yang ingin kau singgahi untuk selamanya, hingga pelabuhan itu jadi rumahmu, rumah dan pelabuhan hatimu.”
(Puisi karya Tyas Tatanka dengan judul pelabuhan).”

Mataku mulai berkaca-kaca setelah aku membaca puisi yang diberikan oleh Andri, aku merenungi kata demi kata yang terukir indah di kertas itu. Ku bulatkan tekadku untuk tidak lagi menunggu hal yang sia-sia. Kini aku sadar, selama ini Andri menyayangiku lebih dari seorang sahabat, aku pun belajar menghadirkan rasa yang sama, aku melangkah meninggalkan kenanganku di masa lalu, Andrilah yang berhasil membuka pintu yang sudah sekian lama tertutup.

Kadang kamu begitu yakin kehadiran seseorang akan memberi makna bagi jiwa, sampai orang itu pergi kamu masih menunggunya dengan sejuta harapan dia akan kembali. Kamu pun menutup pintu untuk yang lain. Sementara dia yang kamu tunggu sudah bahagia dengan pilihannya. Apabila kamu ikhlas menerima semuanya maka akan ada pengganti yang lebih baik yang Tuhan siapkan untukmu. Tugasmu bukan mencarinya tapi memantaskan diri untuk menerimanya. Bukankah jodohmu adalah cerminan dari dirimu?

Cerpen Karangan: Hastuti Mahmud
Facebook: Hastuti Hahmud

Cerpen Berhenti Menunggu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Wedding Dress

Oleh:
Pagi itu mentari bersinar cerah, tak sedikitpun ia berhenti memancarkan cahaya. Aku duduk termenung sendiri pagi itu. Pandanganku memburu tajam pada sebuah cincin pernikahan yang kupegang. Tak berapa lama

Di Ujung Sms

Oleh:
“Happy Sunday!!!” teriak gue, Talita, gadis berusia 17 tahun yang sering di sapa Alit. Dengan penuh semangat gue menuruni tangga yang menghubungkan kamar gue di lantai dua dengan ruang

Akhir Sebuah Penantian

Oleh:
Malam kian larut yang hanya ditemani dengan bulan dan bintang, angin sepoi yang merasuk dalam jiwa membuat hati ini semakin perih, hanya dalam keheningan malam ini yang menemani keresahan

Cinta Pertama Dan Terakhirku

Oleh:
Hari ini seperti hari-hari biasa seperti yang kualami. Pergi ke sekolah untuk mencari ilmu dan bertemu dengan teman-teman yang sama. Tapi sejak 2 tahun yang lalu hidupku berubah menjadi

A Love Story (Part 1)

Oleh:
Pernahkah kamu mencintai seseorang, hingga kamu lupa bagaimana cara mu mencintai dirimu sendiri? Pernahkah kamu mengharapkan seseorang, hingga kamu mati rasa pada yang lain? Pernahkah kamu menanti seseorang, hingga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *