Bukan Harapan Palsu (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Galau, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 December 2013

Pada jam istirahat aku sebenarnya enggan keluar kelas, tapi lulu mengajak ku ke kantin untuk membeli makanan dan kebetulan aku juga lupa membawa bekal ku. Sesampainya disana anak-anak dikantin tampak mengerubungi sesuatu, aku dan lulu mendekati kerumunan tersebut dan ternyata mereka semua mengerubungi vanya dan pandu, aku melihat vanya berbicara dan aku mulai menyimak pembicaraanya, ia ingin mentraktir anak-anak disini seketika itu aku bingung mengapa vanya mau mentraktir anak-anak disini, aku pun bertanya pada seseorang di depanku “hey, itu ada apa kok kalian semua mau ditraktir sama vanya? Dia ulang tahun ya?” kataku sambil memegang bahunya “bukan, itu si vanya neraktir anak-anak karena dia baru jadian sama pandu..” aku tercengang mendengar jawaban orang itu, rasanya aku ingin menangis saja, lalu aku keluar kantin sambil berlari dan lulu mencoba mengejarku. “dhita tunggu” lulu berteriak tapi aku terus berlari tanpa memperdulikan lulu sampai pada akhirnya aku menabrak haikal lagi. “duh dhita, kalau main kejar-kejaran sama lulu liat-liat jalan dong, mending kalau kamu nabrak aku, lah kalau kamu nabrak guru gimana hayo? Ia tersenyum dan lulu menghampiri kami “dhit, kamu gak papa kan? Lulu tampak khawatir. Dan aku tak bisa membendung tangisku lagi di hadapan haikal dan lulu, aku hanya menutupi wajahku dengan kedua tanganku lalu menangis. “loh loh kok dhita nangis lagi? Ada apa sih lu?” haikal tampak bingung. Lulu hanya terdiam dan aku masih menangis “ayo sini ikut aku dhit..” haikal menarik tanganku ke kursi di samping lapangan basket dan lulu mengikuti kami.

Kami bertiga duduk dengan aku berada di tengah. “pandu ya dhit?” haikal menatap wajahku yang dibasahi air mata, ia mengusap air mataku tapi air mataku terus mengalir. Aku menangis hingga tak bisa melanjutkan tangisku, lulu hanya memandangku dengan tatapan sedih dan khawatir. “dhit, jangan kaya gini dong, masa cuma karena haikal kamu jadi nangis kaya gini.” Haikal mencoba menyemangatiku. Aku menatapnya “kamu tau gak sih kal rasanya di php-in tuh kaya gimana? Sakit kal, sakit banget. Saat aku udah beneran yakin kalau pandu itu yang terbaik buat aku, pandu malah ngejauhin diri, dan terus sekarang dia malah jadian sama vanya, sakit banget kal diginiin, padahal yang waktu itu ngapus air mataku saat aku bener-bener terpuruk itu pandu, tapi sekarang kenapa harus dia juga yang buat aku nangis lagi kal?” aku mencoba mengungkapkan semua keluh kesah di hatiku. “aku kira kamu gak ada rasa dhit sama pandu..” haikal tampak heran dan aku mengalihkan pandanganku dari haikal “udah dhit, lupain aja pandu toh dia udah bahagia sama vanya. Kamu harus semangat dong, dhita yang aku kenal kan gak mudah putus asa.” Lulu tersenyum “kamu harus ikhlas dhit, kamu tuh cantik kamu juga baik dan kamu pintar, cowok mana sih yang gak mau sama kamu, aku aja mau. Hehe” haikal tertawa tapi aku tak menghiraukan ucapannya. “lu, kal, aku punya salah apa sih? Kok aku selalu disakitin sama cowok? Aku gak ngerti, aku bingung.” Aku termenung dan mataku mulai berkunang-kunang lalu aku bersandar di pundak lulu dan terpejam lalu tak sadarkan diri.

Saat aku membuka mata, aku sudah berada di rumah, dan aku melihat ibuku berada di sampingku dengan wajah khawatirnya. “mah..” aku menoleh ke arah ibuku. “ya ampun sayang, kamu gak papa kan? Mamah khawatir sama kamu sayang.” Ibuku mengecup keningku. “maafin dhita ya mah udah buat mamah khawatir..” “gak papa sayang, ya udah mamah ambilin kamu makanan dulu ya, terus kamu minum obat lalu istirahat.” Ibuku beranjak keluar kamarku. “mah..” panggilku lemah dan ibuku menoleh “iya sayang?” “tadi siapa yang nganterin aku pulang?” “hmm, itu cowok kalau gak salah namanya haikal..” aku hanya mengangguk dan ibuku bergegas keluar kamar.

Selama tiga hari aku terbaring di rumah dan selama tiga hari itu juga haikal selalu mengunjungiku di rumah, ia membawakan makanan favoritku, entah bagaimana ia bisa tau makanan favoritku. Seminggu berlalu aku telah kembali beraktivitas, dan Setelah hampir sebulan aku dan haikal dekat aku mulai bisa melupakan bayang-bayang pandu dari hidupku. Haikal membuat hidupku jadi lebih baik. Dan aku benar-benar yakin haikal tulus melakukan itu karena ia sendiri yang membuatku percaya bahwa ia tak memiliki niat buruk terhadapku. Sampai pada akhirnya pandu mengetahui kedekatanku dengan haikal, lulu bilang bahwa pandu selalu memerhatikanku setiap kami bertemu, tapi aku sudah tak memperdulikan itu. Pandu telah bersama vanya dan aku rasa ia bahagia bersama vanya, kalau pandu bisa bahagia dengan orang lain aku juga harus bisa bahagia, aku tak boleh merasa sedih saat orang lain bahagia. Kebahagiaan itu berhak menjadi milikku. Itulah kata-kata penyemangat yang selalu haikal katakan padaku saat aku bersedih.

Pada saat jam pulang sekolah aku menunggui haikal yang sedang berkumpul dengan tim basket di samping lapangan basket, tiba-tiba pandu mendekatiku entah apa maksudnya. “hey dhit..” ia tersenyum “iya ndu, kenapa?” jawabku dengan nada biasa “nungguin siapa dhit?” ia bertanya “haikal ndu.” Pandu tampak cemberut “kamu pulang bareng sama haikal?” ia kembali bertanya dan aku hanya mengangguk. “mau pulang bareng aku gak dhit?” seketika itu aku menatapnya “loh, emang kamu gak pulang bareng sama vanya ndu?” “engga, dia udah pulang duluan, gimana mau gak dhit?” “hmm gak deh ndu makasih, aku gak enak sama haikal..” lalu haikal mendekati kami. “ada apa nih?” kata haikal. Aku hanya terdiam. “kal, gue aja ya yang anter dhita pulang?” kata pandu “seh, tumben banget bro, dhitanya emang mau?” belum sempat aku berbicara pandu sudah mengatakan “IYA” “oh ya udah gak papa kok ndu, anterin ya sampe rumah, jangan ajak dhita kemana-mana nanti mamahnya khawatir.” Haikal tersenyum dan pandu juga tersenyum “loh kal? Gimana sih?” aku tampak bingung. “udah gak papa dhit, kamu hati-hati di jalan ya.” Ia mengusap-usap rambutku dan tersenyum lalu say good bye kepada kami. aku hanya bisa diam, maksud haikal itu apa sih? Kok dia malah setuju kalau pandu yang nganter aku. Bikin galau aja.. “ya udah ayo dhit pulang..” tiba-tiba pandu memegang tanganku dan menggandengnya menuju parkiran.

Aku bingung, dah resah maksud pandu ini apa? setelah kurang lebih 2 bulan ia menjauhkan diri tiba-tiba ia mendekati diri lagi padaku. Kenapa saat aku sudah bisa move on dari bayang-bayang pandu, dia malah dateng lagi. Sesampainya diparkiran aku hanya bisa diam. “dhit..” aku menoleh “kenapa?” “ini dipake dulu helmnya..” pandu memberiku helm bergambar kucing pink lagi, dan aku hanya terdiam berfikir sejenak. “kok diam dhit, kenapa?” “perasaan kemarin kamu gak bawa helm ini deh?” aku menatapnya “kemarin kapan?” “itu loh pas boncengan sama vanya, kenapa dia gak pake helm ini?” pandu tertawa “oh jadi selama ini kamu suka merhatiin aku sama vanya? Haha enggak lah helm ini khusus buat kamu, gak ada cewek lain yang boleh make helm ini selain kamu.” ia tersenyum “oh gitu..” “ya udah ayo naik, udah siang banget nih nanti kamu dicariin mamah kamu..” dan aku hanya mengangguk..

Di perjalanan kami hanya terdiam sampai pada akhirnya pandu mulai mengajakku berbicara.. “dhit..” “kenapa ndu?” “kamu ada hubungan apa sama haikal?” pandu berbicara dengan ragu-ragu.. “kami cuma teman..” “yakin? Kamu gak ada rasa dia?” “loh, apa sih ndu kok jadi nanya kaya gitu, itu privasi aku loh..” wajahku berubah seketika.. “haikal itu suka modus loh dhit.” Jawaban pandu membuatku tercengang “bukannya kamu juga ya. Ehh” aku kelepasan. “apa dhit? Aku gak dengar.. syukur deh pandu gak denger.. “maksud ku haikal itu tulus kok, dia yang bilang sendiri ke aku kalau dia itu gak BERDUSTA ke aku.” Sengaja ku tinggikan nada bicaraku. “duh dhit, kamu tuh kepolosan kamu tau kan cowok suka modus modus gitu..” ia berbicara dengan percaya diri.. “loh bukannya kamu juga cowok ya ndu, berarti kamu juga suka modus dong?” aku mencoba menahan tawaku “oh iya haha, aku beda dhit, aku gak suka modus aku mah tulus..” ia tersenyum “bohonghasyim..” aku berpura-pura bersin.. “kenapa dhit? Itu tadi bersin apa sengaja ngucap kata bohong sambil bersin?” “bersin ndu..” aku tersenyum “oh bersin, pokoknya kamu harus hati-hati sama haikal, aku gak mau lihat kamu nangis lagi dhit..” aku kembali tercengang dan seketika itu kami sampai di depan gerbang rumahku..

Selepas ku turun dari motornya dan beranjak memasuki gerbang tiba-tiba pandu memegang tanganku, “kenapa?” aku menatapnya “kalau boleh jujur sebenernya aku gak suka ngeliat kamu deket sama haikal dhit..” pandu menatapku dan aku melepaskan pegangannya. “loh kenapa? Itu hak aku loh ndu, aku berhak deket sama siapa aja..” aku tak habis pikir, mau pandu itu apa sih? “aku cuma gak mau lihat kamu nangis lagi dhit.” Ia mencoba menyakinkanku. “gampang banget ya ndu kamu ngomong kaya gitu. Kamu gak sadar kalau kamu yang buat aku nangis lagi.” Aku mengalihkan pandanganku dari wajah pandu. “aku minta maaf dhit, aku gak bermaksud buat kamu nangis. Aku sayang sama kamu dhit, kenapa sih kamu gak pernah peka?” aku meneteskan air mata.. “inget ya ndu, kalau kamu sayang kamu gak bakal ninggalin aku kaya gitu, baru beberapa hari kamu udah ninggalin aku dan beralih ke cewek lain, dan sekarang kamu malah jadian sama cewek itu. Itu yang namanya sayang? Kamu tuh cuma ngasih harapan palsu tau gak..” aku tak bisa menahan tangisku. Pandu terdiam dan mengusap air mataku. “aku pikir kamu gak pernah peka dhit sama aku, aku jadian sama vanya cuma ingin liat kepekaan kamu, dan aku sengaja nyuruh haikal buat deketin kamu untuk lihat reaksi kamu. haikal bilang semua ke aku kalau kamu juga punya rasa yang sama kaya aku. Bahkan kamu sampe sakit karena mikirin perubahan aku. Kamu harus tau dhit aku khawatir banget pas denger kamu sakit. Aku bingung gimana caranya ketemu kamu, karena aku berpikir kamu gak akan mau ketemu sama aku, makanya aku nyuruh haikal buat ngunjungin kamu dan bawain makanan kesukaan kamu sampai kamu bener-bener sembuh dhit. Kamu jangan salah paham dhit sama aku dhit, aku bener-bener sayang dan tulus sama kamu..” air mataku makin deras mengalir “kamu salah kalau kamu melibatkan orang lain di hubungan kita, kamu gak perlu masukin vanya dan haikal di hubungan kita, aku kecewa banget ndu sama kamu. aku gak pernah ngerti sama jalan pikiran kamu.” Aku bergegas masuk ke dalam gerbang tapi haikal menggenggam tanganku erat sekali. “dengerin aku dhit, haikal dan vanya itu sahabat aku, dan mereka sendiri yang bilang mau bantu aku. Kamu jangan salah paham ya..” ia tampak murung. Dan aku berusaha menghentikan tangisku “terus hubungan kamu sama vanya gimana? Bukannya kalian pacaran?” aku masih bingung “aku dan vanya hanya berpura-pura pacaran dhit, aku sengaja menyuruh vanya bicara seperti itu di kantin karena aku tahu hari itu kamu bakal ke kantin..” ia tersenyum “tau dari mana?” “lulu.” Ia masih tersenyum dan mengusap air mata yang berada di pipiku. “kamu kerja sama juga sama dia? ih jahat banget..” saat aku menatap pandu tiba-tiba haikal, vanya dan lulu datang membawa poster besar bertulisan “I’M SORRY DHIT, WE LOVE YOU.” Dan membaca bunga mawar merah banyak sekali, aku tak percaya akan semua ini, apakah ini mimpi? Tiba-tiba pandu menggenggam tanganku “dhit aku minta maaf udah buat kamu nangis bahkan sampai sakit, aku bener-bener gak kepikiran kalau kamu akan kaya gitu, dan sekarang aku kira ini waktu yang tepat untuk bilang aku sayang sama kamu dan aku ingin kamu jadi pacar aku..” ia tersenyum “aku juga sayang kamu ndu..” lalu kami berpelukan “CIEE..” haikal, vanya dan lulu meledek aku dan pandu. “kalian jahat..” aku tersenyum “CIUS? Walaupun jahat yang penting sayang kan? haha” kami semua tertawa.

– TAMAT –

Cerpen Karangan: Octa Rina
Blog: octarina11.blogspot.com

Cerpen Bukan Harapan Palsu (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


OMG! My Boyfriend is Girl!

Oleh:
Aku menangis pedih setelah mendengar berita itu. Rasanya aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan Shasy sebelumnya. Padahal, pacarku itu adalah sosok yang baik dan perhatian. Aku sangat sayang

Ku Jaga Hatimu

Oleh:
“Ini bukan kali pertama aku melukai perasaanmu, tapi kenapa kau terus bertahan di sampingku. Aku bahkan tidak yakin kalau kau tidak tau apa yang kulakukan di belakangmu”. Rendi hanya

Mentari Berkabut

Oleh:
Pagi itu suasana hari sangat cerah, seperti hatiku yang sedang berbahagia mendapatkan hadiah dari sang ayah, hadiah yang sangat aku idam-idamkan hadiah yang tidak akan pernah aku lupakan dan

Cinta Akhir Sekolah

Oleh:
Cinta, aku mau menunggu Apakah kamu masih mencintai pria yang sudah bertahun-tahun tak meresponmu itu? Ya, aku tidak pernah merasa bosan menunggunya, aku benar-benar terpikat olehnya. Terkadang aku terlalu

My Boss

Oleh:
Aku mengelap meja dengan cepat. Piring dan gelas kotor berpindah ke atas kereta dorong. Semua tissue dan remah-remah bersih dengan tuntas. Aku beralih ke meja seberang. Kurapikan semua piring

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Bukan Harapan Palsu (Part 2)”

  1. riris dita sari says:

    cerpennya bagus..
    tapi kog namanya sama iyha ..
    kayak namaku n mantanku..
    tapi beda kisahnya ..hehhehe

  2. Cera Wiladhea says:

    Ceritanya bagus bgt, sempat menitikkan air mata nih hehe terus buat cerita2 menarik ya 🙂

  3. candra dewi says:

    bagus kak. lanjutkannnnn!!!! 😀

  4. Poulina fazrin says:

    Kerennn bangettt!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *