Brotherzone

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 27 January 2015

Senja menampakkan lembayung merahnya, tak bosan aku terus berdiri menatap langit. Kata-kata itu kembali terngiang di benakku, “Aku pergi…”. Aku akan kehilangan dia, sesosok yang sangat ku kagumi.
Kemarin dengan dibasahi oleh percikan-percikan hujan yang seolah menjadi sebuah isyarat, Dyo membicarakan semuanya. Dyo akan meninggalkan aku, membiarkan aku dalam kesendirian.
“Maaf, tapi inilah yang terbaik dan ini pun sudah menjadi keputusan orangtuaku,” dia tertunduk tak berdaya.
Aku mencengkram bahunya, “Tapi sebentar lagi kita akan lulus SMA. Tak maukah kamu menunggu hingga lulus nanti?”
Gelegar petir menyambar, hujan pun turun seolah sudah tak ada lagi penakarnya. Dyo menarikku dan berlari menuju tempat yang tak terguyur oleh hujan.
Aku mengamatinya dengan seksama, dia menangis. Air yang kuanggap adalah tetesan hujan yang membasahinya ternyata itu adalah linangan air mata.
Dengan segera dia menghapusnya.
“Aku mau. Aku sangat menginginkan hal itu,” dia menatapku, sorot matanya menembus titik lemahku. “Seandainya saja orangtuaku bisa bersabar menungguku sampai lulus nanti, aku janji… aku pasti akan membuatmu bahagia terlebih dulu.”
Aku mematung, hanya saja air mataku tak bisa diam. Linangannya membasahi pipiku mungkin melebihi hujan yang turun pada saat itu. Dengan suara parau aku mencoba bertanya, “Lalu, kapan tepatnya kamu pergi?”
Dia membalikkan badannya, aku tau apa yang sedang ia lakukan. Karena dari suaranya ia tampak tengah menahan tangis yang sebentar lagi membuncah bagai air yang hendak menerobos bendungan yang selama itu telah membendungnya. “Sebentar lagi,” ucapnya singkat.

“Lalu, kapan tepatnya kamu pergi?” aku mengulangi pertanyaanku tadi. Aku tak mendengar jawaban yang pasti darinya. Dia masih membelakangiku, dia diam. Tak ada satu kata pun yang terucap dari bibir manisnya.

Aku kesal, sekali lagi aku ulangi pertanyaanku tadi. “Lalu, kapan tepatnya kamu pergi?” aku berteriak begitu saja. Entah kenapa dan harus bagaimana. Aku merasakan sebuah gejolak kesedihan yang begitu mendera. Karena itu, emosiku pun tak dapat ku tahan. Pikiranku tak lagi berpikir jernih.
“Tiga hari lagi…,” dia berteriak sekuat tenaganya tanpa membalikkan posisi tubuhnya dan aku mendengar itu, dia mengeluarkan lagi air mata yang sedari tadi ia tahan.
Aku terperanjat, “Secepat itu?”
“Kenapa sebelumnya tak kau ceritakan padaku tentang ini?”
Dia berbalik dan menghampiriku. Dia memelukku erat, sangat erat. “Maaf, tapi aku pun baru mendapatkan keputusan ini kemarin. Orangtuaku egois, dia tak pernah meminta pendapatku mengenai segala hal, meskipun itu berkaitan denganku”. Aku larut dalam pelukannya, kata-kataku tak lagi dapat kuucapkan dan seolah menghilang dari otakku ini.
Aku terhenyak, kembali ku saksikan lembayung senja yang sebentar lagi menghilang dan tergeser dari permukaan bumi.

Besok adalah hari terakhirnya, lusa dia sudah harus pergi meninggalkan Indonesia dengan kurun waktu yang sangat lama, sangat lama… sehingga aku dan dia sendiri pun tak bisa menentukan kapan kami bisa seperti dulu lagi. Pikiranku kembali melayang.

Aku teringat dua tahun lalu…
Aku menjadi murid baru di SMA N 1, begitu pun dia. Kami berasal dari sekolah yang berbeda. Awalnya, kami memang tak saling kenal. Hingga suatu waktu aku dan dia terlambat masuk sekolah, padahal pada saat itu sedang Masa Orientasi Sekolah.

Kakak-kakak kelas yang menjadi komdis pun melayangkan hukuman pada kami berdua yang saat itu terlambat. Kami disuruh berlari keliling lapangan lima putaran. Diawali aba-aba dari sang kakak kelas, kami pun mulai berlari.
Sebelum mencapai lima putaran, aku sempat jatuh karena tersandung batu yang tak sengaja ku injak. Saat itu, Dyo lah yang menolongku dan tatkala dia melihat aku sedikit terluka, dia menawarkan diri untuk menggantikan hukumanku. Aku bersikeras ingin melanjutkan hukumanku yang tinggal 2 putaran lagi. Dan Dyo mengalah, akhirnya dia menyemangatiku dan sengaja berlari pelan agar aku selalu berada di sampingnya.
Mulai dari saat itu hingga kini, Dyo pun selalu melindungiku dari berbagai macam bahaya.
Krriiiiing…
“Ya ampun Dyo…,” aku terperanjat dari tidurku.
“Morgen…, baru bangun?” tampak seseorang berada tepat di pintu kamarku.
“Dyo???” alis mataku bertemu. “Kok ada di sini?”
“Mandi sana! Aku mau, hari ini kamu meluangkan semua waktu kamu untukku. Tak keberatan kah?”
Aku menggaruk kepalaku yang jelas tak gatal. “Um, kalau sekolah?”
“Bolos aja lah…! Sekali ini…, buruan sana!!!” dia menarik tanganku dan mendorongku menuju kamar mandi. Aku pun mengikuti apa katanya.

Sembilan tempat berhasil kami kunjungi, aku menemukan sosok Dyo yang sangat berbeda. Bukan berarti dia tak lagi melindungiku, tapi aku merasa dia terlalu baik padaku. Dan perpisahan itu terasa semakin dekat denganku.

Dia mengajakku makan di sebuah café yang memang selalu menjadi tempat favorit kami. Wajahnya tak menyiratkan kesedihan, senyumnya selalu terkembang seolah tak ada yang akan terjadi. Tapi firasatku berkata lain, aku merasa akan jauh darinya, jauh… melebihi jarak Indonesia menuju Jerman. Dan aku merasa akan kehilangan dia meskipun teknologi canggih dapat memperpendek jarak antara kami berdua.
“Ada yang ingin ku katakan,” aku akan mengatakannya, tak peduli apapun tanggapan dia.
Kepalanya menengadah ke arahku, sorot matanya pun tak lepas dari mataku. Dia tersenyum.
“Jujur, mungkin ini cukup gila bagi kamu. Tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri,” aku mencoba menyusun kata demi kata agar menjadi satu rangkaian kalimat yang dapat dia mengerti.
Tatapannya semakin tajam menusuk mataku.
“Aku… aku mencintaimu,” aku membaranikan diri untuk mengatakannya. Hal yang sangat sensitif itu dapat aku katakan tanpa ada penghalang sedikitpun. Aku takut, aku takut kalau aku kehilangan kesempatan emas ini. Bila dia di Jerman kelak, aku tak yakin bisa mengucapkannya.
Dia terbahak, mungkin bagi dia ini sebuah lelucon atau… serial humor. “Aku juga cinta kamu,” dia membalasnya, tapi ini tampak aneh. Dia tak menunjukkan bahwa dia cinta padaku layaknya pria kebanyakan.
“Aku serius,” aku meyakinkannya.
“Aku juga serius, adekku yang manis… Masa ada kakak yang tak cinta dan sayang sama adiknya sih, kakak macam apa dia?” dia mengusap kepalaku.
Aku cemberut, “Dyo, aku mencintai kamu. Bukan adik mencintai kakaknya, tapi Neva mencintai Dyo. Neva jatuh cinta sama Dyo,” aku menatap matanya. Air mataku tak terasa berlinang.
Dia bergeming, aku tak tau apa responnya. Tapi yang pasti dia terlihat kaget dengan apa yang aku ucapkan.
Tangannya bergerak menuju kepadaku, dia mengusap air mata yang membasahi pipi. Lalu dia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arahku. Dibungkukannya badan sehingga wajahnya tepat berada di atas kepalaku, dan dia mencium keningku.
Aku menoleh lalu berdiri tepat di depannya. Tangannya menggenggam erat tanganku.
“Aku janji, setelah sampai di Jerman aku akan menghubungimu dan menyatakan perasaanku padamu”.
Aku pulang dengan janji yang terus menghantuiku.

Pukul 09.30 WIB…
Tepat setengah jam lagi pesawat Dyo akan segera lepas landas. Aku kembali memboloskan diri dari sekolah agar dapat bertemu dengannya untuk yang terakhir kalinya.
Jalanan macet, taksi yang aku tumpangi tak dapat bergerak se-centi pun sedangkan bandara masih cukup jauh dari lokasiku. Tak ada waktu untuk menunggu, aku pun segera mengambil inisiatif untuk meminta boncengan motor dari siapapun yang bergerak searah denganku.

Satu per satu motor ku cegat, dan akhirnya ada seorang pria baik hati yang menolongku dari keputus-asaanku itu.
Tak sampai setengah jam aku pun berhasil mencapai bandara. Aku berlari sekuat ku bisa untuk mencari Dyo. Bandara begitu luas, tenagaku telah terkuras habis, aku kembali putus asa.
“Ini yang terakhir, aku harap aku bisa bertemu dengannya,” kekuatanku seakan bertambah 2 kali lipat dari pada tadi.
Setelah berlari ke sana kemari, akhirnya aku pun menemukan Dyo.
“Aku kira kamu nggak akan kesini?” tanyanya.
Aku menarik nafas panjang, aku masih terengah-engah dan mencoba mengumpulkan kembali tenaga yang tadi aku kuras habis.
“Maafkan aku,” dia tiba-tiba memelukku. “Tadinya aku tak ingin kamu melihat kepergianku, tapi aku takut aku tak bisa bertemu lagi denganmu,” pelukannya semakin erat. Aku pun mendekap erat tubuhnya. Firasatku semakin kuat, ini benar-benar perpisahan kami.
“Masih ingat dengan janjimu?” aku mengingatkan dia tentang apa yang dikatakannya kemarin.
Dia mengangguk dan tersenyum.
“Janji?” aku memberikan jari kelingkingku.
“Janji,” dia pun menyilangkan kelingkingnya di jari kelingkingku. Ini sebagai tanda bahwa dia akan menepati janjinya.

Lembayung senja kembali merebah di atas singgasananya. Senja tiba, tapi belum ada sedikitpun kabar tentang Dyo.
Seperti biasa, televisiku selalu ku biarkan menyala di kamarku. Aku merasa tak sendirian bila televisiku menyala, meskipun aku tak menontonnya.
“…Sebuah pesawat… menuju Berlin… jatuh,” aku kaget, benarkah itu? Apa aku salah dengar?
Aku tak begitu mendengar berita yang baru saja di siarkan karena aku sedang di beranda luar melihat lembayung senja sambil mendengarkan I-podku.
Tapi aku mendengarnya sangat jelas sekali, tak salah lagi pesawat menuju Berlin. Aku segera menanggalkan I-podku untuk mendengar berita selengkapnya.
Aku lemas, kakiku gemetar. Pesawat yang ditumpangi Dyo jatuh? Oh Tuhan, apa firasat yang kurasakan sebelum Dyo berangkat itu adalah ini?
Ku pandangi HP ku yang terletak tak jauh dari jangkauanku. Aku berharap Dyo menghubungiku dan berkata bahwa dia telah berada di Jerman dengan selamat.

Lima menit berlalu, aku masih terpaku dengan HP ku itu. Tiba-tiba HP ku bergetar, aku pun segera mengangkat teleponnya.
“Halo,” bibirku bergetar, jantungku pun berdegap kencang.
“Neva, Mama sama Papa mungkin pulangnya agak sedikit malam.”
“Ya,” aku mengakhiri pembicaraan.
Yah, mama… kenapa disaat genting seperti ini sih?
Aku kecewa karena yang menelepon adalah mama bukanlah Dyo.
HP ku terus kupandangi, aku berharap ada suatu mu’jizat yang datang padaku dan mengakhiri mimpi buruk ini.
Hatiku masih terus berharap agar Dyo bisa menghubungiku.

Setengah jam telah berlalu, aku putus asa. Tak terasa air mataku berlinang membasahi pipiku. Aku kembali mencari berita, siapa tau telah ada kabar tentang siapa saja yang menjadi korban kecelakaan itu.
Ada!!! Ya Tuhan…, namanya ada di daftar nama korban. Aku lemas, sangat lemas. Aku merasa tak ada gunanya lagi meneruskan hidup ini. Aku dan dia telah menjadi soulmate, aku tak bisa kehilangan dia. Kamarku merekamnya, aku menangis sejadi-jadinya. Ingat kembali masa-masa indah dulu, aku tersenyum. Dan kembali menangis.

Tiba-tiba HPku kembali bergetar. Dengan ragu aku pun mengangkatnya, aku yakin pasti ini adalah kabar dari keluarganya bahwa Dyo sudah… sudah…
“Hallo,” suara di seberang sana mengagetkanku.
Suara ini, suara yang sangat aku kenal. Ini suara…
“Are you okay my sister?”
“Dyo! Kamu Dyo?”
“Iyalah. Lho Nev, kok kamu kaget gitu sih? Kenapa?”

Aku menangis, aku menceritakan semua yang aku dengar. Tapi ternyata Dyo masih hidup dan sampai di Jerman dengan selamat. Pesawat yang ditumpangi Dyo dengan pesawat yang jatuh perbedaan take off-nya hanya setengah jam, jadi aku salah melihat kode pesawatnya. Dan mungkin nama Dyo yang tercantum di daftar nama korban adalah Dyo lain yang nasibnya kurang baik.

“Aku akan membayar janjiku. Aku… mencintaimu dan akan selalu mencintai kamu sampai kapanpun layaknya kakak mencintai adiknya.”
Aku tersenyum, “Ya, aku mengerti”.

Cerpen Karangan: Putri Fauziah
Facebook: Fauziah Clair DVllusion

Cerpen Brotherzone merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Long Distance Relationship

Oleh:
Aku mengaguminya. Akan tetapi aku tak berani berkenalan dengannya. Dia kakak kelasku. Kakak kelas yang sangat aku impikan. Sangat aku kagumi. Selalu kumimpikan di setiap tidur lelapku. Setiap bertemu

Lelaki Membingungkan

Oleh:
Sungguh hari yang melelahkan, aku harus mengikuti pengukuhan PMR di sekolah ku. Ditemani dengan sinaran surya yang begitu menyengat aku mencoba untuk tetap semangat. Disela-sela pelatihan ku, aku sempat

Dawai Cintaku Hilang Di Malam Itu

Oleh:
Memandangnya menjadi acara rutin. Setiap aku duduk di bangku ini, aku mungkin sudah ketergantungan pada dirinya, wajahnya, rambutnya, dan juga senyumnya. Dia yang paling cantik menurutku di kelas ini,

Cherry

Oleh:
Jantungku berdetak semakin tak menentu. Mulai kucoba pejamkan mata namun tak berhasil. Tik tok tik tok suara detak jam terus mengusik ketenanganku. Kringgg alarm handphone ku pun berbunyi. Tepat

Faris

Oleh:
Aku hanya ingin menulis. Entah kenapa, menurutku aku bisa menumpahkan segala kedukaanku dengan tulisan. Padahal aku tidak memiliki darah sastrawan ataupun penulis dalam keluargaku. Walaupun kakekku keturunan darah biru,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *