Cowok Gila Satu Itu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Galau, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 1 April 2014

“Ren, jalanmu terlalu cepat”, Andre berteriak sambil menguap karena mengantuk.
Mendengar teriakan Andre, Reni menjawabnya dengan sewot, “EGP”.
Kruuyuuk… kruuyuuk… “A… aduh… perutku lapar, aku belum sempat sarapan”
“Huh! Salahmu sendiri, siapa suruh kau pake’ acara jemput aku segala. Padahal aku sudah cukup stress dengan ulahmu di sekolah. Eh, malah beberapa hari ini kau mengganggu kehidupanku yang nyaman dan tentram tanpa kehadiranmu”, ungkap Reni marah-marah gara-gara cowok gila satu ini. (Cowok gila merupakan sebutan Reni untuk Andre).
“Reni, bukankah semua ini salahmu?”, tanya Andre
“Hah?!”
“Karena kau telah mencuri hatiku hingga aku…”
Deg… deg… deg… Detak jantung Reni berdebar cukup kencang, sebelum akhirnya ia menyela perkataan Andre, “He… hentikan, jangan berkhotbah disini. Kau memang satu-satunya cowok gila yang pernah kukenal. Nih, jangan coba ikuti aku. Aku mau pergi ke sekolah dengan selamat”, Reni berteriak sambil berlari secepat-cepatnya, kalau tidak cowok gila satu ini bisa-bisa mengejarnya dan membuat ulah. “Tidak tahukah bahwa penggemar-pengemar gila mu membuatku muak”, gumam Reni sambil terus berlari.
Sedangkan cowok gila satu ini tertegun melihat sang pujaan hati berlari pergi menjauhinya, sambil tertawa keras, “A… ha… ha… ha… Hari ini kau menyiapkan roti isi keju untuk ku… Heem, enak”.

F.Q. International High School, Ruang kelas regular 2 Bahasa 1
“Ren, dicari tuh”, teriak salah satu teman sekelas Reni.
“Hah! Siapa?”.
“Junior mungkin”, kali ini sahut Sasya teman sekelas sekaligus teman baik Reni.
Kemudian Reni beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu. “Em, ada perlu apa denganku?”.
“Sebelumnya perkenalkan dulu, namaku Dara dari kelas 1 IPA 2, dan ini temanku Yesika dari kelas yang sama”, terangnya dengan nada datar yang angkuh
Sejenak Reni berpikir, apa itu sikap yang baik terhadap senior mereka yang bahkan baru saja bertemu dan memperkenalkan dirinya secara singkat, hah sudahlah, “…Lalu?”
“Yesika menyukai senior Andre”
Deg… Mendengarnya detak jantung Reni berdebar lagi, “Te…terus?”
“Kami mau tanya apa hubungan Kak Reni dengan Senior Andre?”
“Hah!?”, Kenapa tiba-tiba menanyakan hal ini “Hubunganku… dengan Andre… musuh kali”
“Bukan begitu maksudku, apa Kak Reni pacaran dengan Senior Andre?”
“Hah!? Itu tidak mungkin, bisa ada perang dunia ketiga, Gossip dari mana lagi itu?”
“Kalau begitu kenapa Senior Andre selalu nempel sama Kakak?”
“Eh, enggak sih… Argh, tapi, mungkin iya soalnya dia diam-diam mau menusukku dari belakang. Mungkin…”
“Aku tidak tahu apa yang Kakak maksud! Kalau begitu, lebih baik Kakak jauhin Senior Andre mulai sekarang. Soalnya kalau tidak separuh siswi di sekolah ini pasti tetap akan salah paham terhadap hubungan kalian berdua”.
“Maunya sih begitu, tapi cowok gila satu itu… Aku tidak tahu apa yang ada di otaknya,”
“Saranku lebih baik Kak Reni cepat mengatakan bahwa semua hal yang dilakukan Senior Andre terhadap Kak Reni membuat Kakak terganggu. Apalagi, bukankah Kak Reni dirugikan oleh kelakuan Senior Andre?”
“Hah? Kenapa?”
“Bukankah nilai Kakak turun dari hasil ujian kemarin?”
“Iya, iya juga sih. Kalo’ dipikir-pikir sejak cowok gila satu itu bikin ulah, nilai ku memang ada yang turun sih”
“Plus bukankah Kakak juga direpotkan oleh penggemar Senior Andre yang menganggu Kakak selama ini”
“Kalau itu jangan tanya lagi, karena itu sudah sering terjadi”, ungkap Reni kesal
“Benarkan aku juga yakin Kakak tidak mempunyai perasaan apapun terhadap Senior Andre”, kali ini dia menatap temannya dan meyakinkannya.

Cinta memang membuat semua orang menjadi gila, Reni mencoba meyakinkan kedua junior tersebut yang kelihatannya sangat tertarik dengan cowok gila satu itu dan berharap keduanya mampu membuatnya menjauh darinya, “Padahal sudah kubilangin aku dan cowok gila satu itu seperti musuh bagai siang dan malam. Aku pun juga tidak pernah punya perasaan apapun terhadap cowok gila satu itu.

“Oh… begitu”, gumam Andre pelan.
Deg… deg… deg… Detak jantung Reni kembali berdetak kencang. Reni tidak menyadari bahwa sejak tadi Andre berada di ruang kelas sebelah dan mendengarkan percakapan mereka “Kau menguping?”, tanya Reni.
“Bukannya menguping, tapi terlanjur dengar”, Andre mengelak
Sama saja kan, gumam Reni pelan setelah menghela nafas cukup panjang
“Hem…”, Andre berpikir sejenak mengenai apa yang ia dengar baru saja. Melihat Andre yang tiba-tiba terdiam, membuat detak jantung Reni berdebar lebih kencang beberapa kali lipat. Lalu Andre bertanya kepada Reni, “Ren… apa selama ini kelakuanku amat sangat merepotkanmu?”
”Kalau aku bilang tidak, berarti aku berbohong…”, jawab Reni sambil mengontrol detak jantungnya agar kembali normal.
“…Begitukah?… Maafkan aku kalau begitu”
“Ya”
“… Oh ya Ren, sekali ini saja, bisa kau memanggil ku Andre. Kau tidak pernah memanggilku dengan namaku, kau pun selalu menyebutku dengan sebutan cowok gila satu ini satu itu”, ungkap Andre dengan menatap serius kepada Reni.
“Eh…”, Reni terdiam dan berpikir, ia tidak menyangka bahwa selama ini ia tidak pernah memanggil dan menyebut nama Andre. Reni berkata dalam hatinya, bahwa ia harus mengakhiri semua ini dengan memanggil nama Andre, “,”. Tapi suara Reni tidak bisa keluar.
“Sebegitu bencinya kah kau terhadapku, Reni?”, tanya Andre. Reni berusaha untuk membuka mulutnya, namun ia tidak bisa. Ia gemetar dan tidak tahu harus berbuat apa. Reni menatap Andre, Bibir Andre bergetar dan wajahnya tidak tampak bahwa ia baik-baik saja. Reni hanya bisa menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan bahwa ia tidak tahu, apa ia membenci Andre atau tidak. Selama ini Reni selalu beranggapan bahwa semua kekonyolan Andre membuatnya stress. Namun entah sejak kapan jantung Reni mulai berdetak semakin kencang bila ia berada di dekat Andre. Sayangnya, Reni beranggapan bahwa itu adalah sebuah pertanda bahwa Reni harus menjauhi Andre.
“Hu… hu… Lucu sekali”, Andre berjalan pergi, ia tertawa tapi matanya tidak, ada rasa sakit yang tak dimengerti oleh Reni.
“Kalau begitu kami juga permisi, ayo Yesika…”, terang kedua junior yang ikut mendengar percakapan Reni dan Andre barusan. Keduanya berlari mengikuti Andre.
Sedangkan Reni masih tidak mengerti apa yang baru saja terjadi, ia tampak bingung dan melamun sambil menatap kepergian Andre dan kedua junior tadi. Tiba-tiba dari belakang Sasya mengagetkan Reni dan bertanya, “Apakah kau sadar apa yang barusan kau perbuat?”
“Maksudmu?”, tanya Reni bingung
“…Tidak, tapi mungkin besok semuanya pasti akan berubah”, ungkap Sasya kepada Reni

Keesokan harinya.
“Pagi Ren”, Sasya menyapa Reni seperti biasanya
“Pagi..”, sahut Reni pelan
“… Hari ini sepi sekali ya?”, tanya Sasya
“Iya, aku juga berpikir seperti itu. Mungkin Perang dunia ketiga akan segera dimulai”, gurau Reni pelan
“…Huh! Sebel aku, kau bodoh banget sih. Kau memang sangat telmi dengan urusan cinta seperti ini”, gumam Sasya
“Ya ada apa Sya? Aku nggak denger kau barusan ngomong apa?! Terlalu pelan”
“Huh… tidak apa-apa”, Cih sebel aku, Reni memang telmi, super duper telmi.
“Hem begitu, kalau begitu lebih baik kau cepetan menyalin PR ku, sebelum bu Darwin datang”
“Eh… gawat…”, Sasya ingat bahwa hari ini pelajaran matematika, yang itu berarti pelajarannya Bu Darwin. Apabila Sasya tidak segera menyalin jawaban Reni, ia akan dihukum oleh Bu Darwin seperti minggu kemarin. “Ayo cepet ke kelas Ren, aku tidak mau dihukum lagi minggu ini”.
“Hihihi”, Reni tertawa melihat teman baiknya itu panik dan kelabakan gara-gara PR dari Bu Darwin.

“Sya, bantuain aku bawa buku ini ke ruang guru yuk, please, soalnya aku nggak kuat bawa sendiri”, kali ini Reni meminta bantuan Sasya
“Minta bantuin tangan kananmu aja”, jawab Sasya sewot sambil tetap asyik bermain game
“Apa kau tak melihat kalau aku membawanya dengan dua tangan. Itu berarti tangan tangan kananku juga lagi on”, ungkap Reni
“Reniii”, teriak Sasya kesal
“Hahaha… Iya-iya, tadi ada pengumuman bahwa semua ketua kelas disuruh berkumpul di ruang OSIS. Karena aku lagi repot, jadi kusuruh aja Dicky gantiin aku, hehehe…”
“Huh! Kau ini, mana separuhnya?”
“Nih, thanks ya”
“Ya ya ya, utang budi PR Bu Darwin lunas lho?”, ungkap Sasya pura-pura cemberut
“Siip”

“…Oh ya Ren. Tadi ada yang sms aku lho, katanya Andre kembali seperti dulu”
Deg… Mendengar Sasya menyebut nama Andre membuat jantung Reni kembali berdebar ”Kembali seperti dulu… Play boy maksudmu?”, huh Reni berpikir kalau itu sih bukannya kembali seperti dulu, tapi tetap saja bukan?!
“Yups”
“Argh, aku mengerti kenapa hari ini rasanya sepi di sekelilingku. Soalnya cowok gila satu itu… Argh, bukan cowok gila satu itu tapi… Andre, kalau begitu dia sekarang pasti lagi sibuk ngerayu cewek?”
“Yah… tapi tidak seperti itu juga sih, tapi omonganmu tepat”, Sasya bergumam pelan, dia kan sakit hati karenamu Ren.
“Eh”, Reni kaget dan sedikit tidak percaya dengan apa yang ia lihat
“Baru saja diomongin”, gerutu Sasya
Tampak Andre yang sedang berjalan ke arah Reni dan Sasya dengan dikerumuni banyak sekali siswi perempuan. Reni berkata dalam hatinya, bahwa Andre memang satu-satunya cowok gila yang pernah ia kenal. Dan entah mengapa dadanya bergetar lagi,
“Ren, reni”, panggil Sasya dengan suara keras
“Apa-apaan barusan, ia seperti meremehkanku. Apakah ia juga tidak mau menatap mataku. Padahal ia biasanya selalu mengejarku dan merepotkanku”, Reni tertegun sejenak mencoba mengingat kejadian siang kemarin dan bergumam, “Dia yang selalu mengekor di belakangku, kenapa barusan ia mengacuhkanku dan pura-pura tak mengenalku?”
Reni terlihat bingung dan sedikit syok, lalu Sasya menjelaskan, “…Ren, bukannya aku bermaksud mencampuri urusan pribadimu. Tapi kalau aku tidak mengatakannya, pasti semua akan menjadi lebih terlambat dari pada sekarang”
“…Maksudmu?”
“Kurasa kau menyukai Andre”, Sasya menatap mata Reni seolah mengatakan untuk jangan mengelak lagi
Hah? Sontak Reni kaget atas pernyataan yang diungkapkan oleh sahabat baiknya itu.
“Kau gila kali Sya, itu tidak mungkin. Memang sih rasanya ada sesuatu yang… gimana gitu. Tapi aku tidak mungkin menyukainya…”, Reni berusaha menolak apa yang disampaikan oleh Sasya barusan, ia tidak mungkin menyukai cowok gila satu itu
“Tenang dulu, dengarkan dulu asumsiku. Barusan kau bilang ada sesuatu yang… gimana gitu. Sesuatu itu maksudmu apa?”
“Yah, A… aku cuma sedikit kecewa. Sedih juga sih, tapi sedikit. Padahal selama ini ia selalu mengekorku, sampai-sampai mengikuti ku ke rumah. Tapi tiba-tiba sifatnya berubah seperti itu”
“Itu dia masalahnya”, Sasya tidak berkedip sekalipun dan tetap menatap Reni dengan serius
“Hah? Maksudmu?”, tanya Reni tidak mengerti
“Kau tak mau jujur terhadap dirimu sendiri. Kau selalu menutupi perasaanmu yang sebenarnya dengan pemikiranmu yang realistis, sehingga sampai saat ini kau tak menyadari bahwa kau menyukai Andre”, ungkap Sasya dengan tegas
“…Tunggu sebentar, aku tak mengerti apa maksudmu?”, Meskipun Sasya telah memberikan pendapatnya secara jelas, namun itu masih tidak cukup untuk membuat Reni mampu menarik kesimpulan atas semua hal yang telah terjadi pada kehidupan cintanya. Sasya menyadari bahwa teman baiknya itu hanya pandai dalam pelajaran sekolah, tapi tidak untuk pelajaran tentang cinta. Sasya mencoba untuk kembali merangkai kata-katanya agar mudah untuk dipahami oleh Reni.
“Kau beranggapan bahwa kelakuan Andre selama ini selalu merepotkanmu, bukan?! Tapi sebenarnya itu semua tidak benar. Kelakuan Andre selama ini adalah hal yang biasa. Kau tahu saking biasanya kau merasa sedih saat dia tak lagi mengekormu seperti sebelumnya”

Reni terdiam, mencoba mereset ulang otaknya dan mencoba memahami ucapan Sasya. Lalu ia berkata pada dirinya sendiri, Mungkin, apa yang dikatakan Sasya benar. Selama ini akulah yang tak mau jujur pada perasaanku sendiri. Dan menyalahkan semuanya kepada Andre. Padahal selama ini jantungku selalu berdetak lebih kencang saat berada dekat dengannya. Itu bukanlah pertanda bahwa aku harus menjauhinya. Melainkan itu adalah pertanda, bahwa aku telah jatuh cinta. Ya, jatuh cinta pada cowok gila satu itu… Andre…

Satu tahun berlalu sejak Reni mulai menyadari perasaannya terhadap Andre. Dan ia sadar bahwa semuanya telah terlambat. Kini ia sudah kelas 3 dan sudah menghadapi ujian akhir sekolah. Ia pun mengunci dalam-dalam perasaan cintanya pada Andre. Dan terus menyalahkan sikapnya yang tak mau jujur akan perasaannya sendiri, ia terlalu egois dan takut untuk mengungkapkan perasaannya. Sedangkan Andre, sejak saat itu selalu bergonta-ganti pacar dan tetap tak mau menyapa Reni. Reni juga tak mau menyalahkan Andre atas semua yang telah berlalu dulu, karena yang ia tahu adalah ia telah melukai hati Andre.

Acara wisuda purnawiyata siswa-siswi kelas 3, F.Q. International High School for Regular Student.
“Kepada Renita Dwi Anggraeni sebagai wakil murid kelas 3 dipersilahkan memberikan kesan dan pesan terakhir”

“Kami ulangi, kepada Renita Dwi Anggraeni sebagai wakil murid kelas 3 dipersilahkan memberikan kesan dan pesan terakhir”, panggilan kedua kalinya oleh pembawa acara wisuda purnawiyata kepada Reni.

Dilain pihak, ruang kelas 3 IPA 1
“Suara speaker terdengar jelas memanggil-manggil namaku. Tapi aku tidak bisa…”, sekarang Reni berdiri di depan pintu kelas Andre. Ia mulai berjalan menuju meja Andre, meja paling belakang di pojok kanan dekat jendela… Sebenarnya walaupun Reni mencoba untuk melupakan Andre, namun matanya selalu tertuju pada Andre. Besar kecil apa yang dilakukannya ia selalu memperhatikannya. Sampai-sampai Reni hafal sebagian besar cewek yang pernah dipacari Andre setahun ini. Aneh bukan!? Reni mencoba duduk di kursi Andre dan meletakkan kepalanya di meja dan menatap ke luar jendela. Kemudian ia membayangkan apa yang biasanya Andre lihat dan apa yang biasa ia lakukan di meja ini, Reni tersenyum simpul dan berkomentar terhadap tempat duduk Andre, “Posisi ini sangat strategis untuk menghindari tatapan mata Bapak/Ibu guru… Hihi…hi…”
Tanpa disadari oleh Reni, Andre masuk dan menghampirinya yang sedang melamun, “Sebenarnya tak usah tertawa kalau itu membuatmu sedih”, ungkap Andre
Deg… Reni kaget, suara ini… Andre… Lalu ia terlompat dan menatap wajah Andre… Se… sejak kapan dia disini. Gimana ini, aku harus bilang apa? Apalagi aku duduk di kursinya lagi… Gawat… Reni kebingungan harus bersikiap seperti apa?!
Andre berkata, “Aku mau mengambil barang ku yang tertinggal di laci meja ku”
“Ah… i.. ii.. iya, maaf ini mejamu ya?”, oh my God my hearts go crazy
Sontak Reni menyingkir dari tempat duduk, Andre membuka laci mejanya dan mengambil beberapa buku. Karena gugup dan tidak tahu harus melakukan apa, akhirnya Reni melangkah pergi, namun Andre menarik tangannya… Reni tak berani untuk menoleh dan hanya bisa meminta Andre untuk melepaskan tangannya. Namun Andre tetap diam membisu, beberapa menit kemudian Andre bertanya kepada Reni, “Sedikit demi sedikit, apa kau mulai menyukaiku?”
Deg… deg… deg… suara detak jantung Reni yang semakin cepat membuat tangannya bergetar dan suhu tubuhnya memanas, matanya terasa perih dan air mata mulai menetes keluar. Reni berusaha untuk tampak sewajar mungkin, dalam hatinya Reni menjawab bagaimana perasaannya yang sebenarnya terhadap Andre, ia tidak hanya menyukai Andre tapi ia juga mecintainya. Andre membuatnya merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Namun sekali lagi ia tidak bisa berkata apa-apa, “Apa maksudmu?”, hanya itu kata-kata yang bisa keluar dari mulutnya.
“Jangan berbohong, pertanyaanku sangat jelas untuk dimengerti apalagi olehmu”, ungkap Andre dengan nada suara yang lebih tinggi.
“…”
Andre mendesis, Reni tahu bahwa Andre menahan amarahnya tapi tidak lama kemudian ia menarik Reni ke dalam pelukannya. Wajah Reni berada di dada Andre sehingga membuat perasaannya campur aduk dan detak jantungnya semakin cepat, Andre memeluknya dengan sangat erat sampai terasa sakit, tapi Reni mencoba menahannya. Namun air matanya mengalir deras, ia tidak bisa menahan suaranya untuk tidak terisak. Mendengarnya Andre mulai melepas pelukannya secara perlahan, dengan menyesal Andre berkata, “Maafkan aku hingga membuatmu menangis”,
“…Hiks…”, Reni bertanya kepada dirinya sendiri, kenapa aku hanya bisa menangis dan menangis terus?
“Aku hanya belum bisa menerima kenyataan bahwa kau tidak pernah sekalipun menyukaiku. Walaupun setahun berlalu dengan diam, aku belum bisa melupakanmu. Malah perasaan ku ini semakin hari semakin kuat”
“…”
“Selama ini tak pernah terbayang olehku bahwa aku akan benar-benar mencintai seseorang seperti ini. Aku yang play boy ini, sungguh memalukan”, Andre tampak sedih sedangkan Reni tetap hanya bisa diam dan tetap tak mampu berkata apa-apa, hanya terisak kembali. Di sudut hatinya, Reni ingin sekali mengungkapkan perasaannya, namun ia takut karena telah melukai hati Andre.
Tapi apa Reni akan terus seperti ini, apa ia akan kembali menyesal seperti sebelumnya. Saat inilah kesempatan Reni, bila ia melepaskannya ini hanya akan kembali menyakitinya dan menyakiti Andre. Reni mengatakan pada dirinya sendiri, aku harus berubah, aku tidak boleh hanya diam dan tak mau jujur akan perasaanku sendiri.
“Kalau begitu aku duluan. Oh ya selamat telah mendapatkan peringkat pertama. Aku saja dapat kepala 9. Hahaha… Bye”, Andre melangkah keluar secara perlahan, Reni tahu tawanya menyimpan kesedihan dan kembali berkata pada dirinya sendiri, Aku harus menghentikannya pergi, “Kalau berusaha kau pasti bisa menggantikanku, kau pasti bisa mendapatkan peringkat satu”, sahut Reni
“Ya, thanks”, Andre menjawab sambil berjalan
“Apa kau akan pergi tanpa aku menjawab pertanyaanmu”
Mendengarnya Andre menghentikan langkahnya, dan berkata, “Kalau kau berkenan, apapun jawabanmu aku menerimanya”
“Ya… A… Aku… Aku mulai menyukaimu, tepatnya aku memang mencintaimu sejak aku mulai mengenalmu, dirimu yang sesungguhnya. Sejak kau menggangu setiap hari-hariku dengan kelakuanmu, sejak aku menghabiskan waktuku bersama senyummu, Aku mencintaimu”
Bruuk… Suara barang-barang Andre berjatuhan, ia seakan tak percaya atas pengakuan cinta Reni barusan. Ia melangkah kembali mendekati Reni, ditatapnya Reni dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. Lalu ia kembali memeluk Reni, Reni tahu kalau Andre menangis. Ia pun tertawa pelan, bukankah kau sudah sebesar ini? Bukankah cowok sangat pantang menangis? Kau yang biasa ku sebut cowok gila satu itu, menangis karena aku, Tapi, kalau ku pikirkan selama ini, aku yang mencintaimu ini sama gilanya sepertimu, ungkap Reni kepada dirinya sendiri.

Keesokan harinya.
“Ada kabar apa nih, sampai mentraktirku di hari-hari sibuk seperti ini?”
“Hehehe…”
“Kenapa senyum-senyum gitu?”
“Aku dan Andre jadian”
“Aku tahu”
“Hah!? Kemarin kau disana?”
“Tidak, tapi aku yang menyuruh Andre kesana. Aku tidak tahan melihatmu setahun ini. Kukatakan saja kepada Andre bahwa dia punya harapan, karena cewek yang disukainya juga memiliki perasaan yang sama dengannya”
“Jadi bukan kebetulan Andre disana kemarin, kau yang telah merencanakannya?”
“Jelas dong”
“Sasya… Thanks”, Reni memeluk Sasya dan berkata, “Kau memang teman baikku yang nomor satu. Oh ya Sya, kau sendiri sudah menemukan orang yang kau sukai?”
“Sudah dari dulu, kau sih yang tidak pernah menyadarinya”
“Siapa-siapa?”
“Saudaramu, kita sudah bersama sejak kelas satu lho”
“Apa!!!? Benarkah…!!!”, Reni berteriak keras tidak percaya bahwa saat teman baiknya itu sering jalan bersama sang kakak mempunyai arti seperti itu.
“Ya, Aku yakin sampai nanti pun kau tidak akan menyadarinya, kan kau loading lama?! Hahaha…”, Sasya tertawa cukup keras.
“Argh… Terserah deh kau mau ngomong apa yang penting cerita dong, aku tidak mungkin meminta kakak untuk bercerita bukan!!!…”, pinta Reni dengan memelas
“Iya nanti kalau pulang ke rumah mu, aku mampir deh”
“Siip”

Cerpen Karangan: Tani Lia Sulardjo Putri
Facebook: Tania Lia Sulardjo Putri

Biodata pribadi
Nama: tania lia sulardjo putri
Ttl: jombang / 19 september 1993
Alamat: jombang – jawa timur
Perkenalkan nama ku tania lia sulardjo putri, saat ini aku sedang sibuk menyelesaikan kuliah di salah satu sekolah tinggi swasta di jombang. Cerpen ini merupakan cerpen pertama yang kubuat semasa bangku sma dulu. Ceritanya ringan dan cukup romantis, meskipun tanpa adanya bumbu-bumbu sastra yang kental tapi aku berharap teman-teman semua menyukainya. Bila teman-teman punya waktu luang bisa menghubungi aku melalui facebook pribadiku, cukup tulis nama lengkapku di facebook ya… Terima kasih banyak…

Cerpen Cowok Gila Satu Itu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I Hope You’re Happy (Part 3)

Oleh:
Lusa adalah hari pertama Ujian Nasional. Aku harus belajar dengan benar. Karena hasil akhir Ujian Nasional ku akan aku kirimkan ke Malaysia untu mengikuti program beasiswa. Bimillah, mudah-mudahan aku

Pulang Sekolah

Oleh:
“Pulang sekolah” adalah sebuah kata yang menyenang untuk didengar, diucapkan, bahkan untuk dilakukan. Selama masih berstatus pelajar “pulang sekolah” merupakan tujuan akhir bagi semua pelajar saat masuk sekolah, bagiku

My Beloved Hana (Part 3)

Oleh:
TILT… TILT… TILT… Alat pendeteksi detak jantung berbunyi di ruangan sepi yang hanya berisi dua orang. Mark, tertidur di samping nona muda yang sangat ia sayangi, Hana Sakurami. Hana

Bukan Petak Umpet

Oleh:
Cit ciit cuitt suara merdu burung Pipit di balik pepohonan membuat pagi hari ini terasa sangat istimewa. Ini hari minggu. Ada sesosok anak remaja sedang asyik melaju bersama motor

Janji Dua Puluh Desember

Oleh:
“Pagi, Dina. Udah siap belum?” sapa seseorang di luar sana. Dina sudah sangat kenal suara itu. Siapa lagi yang selalu melontarkan pertanyaan yang sama setiap paginya kalau bukan Reza,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Cowok Gila Satu Itu”

  1. Tholee Paztel says:

    Hmm,, Mengharukan,,

  2. rara507 says:

    Mengharukan dan skaligus reni loading nya lamaaaaaaaaaaa bnget,,

  3. Muha Mumu says:

    Hmm saya suka crita gini nih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *