Dia Panggil Aku Gina Lagi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Galau, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 22 February 2016

“Maafkan aku karena aku tidak bisa hidup denganmu,”
“Kenapa?” tanyaku.
“Karena takdirku bukan kamu, aku ditakdirkan untuk hidup dengan Micel,”

Aku terpaku dengan kata-kata itu, kata-kata terakhir ketika Ardi hendak menikah. Ketika itu aku belum siap berkomitmen, karena aku baru lepas SMA. Dan saat itu dia memilih menikah dengan orang lain. Aku tidak habis pikir, cinta yang kami jalani selama tiga tahun, berakhir begitu saja karena dia menikah dengan orang lain. Aku pacaran dengan dia ketika aku beranjak kelas 1 SMA, pertama kali aku mengenal cinta, dan dialah cinta pertamaku. Aku tidak tahu kenapa dia begitu teganya meninggalkan aku menikah dengan orang lain padahal kata-kata cinta nan romantis yang selama ini dia ucapkan itu apa? Kenangan selama pacaran dulu itu dia anggap apa? Dan apakah dibuang begitu saja? Beribu pertanyaan bersarang di otakku tampa mampu aku jawab hingga setahun telah berlalu. Aku duduk di atas kasur kamarku memeluk bantal spongebob kesayanganku, air mata ini mengalir begitu derasnya, menahan sakit yang tak terperikan sakitnya.

Ya, keadaan seperti ini kadang-kadang setiap malam ku lakukan, dari satu tahun yang lalu bahkan sampai sekarang, bahkan semakin sakit ketika aku sadar bahwa aku bukan tulang rusuknya dan aku tak bisa memilikinya. Bukan setiap malam saja tapi ketika aku memikirkannya air mata ini tanpa komando terjatuh dengan sendirinya. Seperti saat ini, waktu sore yang seharusnya aku isi dengan kebahagiaan tapi nyatanya hanya diisi dengan perenungan tentang dia dan rasa sakit yang ku alami ketika ditinggal olehnya. Tiba-tiba handphone-ku berdering tanda SMS masuk. Ku buka, “Tari, temenin aku dong beli buku di Mall, kalau kamu bisa nemanin, SMS balik ya atau telepon,” Aku senyum sedikit, SMS dari Risma, dia adalah teman kuliahku, aku sudah smester tiga sekarang, dia adalah temanku dari awal aku masuk kuliah. Buru-buru aku mencari kontaknya untuk nelepon dia, ku hapus bulir-bulir bening di pipiku tidak ada salahnya aku pergi jalan-jalan, sekalian menghibur diri.

“Halo,” sapa suara di seberang.
“Halo juga, oke aku temanin kamu beli buku, tapi kamu jemput aku ke rumah ya?” kataku langsung to the poin.
“Oke, kamu baik banget, siap-siap ya bentar lagi aku jemput,” Klik hubungan terputus.

Aku beranjak dari tempat tidur, sore kali ini mungkin sebagai ajang pelarian diri sama seperti yang ku lakukan kemarin-kemarin bahkan dari satu tahun yang lalu. Risma yang orangnya periang dan suka ngelucu membuatku melupakan sakit hatiku untuk sejenak. Setelah lama berkaca, dan mengoles sedikit cream dan bedak di pipiku agar sisa-sisa tangisan tadi tidak meninggalkan jejak, aku buru-buru ke luar, sepertinya jemputanku sudah datang. Aku memakai celana jins dengan atasan kaus oblong warna putih kesukaanku. Aku tidak suka dandan yang ribet-ribet.

“Sekarang aku akui kamu memang orangnya sederhana,” kata Risma ketika aku sudah ada di depannya. Aku hanya nyengir kuda kemudian masuk ke dalam mobil.

Sampai di Mall aku dan Risma langsung mencari toko buku dan memilih buku mana yang hendak dibeli, aku lebih tertarik kepada buku novel ketimbang materi kuliah karena membaca novel adalah salah satu kegiatan ngilangin si “dia,” dari hatiku. Aku pergi melihat-lihat buku novel di rak paling ujung. Awalnya dari rumah tidak ada niat untuk membeli tapi ternyata hati ini tak bisa diajak kompromi untuk tidak membeli. Setelah satu jam berkutat dalam toko, akhirnya kami selesai juga memilih buku dan langsung membayar ke kasir. “Tari kita beli es krim yuk,” ajak Risma ketika sudah berada di luar toko.

Aku mengiyakannya dengan anggukan kecil, kemudian kami berjalan ke bagian timur Mall karena di sana dijual es krim beraneka rasa. Sungguh antrean yang panjang dan membosankan, hanya untuk semangkuk es krim kami rela mengantre panjang. Kalau bukan karena Risma yang hobi banget makan es krim aku males nunggu lama kayak gini, mendingan pulang langsung dan bercengkerama dengan novel-novel yang aku beli tadi. “Gina,” sebuah suara tiba-tiba memanggilku. Hatiku tiba-tiba berhenti berdetak, siapa yang memanggilku dengan nama Gina, panggilan kesayangan Ardi padaku dan tidak ada yang memanggilku dengan panggilan itu kecuali Ardi dan orangtuaku.

Aku menoleh dan tiba-tiba seseorang yang tidak asing bagiku tersenyum padaku, jantung ini benar-benar berhenti berdetak, aku mematung dengan kekagetan yang amat sangat, aku seolah-olah sedang tidak ada di planet bumi, yang memanggilku memang benar Ardi. Dia ada di Mall ini? Dia memanggilku Gina lagi. Begitu lama aku terpaku di tempat, aku sadar, aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri.

“Ardi,” kata itu yang mampu aku lontarkan setelah sekian detik terpaku.
“Lama tidak jumpa, apa kabar?” kata Ardi sambil tersenyum.
Suaranya begitu renyah di telingaku yang dilontarkan dengan santai.
“Baik,” jawabku singkat mencoba menjawab setenang mungkin.
“Hai Ardi,” kata Risma tiba-tiba.
Dia tahu permasalahanku selama ini tentang Ardi, dia juga berperan banyak dalam membantuku melupakan dia.
“Hai juga,” jawab Ardi.
“Kami mau beli es krim, kamu sedang apa di sini?”
“Ohh, aku mau beli mainan anak,”

Mendengar kata mainan anak hati ini jadi panas, cemburu ini ada di hatiku, cinta ini masih ada.
“Oh, ya udah, mungkin nanti aja kita beli es krimnya ya? Nemanin aku beli tas dulu,” Risma menggamit lenganku mengajak pergi, menjauh dari Ardi, mungkin dia mengerti suasana hatiku saat itu. Satu langkah penyelamatan untukku agar air mata ini tidak jatuh di depannya. Dan aku sangat berterima kasih. Risma dan aku masuk ke dalam toko tas padahal aku dan Risma jelas-jelas tidak berencana beli tas, yaa aku dan Risma hanya menghindar dari Ardi.

“Terima kasih Risma,” kataku kemudian dan tak bisa melanjutkan ucapanku karena air mata ini sudah jatuh membasahi pipiku. “Aku tahu dan mengerti apa yang kamu rasakan saat ini, jika kamu ingin menangis, menangislah jika itu yang membuatmu merasa tenang dan hatimu menjadi plong,” kata Risma dan menuntunku ke pojok toko.

Tak dielak lagi air mata ini tumpah sejadi-jadinya, aku menangis sesenggukkan, sakit yang aku rasakan satu tahun yang lalu masih sama seperti yang aku rasakan saat ini. Risma memberikan bahunya sebagai tempatku bersandar. Entah berapa jam aku menangis tapi setelah itu aku merasa plong, dan aku sangat berterima kasih sama Risma karena dia yang setia menungguku menangis sambil mengelus pundakku, dia rela tidak jadi makan es krim demi aku. Thanks god karena telah mengirimkan teman sebaik dia. Menangis di pojok toko membuat para pelanggan toko itu heran sekaligus memperlihatkan tanda tanya di mukanya, namun karena kelihaian Risma yang entah bagaimana mengatasinya semua itu berjalan baik-baik saja. Kami bergegas pulang sebelum azan magrib berkumandang.

Malamnya aku kembali merenung, tak lupa hadir air mata ini di pipiku. Aku kadang-kadang mengkhayal andaikan bisa waktu aku putar kembali, aku memilih untuk tidak bertemu dengannya. Tapi apa? Khayalan itu tidak akan pernah mungkin terjadi, aku rapuh karenanya. Aku pun terlelap dalam tangis. Esok harinya aku menjalani rutinitasku seperti biasa, kuliah sampai siang. Sorenya aku duduk di teras rumah membaca novel yang ku beli kemarin sambil ditemani segelas jus kesukaanku.

Membaca buku sambil minum segelas jus adalah hobi yang paling menyenangkan buatku. Mama kadang-kadang heran denganku karena duduk berjam-jam membaca buku dan tidak merasa cape. Entahlah mungkin hobi ini didapatin dari papa mungkin sewaktu muda. Karena papa bekerja di sebuah koran harian sebagai editor. Handphone-ku berdering tanda SMS masuk, ku buka SMS itu dari nomor yang tidak aku kenal. “Hai Gina, gimana kabarmu sekarang? Nih aku Ardi, aku dapat nomormu dari Lidia, aku minta sama dia, tidak apa-apa kan?”

Tiba-tiba selera bacaku hilang, Ardi SMS aku? Dia panggil aku Gina lagi. Aku tidak tahu perasaan ini bagaimana, antara senang dan dengan takut, campur aduk. Aku seneng banget karena dapat SMS dari dia, aku sangat merindukannya tapi aku takut karena kalau aku berhubungan lagi dengannya membuatku sulit melupakannya dan merasakan sakit untuk yang kedua kalinya. Dia sudah punya istri dan seorang anak. Dia minta sama Lidia? Ya Lidia adalah temanku waktu SD dulu.

“Kabarku baik, kenapa kamu hubungin aku lagi?” balasku.
“Aku kangen sama kamu Gina,”
Hatiku kembang kempis membaca SMS itu. Dia kangen aku? Nih tandanya apa?
“Maksudmu apa?” balasku lagi.
“Aku kangen pengen ketemu sama kamu, jujur aku masih suka sama kamu,”
“Terus istrimu mau dikemanain, plus seorang anak pula,” balasku.

“Kamu kira ketika aku bilang membeli mainan anak kemarin, terus aku punya anak? aku beli mainan itu untuk keponakanku Gina, istriku belum hamil sampai sekarang Gina, aku butuh keturunan, aku merindukan seorang anak di keluargaku tapi entahlah istriku belum mengandung sampai sekarang,”
Aku tidak tahu kenapa aku ikutan sedih ketika tahu kalau dia belum lengkap kebahagiannya sampai sekarang.
“Terus maumu apa?” balasku lagi.
“Aku pengen ketemu kamu Gina, aku pengen ngobrol,”

Aku harus bagaimana? Pertanyaan ini sebenarnya untuk diriku sendiri, aku tidak bisa apa-apa untuk membalas SMS itu, bertemu dengannya? Bagaimana bisa? Jujur dalam hati ini masih ada cinta untuknya tapi bagaimana dengan istrinya? terus jikalau istrinya tahu nanti misalnya aku jalan dengan suaminya bukankah dia akan mengira kalau aku merusak rumah tangga orang? Berbagai pertanyaan menyelinap di otakku, dan tak mampu aku jawab, di sinilah letak di mana hati dan pikiran tidak bisa berjalan bersamaan bahkan bertolak belakang. Hatiku berkata bahwa aku sangat mencitainya bahkan cintaku satu tahun yang dulu sama sampai sekarang, aku ingin merasakan kebahagiaan yang dulu itu kembali ku rasakan tapi logikaku menolaknya bahwa perbuatan yang ku lakukan itu salah. Aku tidak membalas SMS itu, aku langsung masuk ke dalam kamar, ku letakkan buku novelku di atas meja belajar, aku langsung merebahkan tubuhku di atas kasur.

Pagi yang cerah, tapi tidak secerah hatiku yang sedang diselimuti kabut. Kali ini aku berangkat kuliah dengan muka pucat dan sedikit lingkar hitam si sekeliling bola mataku, tadi malam aku tidak bisa tidur pertanyaan-pertanyaan yang selalu ku lontar kemarin tak mampu aku jawab dan selalu berdengung di kepalaku sehingga mata ini tak bisa terpejam sampai entah jam berapa. Tak ada yang spesial pokoknya, ku jalani rutinitasku seperti biasa, belajar tak bergairah, suara dosen menerangkan sayup-sayup ku dengar dan tak bisa ku cerna di otakku, kali ini pikiranku memang sedang buntu.

Dalam pikiran panjangku, aku akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan Ardi, tidak ada salahnya untuk merasakan kebahagian itu lagi, telah lama aku merasakan sakit yang amat dalam dan apa salahnya ku merasakan kebahagiaan itu kali ini. Aku mengirim SMS dan kami janjia n bertemu. Jam 04.23 wita, kami bertemu di Mall, depan quinera. Awalnya memang canggung tapi lama-kelamaan menjadi agak santai, dia juga mencairkan suasana dengan kata-kata lucu dan candaan sama seperti waktu dulu. Ku mengitari Mall dengan dia, sama seperti kencan pertama kami dulu. Kami berkeliling, makan-makan dan bermain games di fun city.

Hari ini sungguh aku bahagia banget, mengenyampingkan logikaku bahwa semua ini adalah salah tapi kebahagiaan itu aku rasakan lagi, panggilan Gina itu berulang kali aku dengar membuat cinta ini kembali bergemuruh dan tampa sadar aku ingin memilikinya seutuhnya tanpa ada yang lain. Egoiskah aku? Bagaimana dengan istrinya? Pikran itu datang tiba-tiba dan membuatku sadar bahwa yang ku lakukan ini salah, apa aku sudah gila menjalani hubungan dengan suami orang? Seandainya posisiku berada pada posisi istrinya Ardi bagaimana? Pasti aku akan merasakan cemburu dan sakit hati. Tiba-tiba kebahagiaan itu lenyap. Ardi heran melihatku karena perubahan di wajahku tidak secerah tadi.

“Ada apa Gina?” kata Ardi bertanya ketika melihat perubahan di wajahku.
“Ini tidak benar Kak, apa yang sedang kita lakukan sekarang itu salah, bagaimana dengan istrinya kakak? bagaimana jadinya kalau dia tahu?” kataku sambil berlalu di depannya dan tangisan itu hadir kembali.

Ardi mengejarku dan dia mampu menarik tanganku untuk berhenti dari lariku, “Oke aku tahu aku salah, dan aku sadar apa yang aku lakukan ini salah, aku minta maaf, oke aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi, terima kasih atas kebahagiaan yang kamu berikan tadi, satu hal yang perlu kamu tahu Gina bahwa aku selalu menyimpan cinta untukmu di sudut hatiku yang lain,” Dia tertunduk di depanku, ku melihat wajahnya ada bulir bening jatuh membasahi pipinya, aku merasakan kalau dia juga menginginkan aku tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, melihat dia menangis untuk pertama kalinya membuat hati ini ikut tersentuh, ikut hanyut dalam tangis yang dia tumpahkan.

Tiba-tiba tanganku menyentuh pipinya dan mengusap air mata yang jatuh itu, aku sungguh tak tega dan tak tampu melihat dia seperti ini, dia bukan Ardi yang tidak pernah menangis dulu, dia sekarang seperti orang yang butuh kasih sayang, tapi aku tidak mampu memberikan itu di saat ada orang lain yang memegang tanganmu selain aku. Istrimu ya dia itu, “Izinkan aku mengantarmu pulang untuk yang terakhir kalinya,” akhirnya dia berkata juga setelah lama hanyut dalam tangisnya.

Aku mengangguk tanpa bersuara. Sampai di depan gerbang rumahku, aku menatapnya untuk yang terakhir kalinya, hubungan ini harus berakhir sekarang tidak akan ada Ardi di kehidupan aku lagi. “Gina,” dia memanggil aku Gina lagi. Aku berbalik untuk mlihatnya, dia mendekat dan kecupan manis mendarat di keningku.
“Selamat tinggal Ardi,” kataku disaat haru biru mencekam hatiku, dan hanya itu yang mampu aku ucapkan.
“Selamat tinggal Gina Utari.”

Cerpen Karangan: Maynarni Gina
Facebook: Maynarni Gina
Nama: Maynarni Gina
TTL: Karang Baru Timur, 2 Mei 1993
Alamat: Desa Karang Baru Timur, Kelurahan Sesake, Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Tengah, NTB.
Hobi: Membaca Novel Dan Segala Yang Berbau Sastra

Cerpen Dia Panggil Aku Gina Lagi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bertepuk Sebelah Tangan

Oleh:
Suara sunyi malam mulai datang suara angin mengalun berhembus, lampu seperti semakin temaram walau sebenarnya tidak meredup. Hanya saja Nina sudah merasa sangat terkantuk, kelopak matanya ingin mengatup, dan

Sebulan Mungkin Cukup

Oleh:
Mungkin hal ini, pernah anda alami, persahabatan yang begitu singkat. Tapi ingat kebahagiaan ada pada diri kita sendiri, selain itu kita juga dapat membahagiakan orang lain. Cerita ini hanyalah

Gomen Nasai, Satoru!

Oleh:
“Ohayou gozaimasu (Selamat pagi), Manami!” sapa Yumiko padaku yang baru saja selesai memarkir sepeda di parkiran depan. Aku tersenyum pada Yumiko dan membalas sapaannya, “Ohayou gozaimasu, Yumiko!” Sesaat Yumiko

Persahabatan vs Cinta

Oleh:
Persahabatan yang di mulai dari dunia maya. Dion dan Angel, Dion adalah seorang cowok yang cuek, simple, dan cool. Sedangkan Angel adalah seorang cewek tomboy, cuek, tetapi fashion dalam

Roti Isi Kacang

Oleh:
Beberapa hari ini, Reno sering menjauh dari teman-temannya. Ia sekarang lebih senang menghabiskan waktu istirahat di dalam kelas sambil menyantap roti isi kacang kesukaannya. Di lain pihak, teman-temannya sedang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *