Dialog Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Galau, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 29 November 2017

Tak sengaja aku datang ke kota itu. Tempat pertama kali kita bertemu. Ada senyum dan tatapan tajam matamu. Sadarkah kau? aku rindu. Kota tua ini hujan lagi, tanahnya basah lagi. Anak-anak sekolahan berlarian mencoba menghindari air hujan. Sedang aku tetap berjalan menembus jutaan bulir air yang menghujam tubuhku. Dingin.

Berbulan berlalu, tak kudengar kabarmu. Gundah dan resah mengganggu ruang fikiranku. Sadarkah kau? aku rindu. Bahkan burung gereja pun enggan untuk hinggap di dahan. Kembali soal jutaan bulir air yang menghujam. Burung gereja tak rela bulu indahnya basah, sulit menatanya kembali. Ujar burung itu.

Dialog hujan di kota tua ini. Mengajarkanku sebuah arti tentang tumpukan kenangan yang mungkin terus terkenang di sela fikiranku. Menggenang di gelap relung hatiku. Bila berbicara tentang rindu, tentang hati. Aku selalu meluangkan ruang imaji. Kuambil gitarku, kupetikan perlahan. Perlahan hingga tak satu orang pun dapat mendengar.

Kuteruskan langkah, badanku semakin dingin. Air hujan itu perlahan menghilang. Hanya menyisakan genangan di mana-mana. Sadarkah kau? aku rindu. Momen dimana kita duduk berdua, memandang langit, bernyanyi lagu kenangan. Gitarku seluruhnya basah. Nadanya sumbang, tak enak didengar. Tapi aku terus mencoba bernyanyi sendu yang merdu, membebaskan biru lebam hatiku. Ngilu.

Tiba di taman sering kita duduk berdua. Di bawah rimbun dahan pohon. Semilir angin dan renyah tawamu. Wusss cipratan air dari mobil yang lewat mengenai wajahku. “maaf mba” teriak perngendara mobil itu. Acuhkan. Aku tak peduli. Lebam-lebam hatiku semakin biru, semakin ngilu. Kenangan itu tergambar jelas di mataku.

Sore itu, tepat jam 5. Kupandangi matamu, kulihat ukiran manis wajahmu yang dihiasi lesung pipi menambah indah dirimu. Tutur katamu, perjuangan hebatmu menghadapi egoku. Terima kasih sayang. Kau tak menjawab. Hanya tersenyum lebar.

Ku tak kuasa menahan tangis saat aku duduk di bangku di bawah pohon rimbun. Semuanya berakhir di sini. Kau putuskan pergi. Menghindar tak peduli. Tak perlu banyak bicara lagi, tak ada yang perlu kita utarakan lagi. Semuanya berakhir di sini. Pedih sekali.

Kuambil gitarku. Kupetik perlahan hingga tak ada satu orang pun yang dapat mendengar. Lagu tercipta seiring tetesan air mataku. Air mataku jatuh, membaur bersama kenangan. Tidak, maksudku genangan air. Tanpa kata manis, dan tanpa berisik nada melodi, sang rintik hujan pun menafsirkan kedamaian. Kedamaian yang tak pernah bisa kurasa tenang. Rindu itu selalu menggoyahkan tekadku. Tekad melupakanmu? ah tak semudah itu. Hanya rasa dan prasangka, yang terdengar di dialog hujan.

-T.Wee-

Cerpen Karangan: T.Wee
Facebook: facebook.com/catur.widiawan

Cerpen Dialog Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Telepon

Oleh:
Panggilan pertama tidak diangkatnya. Begitu juga dengan panggilan yang kedua, hingga panggilan yang ketiga… “Asslmualaikum” suaranya terdengar. “Waalaiksalam, apa Riri mengganggu waktu mu” tanya ku “tidak!” sahut Bima. “Riri

Angan Dalam Diam

Oleh:
Tak semua yang kita inginkan harus tercapai. Ambisi dan tekad mungkin boleh ada. Tapi bolehkah jika ambisi dan tekad itu berada dalam diam?. Lagu was live mengalun keras di

Tenggelam Dalam Laila

Oleh:
Hari ini. Dari jauh mereka menapak senyap. Dengan irama jantung yang membising. Tak sampai 10 menit mereka tiba di jeti, di sana ada sebuah boat menunggu. Aura seram gelombang

Puisi Tanpa Nama

Oleh:
Cinta telah membawa sebuah penantian panjang dalam hidup Rahma. Penantian yang tiada ujungnya. Penantian yang tiada titik temu dalam perjalanan mencari sebuah petunjuk. Kebimbangan dan kegalauan menggelayuti dirinya. Mengusik

Cinta Tak Harus Dimiliki

Oleh:
Dia menyusuri jalan tanpa henti-hentinya Menangis. Berada di tengah-tengah keramaian orang. Tempat orang-orang memiliki tujuan untuk berbelanja, tapi berbeda dengannya. Tujuan utamannya adalah menjauh dari laki-laki yang ia puja.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *