Bukan Harapan Palsu (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Galau, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 December 2013

“Tersenyum mungkin hanya topeng belaka. menangis mungkin hanya luapan emosi saja. tapi perasaan ini membuatku tersenyum dan menangis. apa perasaan itu hanya topeng? atau apa perasaan itu hanya luapan emosi semata? bukan. perasaan ini nyata, perasaan ini terjebak dan tak bisa ku ungkapkan.”

Aku sudah mulai mengantuk, dan kuputuskan untuk berhenti mengetik lalu bergegas beranjak tidur. Sebelum sempat memejamkan mata tiba-tiba handphone ku bergetar, kulihat sejenak dan ternyata ada pesan masuk dari orang itu. Baru beberapa menit yang lalu aku menulis tentangnya, dan sekarang ia malah mengirimi ku pesan “selamat malam dhit, mimpi indah ya..” aku terdiam, dan berfikir apakah aku perlu membalas pesannya? atau aku diamkan saja? Huft. Sudahlah lebih baik aku tidur saja ini sudah terlalu larut, aku tak ingin terlambat ke sekolah esok hari.

Zzzz hp ku bergetar. Sepagi ini sudah ada pesan masuk, ku lirik handphone ku dan ternyata dia lagi yang mengirimi ku pesan. “selamat pagi dhit, semangat ya buat hari ini..” hmm rasanya jahat sekali jika aku tak membalas pesannya, Semalam pesannya sudah tak ku balas, masa iya pagi ini juga tak ku balas. Ya sudahlah lebih baik aku membalas pesannya, “iya pagi juga ndu, semangat juga ya buat hari ini..”. aku meletakkan handphone ku dan mengambil tas lalu bergegas berangkat sekolah. “dhit..” Ibuku mengetuk pintu kamarku “Dhita, buka pintunya sayang..” aku membukakan pintu “iya mah ada apa?” Tanyaku “itu pandu sudah jemput kamu, sana cepat temui, kasihan dia kalau harus nunggu kamu lama-lama..” ibuku tersenyum “pandu? Hmm iya mah aku berangkat dulu ya” “oh iya bekal kamu sudah mamah siapkan di atas meja, jangan sampai ketinggalan ya.” “iya mah, terima kasih ya.” Aku berpamitan pada ibuku, lalu segera menemui pandu..

“pagi dhit..” ucap pandu dengan diselingi senyuman. “ehm iya pagi juga ndu..” aku juga tersenyum. “mau berangkat sekarang dhit?” ia bertanya. “ya iyalah ndu, masa nanti, kalau terlambat bagaimana?” aku sedikit tertawa.. “oke bos, nih pake dulu helmnya dhit..” ia memberiku helm bergambar kucing pink lucu sekali.. “helmnya lucu, baru beli ya?” kataku bertanya “hehe iya, khusus buat kamu dhit, ya udah ayo berangkat, jangan lupa pegangan dhit takut jatuh nanti. Hehe..” dia tertawa..

Sesampainya di sekolah kami berpisah di parkiran, kami tidak sekelas, dia XII IPS 2 sedangkan aku XII IPA 1. Ternyata keadaan di sekolah masih sama, semua orang masih menatapku dengan tatapan aneh, mereka semua masih membicarakan gosip itu, gosip yang bercerita kalau aku dan pandu berpacaran. Ada apa dengan mereka semua? Aku tahu pandu itu cowok populer di sekolah ini, dia adalah anggota band dan angota tim basket, dan aku sadar diri siapa aku dan siapa pandu, kami berbeda, aku hanya wanita biasa yang tak ingin menjadi populer, aku sekolah untuk berlajar dan mencari ilmu untuk masa depanku, aku tak ingin menjadi orang populer dan bergaul tanpa batas. Mengapa gosip itu masih terus dibicarakan siswa-siswi disini? Sudah hampir sebulan gosip itu menyebar tapi sampai sekarang tak kunjung menghilang. Ah come on guys, it’s just rumor. Pada kenyataanya kami hanya berteman..

“pagi dhit..” sapa lulu teman sebangku ku.. “iya pagi juga lu..” aku tersenyum “tadi pagi dianter pandu ya? Cie cie uhuk..” lulu tampak penasaran “iya lu, aku bingung deh, dia selalu nganter jemput aku padahal kan kita kan cuma teman biasa gak lebih.” Aku terdiam “mungkin dia beneran suka sama kamu dhit.” “ih apaan sih lu, enggak mungkin ah, kita tuh beda..” kataku menepis kenyataan “gak ada yang tidak mungkin dhit, apapun bisa terjadi. Ehm jangan-jangan kamu beneran suka ya sama pandu? Ayo ngaku?..” lulu memojokanku. “apaan sih lu, enggak kok” muka ku mulai memerah. “haha cie mukanya merah, jujur aja sih dhit..” “enggak lulu, kamu apaan sih..” aku mulai cemberut. “inget dhit kalau kamu suka, ya bilang aja suka jangan bilang enggak alias muna nanti nyesel loh.” Seketika itu aku terdiam.

Pada jam istirahat aku lebih senang menghabiskan waktuku di taman sambil menghabiskan bekal buatan ibuku, daripada aku harus menunggu kursi di kantin kosong, itu tak akan mungkin terjadi. Saat aku sedang asik membaca novel dan memakan bekal ku, pandu datang menghampiriku dan duduk di sebelahku.. “hey dhit..” sapanya dengan senyuman “eh iya ndu, kamu udah makan? Mau nyobain bekal buatan ibu ku gak?” aku bertanya. “hehe udah kok tadi dhit bareng sama anak-anak basket. Udah kamu habisin sendiri aja bekalnya aku kenyang banget nih Hehe..” ia tertawa kecil. “beneran?” tanyaku sekali lagi.. “iya dhita, aku boleh kan nemenin kamu istirahat?” “loh kamu memang gak main basket ndu? Tumben..” aku tampak heran.. “enggak dhit, lagi bosan hehe, kamu lagi baca apa?” tanyanya, “oh ini ndu novel, kenapa?” “dhit?” ia menatapku, dan aku menatapnya lagi.. “ada apa ndu?” ia mengusap sisa roti di bibirku.. “ada kotoran tadi, maaf ya dhit..” “oh iya gak papa ndu..” aku tersipu malu.. ia tersenyum manis sekali, “ndu, itu kamu dipanggil teman kamu..” aku menunjuk ke arah lapangan basket. “pengganggu dasar, hmm ya udah aku kesana dulu ya dhit..” ia bangkit lalu aku pun juga ikut berdiri.. “iya ndu, aku juga mau ke kelas..” aku tersenyum dan beranjak pergi “dhit..” pandu memanggilku.. “iya kenapa lagi ndu?” aku menoleh “kamu cantik hari ini..” pandu tersenyum dan say goodbye, aku tersipu malu dan bergegas kembali ke kelas..

Bel pulang sekolah telah berbunyi, niatnya hari ini aku ingin pulang bersama lulu tapi pandu sudah berdiri di depan ruang kelasku, aku merasa tak enak jika menolak ajakan pandu, dia begitu baik dan aku tak ingin membuatnya kecewa. “hey dhit, hey lu” pandu menyapa kami “hey juga ndu” aku dan lulu menjawab sapaannya. “eh dhit, aku pulang duluan ya, keburu siang nih, hehe dah dhit, dah ndu..” lulu tersenyum “eh iya lu titi dj yoo..” pandu say bye pada lulu “iya lulu hati-hati di jalan ya..” aku juga tersenyum, lulu meninggalkan aku dan pandu berdua, dan kami mulai berjalan menuju parkiran “dhit..” pandu menatapku “iya, kenapa ndu?” perasaanku mulai tak karuan. “eh gak jadi deh, hehe” pandu tertawa dan aku hanya tersenyum. “senyum kamu indah dhit..” pandu tersenyum. “ah apa sih kamu ndu, gombal terus..” “kok gombal sih, enggak kok, aku serius dhita..” pandu berhenti melangkah tepat dekat di bangku dekat lapangan basket “kok berhenti ndu?” aku tampak heran “dhit.. aku mau ngomong tapi aku bingung gimana cara ngomongnya..” ia terlihat malu-malu “hmm kamu mau ngomong apa ndu?” aku mulai resah, jangan-jangan pandu mau bilang kalau dia… “dhit, selama ini kamu anggap kita apa sih?” ia menatapku “kita kan hanya berteman ndu..” aku tersenyum dan ia tercengang “oh iya kita kan cuma berteman ya dhit.” Ia tersenyum. “ia ndu, memang ada apa sih?” aku mulai penasaran “ah enggak kok dhit, lupakan aja hehe..” aku terdiam, dan sedikit kecewa ternyata ia tak membicarakan hal itu.. “dhit, kok diem? Yuk pulang keburu siang nih.” “eh iya ndu..” kami kembali melangkah..

Semenjak pembicaraan sepulang sekolah seminggu yang lalu, pandu seakan menjauhkan diri padaku, entah apa salah diriku tapi yang jelas ia sudah tak menegorku lagi dan kini aku mulai merasa kesepian, aku mulai menyadari bahwa selama ini aku menyukainya dan aku berharap lebih padanya. Aku masih ingat ketika pertama kali pandu dan aku bertemu, saat itu aku sedang menangis karena pacar pertamaku mengkhianati cintaku, pandu mendekatiku karena ia melihatku menangis, ia mencoba membuatku tersenyum, dan ia mengusap air mataku dengan tangannya. Mulai saat itu aku dan pandu menjadi dekat, dan gosip-gosip mulai bertebaran. Tapi aku tak menanggapinya, aku merasa kami hanya sebatas teman, tapi lama-kelamaan aku mulai merasa perasaan ini tak hanya sebatas teman, aku menginginkan lebih dan mungkin aku terlalu munafik untuk mengakuinya. Aku menyesal karena akibat kemunafikanku aku dan pandu sekarang menjadi tak saling berteguran.

Keesokan harinya saat aku memasuki gerbang sekolah aku melihat pandu dan vanya berangkat sekolah bersama, seketika itu aku merasa sakit, dan aku teringat kembali pada masa-masa dimana aku dan pandu berangkat sekolah bersama. Pandu menatapku, ia memperhatikanku saat ia memasuki gerbang sekolah menuju parkiran. Perasaanku mulai tak karuan, aku mulai berfikiran macam-macam, dan aku juga merasa sedih. Sesampainya di kelas aku hanya terdiam memikirkan pandu.. “selamat pagi dhit..” lulu menyapaku, dan aku hanya menatapnya. “dhit, kamu kenapa?” ia tampak heran “gak papa kok lu.” Aku mencoba tersenyum “kamu gak kaya biasanya dhit, ada apa? Cerita aja..” lulu tersenyum.. “pandu lu..” aku mulai tak bersemangat “pandu kenapa?” “dia kaya ngejauh dari aku, dia juga udah gak pernah negur aku lagi lu..” wajahku terlihat murung “loh, kenapa?” lulu mulai penasaran dan aku cuma menggelengkan kepala. Lulu terdiam menatap arah white board. “tadi pandu berangkat sekolah bareng vanya lu.” “APAA?” lulu menatapku dan membuatku terkejut karena ia berteriak. “ssst, biasa aja dong lu, jangan teriak gitu liat tuh diliatin anak-anak. Ih..” aku mencoba menenangkanya “kok bisa sih dhit? Perasaan kamu deh yang berangkat sekolah sama pandu, tapi kenapa sekarang malah sama vanya? Aneh..” lulu tampak heran “aku gak tau lu, mungkin dia cuma php-in aku..” aku mencoba tersenyum “ya ampun, sabar ya dhita..” lulu mengelus-elus rambutku dan aku hanya tersenyum mencoba menahan kesedihan ini. “kamu jujur ya dhit, kamu beneran suka ya sama pandu?” lulu menatapku “ehm, dulu sih belum ngerasain apa-apa, tapi lama-kelamaan ngerasa nyaman banget deket sama pandu, dia juga kelihatan tulus banget lu” “oh jadi sekarang kamu bener-bener suka sama dia? kenapa kamu gak jujur aja sih ke dia..” “udah lah lu, biarin aja, toh dia kan sekarang lagi deket sama vanya, mungkin perhatian dia ke aku cuma harapan palsu..” aku tersenyum mencoba sabar menerima kenyataan “hmm, ya udah kamu yang sabar ya dhit..” lulu tersenyum…

Pada jam olahraga aku mulai merasa tak enak badan, kepalaku terasa pusing sekali, tapi aku tetap paksakan karena hari ini ada pengambilan nilai senam. Saat memasuki lapangan aku melihat pandu sedang bermain basket bersama anak-anak tim basket, aku hanya menatapnya sebentar lalu mengalihkan pandanganku ke arah yang lain. saat sedang mendengarkan instruksi dari guru olahragaku sesekali aku melihat ke arah pandu, dan aku melihat ia sedang manatapku, saat aku menatapnya ia seakan salah tingkah dan mengalihkan pandangannya. Senam baru saja dimulai tapi aku mulai kehilangan keseimbangan, aku mencoba menahan pusing di kepalaku, aku mencoba bertahan tapi aku tak mampu, tiba-tiba aku terjatuh dan tak sadarkan diri..

Saat tersadar aku sudah berada di ruang uks dengan lulu di sampingku.. “dhit kamu gak papa?” ia mencoba membantuku bersandar. “kepalaku pusing banget lu..” kataku sambil memegangi kening.. “ya udah nih diminum dulu obatnya, biar gak pusing lagi..” “terima kasih ya lu..” aku tersenyum.. “hehe iya dhit, tau gak tadi tuh pas kamu pingsan si pandu langsung lari ke arah kamu, terus dia gotong kamu sendirian ke ruang uks..” lulu tampak senyum-senyum sendiri.. “ masa sih? Kok dia gak nungguin aku disini?” aku tercengang “haha pengen banget? Tadi dia panik banget loh dhit, aku aja sampe nahan ketawa ngeliatin muka paniknya pandu..” lulu tertawa dan seketika itu aku tersenyum “kenapa dia peduli gitu ya sama aku? Aneh” “ya mungkin dia ada rasa kali dhit..” “gak mungkin lu, kalau dia ada rasa pasti dia gak bakal ngejauh.” “iya ya, gak tau ah dhit gak ngerti sama jalan pikirannya si pandu..” “sama.. huft..” aku mulai memikirkan pandu. “udah ah jangan dipikirin dulu dhit, inget kamu lagi sakit, nanti kalau banyak pikiran malah nambah sakit..” lulu mencoba mengingatkanku dan aku cuma bisa tersenyum….

Keesokan harinya aku masih merasa tak enak badan, ibuku melarangku pergi ke sekolah karena khawatir akan keadaanku, tapi aku tetap memaksakan untuk berangkat sekolah. Seperti kemarin pagi ini aku kembali bertemu dangan pandu dan vanya, mereka berangkat bersama lagi, saat itu rasanya aku ingin menangis saja, hatiku sakit, pikiranku mulai berpikir macam-macam. apa selama ini pandu hanya memberi harapan palsu? Mengapa ia hadir dan menghapus tangisku jika pada akhirnya ia pergi dan membuatku menangis lagi? Apa salahku pandu? Aku bergegas menuju kelas, aku melangkah sambil tertunduk mencoba menahan air mataku. Aku berjalan tanpa melihat arah dan sampai akhirnya aku menabrak seseorang, kami berdua terjatuh. Aku mengangkat wajahku dan melihat siapa orang yang ku tabrak. Orang itu menatapku, ternyata dia haikal teman pandu yang juga anggota tim basket. “eh sorry kal, aku gak sengaja..” aku meminta maaf sambil duduk tertunduk, haikal berdiri.. “dhita? Sini aku bantu berdiri..” ia tersenyum dan membantuku berdiri.. “maaf ya kal..” karena pikiran dan hati yang tak karuan tiba-tiba aku meneteskan air mata.. “loh loh, kok kamu nangis dhit? Duh jangan nangis dong gak papa kok, jangan dipikirin tabrakan tadi.” Ia memegang pundakku, aku mengangkat wajahku dan tersenyum.. “maaf ya kal..” tiba-tiba haikal mengusap air mataku dan tersenyum “jangan nangis ah dhit. Ayo aku anterin ke kelas.” Dan aku hanya bisa mengangguk.

Sesampainya di kelasku haikal berpamitan lalu tersenyum, saat aku hendak masuk ke kelas aku melihat pandu sedang menatapku dengan tatapan aneh. Keadaan hatiku makin tak karuan, aku bingung dan tak tau harus bersikap seperti apa. aku berjalan memasuki ruang kelas sambil termenung lalu lulu yang melihatku berbeda hari ini lalu menegurku saat aku baru saja duduk di kursi. “dhit, kamu kenapa? masih sakit?” lulu tampak khawatir. Dan aku hanya mengangguk. “kok sekolah sih? Kenapa gak istirahat aja di rumah dhita?” “gak enak di rumah, nanti malah bikin mamah khawatir, lagian ini cuma gak enak badan kok besok juga sembuh..” aku tersenyum “jangan suka ngegampangin penyakit dhita..” lulu tampak menggeleng-gelengkan kepala.

Cerpen Karangan: Octa Rina
Blog: octarina11.blogspot.com

Cerpen Bukan Harapan Palsu (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Beautiful Mistake

Oleh:
Aku masih duduk di bangkuku dengan mata sembab dan suara isak tangis yang sudah hampir hilang. Di sampingku ada Putri yang duduk sambil mengusap pundakku secara perlahan serta Tita

Zea dan Persahabatan

Oleh:
Pagi ini Zidan bermaksud menyapa Zea. Sekaligus mengucapkan selamat atas juara dua yang diraih Zea pada lomba melukis kemarin. Tapi yang disapa malah memasang wajah jengkel, dan secepat kilat

25 Anak Tangga Pada 35 (Part 1)

Oleh:
Semuanya masih gelap, tak ada 1 cahaya sedikit pun, hingga ada sepercik masa depan terlihat dari kejauhan yang semakin dekat. Dalam seketika aku bernapas, dengan tergesa-gesa sehingga terdengar suara

Sebatas Teman

Oleh:
“Hey… kamu sini… ayo main… haha…” suara gelak tawa anak laki-laki itu terdengar dari dalam ruang belajar taman kanak-kanak itu. “Varo… tunggu aku… aku juga ingin main…” pinta anak

Secret of Love (Part 2)

Oleh:
Dan pada saat aku ingin melupakan Reno tiba-tiba dia datang lagi. Dia menghampiri gue yang lagi duduk sendirian makan bakso di Kantin. “heyyy, Tania Maulida Wijaya” kata Reno dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Bukan Harapan Palsu (Part 1)”

  1. bella says:

    kerennn!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *