Cinta Diam Diam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Galau, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 17 October 2013

Awalnya jantung ini masih berdetak normal seperti biasanya saat pertama kali melihatmu. Namun tiba-tiba saja saat pertama kalinya kamu berbicara padaku, rasanya jantung ini siap-siap lepas dari tempatnya. Aku takkan pernah lupa tanggal 17 July 2013 dimana hari itu hari pertama kali kita bertemu, pertama kalinya kamu berbicara dan menatap mataku, dan pertama kalinya kita pulang bareng. Hari itulah memulai segalanya. Memulai diri ini menyukaimu.

23 Agustus 2013
“Shillaaa!!!” teriak seseorang memanggilku. Aku menoleh mencari sumber suara itu. ah ternyata Yusuf sahabatku. Aku melambaikan tanganku padanya. Aku masih berdiri di depan kelasku menunggu Yusuf yang akan menghampiri.
“haiii apa kabar sup?” tanyaku.
“baik-baik, kamu gimana? Ya ampun udah lama ga ketemu hahaha” jawab Yusuf
“yaaa not bad. Iya ih sibuk sih kamunya” kata ku sambil memukul pelan tangannya.
“aww gila!! Bukannya kamu yang sibuk ya sama pacar baru?” tanya Yusuf. Ah iya seminggu setelah pertemuan aku dengan si ‘Dia’ aku memang berpacaran dengan teman sekelasku. Padahal awalnya aku masih berharap agar aku bisa kenal dekat dengan si ‘Dia’ namun nyatanya? Tak seperti yang diharapkan.
“hahaha i forgot to tell you. We break up yesterday” jawabku sambil tersenyum
“whoaaa? Really? Why?” tanya Yusuf. Sebelum aku menjawab, tiba-tiba saja…
“sup! Padus kan?” seorang laki-laki berkacamata menepuk pelan bahu Yusuf dari belakang, dan si laki-laki itu ternyata… si ‘Dia’ pujaan hatiku yang dulu. Ah sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya, dan dia makin tampan saja membuat jantung ini kembali berdetak kencang dan siap lepas dari tempatnya. Ada apa denganku?
“iya Vin. Ayooo kita paduan suara” jawab Yusuf. Dia menatapku dan tersenyum. Demi Tuhan!! Ia tersenyum padaku, Oh God…
Aku pun membalas senyumnya dan aku menyapanya, “hai Vin” kataku
“hai” jawabnya. ‘deg deg deg deg’ Tuhan tolong jangan biarkan jantung ini terbang
“lo ikut paduan suara sup? Yakin gak bakal rusak tuh speaker? wkwkwk” canda ku kepada Yusuf.
“ya enggak lah lo belum tau aja suara gue gimana” jawab Yusuf. Aku hanya tertawa. Dia menatapku, “kamu ikut paduan suara juga?” tanyanya
“haha engga vin, suara aku gak bagus hehehe” jawabku masing dengan jantung yang siap terbang
“hahaha gapapa kali ikut paduan suara aja yuk” katanya sambil memegang punggungku ya seperti merangkul. Tau kah? Saat itu jantung ku benar-benar terbang.
“ah engga ah hahahhaa” jawab ku agak salting. Dia hanya tersenyum
“ya udah dadah Shilla kita mau ke kelas atas dah” kata Yusuf sambil berlalu. Dan dia lagi-lagi tersenyum. Demi apa pun aku mulai jatuh cinta kepadanya lagi, mungkin?

Aku menatap langit malam di teras rumahku. Bintang-bertaburan di langit. Sambil mendengarkan lagu dari Ipad ku, aku mengingat-mengingat kejadian tadi sore. Mengingat tentang dia. Ah ya aku lupa menyebutkan namanya. Namanya Alvin anak kelas sebelahku. Aku bertanya-tanya apa iya jika aku mulai jatuh cinta kepadanya lagi? Unbelieveble. aku pun mengirim sms kepada Yusuf tentang hal ini.

To: Yusuf
Masa aku suka lagi sama Alvin?

Tak lama kemudian satu sms masuk ke handphoneku.

From: Yusuf
Besok aku berangkat bareng kamu, sama dia juga. Aku kirimin no dia ya. Kamu sms dia oke, kalian janjian dimana gitu kan rumah kalian ga begitu jauh. Gak usah banyak omong buruan sms dia.

Sedikit kaget saat Yusuf membalas sms ku seperti itu. tapi apa yang harus aku lakukan? Aku juga senang jika besok aku bisa berangkat bareng dengannya.

Aku memegang layar Hpku. Melihat sederet angka nomor Hp. Agak ragu untuk mengirim sms padanya. Namun akhirnya…

To: Alvin
Alvin, ini shilla. Besok kamu bareng sama yusup kan? Aku bareng yusup juga. Bareng ya

Keringat dingin membasahi tanganku saat sms itu telah terkirim. Memang lebay namun memang kenyataannya begini. Tak lama kemudian sebuah sms masuk…

From: Alvin
Ohehe, oke Shilla. Besok kamu tunggu di deket jalan yang banyak angkot ya. Nanti aku sms kamu kalau aku udah berangkat?

DIA MEMBALAS!! PAKE EMOT SENYUM!! Ahhh aku tersenyum senyum sendiri membacanya. Ah can’t wait tomorrow!!!

Kini aku berdiri di trotoar menunggu Alvin. Dari tadi jantung ini terus berdetak dengan kencangnya. Aku tak tau bagaimana jika bertemunya, di angkot berdua sampai tempat Yusuf menunggu kami. Tak bisa kubayangkan. Aku takut. Aku takut mentapa matanya. Karena aku tau, aku akan salah tingkah dan jantungku pasti terbang jika aku dan dia saling bertatap. Aku memperhatikan setiap angkot berwarna kuning yang melintas, siapa tau itu angkot yang ia tumpangi. Akhirnya dari beberapa angkot yang melintas aku melihatnya di dalam angkot. Ia melambaikan tangannya dan tersenyum kepadaku. Dia tersenyum (lagi) ia berhasil membuatku terbang, bukan jantungku lagi yang terbang tapi diriku juga ikut terbang. Aku segera menaiki angkot yang ia tumpangi. Aku duduk di hadapannya.
“maaf nunggu kamu lama, angkotnya tadi ngetemnya lama” kata Alvin
“gapapa Vin woles aja.” Jawabku, aku mencoba untuk menahan rasa gembira aku. Aku harus bisa menahannya. Jika tidak, berabe dah urusannya.

Sudah dua bulan ini, aku makin dekat dengan Alvin setiap hari kami berangkat dan pulang bareng. Bareng Yusuf juga sih, aku tidak bisa membayangkan jika tidak ada Yusuf. Tak ada yang bisa membantu ku untuk menahan gembiraku. Dan sudah dua bulan ini, aku masih menyukainya. Masih memendam perasaan ini. Aku tak berani mengungkapkan perasaan ini padanya. Takkan pernah berani.

Pada tanggal 27 Agustus kemarin adalah hari terbaik yang pernah ada. Alvin mengajariku pelajaran matematika. Bukannya aku modus, tapi aku benar-benar tidak mengerti tentang materinya. Di angkot ia mengajariku dengan baik nya. Kami duduk berhadapan seperti biasanya. Jarak kami memang dekat. Jantungku mungkin sudah terbang saat ia mengajariku. Karena asik dengan matematika, kami sampai melupakan Yusuf. Hahaha kasihan sekali Yusuf sebenarnya. Namun aku juga masih ingin diajari matematika dengan Alvin. Haha agak modus sih, tapi kalau tidak begini, kapan lagi?

Akhirnya aku menyadari satu hal. Aku mulai menyayanginya. Dia yang tampan, baik, jenius, pintar, lucu, dan dia yang terkadang bertingkah seperti anak kecil. Entah sampai kapan aku memendam perasaan ini. Memendam rasa cemburu dan sakit saat ia sedang bersama cewek lain. Tapi, siapa dia? Pacar bukan. Untuk cemburu pun sebenarnya aku tak berhak. Mungkin aku akan tetap menyayanginya dengan seperti ini. Mungkin setiap hari nya aku akan terus jatuh cinta padanya. Ya, jatuh cinta diam-diam. Merasakan perasaan ini sendirian. Membiarkan perasaan ini tertuju padanya. Membiarkan namanya terukir indah di hati ini. Meskipun tanpa dia tau, bahwa ada aku yang menyukainya, menyayanginya sampai sedalam ini. Namun, aku takkan pernah membiarkan perasaan ini hilang, takkan pernah melupakan perasaan ini. Aku akan tetap membiarkan perasaan ini tertuju padanya. Hingga suatu saat nanti mungkin ia akan tau ada aku yang disini menunggunya dan menyayanginya.

The end

Cerpen Karangan: Syifa
Facebook: syifa faadillah
Hai let me introduce my self :). My name Asysyifa Faadillah Putri, you can call me Syifa. I school at Sman 1 Cimahi 😉 you can contact me on Syifa Faadillah, @syifafaadillahh @syifaadillh03 and also syifafaadillah{-at-]rocketmail.com thank you guys!!! 🙂

Cerpen Cinta Diam Diam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maaf Jangan Ditiru

Oleh:
Persahabatan 2 anak ini sudah cukup lama mereka jalankan, sebut saja Cetar dan Membahana, sekarang mereka duduk di bangku kelas 9, waktu itu adalah pemberitahuan jadwal pelajaran, mereka pun

Dia Memilihnya

Oleh:
Di suatu SMP kelas 2E, hiduplah seorang siswi bernama Berlin. Dia adalah gadis yang cantik dan baik hati. Dia mempunyai banyak teman karena dia ramah kepada siapapun. salah satu

Teman Masa Kecil

Oleh:
Seperti biasa, setiap minggu pagi aku duduk di balkon kamarku sambil menikmati teh hangat buatan Mama tersayang. Ini masih sangat pagi tapi aku sudah bangun dari tidur nyenyakku. Aku

Cinta Untuk Maura

Oleh:
Maura dengan hati yang berbunga menatap sendu lelaki yang baru saja menikahinya. Sesekali ia membelai cincin yang melingkar di jarinya. Laki-laki itu mendekat padanya. “Sayangku, sekarang kau jadi bagian

Balasannya

Oleh:
Riko, begitulah teman teman memanggilku. Aku sekarang bersekolah di salah satu SMP ternama di Jakarta. Kebetulan hari ini adalah masa penerimaan siswa kelas 7. Belum lama aku pindah dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Cinta Diam Diam”

  1. m ziaan says:

    baguss

  2. Yessica Sihombing says:

    Min, mau tanya dong. Ini cerpen di post kpan ya ? buat referensi tugas nih 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *