Bukan Untukku (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 17 August 2014

Seperti kebiasaanku setiap minggu. Aku selalu meluangkan waktuku di sini. Aku duduk dengan membawa serangkaian bunga untuk kekasihku. Kubelai nisannya, bahkan sering kukecup nisannya di sini. Aku sangat menyayanginya. Bila teringat 8 bulan yang lalu, rasa bersalahku selalu muncul. Bagaimana tidak? Gara-gara kecerobohanku kecelakaan itu terjadi. Dan saat itulah, aku kehilangan kekasihku. “Mel, apa kabarmu?” aku memulai percakapanku dengan membelai nisan kekasihku. Melodiy Natasya. Ya, kekasihku kini telah tiada. Meski begitu, tapi hati ini masih menginginkannya. Wajar, sudah 4 tahun lamanya hubunganku ini berjalan.
“Kamu tahu aku bawa apa? Aku bawa bunga kesukaanmu Mel, mawar putih. Kamu pasti senang kalau lihat aku bawa bunga ini untukmu. Iya kan, Mel?” Sejenak aku menundukan kepalaku. Kuingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Melodiy memeluku dari belakang. Ia katakan padaku, kalau ia bersedia jadi istriku. Namun, aku kembali dengan keadaan hari ini. Tak ada lagi Melodiy disini.
“Aku harus bagaimana? Aku sama sekali tak suka dengan perjodohan ini. Andai kamu di sini Mel, nggak akan ada perjodohan ini. Bangun Melodiy, bangun! Dua bulan lagi kita akan menikah.” Lagi-lagi kutundukan kepalaku. Sekali kuteteskan air mata ini untuknya. 4 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk aku melupakannya. Hal terakhir yang kuingat adalah ucapan dan senyum manisnya. “Ren, aku akan tetap hidup di hatimu.” Itulah kalimat terakhir darinya untukku. Dan memang benar, 8 bulan setelah kepergiannya ia masih tetap hidup di sini. Di hatiku.

Siang kurasa sudah berubah menjadi petang. Ku tatap langit senja yang menyaksikanku. Kubayangkan senyum manisnya. Masih kurasakan kalau Melodiy masih benar-benar hidup. Ku beranjak dari posisi dudukku. Tak lupa kukecup nisan kekasihku. Sebenarnya, aku masih ingin lama di sini. Tapi malam ini, orangtuaku mengajakku makan malam bersama keluarga Om Lucky. Mana mungkin aku menolak permintaan orangtuaku hanya demi menghabiskan waktu di sini. Dengan berat hati, kuputar tubuhku menuju jalan pulang. Pikirku tak sampai 15 menit aku akan sampai rumah. Karena menurutku, rumahku tak jauh dari pemakaman ini.

Dugaanku meleset. Aku hampir menabrak seorang gadis di depanku. Kulitnya putih, tinggi, dan… kuakui gadis ini sangat sangat cantik. Ku buka pintu mobil di dekatku ketika gadis ini menggedor-nggedor kaca mobilku.
“Maaf, aku tak sengaja ingin menabrakmu.” Ucapku padanya. Aneh sekali, gadis ini tak melotot-melotot ke arahku. Biasanya kalau di film-film, tiap ada adegan tabrak menabrak langsung ada yang marah. “Antar aku pulang!” Gadis itu menyuruhku. Apa-apaan? Belum juga ia menjawab permintaan maafku.
“Tapi Nona, setengah jam lagi aku ada acara.” Ucapku membohonginya. Karena sebenarnya masih ada satu setengah jam lagi untuk bersantai.
“Itu urusanmu dengan keluargamu. Urusanmu denganku bagaimana? Lagian rumahku tak jauh dari sini. Kau mau kulaporkan polisi alasan tabrak lari? Memang benar aku tidak luka, tapi paling tidak kau punya rasa kasihan dengan perempuan yang jalan kaki malam-malam begini.” Cerewet. Banyak bicara sekali gadis ini. Siapa dia? berani sekali mengancamku.
“Siapa kau? Berani sekali mengancamku. Kau pemilik desa sini? Ya sudah naik! Gadis menyebalkan!” Kesalku padanya. Sepertinya aku akan berdo’a untuk tidak mengenal gadis ini. Kuperhatikan gadis ini sama sekali tak merasa bersalah. Padahal kalau difikir ulang, ini bukan sepenuhnya salahku. “Yang kencang dong jalannya.” Gadis ini seenaknya saja menyuruhku. Apa dia pikir aku ini supirnya? Buruk sekali aku di matanya.

Rasa kesalku memuncak ketika jalan yang ku tempuh ternyata tak sedekat yang ia katakan. Sangat sangat menyebalkan. Cerewet sekali gadis ini. Makan terus sedari tadi. Semoga pertemuan ini bukan bagian dari do’aku. Ya, selama ini aku memang berdo’a agar dipertemukan dengan pengganti Melodiy. Ku akui, aku memang tak bisa hidup tanpa lawan jenisku.

“Kau pemuda asli sini?” Aku diam. Tak menjawab pertanyaannya. Satu kata pun. Aku kesal dengannya. Sudah hampir satu jam perjalanan, tapi gadis ini belum juga menyuruhku berhenti memutar-mutar setir mobilku. “Heh, jangan diam! Kau tidak bisu, bukan?” Tanya gadis itu sekali lagi masih dengan mengunyah makanannya.
“Bisakah kau katakan tentang letak rumahmu? Gadis menyebalkan!” Ku lontarkan kata-kata ini begitu saja. Tidak masalah untukku, karena ku rasa ini memang harus kutanyakan.
“Tidak seharusnya kau berjalan sampai sini, bodoh.” Dengan cepat ku injak pedal rem ku. Apa maksudnya. “Aw! Bisa tidak kalau injak rem pakai jeda dulu? Kau hampir membuatku mati konyol, bodoh.” Gadis ini terlihat marah denganku. Cemilan yang digenggamnya tumpah. Dan kepalanya hampir terbentur kaca mobilku. Masa bodohlah.
“Apa maksudmu? Kenapa kau bilang kalau tidak seharusnya kita berjalan sampai sini? Kau jangan mempermainkanku.” Mungkin sebelumnya rasa marah dan kesalku sudah memuncak. Bukannya mereda, kini justru berubah menjadi 3 kali rasa kesalku sebelumnya.
“Kau jangan bodoh. Dari awal aku sudah bilang padamu. Rumahku tak jauh dari pemakaman itu. Kenapa kau tak bertanya padaku terlebih dahulu? Mungkin setengah jam sebelumnya. Aku pikir kau memang sengaja mengajakku jalan malam ini.” Jawab gadis ini semakin membuatku merasakan keanehannya. Gadis ini memang bodoh atau mati rasa? Tidak sadarkah ia kalau selama berpuluh-puluh menit aku kesal dengannya? Atau paling tidak saat ini saja. Apa dia tidak bisa menilai kalau raut wajahku saat ini adalah raut wajah orang yang sedang marah? Ah… gadis menyebalkan!!
“Kau!! Tidak bisakah kau tidak menjadi gadis menyebalkan untuk sedetik saja? Paling tidak kau benahi jawabanmu. Siapa juga yang mau jalan dengan mu? Kau pikir aku supirmu?”
“Memang begitu bukan? Buktinya kau enjoy dan diam saja di mobil. Kau tak protes denganku. Bahkan hanya untuk menanyakan alamatku pun kau tak sempat. Hey?” gadis itu tersenyum. Menatapku. Sungguh. Senyum yang manis. Hampir buatku terlena dengan senyum di bibirnya. Namun, aku sadar. Aku harus cepat-cepat memulangkan gadis ini. Orangtuaku pasti akan menyiapkan beribu-ribu pertanyaan kalau aku terlambat. Sebenarnya sudah dari beberapa puluh menit yang lalu aku merasakan getaran dari sakuku. Aku yakin itu telpon dari Papi. Tapi sudahlah, ku buang dulu gadis ini.
“Kau tertarik dengan senyumku? Pemuda bodoh.” Kata-katanya membuyarkan lamunanku. Tepat sekali dengan apa yang baru saja ku puji dari nya.
“Kau ngomong apa? Jangan mengada-ada! Mana mungkin aku tertarik dengan senyum dari gadis menyebalkan sepertimu? Cepat katakan di mana rumahmu. Aku bisa mati lama-lama berada di sini denganmu.”
“Kejujuran palsu! Putar balik ke belakang. Cari gang kamboja, masuk kesana lalu berhenti di depan gerbang warna cokelat keemasan dan dengan cat tembok hitam berhias putih batu.” Segera ku putar balik mobilku. Aku berjalan menuju alamat yang ia katakan. Sengaja aku diam. Tapi kali ini, bukan karena aku marah. Aku hanya berusaha mengingat alamat yang baru saja ia jelaskan.

Dengan sisa waktu yang ada, kupasrahkan diriku untuk kembali ke rumah. Aku mengambil HP di saku ku. Langsung saja ku angkat telpon dari Papi. “Iya, Pi.”
“Kemana saja kau ini? Cepat pergi ke Restaurant Delicious. 15 menit lagi Om Luckiy akan datang bersama putrinya. Kau harus sudah datang sebelum mereka.”
Tut… tut.. tut…
Belum juga aku berbicara Papi sudah menutup telponnya. Apa-apaan ini? Apa aku benar-benar jadi dijodohkan? Secepat ini? Oh, tuhan… rencana apalagi ini? Belum juga aku bertemu dengan gadis itu, mereka sudah menjodohkanku. Apa menurut mereka aku ini pemuda yang tidak laku?

Kupercepat laju mobilku. Kulewati jalan tikus ini. Meskipun cukup sempit tapi ini jauh 25 menit akan lebih cepat sampai, daripada aku harus melewati jalan panjang biasanya. Dugaanku benar. Aku hampir saja terlambat. Dengan memarkirkan mobilku secara paralel, aku keluar dari mobilku. Kulihat jam tangan yang melingkar di tangan kiriku. Kurang 5 menit. Artinya, aku tepat datang lebih awal dari Om Luckiy maupun gadis jelek yang akan mereka kenalkan denganku malam ini.

Kucari di mana Papi memesan meja. 2 menit berjalan kurasa itu mereka. Kuhampiri mereka dengan langkah raguku. Tanpa menyapa mereka, kutempati kursi kosong di depan mereka. “Bastian!” teriak seorang laki-laki paruh baya dari sudut kanan. Baru saja aku duduk. Ia sudah datang. Itu Om Luckiy. Tapi kulihat ia datang sendiri, bukan bersama gadis jelek yang ada dalam pikiranku.
“Oh, kau Luckiy! Kau sendirian saja? Mana Barbie mu?”
“Tentu saja tidak. Ia sedang di kamar mandi. Nanti juga ke sini. Ini Rendiy yang dulu jelek itu?” hah? Aku jelek? Bagaimana bisa? Benarkah orang ini sudah mengenal keluargaku sebelum aku bisa memanggil nama kedua orangtuaku?
“Tampan bukan? Haha.. duduklah. Lama sekali kita tak ngobrol.”
Aku merasa kaki ini begitu gatal. Kutundukkan kepalaku. Kugaruk kaki ini dengan tangan kiriku. “Selamat malam Om, Tante.” Terdengar suara gadis di dekatku. Sepertinya aku kenal dengan suara gadis ini. Dengan rasa penasaranku yang tinggi, kuangkat kepalaku ke atas. Untuk melihatnya. “Kau???” Papi, Mami, dan Om Luckiy jelas kaget. Bagaimana tidak? Menurut mereka mungkin kami belum pernah bertemu. “Kalian sudah saling kenal?” Mami mulai angkat bicara.
“Tidak! Mana mungkin aku mengenalnya. Mungkin anak Tante pernah membayangkan wajahku sebelumnya.” Jawab gadis itu. Jawabannya membuat telingaku panas. Bagaimana bisa gadis ini melontarkan kata-kata menjijikan seperti itu di depanku?

Makan malam yang menyebalkan. Sepertinya tuhan tidak mengabulkan do’aku. Sehingga aku harus bertemu gadis ini lagi. Gladies Carroline. Susah sekali namanya. Seperti orangnya. Tuhan, tidak bisakah kau kabulkan doaku? Aku terkejut ketika mereka mengatakan kalau gadis ini akan tinggal di rumahku. Meskipun mereka memberi waktu 2 bulan untuk aku berdekatan dengan gadis ini, tapi aku tak bisa membayangkan hidupku ke depannya kalau aku harus tinggal serumah dengannya. Setiap kali ku tatap raut wajah gadis ini pasti wajahnya dingin. Mungkin memang benar, gadis ini mati rasa. Beginikah rasanya Siti Nurbaya yang dipaksa untuk menikah? Tapi apa gadis ini merasakan hal yang sama denganku? Hah.. sepertinya tidak.

Jauh dari yang kuharapkan. Gadis ini benar-benar menghancurkanku. Skripsiku amburadul. Band ku pun begitu. Sering aku berfikir, ini semua gara-gara gadis itu. Tapi kalau kupikir-pikir, gadis itu tidak 100% menyebalkan. Dia cukup dewasa untukku. Dia juga bisa menerimaku apa adanya, meskipun ia tahu kalau sampai detik ini aku belum juga bisa menyayanginya. Ya, jawabannya aku masih sangat sayang dengan Melodiy.

Akhir-akhir ini ada yang aneh denganku, tiap kali ada kejadian yang aneh di hidupku. Mungkin karena sudah hampir 2 bulan ini aku bersama Gladies. Mulai dari saat Gladies membantuku mengerjakan skripsiku lalu ia tertidur di depan komputerku, waktu aku dan dia main kartu dan aku sering mencoret wajahnya dengan Lipstick. Sampai saat aku dan dia menonton televisi dan dia tertidur di pundakku. Aneh, benar-benar aneh. Aku sering memuji keindahan wajahnya. Kadang jantungku begitu cepat berdetak ketika aku melihat ia tertidur.

Minggu sore ini, aku pergi ke makam. Seperti kebiasaanku. Dengan membawa bunga mawar putih kesukaannya. Aku pergi dengan rasa bangga. Entalah. Aku ingin cepat-cepat bercerita dengannya. Aku senang sekali hari ini. Mungkinkah karena Gladies? Aku belum tahu. Yang jelas aku tersenyum hari ini.

15 menit berlalu. Aku berlari-larian kecil menuju makam Melodiy. Ku duduk dan ku belai nisannya. Kuceritakan semua yang kurasakan. Plong rasanya kalau aku bercerita dengannya. Sambil kuingat wajahnya. Melodiy Natasya. Gadis pertama yang kupuji karena kelembutannya. Belum pernah aku bertemu gadis selembut dia. Yang kusuka darinya adalah senyum manisnya. Beda sekali dengan gadis yang saat ini ada di hidupku. Berkali-kali aku dibuat kesal olehnya.
“Mel, bagaimana? Dari ceritaku tadi apa kamu juga akan bilang kalau aku ini cocok dengannya? Tidak kan Mel? Tolong bilang kalau cuma orangtuaku saja yang bilang begitu. Dia bukan hanya menyebalkan Mel, tapi dia termasuk mimpi burukku. Tapi Mel, jujur kadang aku merasa kalau di dirinya ada kamu. Dia juga menyukai bunga yang sama dengan mu. Mawar putih. Dan kamu tahu? Di belakang rumah ku banyak sekali bunga itu, Mel. Gladies yang menanamnya 1 bulan yang lalu. Menurutmu kalau aku mulai berniat menganggapnya sepertimu boleh tidak?” Dengan banyak pertimbangan, kulontarkan kata-kata itu di depannya. Semoga Melodiy menyetujui niatku.

Cerpen Karangan: Anna Safitri
Blog: http://annasafitry.blogspot.com
Facebook: Anna Shieceweriengkieh dan Anna Shiehatiedingien

Nama: Anna Safitri
Kelas: 3 smk (SMK N 1 SAPTOSARI)
twitter: @Anna_phusiy
email: annasafitry97[-at-]gmail.com

Cerpen Bukan Untukku (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menunggumu

Oleh:
Mataku menerawang entah ke mana. Pikiranku kosong, benar benar kosong. Aku melamun sangat lama. Aku penasaran dengan siswa baru yang akan mendatangi kelasku. Semoga laki laki. Yah, inilah aku,

Kopi Tanpa Cream

Oleh:
Jomblo itu kenapa identik dengan kegalauannya ya? Galau sendiri, Apakah aku sedang galau sekarang? Karena aku jomblo? Ya aku akuin memang aku jomblo, atau single, tetapi aku tidak pernah

Bunglon Hitam Putih 4: Galau Level 7

Oleh:
“Tok… Tok… Tok… Nnngngg… Cekiitt… Jebloggg…” Suara pintu itu terdengar. Seseorang berparas cantik menginjak lantai kala itu, mata birunya jelas tersorot cahaya matahari. Selanjutnya dia masuk kekamar Rizky dan

Aku yang Akan Jadi Cerminmu

Oleh:
Aku membuka mataku, namun rasanya berat sekali. Mungkin karena aku masih mengantuk. Iya, tadi malam aku pulang terlalu malam karena Anthony mengajakku ke rumahnya untuk dikenalkan kepada orangtuanya. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *