Bukan Untukku (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 17 August 2014

Hari semakin petang. Segera kukembali ke rumah. Pikiranku melayang. Entalah apa yang kupikirkan. Aku butuh waktu sendiri. Kali ini aku tak langsung pulang. Aku menuju sebuah taman yang cukup ramai pengunjung. Dengan jalanku yang gontai, kuhempaskan tubuhku ke rumput taman. Mungkin ini yang sering dikatakan anak-anak remaja GALAU. Kutatap langit sore kali ini. Udara dingin mulai menusuk tubuhku yang terbalut jaket sekalipun.

“Bisakah kau katakan padaku tentang indahnya pikiranmu sore ini?” Sapaan yang cukup mengagetkan dan membuyarkan lamunanku. Ku beranjak dari posisi tidurku. Betapa terkejutnya aku. “Ngapain kamu disini?” Aku terkejut melihat gadis ini. Kenapa gadis ini pasti ada saat keadaan apapun. Mirip hantu yang rindu akan kuburannya. Ia bisa datang kapanpun ia mau.
“Kau kaget?”
“Masih nanya! Jelaslah. Jangan bilang kau mengikutiku.”
“Memang. Mungkin kamu saja yang tidak merasakan keberadaanku.” Kutatap gadis ini. Buat apa gadis ini mengikutiku? Aneh sekali. “Kau masih bingung? Tadi aku nanya sama tante, tapi tante bilangnya tidak tahu. Aku ingat, ini kan hari minggu. Mungkin kau di makam. Aku menyuruh Pak Toro untuk mengantarku ke makam. Ternyata benar kau ada di sana.” Jelasnya lalu menatap ke arahku. Tak lupa ia hiasi tatapan itu dengan senyumannya. Lagi-lagi aku terpesona dengan senyum manisnya. Ingin rasanya aku menghapus do’a jelekku. Dan berdo’a kembali agar gadis ini menjadi takdirku. Ah, tapi aku ini mikir apa? Semanis apapun senyum gadis ini, tetap saja ia menyebalkan.
“Kenapa diam? Tidak bisakah kau memahami penjelasanku?”
“Bukan! Aku paham. Tapi untuk apa kau mengikutiku? Kau merindukanku?”
“Haha tentu saja tidak! Tapi, apa perlu ku jawab pertanyaanmu?!” Lagi-lagi pertanyaanya membuatku bingung. Sebenarnya perlu tidak sih? Jika ku jawab perlu aku ini kepo bukan? Ah, persetan dengan jawabanku.
“Seperti yang kau ceritakan di makam kekasihmu. Aku ini gadis menyebalkan bagimu. Aku sering menjailimu. Aku juga mimpi burukmu. Begitu juga dengan malam ini, terasa gatal kalau aku tak buat hidupmu sebal sedetik saja. Itu alasanku mengikutimu.”
“Jadi kau mendengar semuanya?” tanyaku dengan khawatir. Tiba-tiba saja aku khawatir kalau ia marah pada ku. Hey, tapi aku ini kenapa? Apa aku mulai menyukai gadis menyebalkan ini? Oh, tidak!
“Kenapa kau bertanya seperti itu, bodoh? Kalaupun aku mendengar semuanya kau akan tetap memanggilku gadis menyebalkan bukan?” jawabnya masih dengan senyum itu. Ya tuhan. Manis sekali gadis ini. Sebenarnya ia tak selalu menyebalkan, hanya saja tiap kali aku bertemu dengannya ada saja yang aku dan dia ributkan.
“Oh, iya. Bagaimana dengan Melodiy? Gadis mawar putih yang kau sayangi?”
“Aku merindukannya. Sangat merindukannya.” Dengan spontan kata-kata ini muncul begitu saja. Tanpa melihat reaksi wajahnya, kuteruskan ceritaku. Karena menurutku raut wajahnya akan tetap sama saja seperti yang kulihat sebelumnya.
“Dulu, aku sering ke sini dengannya. Tapi, sama temen-temenku juga. Dia pasti langsung duduk di sini, dia ngajak aku pejamin mataku selama 5 detik. Dan kamu tahu ketika aku membuka mataku?”
“Apa?”
“I love you.” Ucapku sambil menatapnya dalam. Ada apa ini? Jantungku begitu cepat berdetak. Tatapan gadis ini begitu tajam. Tidak! Mana mungkin aku menyukainya. Tadi aku bicara apa padanya?
“Oh maaf. Tadi kata-kata Melodiy yang ia lontarkan saat aku membuka mataku.” Aku akui, aku gugup bicara padanya. Tuhan kalau akhirnya gadis ini untukku, jadikan perasaanku ini indah ketika melihatnya.
“Aku tahu. Santailah, tak perlu segugup itu. Aku tidak akan berfikir kalau kata-kata itu akan kau ucapkan untukku. Mana mungkin? Mustahil bukan?”
“Kau tidak marah denganku?” tanyaku penuh dengan hati-hati.
“Tidak. Untuk apa aku marah denganmu? Mungkin kau bukan untukku. Begitupun sebaliknya. Jangan pikirkan aku. Tetapkan saja dulu perasaanmu.” Sungguh! Benarkah ini gadis yang selama ini menyebalkan itu? Secepat inikah ia berubah? Atau aku saja yang selama hampir 2 bulan ini tidak sadar kalau hatinya memang sebaik ini.
“Aku akan jadi sahabatmu, Rendiy. 2 minggu lagi hari itu akan tiba. Tapi kau tenang saja, hari itu tidak akan pernah ada. Aku sudah bilang sama keluargamu dan Papi. Aku termasuk sahabat yang baik buatmu bukan?”
“Tidak Gladies. Kita akan tetap tunangan. Kau akan jadi istriku, bukan sekedar sahabatku.”
“Kau yakin kalau aku mau jadi istrimu? Keterpaksaan bukan jawaban, Rendiy. Sudahlah. Bisakah kau ceritakan padaku tentang bintang kesukaanmu? Ceritalah apapun padaku, agar aku dapat merasa berarti di sini malam ini. Tentu saja untukku sendiri, bukan berarti untukmu.”
Gadis ini benar-benar mampu buatku takjub. Bingung. Siapa dia? Sudah hampir 2 bulan aku bersamanya. Namun, belum juga aku mengenalinya. Mungkin selain nama, aku hanya tahu kalau gadis ini menyebalkan. 2 minggu lagi aku sebenarnya akan tunangan dengannya. Huh, baiklah. Mulai besok atau justru malam ini aku akan memulai menganggapnya Melodiy. Sesuai niatku.
“Aku bukan penyuka bintang. Aku jauh lebih suka vampir daripada bintang. Vampir jauh lebih bisa hidup lama dari pada manusia. Hanya saja mereka akan musnah ketika matahari dan bawang putih menyentuhnya. Cancer, Capricorn, Taurus, Gemini, ataupun sebangsanya menurutku tidak ada yang menarik. Tapi itu menurutku. Kalaupun itu menarik, pasti hanya menarik sebelah mata saja. Lihat disana, Dies! Menurutmu itu bintang apa?” tanyaku padanya ketika aku merasa ceritaku sudah cukup panjang. Kutengok gadis yang duduk di sampingku. Pantas saja ia tidak berbicara. Sebenarnya sedikit tidak sopan. Membiarkanku bicara sendiri seperti burung yang sedang asyik dengan ocehannya. Semakin lama kutatap gadis ini, rasanya ingin tersenyum. 3 kali aku melihatnya terpejam. Pertama saat membantuku menyelesaikan skripsiku, kedua saat menonton televisi dan ketiga malam ini. Apakah ini yang dikatakan berarti untukku? Haha gadis bodoh!
Kulepas jaket yang kukenakan untuk kulingkarkan ke tubuhnya. Badannya yang cukup kecil, membuatku berfikir untuk menggendongnya. Ini pertama kalinya aku menggendong seorang gadis. Bahkan belum pernah kulakukan dengan Melodiy sekalipun.

“Rendiy, tapi aku tak pantas pakai gaun-gaun ini. Aku tidak nyaman. Boleh tidak aku ganti baju?” Aku melihatnya mirip bidadari. Cantik sekali gadis ini. Rasanya Melodiy hidup kembali. “Rendi, boleh ya?” Tanyanya dengan wajah yang ia tekuk kusut.
“Kau lebih cantik kalau seperti ini. Sudahlah, biasakan saja memakai pakaian feminin. Kau terlihat anggun. Percayalah.” Kali ini aku mulai berani memujinya. Kurasa dengan gaun warna putih dan aksesoris putih ia akan terlihat jauuuh lebih cantik dari Gladis yang sebelumnya. “Kita pergi sekarang. Jangan tanya ke mana, cukup diam dan turuti saja mauku.”
Aku menggandeng tangannya. Rencana siang ini aku akan mengajaknya makan siang dan menonton film kesukaan Melodiy. Sempurna. Ia sungguh mirip Melodiy.

Kupercepat laju mobilku. Aku berhenti di sebuah Restaurant yang dulu menjadi tempat favoritku dengan Melodiy. Kupesan makanan dan minuman kesukaanku dan Melodiy. 5 menit pesananku pun datang. “Tada…” ucapku girang di depannya. Tapi wajah gadis ini masih saja dingin. Setidaknya ia membalas senyumku atau apalah. Uh, memang pantas dipanggil gadis menyebalkan. “Aku alergi udang, Ren. Aku juga tidak suka dessert rasa vanila. Boleh tidak kalau aku pesan sendiri?”
“Apa-apan kamu! Ini sudah kubayar mahal. Sudahlah, Melodiy saja suka kok. Kau jangan suka memilih-milih makanan.” Tanpa berfikir sedikitpun, kulontarkan kata-kata ini di hadapannya. Sempat kulihat dia terdiam. Tapi pikirku, mungkin itu hanya sebagian dari raut wajah biasanya. Aku memang menyamakannya dengan Melodiy. Dan ini pertama kalinya aku berani menggertaknya.

Ada yang aneh denganku. Kenapa aku merasa ada yang kurang saat Gladies tak ada. Sudah 3 hari ini Gladies tak ada disini. Ia bilang padaku akan kembali besok pagi. Sebenarnya kalau kupikir-pikir, tidak ada yang penting darinya. Tapi entalah. Rasa ini seperti aku rindu akan kehadirannya. Aku mencoba masuk ke dalam kamarnya. Aneh. Ada yang kurang di sini. Tapi kenapa kamar ini begitu bersih? Apa Gladies sudah tidak disini?

Aku membawa bingkisan untuk Gladis. Aku rasa dengan gaun-gaun dan aksesoris ini ia akan menyukainya. Aku mulai tancap gas mobilku menuju rumah Gladies. Belum sampai aku di rumahnya. Aku merasa melihat Gladis bersama laki-laki yang tak asing untukku. Dengan cepat kuinjak pedal rem mobilku. Aku turun dari mobil dan menghampiri mereka. Tak lupa kubawa bingkisan itu saat aku keluar dari mobilku.
“Gladies.” Sapaku padanya. Benar sekali. Ia memang Gladies. Laki-laki ini sahabatku. Rasta. Tapi ada hubungan apa Rasta dengan Gladies. Kuganggu mereka saat mereka tengah asik bercanda.
“Hey, Rendiy! Ternyata kau. Ada apa?” Gladies menghampiriku dengan menggenggam jemari Rasta. Ada yang aneh dengan hatiku. Tuhan.. apa ini jawabannya? Apa aku memang mulai menyukainya?
“Oh, tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya akan memberimu ini.” Kuulurkan bingkisan itu dari tanganku. Semoga ia menyukainya. Kulihat wajahnya begitu ceria saat melihat bingkisan itu. “Apa ini, Ren? Boleh ku buka?” dengan cepat kuanggukan kepalaku. Berharap ia akan benar-benar menyukainya. Namun, kenapa raut wajahnya berubah murung?
“Kau tidak menyukainya?”
“Ah, tidak. Tenanglah. Aku menyukainya. Aku akan memakai gaun-gaun ini ketika bertemu denganmu. Kau akan bahagia kalau aku sama dengan Melodiy bukan?” ucapnya masih dengan senyumannya. Tapi kali ini ia tak senyum manis. Tak biasanya ia seperti ini. Ah, mungkin ini hanya pikiranku saja.
“Besok kau akan kembali kan, Dies?”
“Kenapa?” tanyanya dengan tatapan tajamnya. Buatku ikut hanyut menatapnya.
“Aku… Aku…”
“Aku akan kembali, bodoh.” Ucapnya memotong kata-kataku. Senyumku muncul menghiasi wajahku. Pertama kalinya aku terlihat bodoh di hadapannya.

1 minggu lebih aku merasa sepi. Tak ada Gladies maupun melodiy di sini. Gladies bilang ia akan kembali ke rumah ini. Tapi apa maksudnya membohongiku seperti ini? Apa aku begitu jahat di matanya? Hey, tapi aku ini kenapa? Bukankah harusnya aku ini senang karena sudah tidak ada lagi gadis menyebalkan yang selalu mengganggu aktivitasku? Rendiy, ayo semangat. Kau ini laki-laki. Kulihat ponsel di tanganku. Tanggal 18. Esok harusnya aku bertunangan dengan Gladies. Tapi saat ini gadis itu sama sekali tidak muncul di depanku. Tuhan.. aku merindukannya. Sungguh!
Ku pandangi taman ini. Banyak sekali bunga mawar yang layu sejak kepergian Gladies. Hem. Bahkan bunga pun tahu apa yang kurasakan. “Hey, bodoh! Apakah kau merasa berat untuk menyiram tanaman ini?” Sapa seseorang di belakangku. Aku memutar tubuhku. Senyumku mulai tampak. Bagai matahari yang muncul tepat pukul 12 di musim panas. “Gladies!” Aku berteriak kegirangan. Kuhampiri gadis itu.
“Kemana saja kau selama ini?”
“Kenapa? Kau merindukanku?”
“Tidak! Mana mungkin aku merindukanmu. Aku hanya… aku..”
“Apa?”
“Aku hanya tidak suka dibohongi. Kau bilang, kau akan kembali esok hari ketika saat itu kita bertemu. Aku menunggumu. Bunga-bunga ini juga menunggumu.” Tak kulihat senyum di wajahnya. Tak kulihat pula kalau ia akan menanggapi ucapanku. Pandangannya tertuju dengan beberapa bunga di depannya. Ku perhatikan wajahnya. Benar sekali, aku memang rindu dengannya. Lama sekali rasanya aku tak merasakan jail-jailannya. Kali ini ia tak menatap bunga-bunga itu. Ia merogoh dalam tas nya. Entah apa yang ia cari tapi terlihat begitu sibuk.
“Em, Dies! Sudah seminggu ini ak..”
“Ini.” Belum juga kata-katakuu selesai ku ucapkan. Ia sudah memotong kata-kataku dengan memberiku sebuah kertas berhias pita dan plastik transparan. Undangan pernikahan! “Apa ini, Dies?” tanyaku padanya. Namun tak kudengar jawaban darinya. Kubuka surat undangan yang kini di tanganku. Betapa sakitnya aku. Ketika aku benar-benar mencintainya, aku harus mengalami hal ini lagi. Aku harus kehilangan cinta yang ingin kumiliki.
“Minggu depan aku akan menikah, dengan Rasta, Ren. Ku harap kau akan datang ke acara pernukahanku.” Bagaikan petir di musim penghujan. Kalimatnya begitu sakit. “Maaf, aku sangat mencintaimu. Tapi ku rasa kau tak merasakan hal yang sama denganku. Kau hanya cinta dengan Melodiy. Sampai hal terkecil yang ada pada Melodiy harus kau adakan pula di diriku.” Lanjutnya kemudian. Tega sekali meninggalkanku lalu menikah dengan laki-laki lain. Yang sudah jelas, itu sahabatku sendiri. Aku masih terdiam. Dengan perlahan tak kurasa air mata ini menetes. Tuhan.. aku sadar, tindakanku selama ini memang salah. Aku tatap gadis yang ada di hadapanku ini. Aku tidak pernah berfikir kalau gadis ini akan benar-benar pergi. Bahkan aku tidak pernah berfikir kalau akhirnya akan begini.
“Bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir? Gladies carroline.”
Setelah ku lihat gadis ini menganggukan kepala, tanpa pikir panjang aku langsung memeluknya. Entah apa lagi yang akan terjadi padaku ke depannya jika gadis menyebalkan yang ada di pelukanku ini pergi. Ku pererat pelukanku. Tanpa ku sadari air mataku membasahi baju tipisnya. Tuhan.. jika memang gadis ini bukan takdirku, akan ku terima. Tapi setidaknya izinkan aku mengobati rasa sakit ini dengan adanya dia di sini

Senja..
Ceritakan padaku tentang senyummu
Bisikan aku tentang indahnya warnamu
Tunjukkanlah padaku, kau jauh lebih indah dari pelangi pagi ini..
Selepas kau tidur..
Tunjukanlah aku rembulan malam hari
Yang akan slalu ku lihat ketika kau beranjak pergi…
Tunjukan aku bintang malam hari..
Yang akan ku ajak bicara ketika petir tampakan diri
Percayalah..
Aku ini burung yang berusaha ingin menjadi temanmu..
Aku ini ranting yang ingin slalu merasa nyaman dengan sinarmu..
Bukan hujan dengan petir ini..
Bukan hujan tanpa angin ini..
Dan..
Bukan dengan kepergianmu ini…
Tapi, yakinkanlah aku..
Seusai hujan ini reda,
Akan ada pelangi di wajah ini…

Cerpen Karangan: Anna Safitri
Blog: http://annasafitry.blogspot.com
Facebook: Anna Shieceweriengkieh dan Anna Shiehatiedingien

Nama: Anna Safitri
Kelas: 3 smk (SMK N 1 SAPTOSARI)
twitter: @Anna_phusiy
email: annasafitry97[-at-]gmail.com

Cerpen Bukan Untukku (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Change

Oleh:
Kulangkahkan kaki jenjangku di lorong sekolah menuju kelasku. Dengan mata terfokus pada sebuah novel yang sedang kubaca ini, kupercepat langkah kakiku. Banyak pasang mata yang memandang tidak suka denganku.

Salah Paham

Oleh:
Tak diragukan lagi, cinta memang bisa hingap ke hati siapa pun. Tak terkecuali oleh pasangan kekasih Martha dan Nirwan. Mereka sangat mesra dan mencintai satu sama lain. Martha adalah

Maafkan Aku

Oleh:
Aku adalah seorang anak yang pendiam. Namun, entah apa yang membuatku tiba-tiba berubah menjadi anak yang ramai atau hiperaktif dengan sendirinya, mungkin karena ada seorang laki-laki yang tiba-tiba mendekatiku

Cinta Sembilan Tahun Silam

Oleh:
“Lihat Dimas, dia.. Astaga! Tampan, maskulin, pandai bermain basket, dan selalu mempesona.” Ucap Nabilla dengan sungguh-sungguh. “Key, lihatlah! Kau ini, kenapa melamun terus?” lanjutnya sambil menggoncang-goncang tubuhku. “Kau sudah

Penantian Yang Sia Sia

Oleh:
Di sebuah taman, duduklah dua orang sahabat yang sangat akrab. Mereka duduk di bangku dekat pohon yang cukup besar. Dari awal mereka duduk sampai sekarang, mereka masih saja membisu.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Bukan Untukku (Part 2)”

  1. Shandry says:

    Bagus2 smua carpenx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *