Dia, Cinta Luar Biasa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Galau, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 24 September 2015

Pagi ini tak ada yang berbeda. Aktivitasku sama, bangun pagi, salat, mandi, sarapan lalu berangkat ke kampusku tercinta Akes Rajekwesi Bojonegoro.
“huufftt bosan tak ada yang membuatku sedikit saja menjauh dari kejenuhan ini.”

Namun, saat di kampus pun terasa tak ada yang tahu perasaan jenuhku, pacarku, Camal hanya bersikap kekanak–kanakan dan hanya mementingkan egonya. Meskipun kami akhirnya bisa tenang kembali namun itulah kejenuhan terbesarku. Aku sedang ingin sendiri setelah jam pelajaran kali ini. Bergegas ke halaman belakang kampus untuk untuk mencari ketenangan yang akan sedikit bisa membantuku menghilangkan beban pikiran ini.

Pikiranku, berangan tak pasti apa yang diangankannya. Tapi, tiba–tiba aku tersentak akan apa yang aku pikirkan. Dia Mantanku, Putri. Tak tahu mengapa bisa memikirkannya, rasanya dada ini sesak saat memikirkan tentang dia.
“Bagaimana kabarnya saat ini, sedang apa dia, apakah dia masih menjalin hubungan dengan Tyo, apakah hatinya telah terobati setelah begitu banyak perlakuanku yang menyakitkannya selama ini?”

Ya. Menyakitinya, aku khawatir dengan sosoknya yang penuh kasih itu. Aku hanya memanfaatkannya, mencari kepuasan nafsuku selama ini, membohonginya tentang penyakitku, bahkan hanya untuk meninggalkannya aku juga membohonginya. Dia sosok ramah yang halus, penuh perhatian dan kasih sayang. Dia mengalah untukku, memberiku segala yang aku butuhkan dari dirinya. Dia tak pernah tega melihatku kecewa, sedih, kesakitan bahkan marah.

Dia berjuang keras agar aku tak meninggalkannya, tapi inilah aku. Meninggalkannya. Aku kejam, sadis bahkan bisa dianggap tak punya perasaan. Tak terasa mengingatnya membuatku meneteskan air mata. Aku begitu merindukannya. Oh Tuhan. Andai saja aku masih bisa bertemu dengannya. Pikiran itu membebaniku sepanjang waktu, ditambah sikap pacarku yang posesif, tapi aku tak berani melawannya dan tugas–tugas kuliah yang selalu bertambah meskipun aku mencoba tidak tidur untuk menyelesaikannya.

Hari ini begitu membahagiakan untukku, aku mendapatkan nomor telepon Putri, mantan tercintaku. Aku mengambilnya diam–diam dari handphone milik Tyo. Ternyata, dia masih menjalani hubungan dengan Tyo, temanku. Lega rasanya. Tuhan mengabulkan doa kesedihanku. Aku bisa segera menghubunginya. Segurat senyum menghiasi wajahku sepanjang hari ini, tak sabar rasanya bisa bercanda canda lagi dengannya, ber-sms ria walau hanya sekedar menanyakan hal yang sepele.

Aku mencoba menghubunginya, responnya seperti biasa. Dan akhirnya kami saling kenal kembali. Gadis ini sama seperti yang dulu, ia ramah, cepat akrab dengan siapapun, perhatiannya ini aku merindukannya, bahkan walaupun sekarang dia telah menanyaiku dengan perhatian–perhatiannya, aku menjadi semakin merindukannya.
“Kak, aku ingin bertemu denganmu. Boleh?”
Deg. Sejenak pikiranku melayang, perasaanku bercampur. Apakah aku harus senang atau bingung?
“Besok, aku akan ke kost-mu setelah usai merayakan ulan tahun Tyo.”
“Iya dek, aku tunggu kamu.”
Aku membatalkan janji foto bersama dengan Camal. Aku jenuh, aku begitu merindukan Putri. Bagaimana dia sekarang?

Suara ketukan pintu itu, membuyarkan pikiranku. Astaga, apa benar ini mantanku? Aku memandang dengan pandangan tercengang. Begitu indah sesuatu yang berada di depanku. Dia berkerudung, lekukan tubuhnya yang indah itu semakin indah meskipun dibalut baju panjang berwarna cokelat pastel dengan celana jins hitam, wajahnya begitu bening, dengan senyum tulus yang belum pernah aku lihat selama ini.

“Kak, kenapa diam aja?”
“Oh, em, em. Gak apa-apa. Eh maaf ya, ayo masuk sini”.
“Pakai pakaian rapi gitu ada acara ke luar ya kak, aku pulang aja ya?”
“Eh bukan dek, ini buat ketemu kamu, kalau aku pake boxer aja nggak sopan dong.”
“hehehe”

Aku berlalu ke dapur, membuatkannya minum dan berharap rasa nervousku ini cepat hilang. Lega, setidaknya walau tidak semua, perasaan ini hilang.
“Kamu berubah ya dek sekarang, makin cantik bikin aku grogi”
Oh Tuhan, kenapa aku bilang begini. Mulut! Mulut! Mulut!
“Kak, aku mau bilang. Langsung aja ya kak? Kak aku pengen tahu perasaanmu yang sejujurnya ke aku. Bukan sekarang kak, tapi dulu. Aku begitu tersiksa sampai sekarang tentang perasaan itu kak.” Wajahnya tertunduk seperti menahan tangis, “aku begitu mencintaimu kak, sampai sekarang, hatiku masih menyisakan tempat yang cukup luas untukmu. Maafkan aku kak”

Aku merasakan hawa sedih darinya, air matanya perlahan mulai mengalir dari lekuk wajah halusnya.
“Dek, maaf aku nggak bisa jawab. Aku bingung dengan perasaanku”
“Apa bingungmu itu karena takut kejujuranmu menyakitiku nantinya, atau karena sebenarnya kamu mencintaiku tapi karena kamu telah menyakitiku kamu jadi tak bisa mengatakannya kak?”
Aku mencoba tenang, menarik napasku panjang–panjang lalu mencoba untuk menjawab pertanyaan darinya.
“Dek, jujur, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tapi, maafkan aku dek, aku telah menyakitimu dan hanya memanfaatkan kemolekan tubuh dan nafsumu untukku. Aku begitu mencintai nafsumu waktu itu dek. Maafin aku”
Tak terasa aku pun meneteskan air mata ini. “Aku mencintaimu dek dan sampai hari ini rasa itu berganti. Aku mencintaimu dengan tulus, aku menyayangimu dek, tapi aku nggak berani mengungkapkannya,”

Jarakku dengan Putri hanya berkisar sepuluh senti, rasanya badan ini lemas, aku limbung ke depan ditangkap Putri dalam pelukan hangatnya. Napasnya, aku rasakan sesak. Aku dengar detak jantungnya yang begitu lambat. Pelan, namun masih terdengar. Kami menangis berdua dalam pelukannya, begitu damai aku bisa meluapkan semua bebanku dalam pelukannya.
“Kak, aku sudah mengerti, aku senang dan lega dengan jawabanmu. Aku mau pulang kak” Putri melepaskan pelukannya.
“kak makasih banyak aku tenang sekarang semoga Kakak selalu bahagia”
Aku terdiam, melihatnya berlalu dan hilang dalam pandanganku.

Beberapa bulan berlalu, hari–hariku semakin kacau. Aku tak fokus dalam hal apapun dan hubunganku dengan Camal di ujung keputusan. Aku merindukannya lagi, sosok bersuara halus yang kuat dalam air matanya. Kabar itu bagaikan tusukan belati yang menembus lempengan baja, kuat dan begitu menyakitkan. Putri koma, sudah dua bulan berlalu dan aku baru tahu saat Tyo ke tempatku dengan penuh amarah.

Ku lihat dari matanya yang merah dengan tatapan tajam, berjalan penuh emosi kepadaku dan menyatakan kabar itu. Oh Tuhan, sejak kapan sosok bidadari tercintaku itu sakit? Kenapa dia? Dua bulan sejak bertemu denganku apakah itu penyebabnya? Oh Tuhan, terima dan tolong kabulkanlah doaku ini, aku sangat mencintainya dan aku tak ingin kehilangannya. Biarkan aku kembali bertemu dengannya lagi Tuhan.

Aku mendapat alamatnya, dan bergegas aku menemuinya. Hatiku sesak dia begitu kurus, dengan berbagai selang dan alat–alat kedokteran menyertai kehidupannya saat ini. Semua keluarganya berkumpul, termasuk Tyo juga kedua orangtuanya, raut wajah mereka semua sama. Sangat amat sedih. Tyo menghampiriku dengan tenang, dia menyerahkan sebuah amplop berisi surat kepadaku, dan aku dipersilahkan membacanya di ruang tunggu.

Surat dari Putri.
“Untuk kakakku tersayang,
Kakak, terima kasih atas jawabanmu kemarin. Aku sangat bahagia mendengarnya tak ada lagi keraguan serta beban yang mengganjal di hatiku saat ini. Maafkan aku kak, jika saat Kakak membaca surat ini, aku telah terlihat seperti itu. Sakit, tak berdaya. Maafkan aku kak, sudah menyembunyikan semuanya ini kepadamu, kepada semua orang yang aku cintai.
Kak, aku telah berjanji pada Tuhan, jika semuanya telah tuntas dan amal ibadahku sangat lebih untuk masuk ke Surga–Nya aku rela pulang. Aku sangat rela kak, dan mungkin saat inilah nantinya aku akan pulang. Terima kasih atas semuanya Kak.”

Tetes air mata itu jatuh tak terbendung, aku berlari masuk tanpa mempedulikan apapun. Aku melihat wajahnya yang begitu bening, tapi suatu senyum sepertinya lama menghiasi wajahnya yang ayu itu.
“Sayang, jangan pergi, aku begitu membutuhkanmu, maafkan aku pernah menyia–nyiakan hidupmu yang begitu berarti untuk orang lain, khususnya aku. Kamu kuat sayang, kamu pasti bisa, Tuhan sangat baik, Tuhan bisa menangguhkan janjimu itu. Kamu bisa menambah amalmu sayang. Aku mohon, bangunlah, aku sangat mencintaimu”

Bajuku tertarik, tatapan cemburu itu menyerbuku seketika, dari matanya yang menahan air mata itu akhirnya jatuh dengan derasnya.
“Dia milik gue Zal, bukan lo! Gue sangat cinta sama Putri. Kita nggak mau kehilangannya!!”
“Gue juga,” suaraku serak tertahan, “gue juga cinta banget sama dia, gue nggak mau kehilangan dia. Gue udah putusin Camal”
“Jadi mentang–mentang lo udah putus sama Camal, lo nyari Putri loe butuhin Putri buat balik sama lo!! Gitu!! Haaa!!”
“Bukan gitu, gue bener–bener cinta sama dia”
“Br*ngsek lo Zal!!” Tyo tak tahan akan melayangkan tangannya ke wajahku tapi, terhenti.
“By. Kak.”

Suara itu, suara yang lemas tak bertenaga tapi tetap halus itu, itu suara Putri. Dia siuman. Aku dan Tyo menghampirinya, berdiri di masing–masing sisi tempat tidurnya. Begitu jernihnya wajahmu bidadariku. Air mataku menetes kembali bersamaan dengan tetesan air mata Tyo, ku rasakan genggaman halus dari tangannya. Saat ini Putri menggenggam tanganku dan tangan Tyo. Hangat. Halus.

“Terima kasih By, di akhir hidupku” suaranya tertahan mungkin karena rasa sakit, “kamu memberiku warna yang sangat membahagiakanku, aku sangat mencintaimu by, maafin aku, selama ini aku terlalu mencintaimu. Aku mencintaimu by dan aku harap kamu bahagia nantinya”
Suaranya menyayat hati, ia tak tahan menahan air matanya.
“Kak, terima kasih, kau memberiku arti ketulusan cinta, kesabaran juga kekuatan dalam kesakitan, aku juga sangat mencintaimu kak, bahagialah dengan pilihanmu saat ini”

Tangannya lemas terjatuh di sisi tubuhnya, semakin bercahaya wajahnya, penuh senyum, tapi air matanya tak bisa tersembunyi dalam istrihatnya. Bidadariku, bidadari semua orang yang mencintainya kini telah tenang dalam haribaan Sang Pencipta.

Waktu terus berlalu namun rasa itu tak mau hilang, aku tak mau mencari penggantinya di hatiku. Karena memang tak ada yang bisa menggantikannya. Begitu juga dengan Tyo, sampai saat ini dia masih sangat larut dalam angannya bersama bidadarinya yang sama denganku. Foto–foto koleksinya hanya terdapat wajah–wajah bidadari sejatinya. Dan aku juga Tyo pun tak tahu akan sampai kapan akhirnya bisa melepas perasaan cinta luar biasa ini.

Dia. Bidadari yang sangat ayu, menetap dalam hati setiap insan yang ia cintai. Ketulusannya, keramahannya tak akan bisa diganti dengan sesuatu apapun di luar sana. Kesabarannya juga kekuatan dalam sakitnya akan selalu ada dalam ingatan siapapun. Dia. Bidadariku tercinta, sangat berharga yang dulu lupa akan sayapnya kini dia telah ingat mengambil sayapnya dan dia mengikut sertakan cintanya yang luar biasa.

Cerpen Karangan: Putri Ayu Cahyani
Facebook: Cemplis Putry Ayu Cahyani

Cerpen Dia, Cinta Luar Biasa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Mimpi Mengutarakan Hati

Oleh:
Pagi yang cerah, keadaan sekeliling sepi.. Hanya kicauan burung yang terdengar. Seakan merasakan kesepian dan kesendirian. Bunga-bunga disekitar taman yang harum merekah dan secangkir kopi hangat kemudian terdengar suara

Aku Kamu dan Pelangi

Oleh:
Disaat bersamamu, aku merasa senang, merasa nyaman dan merasa diperhatikan. Hanya sebab itu, caramu membuatku begitu menginginkanmu. Berapa kali telah kukatakan bahwa aku sangat menyukai pelangi, mendatangkan kecerahan di

Kamu Itu Temanku

Oleh:
Aku sudah bosan berlarut-larut dalam kebingungan ini. Aku lelah terus menanti perubahan sikapmu itu. Aku berusaha bersikap seperti biasa, seolah-olah di antara kita tidak pernah terjadi masalah. Tapi kamu

Ini Salahku

Oleh:
Karin melangkahkan kakinya ke sekolah dengan tatapan matanya yang seperti biasa. Tatapan mata yang seakan tak ada kebahagian di hidupnya. “Tuhan, kenapa kau begitu tega mengambil kebahagiaanku selama ini?”

Dia Berbeda

Oleh:
Aku berjalan sendiri di gang yang begitu sempit, dan agaknya sedikit kumuh. Berhenti sejenak untuk memperhatikan selembar kertas yang aku pegang. Kertas itu bukanlah sekedar kertas biasa, di atas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *