Bimbang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 18 April 2016

Cinta merupakan kebutuhan setiap insan yang ada di bumi ini. Ya, cinta, cinta, dan cinta. Namaku Viona, aku bersekolah di salah satu SMA ternama di kota Blitar. Sekarang aku duduk di bangku kelas 2 SMA, masa dimana setiap remaja meyakini bahwa dirinya harus bisa mendapatkan cinta. Tapi tidak denganku, aku yang selalu malu terhadap cowok dan juga selalu menghindari cowok. Pagi itu aku berangkat sekolah dengan berjalan kaki, saat melewati kelas-kelas lain aku ingin segera sampai ke kelas dan mempercepat langkahku. Tiba-tiba, “Bruuk!” aku menabrak cowok itu.

“Maaf nggak sengaja,” langsung saja aku pergi dan melanjutkan perjalananku menuju ke kelas tanpa melihatnya. Cowok yang aku tabrak tadi tak lain adalah anak ips 2 bernama Indra. Indra hanya diam saja ketika aku meminta maaf padanya tadi, ia hanya melihatku. Di suatu sore ponselku tiba-tiba berdering, ternyata ada telepon dari nomor yang tidak ku kenal. Aku penasaran, langsung saja ku angkat telepon tersebut.

“Halo, assalamualaikum dengan siapa ya?” selidikku dengan rasa yang amat penasaran.
“Waalaikumsalam..” deg! Aku kaget sekali ketika suara di ujung sana adalah suara cowok. Aku berpikir keras untuk menemukan jawaban siapa si penelepon itu.
“Hai Viona aku Indra, apa aku sekarang ganggu kamu?” tanyanya.
“Haaa Indra? Ada apa dia meneleponku?” gumamku dalam hati. Saat itu aku begitu terkejut dan hanya diam saja, tidak menjawab pertanyaan dari Indra.
“Vi apa kamu masih di sana?” suara dari telepon itu mengagetkanku lagi.
“I…Iya Indra, aku masih di sini. Ada apa ya Ndra kok kamu tiba-tiba telepon aku?” jawabku dengan terbata-bata.
“Hm nggak apa-apa Vi, aku pengen kenal lebih aja sama kamu.” jawabnya. Saat itu aku tidak bisa lagi berkata-kata lebih jauh dan langsung aku matikan teleponnya.

Tak berapa lama Indra kembali menghubungiku lagi. Tak ku jawab telepon dari dia, aku hanya bisa termenung saat itu memikirkan perkataan perkataan Indra tadi. Aku tahu Indra sudah mempunyai kekasih bernama Fatqi, Fatqi adalah anak ips 3 di kelas 11 juga. Aku berpikir mengapa Indra tetap menghubungiku padahal dia sudah ada yang punya. Keesokan harinya, aku berangkat seperti biasa dengan berjalan kaki menuju ke sekolah. Indra tiba-tiba sudah berada di sampingku.

“Vi kenapa teleponku kemarin kamu matikan?” tanyanya.
“Ee.. Aku kemarin masih ada urusan Ndra sama orangtua, jadi aku matikan ponselnya, maaf ya. Oh iya ada apa kamu kok telepon segala?” tanyaku dengan malu-malu.
“Kan aku sudah bilang, kalau aku ingin kenal dekat sama kamu Viona..” langsung saja aku memalingkan wajahku, karena waktu itu aku sangat yakin, wajahku langsung memerah. “Kenapa Vi kok kamu diam aja?”
“Nggak apa-apa Ndra, ya udah aku duluan, itu Rani udah nungguin.” jawabku singkat dan berlalu pergi meninggalkannya.

Aku hanya beralasan saja padanya saat itu, karena aku sangat kikuk jika harus jalan berdampingan berdua hanya sama dia, dan dia pun juga sudah punya Fatqi. Aku takut jika Fatqi melihatku dengan Indra, ataupun teman-teman Fatqi lainnya melihatku, pasti bakalan runyam masalahnya. Untung saja aku berangkat sangat pagi saat itu, sehingga sekolahan masih sangat sepi, hanya kakak kelas saja yang berlalu lalang datang pagi. Jam pulang sekolah pun telah tiba, aku dan ketiga temanku harus pulang agak nanti, dikarenakan masih ada tugas piket yang harus diselesaikan, walaupun aku anak jurusan ips tapi aku dan teman-teman sangat disiplin menjalankan tugas piket kelas. Tania, Nafa dan Rani pulang lebih dulu.

“Vi aku pulang duluan ya soalnya harus ke toko buku nih,” kata Rani.
“Iya Vi aku dan Nafa juga, gak apa-apa kan kamu balikin sapunya? Kamu kan baik, hehe.” kata Tania.
“Iya gak apa-apa deh, aku balikin sapunya, ya udah cepetan sana kalau kalian mau ke toko buku.”
“Oke.” mereka bertiga akhirnya meninggalkanku di kelas.
“Untung saja ketiga temanku itu hanya menyisakan tugas mengembalikkan sapu saja,” dengusku agak lega.

Tidak berapa lama Indra dan Fatqi melewati kelasku, Indra melihat ke arahku. Dalam hati aku merasa bersalah kepada Fatqi, dia dan Indra memang sudah lama menjalin hubungan, namun saat ini Fatqi tidak mengetahui apa yang dilakukan Indra di belakangnya. “Hei Viona..” suara itu membuyarkan lamunanku yang masih asyik memikirkan kesalahanku dan Indra di belakang Fatqi. Aku yang belum sempat mengembalikkan sapu, dan masih memeganginya itu segera bergegas menuju tempat sapu untuk mengembalikkan sapu itu. Lagi lagi Indra datang menghampiriku, kali ini dia tidak bersama Fatqi, dia masih saja mencari kesempatan agar bisa bersama denganku. Entah apa yang dia inginkan.

“Indra, kamu sudah ada Fatqi, jangan lagi dekat-dekat sama aku, aku takut Fatqi melihat kita berdua dan dia salah paham denganku, aku, mohon Ndra.” kataku dengan sedikit tegas dan berpaling. “Kamu tenang aja Vi, aku dan Fatqi sama-sama melakukan hal ini. Walaupun kami terlihat selalu bersama, tapi aku dan Fatqi telah sama-sama setuju untuk berlaku seperti ini.” jawaban Indra mengagetkanku, bagaimana bisa orang yang telah lama menjalin hubungan sama-sama melakukan pengkhianatan satu sama lain.

“Begini Vi, aku udah lama suka sama kamu. Selama ini aku hanya diam dan melihatmu saja tanpa mengutarakan rasaku ini. Apalagi ketika kamu nggak sengaja nabrak aku kemarin, nggak tau kenapa kamu itu kayaknya beda aja sama cewek lain. Lalu aku berusaha ngedapetin nomor hp kamu Vi, akhirnya aku ngedapetin juga dari salah satu temen di kelasmu. Vi aku ngelakuin hal ini bukan tanpa alasan, aku sayang sama kamu, selain itu juga Fatqi ternyata juga mengkhianati kesetiaanku selama ini. Aku mengesampingkan perasaanku kepada kamu hanya karena ingin selalu setia kepada Fatqi, tapi apa yang dia lakuin? Akhirnya aku tahu semuanya dan mulai berani melakukan apa yang Fatqi telah lakukan sama aku.” jelasnya dengan panjang lebar. Sejenak aku terdiam dan hanya melihat kesepian ruangan kelas dan sekolahku yang senyap itu.

“Tapi kenapa kamu dan Fatqi tetap bertahan satu sama lain, padahal kan kamu dan dia udah sama-sama berkhianat?” selidikku. “Banyak Vi alasannya, salah satunya, aku dan dia kan udah lama banget ngejalanin hubungan sampai orangtua aku dan dia sama-sama tahu, dan orang-orang satu sekolah pun juga tahu, makanya aku dan dia sama-sama gengsi untuk berkata putus Vi, aaarg aku juga bingung dengan semua ini!” aku melihat kekecewaan mendalam di wajahnya yang tertunduk, entah apa yang Indra pikirkan saat itu.

Suatu kebimbangan dan pengkhianatan yang telah dia terima selama ini dari Fatqi. Kini rasaku tiba-tiba berubah menjadi haru dan entah rasa aneh apa yang menyelimuti diriku, yang tidak bisa aku jelaskan kepada siapa pun. Rasa aneh yang baru pertama kali aku rasakan selama aku hidup dan hingga menjadi dewasa. “Vi aku sayaaang banget sama kamu, aku juga berharap kamu tidak akan mengecewakanku Vi, saat ini aku butuh kamu. Maukah kamu jadi orang terspesialku?” aku bingung dan diam seribu bahasa, apa ini perasaan cinta? Ataukah ini hanya sebuah rasa ilusi sementara yang berakhir menyakitkan? Aku bimbang kepada diriku sendiri dan Indra.

Aku bimbang haruskah aku menerima cintanya, sedangkan dia juga sudah memiliki Fatqi. Tapi di lain hati aku juga mulai menyukainya, dan apa itu dosa? Indra yang sangat berharap padaku dan sayang kepadaku, apa dia hanya butuh pelampiasan saja? Ah rasanya aku benar-benar bimbang saat itu. Aku segera beranjak meninggalkan Indra dengan sejuta pertanyaan yang berkecamuk di hati ini, tak ku hiraukan Indra yang terus memanggilku.

Cerpen Karangan: Anggun Shintia
Facebook: Anggun Z Shintia

Cerpen Bimbang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love In London

Oleh:
Namaku Clara atau biasa dipanggil Cara (Kara). Sekarang, aku sudah menjadi penulis terkenal di London. Aku sudah lama tinggal di London. — “Hai, My Darling,” sapa Rey, pacarku. “Hai,

Bayangan Dalam Selimut

Oleh:
Malam ini aku tak melihat bulan dan bintang menghiasi langit malam mungkin karena tertutupi awan mendung, ku lihat dari jendela kamarku kegelapan membuatku sepi, dalam kedinginan malam yang menyelimuti

Kamera Kayu (Part 1)

Oleh:
Seorang remaja wanita yang cantik, pintar, aktif dan sangat bersahabat, bernama Rynandyne Vartitha. Ryna sangat terkenal di sekolahnya. Bukan karena kecantikkan, melainkan karena kepintarannya dan sifatnya yang ‘supel’. Ryna

Pengorbanan Terindah

Oleh:
Allahhuakbar allahhuakbar… Suara adzan terdengar jelas dari masjid di sekolahku. Bel istirahat pun berbunyi beriringan dengan suara adzan. Aku bergegas ambil wudhu. Di sana aku harus mengantri, karena banyak

Dia, Si Mayla Yang Malang

Oleh:
Minggu sore, di kediaman sepupu Mayla. Aku sudah satu jam berada di sini, mendengarkan ungkapan rindu dan amarah Mayla. Ada rasa sesal terhadap apa yang diucapkannya, bagaimanapun juga aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *