Broken Heart Twice

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 12 January 2016

Hari ini aku pulang dengan membawa tanda tanya besar di kepalaku. Tanda tanya yang selama ini memenuhi kepalaku. Setelah meletakkan tasku di atas ranjang kecilku. Aku langsung menutup pintu kamarku. Aku tidak ingin seseorang menggangguku hari ini. Aku lelah aku ingin sendiri. Kejadian tadi kembali berputar lagi di kepalaku. “Ersa.” kata pemuda berkulit putih yang kebetulan sedang lewat di depanku.

Aku yang mendengar namaku disebut langsung saja menoleh ke sumber suara tersebut. Melihat siapa yang memanggilku aku tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutku. Pemuda yang berdiri itu kurus, tinggi, dan berpakaian rapi. Namun aku bisa mengenali dari kulit putihnya. Jika dia adalah, “Ardo!!!” kataku sambil memandang dengan ekspresi yang tak kalah terkejutnya.

Bagaimana aku tidak terkejut. Orang yang memanggilku adalah Ardo teman SMP-ku dulu. Orang yang selama ini telah aku lupakan. Orang yang ku kira tidak dapat ku temui lagi sekarang berdiri di hadapanku dengan wajah tanpa dosa. Dia yang telah membuatku berharap dan juga patah hati. Waktu seolah berhenti berputar dan jantungku berhenti berdetak. Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana ekspresiku saat ini. Otakku seolah berhenti bekerja. Semua persendianku terasa kaku bahkan untuk mengedipkan mataku aku tak sanggup. Aku hanya diam mematung tak tahu harus bagaimana. Ingin rasanya aku berlari karena tidak siap dengan pertemuan ini.

Kemudian Ardo pun menghampiriku. Kakiku seolah tak mampu menopang berat tubuhku. Persendianku langsung terasa lemas dan lututku bergetar hebat. Keringat dingin tiba-tiba keluar dari pelipisku. Jantungku berdetak sepuluh kali lebih cepat dari biasanya. Ketika dia semakin dekat dan dekat denganku. “Ersa, kamu kuliah di sini juga?” tanya suara itu yang membuatku tak bisa mengeluarkan suara apa pun. Bukannya menjawab pertanyaan Ardo, aku justru malah terbengong sambil memandangi wajah tampannya.

“Heh Ersa, kamu ngelihatin apaan sih, kok sampai segitunya?” kata Ardo sambil menggerakkan tangannya di depan mataku. Aku yang baru tersadar pun langsung mengalihkan pandanganku. “Eh, nggak kok. Kamu tadi nanya apa do?” kataku dengan suara bergetar.
“Udahlah lupain, oh ya aku masuk kelas dulu ya.” kata Ardo kemudian berbalik meninggalkanku.

Aku hanya memandanginya yang perlahan menghilang di koridor gedung. Aku mengingat kejadian itu dengan mengutuk diriku sendiri. Kenapa aku tadi begitu bodoh dan t*lol di depannya. Kenapa aku bertemu lagi dengannya setelah sekian lama aku bisa melupakannya. Dan sekarang tiba-tiba dia muncul di depanku dengan menunjukkan seribu pesonanya yang membuat mengingat kembali lembaran yang dulu pernah aku tutup rapat-rapat.

Ardo benar-benar sudah berubah. Dia sangat berbeda dengan Ardo yang ku kenal lima tahun lalu. Wajahnya masih tampan seperti dulu tapi sekarang dia justru jauh lebih tampan. Dia lebih tinggi dan terlihat lebih dewasa. Tapi aku masih bisa mengenalinya dari kulitnya yang putih kayak orang keturunan albino. Entah dari mana dia bisa mendapatkan kulit putih pucat kayak vampir itu. Padahal orangtuanya sepertinya manusia biasa. Tiba-tiba kepalaku dipenuhi dengan kenangan-kenangan lima tahun lalu saat aku masih bisa melihatnya setiap hari.

“Ersa, doain aku lulus ya.” kata Ardo saat aku baru ke luar dari pintu kelas sambil menenteng mukenaku.
“Nggak maulah, kamu kan bisa doa sendiri do.” kataku dengan cuek.
“Kamu kan anak yang alim pasti doamu bakal dikabulin, kalau aku. Kamu tahu sendiri kan aku ini jarang banget shalat pasti doaku nggak bakal terkabul.” katanya beralasan.
“Emang apa jaminannya kalau doaku bakal terkabul?” tanyaku.
“Ya pokoknya aku percaya kalau doamu itu bakal terkabul.” katanya yakin.
“Ya ya, kalau inget.” kataku sambil meledeknya dan pergi meninggalkannya.

Aku masih inget saat dulu Ardo yang selalu membuatku tertawa dengan tingkah konyolnya. Ardo yang selalu membuatku bersemangat untuk pergi sekolah setiap pagi. Sekarang dia muncul lagi dalam hidupku. Padahal aku sudah bersusah payah untuk melupakannya. Dan setelah berhasil melupakannya, dia seenaknya saja muncul lagi dalam hidupku. Tiba-tiba hatiku bergetar cepat saat mengingatnya tadi.

Paginya aku berharap bisa bertemu lagi dengannya. Aku melewati jalan yang sama dengan kemarin, namun dia nggak muncul-muncul juga. Jangankan orangnya batang hidungnya pun tidak kelihatan. Meskipun kami kuliah di tempat yang sama namun jurusan kami berbeda. Gedungnya pun berbeda. Itu membuatku tidak bisa bertemu dengannya tiap hari.

Hari-hari berikutnya aku berharap dengan harapan yang sama yaitu bisa bertemu dengannya. Namun hingga seminggu berlalu aku belum juga melihat batang hidungnya. Aku pun sudah mulai putus asa untuk berharap bertemu dengannya. Namun setiap kali aku menginjakkan kakiku di gedung kampus, harapan itu muncul lagi di kepalaku. Gedung ini seolah memberiku harapan yang dulu pernah hilang.

“Eh, kamu kok dari tadi ngelihatin ke jalan terus sa, lagi nunggu seseorang ya?” tanya Devi sahabatku.
“Nggak kok, lagi cuci mata aja.” jawabku berbohong.
“Bohong.” kata Devi nggak percaya.
“Bener kok.” jawabku sambil tersenyum.
Kami kemudian melanjutkan obrolan kami, meski Devi masih belum percaya dengan jawabanku tadi. Ketika kami baru asyik-asyiknya bercanda. Tiba-tiba…

“Ersa.” panggil suara itu.

Aku pun menoleh ke suara itu. Ternyata itu adalah Ardo. Jantungku pun jadi tak karuan. Kakiku terasa tidak meyentuh tanah. Tubuhku seperti melayang menuju langit ke tujuh. Terbang ke angkasa luas. “Ardo.” jawabku dengan terbata. “kamu kok kaget gitu sih sa?” tanyanya.
“Ya iyalah kaget, kamu aja munculnya tiba-tiba kayak jaelangkung.” kataku dalam hati.

“Siapa juga yang kaget, aku nggak kaget kok.” kataku berbohong.
“Kelihatan dari mukamu.” jawabnya. Aku pun menjadi malu karena ketahuan telah berbohong. Ingin rasanya aku meninggalkan mukaku di rumah saja karena saking malunya. Aku pun hanya tersenyum menanggapinya. “Boleh minta nomormu nggak?” tanyanya.

Aku diam sebentar. Bukan karena aku berpikir ingin memberikannya atau tidak tapi karena aku begitu syok dengan permintannya tadi. Hingga konsentrasiku menguap entah ke mana. Dan membuatku hilang kesadaranku untuk beberapa saat. “Nggak usah deh sa, manding kamu yang nyatet nomor Hp-ku aja.” katanya kemudian. “Ya, ya.” jawabku. Aku kemudian mengeluarkan Hp bututku dengan tangan yang bergetar. Ketika dia menyebutkan nomornya, aku seperti tidak punya tenaga untuk sekedar memencet tombol di Hp-ku. Kemudian dia pergi meninggalkanku. Aku menatapnya dengan bengong karena masih tidak percaya dengan kejadian tadi.

“Ciye, ciye yang baru dikasih nomor sama cowok cakep.” kata Devi yang langsung membawaku ke alam sadar.
“Apaan sih vi, dia itu temenku dulu.” kataku menahan rasa malu.
“Namanya tadi Ardo iya kan?” tanyanya.
“Iya, kamu suka ya sama dia.” ledekku.
“Nggaklah, aku cuma heran aja masak ada cowok kulitnya seputih dan selembut salju kayak dia.” katanya. Langsung saja kami tertawa.

Sampai di rumah aku mengamati nomor Hp-nya Ardo. Aku ingin sms tapi malu sekaligus gengsi. Masak cewek yang sms duluan. Tapi kan kalau aku nungguin Ardo yang sms. Sampai kiamat juga dia nggak bakal sms aku dulu. Kenapa tadi nggak aku aja yang ngasih nomorku ke dia aja. Biar dia yang sms duluan. Dasar bego. Kenapa sih aku jadi kayak orang bego kalau di depannya. Kataku merutuki diriku sendiri.

“SMS, nggak, SMS, nggak, SMS, nggak ya. Aduh, bingung.” kataku sambil mondar-mandir sambil memandangi layar di Hp-ku.

Akhirnya aku memutuskan utuk mengirim SMS padanya. Hatiku berdebar kencang saat memencet tombol send di Hp-ku. Aku pun menunggu balasan darinya. Tak berapa lama dia membalas pesanku. Aku pun berteriak kegirangan dan hampir lupa jika aku ini sedang di rumah bukan di hutan. Aku pun buru-buru membalas pesannya. Maka mulailah kami mulai bertanya basa-basi. Ya seperti teman lama lah. Biasa nanyain kabar doang.

Setelah beberapa kali bertukar pesan, akhirnya dia tidak membalas pesanku lagi. Aku merasa kecewa saat dia tidak membalas pesanku lagi. Karena merasa lelah akhirnya aku pun tertidur sambil berharap nanti aku bisa memimpikannya. Aku dan Ardo mulai mengenal sejak kelas tiga SMP. Sebenarnya sih sudah kenal sejak kelas satu, tapi karena baru kali ini aku sekelas dengannya maka baru pada tahun ketiga inilah aku benar-benar mengenalnya. Ku kira dulu itu dia orangnya cool, dingin, dan jaim. Tapi setelah aku kenal dengannya ternyata dia itu suka cengengesan dan ketawa. Seperti pagi itu.

“Ersa, katanya kamu kan pinter, kalau beneran pinter maka kamu harus bisa jawab pertanyaan ini?” katanya saat jam kosong pelajaran.
“Pertanyaan apa?” tanyaku penasaran.
“Dengerin baik-baik ya. Apa artinya I don’t know?” tanyanya.
Aku menghela napas sebentar lega. Ternyata pertanyaannya semudah itu.

“Aku tidak tahu.” jawabku yakin.
“Gimana sih sa, katanya kamu itu pinter masa gitu aja nggak tahu.” katanya sambil tersenyum penuh arti. Aku pun jengkel mendengar perkataannya itu.
“Tapi kan emang artinya aku tidak tahu do..” kataku mulai nggak sabar.
“Ya itu berarti kamu nggak tahu jawabannya kan?” katanya lagi.

“Bukannya nggak tahu, tapi artinya itu memang aku tidak tahu.” kataku menjelaskan.
“Hahaha Ersa, Ersa.” kata Ardo sambil ketawa terbahak-bahak.
Melihatnya yang tertawa itu aku pun jengkel sendiri, karena dia sepertinya ngerjain aku.
“Sudahlah do, nggak usah ketawa terus dilihatin banyak orang tuh.” kataku sambil memperhatikan teman-temanku yang menoleh ke arahku dan Ardo.

Bukannya berhenti Ardo malah tertawa tambah keras. Aku yang di depannya jadi risih sendiri. Akhirnya aku pun ke luar dari kelas saja karena aku nggak mau jadi bahan tontonan teman-teman sekelasku. Baru ke luar beberapa langkah dari kelas. “Ersa, mau ke mana?” tanya Ardo yang sudah ada di sampingku.
“Mau baca koran.” kataku agak sewot karena masih sebal dengan kejadian tadi.
“Aku ikut ya.” pintanya.

Aku hanya diam dan dia pun berjalan di sampingku, mengikutiku berjalan menuju madding sekolah. Aku merasa aneh saat dia berjalan di sampingku. Ada yang bergetar di sudut hatiku. Entah perasaan apa ini. Biasanya aku biasa saja tapi kenapa kali ini berbeda. Aku menoleh ke arah Ardo dan dia juga ikut menatap ke arahku. Kami berpandangan cukup lama.

Entah apa yang ada di kepalanya aku tidak tahu. Yang pasti otakku seperti tidak bisa bekerja saat mata kami saling bertemu dan dunia seolah berhenti berputar. Paginya aku menunggunya lagi, siapa tahu dia lewat di sini kayak kemarin. Sambil menunggu aku membaca buku yang ku pinjam dari perpustakaan. Ketika sedang serius dengan bacaanku seseorang mengagetkanku.

“Ersa!!! Serius amat sih.” kata Devi yang langsung duduk di sampingku.
“Bikin kaget aja vi.” kataku sambil memegangi dadaku mengatur detak jantungku.
“Kamu aja yang terlalu serius, makanya aku panggil langsung kaget.
“Kamu sih manggilnya pakai teriak-teriak segala, nggak bisa dipelanin dikit apa suaramu.” kataku dengan muka sebal.
“Nggak usah sewot gitu kali, eh gimana kamu sama si Ardo itu. Lancar nggak?” tanyanya penasaran.
“Apanya yang lancar, emangnya kamu pikir jalan tol apa?” kataku.

“Ya kamu kemarin kan sudah dikasih nomornya sudah kamu hubungi apa belum?” tanyanya lagi.
“Sudah.” jawabku singkat.
“Terus terus gimana?” katanya tambah kepo dan penasaran.
“apanya yang gimana Dev. Ya begitulah nggak ada obrolan penting yang kami omongin kok cuma nanya-nanya kabar doang.” jawabku dengan wajah sedih.
“Mukanya nggak usah ditekuk juga kali Sa. Ini kan baru permulaan ya, wajar dong kalau ngobrolin tentang kabar doang. Semuanya itu butuh proses Sa. Emangnya ayam apa ketemu langsung kawin hahaha.” kata Devi panjang lebar. Benar juga apa yang dikatakan Devi. Pikirku.

Karena tidak bertemu dengan orang yang ku tunggu akhirnya aku masuk ke dalam kelas sambil menunggu dosenku. Hari ini aku benar-benar nggak mood untuk mengikuti kuliah dosen. Aku justru sibuk mengembara menuju masa lalu. Waktu itu aku sedang berjalan di belakang halaman sekolah dengan Erma temanku. Baru beberapa langkah aku melihat Ardo sedang berduaan di belakang sekolah.

Melihat pemandangan itu entah kenapa mataku mulai memanas, hatiku terasa dipukul dengan baja ribuan ton. Aku kemudian mengajak Erma berbalik karena aku nggak tahan melihat itu. Erma yang heran melihat tingkahku hanya diam tidak berani bertanya lebih lanjut. Aku lalu duduk di kelas sambil mengingat kejadian yang barusan. Air mataku ingin mengalir tetapi secepat kilat aku tahan. Karena aku masih ingat jika ini adalah di sekolah bukan di rumah. Kemudian aku mendengar langkah kaki yang membuat bulu kudukku berdiri. Ardo berjalan masuk.

“Kamu kenapa Sa?” tanyanya.
“Nggak apa-apa kok Do.” jawabku berbohong.
“Ersa, kamu nggak usah mikirin apa yang kamu lihat tadi ya?” katanya dengan suara pelan.
“Maksudmu apa, emangnya apa yang aku lihat. Aku nggak lihat apa pun kok.” kataku berbohong.
“Tadi itu nggak seperti yang kamu lihat, aku dan Amanda cuma lagi bahas tentang PR yang kemarin kok.” katanya.
“Itu bukan urusanku kali do, kamu mau bahas apa sama Amanda. Lagian ngapain juga kamu pakai ngejelasin segala.” kataku sambil menahan air mataku.

Mengingat hal itu aku jadi ingin menangis. Aku tahu dulu Ardo dan Amanda adalah pasangan yang sangat serasi dan bodohnya aku malah meneruskan perasaan ini. Aku tahu sejak pertama kali aku menyukainya aku tahu aku sudah patah hati. Aku tahu semuanya akan menyakitkan. Tapi hatiku yang tetap memilihnya dan mencintainya. Kau tak kuasa untuk membencinya. Aku tak sanggup untuk melupakannya.

Tiba-tiba Hp-ku berbunyi. Dengan malas aku membuka SMS. Ternyata itu dari Ardo. Langsung saja mataku langsung terbuka kayak kena listrik ribuan watt. Aku langsung membuka pesannya dan cepat-cepat membalasnya. Hatiku jadi deg-degan nggak karuan, padahal dia cuma sms doang. Entahlah mungkin ini efek dari kelamaan jomblo makanya gampang deg-degan. Namun sms itu hanya berlangsung beberapa kali karena entah kenapa Ardo lama nggak sms aku lagi. Aku ingin menghubunginya tapi takut nanti akan mengganggu dirinya. Kemudian aku membiarkannya saja. Mencoba untuk menganggapnya seperti dia tidak pernah hadir dalam hidupku. Namun kenyataannya aku tidak bisa untuk melupakannya.

“Ersa, kamu ngelamunin apaan sih.” suara cempreng Devi mengagetkanku.
“Nggak apa-apa kok.” jawabku singkat.
“Pasti lagi ngelamunin cowok albino itu?” katanya sok tahu.
“Cowok albino siapa vi, emangnya ada ya?” tanyaku pura-pura bego. Aku sudah tahu yang dimaksud Devi adalah Ardo.
“Ya pura-pura polos lagi. Kamu lagi mikirin Ardo kan?” tanyanya.

Aku hanya diam, tidak menjawab pertanyaan dari Devi karena dia memang benar. Aku sedang memikirkan Ardo.
“Kamu kok diam aja sih sa. Kalau diem berarti bener kan?” tanyanya lagi.
“Ya vi. Sekarang Ardo nggak pernah sms aku lagi.” kataku dengan nada sedih.
“Ya sudahlah sa, mungkin dia sibuk makanya nggak bisa menghubungimu.” katanya menghiburku.

“Nggak vi, dia nggak sibuk tapi mungkin dia udah punya pacar makanya dia nggak pernah sms aku lagi.” kataku sambil menahan air mataku yang hampir saja tumpah.
“Sabar ya sa, memangnya kamu tahu dari mana kalau dia sudah punya pacar. Kamu kan belum punya buktinya.” katanya.
Aku tidak sanggup lagi untuk berkata-kata lagi. Tenggorokanku terasa sakit karena menahan air mataku agar tidak ke luar. Aku hanya menunduk menyembunyikan mataku yang sudah mulai panas.

“Ayo keluar aja yuk vi, di sini gerah.” ajakku.
“Tapi kan lagi ada dosennya sa.” katanya mengingatkanku.
“Udah nggak apa-apa izin ke luar bentar.” ajakku.

Devi pun mengangguk dan mengikutiku berjalan ke luar. Kami duduk di kursi di depan kelas. Kami pun ngobrol tentang banyak hal. Membuatku lupa akan kesedihanku tadi. Kadang pembicaraan kami diselingi dengan tawa. Ketika kami baru asyik tertawa aku melihat dua makhluk yang membuatku menghentikan tawaku seketika. Saat itu juga aku langsung diam menatap dua makhluk yang sedang berjalan di depanku dengan bergandengan tangan.

Itu adalah Ardo dengan seorang perempuan yang sangat cantik. Cantik banget, mereka terlihat sangat serasi. Mereka bergendengan tangan dan tertawa bahagia. Seolah-olah dunia ini adalah milik mereka berdua. Hatiku terasa ditusuk puluhan duri dan napasku tiba-tiba terasa sesak. Aku hanya menatap mereka dengan menahan air mata. Sialnya lagi.

“Ersa.” panggil Ardo sambil menghampiri aku dan Devi.
Aku hanya diam dan ingin lenyap dari bumi ini saja. Aku tidak ingin melihat Ardo dalam keadaan seperti ini. Kenapa Ardo harus menyapaku? Dia nggak tahu apa kalau hatiku lagi sakit.
“Fel, kenalin ini Ersa temenku waktu SMP.” kata Ardo memperkenalkan aku dengan cewek yang ada di sebelahnya.

Cewek yang dipanggil Fel, entah itu Felis atau Felos aku nggak tahu, itu pun mengulurkan tangannya mengajakku berjabat tangan. Aku pun menyambut tangannya sambil menyunggingkan senyum yang ku paksakan karena bibirku tiba-tiba terasa kaku. “Felicia.” jawab perempuan itu dengan lembut. “Ersa.” jawabku.
“Oh ya aku pergi dulu ya sa, soalnya ada kelas.” kata Ardo sambil menggandeng tangan Felicia. Kemudian mereka berbalik dan meninggalkanku dengan hati terluka.

Devi yang di sebelahku hanya diam. Mungkin karena dia tahu apa yang aku rasakan sekarang. Setelah sampai rumah aku menumpahkan air mata yang sejak tadi ku tahan.
“Ya Tuhan kenapa Engkau pertemukan aku kembali dengannya jika akhirnya seperti ini? Kenapa aku harus merasakan patah hati untuk kedua kalinya dengan orang yang sama. Kenapa?” kataku dalam hati dengan mengeluarkan air mata yang tidak mau berhenti mengalir dari pelupuk mataku.

Aku mencoba memutar kembali kenangan-kenangan saat bersamanya dulu. Aku dulu mencintainya meski aku tahu dia sudah memiliki pacar, tapi aku tetap meneruskan perasaanku. Hingga akhirnya kami lulus. Karena beda sekolah dan tidak pernah bertemu dengannya aku baru benar-benar bisa melupakannya. Tapi kemudian Tuhan mempertemukan aku dengannya. Perasaan yang dulu hilang pun tumbuh lagi.

Dan sekarang aku harus merasakan patah hati untuk kedua kalinya. Rasanya begitu menyakitkan. Malam itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk melupakan perasaanku padanya. Melupakan semua kenangan bersamanya. Aku berjanji untuk menganggap seolah-olah tidak pernah bertemu dengannya. Meski aku tidak yakin pada diriku aku akan berhasil tapi aku akan mencoba.

Cerpen Karangan: Sri Pujiati
Facebook: Oryza Sativa

Cerpen Broken Heart Twice merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Puisi Yang Sering Kamu Ledekin

Oleh:
Dia Sebuah anugerah Tuhan yang terindah jika aku memilikinya. Namun aku tak dapat meraihnya. Aku hanya bisa memilikinya dalam angan. Dia yang terlalu dekat. Dia juga yang terlalu jauh.

I Have No Reason

Oleh:
Tawa renyah masih menghiasi bibir merahnya. Jari-jari itu masih mengait erat di lenganku. Dan senyuman kecil tercetak di bibirku. Senyuman tulus yang tak kusadari sebelumnya. “Tepati janjimu!” Tagih gadis

Tak Terucapkan

Oleh:
Malam yang tiada berbintang, hujan rinai yang menyiram dingin hatiku saat kurindu lesung pipi yang selalu menarik perhatianku… Hari itu adalah hari pertama aku MOS smp, sekaligus pertama kali

Mencintai Dalam Diam

Oleh:
Tak pernah kusangka, ditanggal 23 Juli 2013 ku menjaumpainya. Kenangan indah yang telah membekas lama di hati ini, rasanya tak mungkin lagi. Kini siapakah aku? Mungkinkah aku berharap setinggi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *