Besuk

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 17 April 2013

‘Jam besuk: 16.00-21.00’, bunyi sebuah papan pemberitahuan yang terpampang di pintu masuk rumah sakit itu. Sekali lagi kulihat jam tanganku, jam tangan buatan jepang yang Indonesia tak bisa buat, lima belas lewat tujuh. Aku menimbang-nimbang apa yang harus kulakukan sekarang. Hampir sejam lagi waktu besuk baru tiba dan aku harus menunggu untuk menuntaskan niat menjenguk wanita ini. Seorang wanita yang kukenal sedang dirawat inap di rumah sakit ini akibat sebuah kecelakaan. Sambil berpikir-pikir aku berbalik ke tempat parkir. Masih menimbang-nimbang, apakah akan menunggu di parkiran atau sore nanti aku datang kembali. Tanpa perintah yang tegas dari otak, kakiku terus melangkah hingga sampai di sisi mobil. Aku masuk, menutup pintu dan termenung.

Wanita ini, kemarin ditabrak lari oleh seorang pengendara mobil. Kabarnya aku dengar dari rekan-rekan sekerja tadi siang. Beritanya masih simpang siur, ada yang bilang cukup parah, tetapi aku belum tau kondisi sesungguhnya. Dia adalah teman sekantorku. Gadis lajang yang cukup enerjik. Bukan hanya tubuhnya yang bagus, kerjanya pun juga bagus. Setidaknya itu kata orang-orang. Di kantorku dia cukup dikenal dan disayangi atasan. Kadangkala aku harus jujur bahwa aku menyukainya. Tetapi gayung itu belum bersambut. Kalau kupikir-pikir, memang sih, aku yang belum pernah menyatakan rasa. Bagaimana juga aku bisa, kalau pada saat yang sama dia selalu membuatku jengkel?

Kudengar dia punya teman cowok, entah itu pacar atau gebetan, aku sebenarnya tak begitu peduli. Tetapi cara dia memandang dan bicara padaku kadang-kadang terasa menyakitkan. Aku pikir itu soal sombong. Sepertinya dia menganggap aku bukan siapa-siapa. Apalagi bila menyangkut pekerjaan, aku seakan-akan berada di bawah levelnya. Padahal dilihat dari pangkat sebenarnya kami masih setara, begitu juga dari lamanya kerja. Tetapi jangan tanya soal prestasi dan kesempatan yang diberikan atasan, memang dia sedikit ada di depanku. Sangat diperhatikan pimpinan, sering diberi tanggung jawab yang besar dan tentu saja bonus yang besar pula. Sebentar, tunggu dulu… aku tidak sedang mempermasalahkan keunggulannya di kantor. Aku sekarang sedang mempermasalahkan apakah aku harus menjenguknya hari ini atau tidak?

Pintu mobil kubanting, aku kembali ke rumah sakit. Di depan pintu besi yang masih tertutup itu berjejer bangku-bangku untuk menunggu. Akupun duduk di antara orang-orang yang kurasa juga berniat membesuk. Kulihat jam tangan buatan jepangku, lima belas lewat tujuh belas. Sejam bukanlah waktu yang lama, pikirku, tetapi mengapa rasanya panjang? Mungkin karena aku masih dilanda kebimbangan, apakah aku harus menjenguknya hari ini atau tidak? Aku tak tahu apa yang harus kubawa, apalagi yang harus kukatakan. Yang kutahu aku khawatir dan sangat penasaran dengan kondisinya. Aku rasa aku hanya ingin memastikan bahwa tidak ada yang fatal dengannya. Itu saja. Tidak lebih!

Sebenarnya aku tidak yakin juga kalau dia tidak tahu bahwa aku menyukainya. Wong aku sering tebar pesona di depannya kok. Beberapa kali aku malah mengantarnya pulang dan adalah fakta bahwa sekali waktu dia juga bersikap manis padaku. Tapi itu sekali waktu. Sekali waktu yang lain dia bisa ketus, seketus-ketusnya. Apalagi kalau aku mulai merayunya, reaksinya bisa sekejap dingin, sedingin serbuk es yang ditumpuk diatas cendol. Yang lebih parah lagi kalau dia mulai bercerita tentang teman cowoknya itu. Bukan hanya bercerita, lebih tepatnya membangga-banggakan! Oh ya, ada yang lebih memuakkan lagi, ketika dia curhat bagaimana teman cowoknya itu pernah berusaha mencumbunya. Pliss deh… Mestikah lelucon itu harus kudengar?!

Tiga hari yang lalu untuk kesekian kalinya dia ditugaskan keluar kota menemani CEO dalam suatu pertemuan penting dengan calon sponsor. Ada dokumen yang harus disiapkan sebelum keberangkatan. Namun karena dia sibuk dengan tugas-tugas lain, maklumlah ia dipercaya banyak orang sehingga tugasnya pun banyak, aku menyanggupi permintaannya untuk menyelesaikan dokumen itu. Entah bagaimana aku bisa keliru dalam perhitungannya, Bos akhirnya marah-marah. Kalimat yang menyakitkan telinga kembali berkumandang, bahwa pekerjaanku selalu tidak beres. Bahwa aku jauh berbeda dengannya, si wanita itu. Bukannya berterima kasih dengan sedikit membelaku, dia malah menyudutkanku di depan atasan. Menjelaskan lebih detail letak kesalahanku. Ucapannya yang masih terngiang dalam tiga hari ini adalah, “Makanya kalo kerja itu yang bener dong, masa itu juga harus dikasi tau. Kan kita punya ini…” Jari telunjuknya menempel di kening. Ugkh… Dammmnn…! Ingin sekali rasanya menonjok wanita ini, atau membuatnya celaka agar dia tau rasa. Menampar-nampar wajahnya yang mulus itu supaya dia jera dan menaruh sedikit respek padaku. Supaya dia bertobat dan menaruh perhatian padaku.

Tak terasa aku sedari tadi mondar-mandir di halaman rumah sakit. Ada rasa debar di dadaku. Pertanyaan yang sama terus meloncat-loncat di benakku. Apakah aku harus menjenguknya hari ini? Betapapun juteknya dia, aku tak bisa bohong kalau parasnya masih menggodaku. Kakinya yang jenjang dan ramping selalu kukagumi, seperti atasan kami pun menyukainya. Mataku sendiri pernah menangkap basah si Bos sedang memandangi kaki indah itu.

Bosan, aku kemudian duduk di sebuah warung tak jauh dari gerbang rumah sakit. Segelas kopi dingin kuseruput. Sejenak kucoba membayangkan bagaiamana kondisinya sekarang. Dalam kasus kecelakaan seperti ini, ada dua kemungkinan buruk yang bisa terjadi, patah tulang punggung atau pendarahan di otak. Kedua-duanya bisa mengakibatkan cacat seumur hidup yaitu lumpuh kalaupun tak meninggal. Aku semakin gelisah. Tanganku semakin dingin. Duh, apa yang harus kulakukan? Lima belas lewat lima puluh delapan! Jantungku berdebar semakin kencang. Kusadari jariku sedikit bergetar ketika menyerahkan uang sepuluh ribuan ke pemilik warung. Dengan langkah berat aku berjalan menuju pintu rumah sakit. Kulihat pintu rumah sakit telah terbuka dan orang-orang yang tadi menunggu sedang beranjak masuk. Oooi..! Apakah aku harus menjenguknya hari ini?! Apa yang harus kukatakan..? Tuhan, beri aku petunjuk… Beri aku keberanian…! Keberanian untuk katakan bahwa aku menyayanginya… Bahwa aku menyesal… dan juga… akan bertanggung jawab atas kecelakaan yang kusengaja itu.

Cerpen Karangan: Bergman Siahaan
Blog: bergmansiahaan.com

Cerpen Besuk merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maafkan Aku Nike

Oleh:
“Nik, kenapa kamu cepat banget sih perginya padahal aku belum sempat minta maaf” tangis Lulu di samping nisan bertuliskan NIKE NIRMALA. “seharusnya aku mendengar penjelasanmu dulu Nik aku menyesal

Cinta Datang Terlambat

Oleh:
“mau sampai kapan jomblo din?” Tanya fitri dengan mulut dipenuhi makanan. “jodoh di tangan Tuhan kali, ngomongin jodoh mah urusan belakangan aja fit” jawabku lirih. “tapi kan, semenjak putus

Membunuh Bayangan

Oleh:
Tutur kata yang lembut terkadang menutupi kemunafikan seseorang, tidak berbuat jahat terang-terangan melainkan menyergapmu secara diam-diam. Dia mulai merasuk ke dalam tiap urat nadimu dan membiarkanmu menikmati hangat rasukannya.

Berawal Dari Kehilangan

Oleh:
Sore itu aku pergi bermain game online di warnet terdekat dengan sendal baruku yang telah ibu belikan satu minggu yang lalu. Satu jam pun berlalu, matahari sudah mulai tenggelam

Ku Nanti, Kita Kembali

Oleh:
Raut wajah Nabila, sesaat tertampak seperti monster imut saat ia terbangun dari mimpinya di atas susunan karakter-karakter yang begitu empuk, saat pagi menyapa “Ah, pagi ini tak berbeda dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *