Biarkan Edelweis yang Berbicara Ketika Aku Mulai Membisu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Galau, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 15 May 2014

Dalam hidup memang tak ada jaminan untuk terus bahagia. Gadis itu bernama Alila. Senyum dari bibir mungilnya yang selalu menjadikan topeng dari kegetiran hidupnya. Bagi Alila dia adalah pahlawan bagi dirinya. Mampu berdiri dengan kaki-kakinya dan mengepakkan sayap-sayapnya yang telah patah. Alila selalu percaya bahwa semua yang terjadi padanya adalah titik terang yang akan membawanya pada kebahagiaan yang nyata meskipun terlintas di benaknya hidup adalah cabikan luka, tanpa makna serta hari-hari yang meranggas lara. Hati Alila yang tertatih terbesit akan memorinya bersama Ibu dan Ayahnya ketika dia masih duduk di sekolah dasar. Kecelakaan naas seketika merenggut senyuman indah Alila, Ibu dan Ayahnya tewas. Meskipun tak ada seorang pun yang menyanyangi Alila bahkan sanak saudaranya. Mungkin karena kehadiran Alila sangat tidak diharapkan, karena Alila hanya buah cinta gelap tanpa ikatan sah dari Ayah dan Ibunya. Walaupun ayah dan ibunya akhirnya menikah.

Alila yang tinggal di rumah reyot kecil, tanpa kawan. Pagi itu kicau burung pun menganggu mimpinya, terik mentari yang mulai terlihat di pelupuk langit masuk ke sela-sela jendela ruangan kamar sempit sesak. Udara pagi serasa mengajaknya mengobrol. Dengan mata sepat dan tubuh yang masih lekat di tempat kesenyamanannya dia mencoba mengangkat tubuhnya untuk ke sekolah. Gadis berpawakan kurus dengan rambut mayang ikal yang dikuncir dengan pita kuning itu pun siap menempuh perjalanan dengan antusiasnya untuk merengkuh cita-citanya. Alila memang tak seberuntung gadis sepantarannya yang merasakan kebahagiaan nyata. Untung saja dia mendapatkan beasiswa serba cuma-cuma. Makan, sekolah, dan apapun karena prestasi yang selalu membanggakan.
Hari itu memang berbeda dengan hari biasanya, hari pertama gadis dengan kuncir kuning yang selalu dikenakannya mengenal lika-liku kehidupan SMA

Gerbang sekolah SMA Bhineka yang menyambutnya. Perasaannya mulai merasakan terbawanya akan dunia barunya, menjadi sosok remaja yang sebenarnya. Tiba-tiba..
“Pagi, siswa baru ya. Silahkan menempati aula untuk briefing kegiatan hari ini.” Spontan seorang laki-laki dengan almamater OSIS yang membuyarkan lamunannya dengan senyuman tipis sejuk dipandang.
“Terima kasih kak.” Sahutnya dengan nada kalem, dan lontaran senyumnya dibarengi degup hati yang tertegun ketika melihat sosok laki-laki dengan sorotan bening matanya.
“Aku OSIS di sini, mari aku antarkan menuju aula.” Dengan nada lirih yang menggeret kaki-kaki gadis itu untuk membuntutinya dari belakang.

“Ini adalah aula sekolah ini. Silahkan menempati bangku paling depan.” Kata laki-laki itu dengan lontaran senyum yang membuat Alila semakin terkagum melihatnya.
“Terima kasih kak.” Dengan nada sedikit tertatih karena grogi.

Pandangan mata gadis itu pun tak dapat berpindah, tetap berada pada satu titik. Tiba-tiba seorang wanita dengan almamater OSIS datang pada laki-laki itu dan menggandeng tangannya. Gadis dengan wajah polos ditambah alis tebal dibarengi dengan suara kechildhisannya.
Pandangannya Alila pun bubar, “Pasti itu pacarnya” pikir Alila.

Tiba-tiba bel istirahat berbunyi..
Gadis dengan almamater OSIS itu pun mendatangi Alila.
“Pertama kali melihatmu, mengingatkanku pada adikku yang meninggal setahun lalu karena kanker di pankreas. Rambut mayang ikal dan kuncir kuning yang selalu ia kenakan menghiasi rambutnya. Wajahnya pun 11-12 denganmu, mungkin karena adikku yang mengutamakan fashion. Nama kamu siapa sayang? Tanya gadis almater OSIS itu dengan suara childish dibarengi dengan sedikit rembesan air mata di pelupuk matanya.
“Alila kak..” Jawab Alila dengan nada mirisnya.
“Alila sayang, alila mau jadi adik kakak?” Tanyanya dengan penuh harap.
“Terima kasih kak.” Jawab Alila dengan semyuman remang-remangnya.
“Namaku Alisya.” Spontan pada gadis berkuncir pita rambut kuning itu.

Sejak bertemu Alisya, Alila yang sebatang kara, salah satu seorang kakak kelasnya yang selalu menyediakan bahunya untuk bantalan Alila ketika sedih dan tangan yang bersedia mengusap air mata pahit Alila. Alisya adalah gadis dengan bibir tipis, dengan wajah manis keluguan dan tempat berbagi untuk Alila. Pantas saja banyak orang sayang dengannya karena kelembutan hatinya. Memang, di dunia tak ada yang sempurna, Alisya menceritakan penyakit yang diidapnya sejak pertama kali membuka matanya di dunia dengan oekan-oekan pertama kalinya. Jantungnya mengalami kelainan.

Jumat pagi itu adalah hari sibuk Alila menyibak isi perpustakaan karena tugas filosofi epistemologi. Karena tubuh yang beragak tinggi, tangan gadis itu tak cukup kuat meraih buku Filosofi Edelweis yang ia inginkan. Akhirnya..
“Braaaakkk…” suara memecahkan keheningan perpustakaan yang dibarengi buku filosofi yang jatuh menggaplok kepala seorang laki-laki berpawakan tinggi, setengah kurus dan kacamata yang mengingatkan akan artis penyanyi solo Afgan.
“Maafkan saya kak…” Dengan tergopohnya memungguti buku-buku yang berjatuhan berserak di lantai gadis itu dengan perlahan menampilkan wajah ketakutan pun berdiri.
“Kamu bisa minta tolong aku untuk mengambilkannya” sahut laki-laki itu dengan spontan.
“Ma.. maaf kak” Dengan kata-kata tertatih yang mengkodekan benar-benar ketakutan.
“Bisa kita bicara sebentar?” Sahutnya dengan penuh permohonan.
Pikiran Alila pun menjalar, “Bagaimana bisa kak Niky mengajakku mengobrol? Cowok yang aku kagumi sejak pertama masuk sekolah ini?”
“Kakak ingin berkata apa?” Sahutnya dengan tertatih.
“Mau buku filosofi edelweis kan?” Sambung laki-laki itu dengan nada menawarkan sambil memegang buku edelweis yang tadi jatuh di kepalanya.
“Ya sudah.. Kita duduk di sudut perpustakaan itu ada 2 bangku kosong.” Sahut gadis itu dengan keheranan.

“Alila, tau tentang bunga edelweis?” Tanya laki-laki dengan wajah polos itu sambil menggeret bangku lalu ia duduki.
“Belum kak.” Jawab Alila dengan penasaran sambil melekatkan tubuhnya pada bangku.
“Bunga ini memang tidak begitu indah bentuknya tetapi perjuangan untuk memperolehnya telah membuatnya sangat berkesan dan indah untuk diceritakan.”
“Kakak bisa bercerita?” Tanyanya dengan keingintauan yang menggelora.
“Untuk mendapatkannya, kita akan mengalami kepanasan, kedinginan dan menempuh perjalanan jauh.” Jelasnya dengan penuh kelembutan.
“Kakak pernah mendapatkannya?” Tanyanya lagi dengan penuh decak kagum melihat wajah polos laki-laki bernama Niky itu.
“Baca buku ini sampai kamu menemukan apa yang kamu cari. Kamu akan mendapatkannya. Jangan pernah menyerah.” Sahutnya dengan kalimat mamangan yang membuat Alila semakin mengagumi sosok Niky itu.

Tiba-tiba waktu yang memecahkan perbincangan fantastisnya, bel masuk berbunyi..

“Selamat membaca Alila, senang bisa mengobrol denganmu” Sambil menggeret bangku perpus lalu pergi meninggalkan tempat itu.
“Pantas saja dia bisa mendapatkan hati kak Alisya, Andai Kak Niky… Ah itu tidak mungkin, aku siapa kak Alisya siapa. Dibandingin dengan Kak Alisya aku kan gak ada apa-apanya, cantik, baik dan berbakat ditambahi wajah yang polos dan suara childishnya. Lagian kak Alisya yang selalu baik sama aku. Alila cukup Alila!” Pikirnya yang mulai menjalar kemana-mana.

Niky adalah laki-laki yang dikagumi mayoritas perempuan di sekolahnya. Karena keluguan dan imutnya yang tetap mengkover indah wajahnya. Senyuman yang selalu ia lontarkan membuat gadis di sekolahnya takjub melihatnya.

Setelah lama duduk di perpus, terdengar bel pulang. Gadis itu pun membereskan buku-bukunya dan pulang.
Pulang petang menjadi hal yang biasa bagi Alila karena kaki yang selalu menjadi tumpuannya menopang tubuh yang dapat membawanya ke tempat tujuannya. Cahaya bulan yang mulai temaram dan angin sepoi-sepoi yang dirasakan membawanya ke tempat itu. Hari jumat itu tepat sepuluh tahun yang lalu Ibu dan Ayah di sini. Di tengah taman desa. Gadis dengan wajah lelah itu membaringkan tubuh di rerumputan hijau halus yang memenuhi taman desa. Suara sayu terdengar di telinganya dengan latar desis angin malam. Mata terfokuskan pada langit malam yang bersembulan jutaan bintang. Dibiarkannya hembusan angin menerpa tubuh yang terasa panas mengingat kejadian itu. “Tempat ini masih sama, hanya dengan suasana yang berbeda, dulu, setiap aku ke sini, kupastikan selalu bersama Ayah dan Ibu, melihat bintang di atas sana”, pikirnya. Sudah berjam-jam merenung. Sebersit kenangan terputar di memori gadis itu.
Ibu, Ayah..
Alila sekarang sudah duduk di bangku SMA..
Mengapa ibu dan ayah meninggalkan Alila?
Ibu, Ayah..
Ibu, Ayah, apa kabar?
Alila rindu…
Alila rindu suara ibu berdongeng yang menjadi titik damai tidur malam Alila
Alunan lagu “Hanya Satu” yang selalu ibu nyanyikan
Belaian tangan lembut ayah menyibak poni-poni rambut Alila

Selanjutnya dengan hati tersayat kaku meratapi bahagia yang enggan tiba untuk memberikan bungkusan kado indah untuk senyuman yang nyata, pelupuk matanya terlihat sayu derita. Dengan wajah muram lelahnya gadis polos itu mengangkat kakinya bergerak meninggalkan tempat itu.

Sesampai di rumah reyotnya yang masih berkenakan seragam sekolah warna coklatnya yang kusut, disambut oleh kertas bergambar karikatur rangkai wajahnya di depan pintu yang terbuat dari triplek tipis yang sudah termakan rayap dibukanya dengan perlahan dibarengi hembusan oleh angin malam yang menunjukkan pukul 10.00, terdapat amplop bentuk love yang terdapat isi bertuliskan “Apakah kamu merindukanku, pasti itu berita mengindahkan telingaku. Selamat malam gadis pujaanku”
“Siapa pengirim ini? Gadis pujaan? Pasti ini kerjaan Bang Tiyur, ada-ada saja..” Katanya dengan penuh santai dengan sedikit kesal.

Tiyur adalah salah satu tetangga di desanya yang selalu membuat Alila merasa risih akan tingkahnya. Walau laki-laki bernama Tiyur dua tahun lebih tua dari Alila tetapi tingkahnya yang masih seperti bayi umur 5 tahun.

Selanjutnya Alila masuk rumah gedek bambu dan menuju kamarnya, dan diletakkan karikatur rangkai wajahnya untuk memapangnya di dinding bambu kamar lalu dibukanya tas dan mengambil buku Phylosope Of Edelweis. Dengan senyum legit dia membaca buku itu teringatkannya akan Niky.

Keesokan harinya di sekolah..
Disengajanya melewati kelas Alisya dan Niky, tampak olehnya wajah Alisya gundah menunduk yang tengah menyendiri di sudut belakang kelas dengan tisu menyelubuti tangannya.
“Kenapa kak Alisya menangis?” Tanya dalam hati Alila yang mengoceh dan berjalan perlahan sempoyongan kebingungan dan…
“Bruaaaak…” Alila menabrak Niky yang tengah berjalan menuju kelasnya.
“Alila, aku tau kita akan ketemu lagi. Bisa kita bicara?” tawarnya laki-laki itu dengan senyuman legit.
Alila pun menggangguk gugup tanda mengiyakan..

“Alila, pertama aku melihatmu di sekolah ini. Pertama kali menjadi kakak senior yang mengorientasi siswa baru, kakak melihat wajah letih tetapi bersinar. Apa kakak boleh tau penyebabnya?” Tanya dengan tutur kata lembut.
“Ibu dan ayah Alila pergi jauh meninggalkan Alila.” Sahutnya dengan miris tertatih dengan kata-kata yang dilontarkan gadis polos itu dan air mata yang mulai mengguyur pipinya.
“Alila, alila tidak sendiri. Lihat apa yang aku bawa” Sambil mengusap air mata gadis berkuncir pita rambut warna kuning itu lalu membuka tas ranselnya.
“Ini apa kak?” Tanyanya dengan keheranan klimaks ditambah decak air mata yang mulai mengering.
“Bunga edelweis, kamu bisa mempresentasikan ini untuk tugas epistemologimu.” Sahutnya dengan kata kalem meyakinkan yang membuat Alila semakin berambisi dan tak dapat mengalihkan pandangan matanya ke satu titik itu.
“Kakak pernah bilang untuk mendapatkan bunga ini penuh perjuangan.” Sambil memandang dan mengusap lembut bunga edelweis yang diberikan Niky.
“Alila, kamu pantas mendapatkannya. Hidupmu selalu penuh perjuangan, senyumanmu fiksi sebagai topeng. Ini hadiah buat kamu dari aku.” Sahutnya dengan memandang wajah gadis itu untuk menghiburnya.

Lagi-lagi waktu memecahkan suasana kelarasan perbincangan Alila dan Niky. Bel masuk berbunyi..

“Kak, boleh aku kembali ke kelas?” Tanya gadis polos itu dengan menunduk gugup karena mencoba meredam perasaan yang semakin berambisi ketika Niky melihat wajahnya sambil memasukkan bunga edelweis ke dalam tasnya yang sudah dedel duel.
“Senang mengobrol denganmu Alila.” Sambung Niky dengan senyuman yang legit.

Alila hanya terdiam karena perasaan yang mulai mencuat ia rasakan pada kekasih Alisya itu. Gadis yang menginjak usia remaja mulai berfikir tentang perasaannya. Tawa damai mulai ia rasakan ketika mulai dekat dengan Niky. Merangkul kepedihannya hingga tak nampak.
Selanjutnya, malam seyap sayu itu..
Alila hanya dapat menulisnya dalam buku diari kecil bergambar Tinker Bell, tokoh peri disney yang paling ia gemari..
Ibu, Ayah aku telah menemukan kebahagian..
Sosok yang ku nikmati dari berbagai sisi..
Renyah kata-katanya..
Selalu rindu mendengar suara lirih yang meneduhkan segala suasana..
Apakah aku mulai menyayanginya?

Tiba-tiba suara tok-tok yang dipikirnya tamu membuyarkan aspirasi dari imajinya yang ingin ditulis dalam lembaran diarinya. Ketika dia membuka pintu triplek tipis rumahnya satu pesan kaleng dan setangkai edelweis tanpa pengirim dan alamat yang sudah berada tepat di depannya setelah membuka pintu. Alila pun membuka surat dan lagi-lagi amplop berbentuk love itu..
Selamat malam Alila..
Apakah kamu sudah menerima karikatur dariku?
Dengan pena tinta kedamaian hati aku melukisnya perlahan..
Tak ingin mencacati wajah yang bersinar bak bulan berhias lintang yang selalu bersinar..
Setangkai bunga edelweis kuhantarkan untuk menemanimu..
Menjadikan tawa damai sebelum tidur malammu..
Menjadikan tonggak semangatmu di pagi hari untuk hari baru demi hari baru..
Selamat malam, Alila..

Gadis dengan wajah keheranan menutup gebrak pintu triplek rumahnya karena tergopoh menuju kamarnya. Lalu ia memandangi dinding yang berhias karikatur wajahnya yang terpampang usang yang dipikirnya adalah kejailan Tiyur. Tetapi edelweis yang tidak pernah berbohong, “Pasti ini dari kak Niky” pikirnya dengan tersenyum-senyum tipis manja.

Pagi hari di sekolah, embun yang masih membungkam pucat Alila yang sudah tiba di sekolah menduduki bangku di sudut belakang kelas. Tiba-tiba terdengarkan olehnya alunan piano lagu Love Me – Yiruma, ditambah latar belakang desis angin pagi yang sejuk menjadikan Alila terbawa oleh senandung iramanya dan membawa tubuhnya untuk mencari asal suara piano itu.

Dilihatnya Alisya yang tengah memainkan piano dalam ruang eskul musik dengan wajah gulananya.
“Kenapa akhir-akhir ini kak Alisya terpuruk diam?” Pikir Alila dengan merasa sungkan karena takut Alisya tau kedekatannya dengan Niky.
“Alila, ayo masuk, temani kakak. Kakak ingin bercerita denganmu.” Dengan spontannya melihat Alila yang tengah sibuk berdiri clingak-clinguk di samping pintu ruang musik.
“Kak Alisya kenapa akhir-akhir sepertinya menyendiri?” Tanyanya dengan kata-kata sedikit tertatih.
“Aku sudah lama berpacaran dengannya, hampir 3 tahun. Aku sudah berbulat tekad dia adalah orang pertama sekaligus terakhirku yang tinggal menetap di hatiku yang pertama kali mengajarkan arti cinta padaku. Tetapi semuanya berlalu, ini adalah hari ke lima puluh lima dia meninggalkanku. Entah apa yang membuatnya pergi dariku.” Jelasnya dengan kata-kata miris dengan rembesan air mata yang sudah membanjiri pipinya.
“Pasti itu Kak Niky” Pikir Alila dengan lamunan membisu.
“Alila, kenapa diam?” Tanya Alisya dengan mengusap air mata yang mengguyur pipinya yang membuyarkan lamunan bisu Alila.
“Kak Alisya, maaf Alila harus kembali ke kelas. Ada tugas yang belum terselesaikan.” Dengan tergopohnya dia meninggalkan tempat itu.

Hati Alila semakin tersayat kaku, tercabik-cabik melihat tangisan Alisya. Tangisan orang yang sangat baik padanya.
Kak Alisya maafkan Alila yang mulai suka dengan Kak Niky.
Aku tau perasaan Alila ini salah..
Sejak dekat kak Niky, Alila merasakan kebahagian nyata.
Tapi bagaimana bisa Alila menyakiti orang sebaik kakak?
Aku tidak tega melihat kakak yang sudah sangat baik dengan Alila.
Tapi, Alila tidak bisa jauh dari kak Niky kak..

Awan yang berarak, terik mentari pun mulai memudar perlahan. Kaki-kakinya membawanya di tengah taman desa. Sepoian angin petang mulai merasuk ke dalam sukma. Bunga edelweis yang selalu tak lupa dibawanya. Degup langkah demi langkah menghampirinya dari belakang. Nadi gadis itu menggetar cepat, suara yang mengejutkannya hari belakang..
“Bintangnya banyak ya, kamu suka lihat bintang?” Terdengarnya suara spontan laki-laki dari belakangnya.
“Siapa?” Tanya gadis itu dengan sedikit takut.
Tiba-tiba laki itu duduk menjejerinya..
“Kak Niky, kenapa ada di sini?” Tanyanya dengan nada kaget.
“Setiap hari aku pergi di taman desa ini. Aku suka dengan bintang, bintang itu keren” Jelasnya dengan kata lirihnya
Gadis dan laki-laki itu pun duduk berjejeran di atas rumput, menatap bintang yang bersembulan dari carikan awan kelabu..
“Dulu Alila sering ke sini dengan ibu dan ayah.” Lontar gadis itu dengan nada piluh gundah.
“Alila tidak sendiri..” Sambil mengusap rembesan air mata gadis itu.
Gadis itu pun berusaha menegaskan perasaannya ketika Niky mengusapkan jemari-jemari tangannya di pipi gadis itu.
“Kak Niky, apa kakak tau kak Alisya..” Gadis itu bertanya dengan lugunya tiba-tiba nada sinis memberhentikan ucapan yang ingin dilontarkannya.
“STOP! Itu masa laluku. Jangan dibahas ya” Jelasnya dengan nada membentak yang akhirnya melirih memohon.
“Dia orang baik, berbakat, cantik, semua ada kak.” Jelasnya dengan kata-kata meyakinkan.
“Kamu yang berbeda… Alila, pernah dengar mitos bunga edelweis?” Sahut laki-laki dengan meyakinkan dan mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Kenapa mitos selalu mengalahkan logika?” Jawab Alila dengan santainya.
“Oleh karena itu kamu membayangkan betapa susahnya untuk memetiknya.” Sahut Niky juga dengan santainya.
“Alila, bunga edelweis mengajarkan manusia tentang kegigihannya dalam menghadapi situasi apapun, bunga edelweis tidak mati ataupun layu ketika berada pada suhu 0 derajat, bunga edelweis juga tidak akan langsung rontok.” Jelas Niky dengan suara lirihnya.
“Aku ingin seperti edelweis.” Kata gadis itu dengan spontan.
“Kamu edelweis, untuk mencari orang sepertimu sangat langka dan susah. Selalu tersenyum dalam keadaan apapun.” Jelas Niky lagi.

Alila pun terpaku mendengarnya, seorang malaikat tanpa sayap datang padanya. Tetapi elakan-elakan yang selalu menyertainya. Gadis polos itu tak ingin seorang Alisya menangis karena perasaan yang menurutnya salah pada mantan kekasihnya itu.

Keesokan harinya di sekolah. Suasana yang tidak seperti biasa, pucat membisu. Mata Alila yang terbelalak melihat kesenjangan kelarasan ketika masuk gerbang sekolah. Terdengar olehnya, “Dasar anak haram, ibu dan anak sama hina!” Suara kakak kelasnya sekaligus teman Alisya.
“Hei dekil, gara-gara kamu jantung Alisya kumat.. Nggak tau malu banget sih jadi orang, udah dikasih hati masih aja nggak tau diri. Alisya kritis, dia koma di rumah sakit mendengar hubungan gelapmu dengan Niky.” Jelasnya dengan nada sinis membentak.
Matanya mulai mengucurkan air mata. Di lubuk hati yang kecil dia menjerit sempoyongan, apa yang terjadi padanya, “Mengapa mereka berbicara seperti itu”. Gadis polos itu pun lari menuju kelasnya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.

Ia pun hanya dapat menulisnya pada lembaran kelabu diarinya.
Ibu, ayah..
Alila rindu ibu dan ayah.
Alila memang anak haram.
Alila tidak pantas mendapatkan kasih sayang kecuali dari ibu dan ayah.
Ibu, aku tidak pernah menyesal pernah menetap di rahim ibu
Ibu, ayah seandainya waktu dapat diputar, Alila tetap memilih ibu dan ayah sebagai malaikat milik Alila..
Alila ingin menyusul ibu dan ayah di keabadian..
Memberitahukan tentang malaikat bunga edelweis yang menjadi tonggak semangat Alila

Keesokan harinya..
Bel sekolah pun berirama, Alila pun menuju Rumah Sakit di mana Alisya di rawat. Keadaan Alisya yang sudah di ujung usia membuat Alila tercengang melihatnya. Jantung yang tak berfungsi sebagaimana mestinya. Gadis polos itu membundar bulatkan tekatnya untuk mendonorkan jantungnya untuk Alisya. Dengan ketakutan menggelora Alila meraih bolpoin untuk menandatangani persetujuan pendonoran jantungnya. Wajahnya yang semakin meredup tanpa binar. Air mata yang terus mengguyur pipinya, ia pun meninggalkan Rumah Sakit itu dengan hati yang terasa tercambuk.

Keesokkan harinya..
Hari sabtu yang pucat redup. Pendonoran jantung berjalan lancar, mata yang sempat perlahan dapat dibuka oleh Alisya. Keluarga yang ada di hadapannya dan Niky yang berada di sampingnya.
“Niky, aku merindukanmu..” Kata Alisya dengan nada lembutnya.
“Alisya, aku juga merindukanmu.” Jawab Niky dengan air mata yang mulai mengucur.
“Jangan tinggalkan aku lagi, Niky.” Mintanya penuh harap gadis yang tengah terbaring pada kasur Rumah Sakit pada Niky.
“Ini setangkai bunga edelweis untukmu.” Sahut Niky dengan memberikan bunga edelweis yang sebelumnya diberikan kepada Alila.
“Terimakasih, bunga yang indah.” Dengan raut mencerminkan kedamaian hatinya.
“Jadilah seperti bunga edelweis yang kokoh dalam keadaan apapun.” Jelas Niky penuh dengan kelembutan.

Malam hari jumat sebelum pendonoran jantung itu dimulai, seperti biasa selembar ucapan selamat malam selalu dijatuhkan di depan pintu rumah Alila. Tiba-tiba Niky mememukan bunga setangkai edelweis dan sebuah buku diary kecil yang begambar Tinker Bell di depan pintu triplek lalu membukanya dia membaca lembar per lembar buku diary itu. Rembesan air mata laki-laki itu pun mulai menyerbu pipinya ketika membaca lembar per lembar. Wajah pucat gulana ingin bertemu dengan gadis yang selalu diberikannya surat kaleng olehnya setiap malam ditambah dengan lembaran terakhir yang menyayat hatinya..

Aku tau kak Niky yang selama ini memberiku surat kaleng
Yang selalu menjadikan tawa damai sebelum tidur malamku
Dan karikatur itu, terpampang jelas di dinding kamarku
Aku tau kak Niky akan kemari memberi suatu kejutan
Aku cukup bahagia kak, mungkin ini cara Tuhan memberiku kebahagiaan
Ini adalah bunga edelweis yang dulu kakak berikan pada Alila
Yang cukup membuat Alila terbius olehnya
Bunga edelweis yang selalu mengertikan Alila
Tentang perasaan Alila
Biarkan ia yang menjelaskan perasaan Alila
Ketika Alila mulai menutup kedua mata Alila
Ketika bibir Alila yang tak sanggup terbuka
Ketika sayap-sayap Alila telah patah
Kak Niky, jadilah seperti bunga edelweis yang kokoh dalam keadaan apapun
Seperti yang kak Niky bilang pada Alila..
Kak meskipun kita telah jauh, kita masih dapat melihat bintang dan bulan yang sama di atas sana..
Ketika kak Alisya membuka mata, di sana jantungku berdebar seperti aku melihat kakak.
Sambut tawanya dengan senyumanmu tipis manis dan ketegaranmu seperti Bunga Edelweis…
Aku mencintaimu kak..

Alila Kamil

Cerpen Karangan: Fibrina Audia Safitri
Blog: fibrinaaudiasafitri2.blogspot.com
Facebook: Fibrina Audia Safitri
Twitter: @fibrinaaudia

Cerpen Biarkan Edelweis yang Berbicara Ketika Aku Mulai Membisu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Dari Merpati

Oleh:
Amsterdam membeku pagi ini. Dari balik jendela kamar, salju turun nampak seperti butiran kapas yang ditaburkan dari langit. Suhu udara minus 2 derajat celsius, begitu dingin bertahta pada titik

Gundah

Oleh:
Aku sedang duduk melamun di taman saat tiba-tiba dikejutkan oleh Rama yang datang dari belakang menepuk pundaku. “Oi Hil! Gimana kabar? Aku punya permintaan nih!” “Y-yo Ram. Jangan suka

Pahit

Oleh:
Jalan berliku telah ku lalui, namun tak pernah kutemukan sosok lelaki seperti dirimu. Sosok yang membuatku merekah layaknya bunga anggrek yang putih dan terlihat suci. Bukannya aku menyerah. Aku

Pagi, Maaf Kuselingkuh Dengan Hujan

Oleh:
Dulu, aku cukup setia menyukai pagi. Wujud harapan baru yang mendekap hangat setelah gelap. Ia tak pernah ingkar janji untuk datang. Tapi, setiaku runtuh sebab aku mulai selingkuh karenamu.

Cerita Bintang

Oleh:
Aku menyesal telah berkata semua yang sudah berlalu tidak bisa kita ulangi kembali, padanya.. Sebagaimana kebiasaannya yang sangat menyukai pemandangan langit, kali ini aku tidak menyangka bahwa saat ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *