Diary Ku (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Galau, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 15 July 2015

Aku adalah sebagian orang yang menginginkan dan mengharapkan bisa mendapatkan cinta sejati. Dari segelintir orang yang mencari cinta mereka, berusaha mendapatkan cinta sejati, tetapi aku hanya membiarkan semua itu berlalu. Aku hanya diam, dan membiarkan cinta itu sendiri yang menghampiriku.

Sampai saat ini, aku menyesali keterbukaanku terhadap setiap lelaki yang membawa cintanya untukku. Kalian mungkin bertanya-tanya mengapa aku bisa menyesalinya. Baiklah, aku akan menceritakannya.

Kejadian ini terjadi pada tiga tahun yang lalu. Aku mencintai seorang lelaki, yang begitu tampan, romantis, dewasa dan baik. Walaupun aku mencintainya, tapi aku tidak ingin ia mengetahuinya. Perasaan itu ku pendam, karena aku tahu ia telah mempunyai seorang kekasih yang begitu ia cintai.

Rasa cemburu kadang kala tiba, Bagaimana tidak, setiap saat mereka selalu berdua. Kemanapun mereka pergi, mereka selalu kompak. Mereka memang pasangan yang serasi.

Iri aku melihatnya. Ingin aku menjadi kekasihnya. Tapi apakah mungkin? Seorang wanita biasa seperti aku bisa dicintai oleh seorang lelaki tampan seperti ia? Aku rasa, itu hanya mimpi. Suatu keajaiban bagiku, bila ia bisa mencintaiku.

Hari ini Ibu dari Rama, lelaki yang aku cintai itu datang ke sekolah. Kabarnya, ia ingin pindah dan tidak bersekolah lagi di sini. Teman-temanku geger membicarakan hal itu. Dan hari ini pula ia pergi.

Sedih, itulah yang ku rasa saat ini. Ia yang ku cintai pergi, dan tak tau apakah akan kembali atau tidak. Begitu pula dengan kekasih Rama, Sheila. Ia menangis dan mengucapkan kata terakhir untuk Rama. Suasana saat ini ku rasa sangat mengharukan, apalagi aku yang mempunyai rasa dengan Rama.

Aku tidak ingin semua orang tau jika aku sedih. Aku tidak ingin setetes air mata jatuh di pipiku. Aku berusaha menahan, membendung rasa sedih ini. Tapi, aku tak kuat menahannya. Air mataku jatuh juga.

“Lho, Ri. Lo kenapa?” teman sebangku-ku bertanya.

“Oh, gak. gue Cuma ngantuk aja.” kataku berusaha menepis rasa itu.

“Oh, gue kira lo sedih karena Rama pergi.” kata teman sebangku-ku.

“Apa-apaan sih lo. Ya, nggak mungkin lah! Ngapain juga gue tangisin dia. Yang sepantasnya tangisin kepergian Rama kan, Sheila.” kataku dengan nada marah.

“Oh, kirain… hehe..” kata teman sebangku-ku mengejekku.

“Udah deh, jangan buat gue jadi naik darah ni!” kataku dengan nada marah.

“Ya, ya. Sorry deh, jangan marah dong! Gue kan Cuma bercanda, Ri.” kata teman sebangku-ku.

“Ya, gue maafin..” kataku.

Aku terpaksa memunafikkan diriku sendiri. Aku tidak ingin semua orang menjadi tahu perasaan ini.

Rasanya ingin sekali menyusul Rama. Karena aku tidak ingin kehilangannya. Aku ingin selalu melihatnya. Walaupun ia selalu bersama kekasihnya. Tapi, bagiku itu sudah cukup.

Aku ingin berteriak, sekencang-kencangnya. Melampiaskan rasa sedih ini. Di alam bebas, menyendiri, berteriak, menangis, semua itu sudah di angan ku saat pelajaran Bu In berlangsung. Aku sempat ditegur oleh Bu In beberapa kali, karena aku melamun, tidak memerhatikan pelajarannya.

Sesampainya di rumah, aku langsung ke kamar tidurku, berteriak sekencang-kencangnya. Berusaha menghilangkan rasa itu biarlah dikata orang gila sementara, dari pada selamanya.

Ketika aku sudah puas melampiaskan teriakan itu, aku menangis. Menangis tersedu-sedu. Mungkin semua ini terlalu berlebihan, tapi itulah yang ku rasa saat itu.

Lalu aku bercermin. Aku melihat mataku yang bengkak karena terus menerus menangis. Berbicara sendiri, di depan cermin. Seolah-olah cermin itu adalah Rama. Lagi-lagi aku menangis. Tak bisa berhenti. Lalu aku membuang badanku sendiri di tempat tidurku, menangis lagi. Dan, sampai akhirnya aku lelah menangis, lalu aku tertidur.

Di dalam mimpiku itu, aku bermimpi Rama, mungkin karena aku terus memikirkan ia, jadi terbawa-bawa sampai mimpi. Aku bermimpi, aku bertemu dengan Rama dan ia menyapaku dengan ramah. Bahagianya saat itu. Rasanya seperti bukan mimpi. Aku benar-benar merasakan kebahagiaan itu.

Aku tertawa dan tersenyum bahagia saat bangun dari tidurku. Pikirku itu adalah kenyataan. Tapi saat aku sadar bahwa aku hanya bermimpi, aku hanya berfikir positif saja, barangkali nanti Rama akan datang kembali.

Setelah aku fikir-fikir, untuk apa aku menangisi semua ini. Tak berguna. Toh, dia tidak tahu perasaanku terhadapnya.

Keesokan paginya…
Aku berusaha ceria menjalani hari ini. Ini adalah hari pertama tanpa ada Rama di sekolahku. Terasa sepi tanpa ada Rama.

Di pojok sudut kelas aku melihat Sheila sedang melamun. Mungkin, ia sedang melamunkan Rama. Aku bisa merasakan apa yang sedang dirasakan Sheila. Walaupun aku bukan kekasihnya, tapi aku mencintainya. Sama seperti Sheila yang juga mencintainya. Memang, disaat seperti ini Sheila sangat butuh teman untuk sharing. Aku ingin menghibur Sheila. Meski, aku sendiri belum terhibur. Tapi, Sheila lah yang lebih pantas untuk dihibur. Sheila sudah menjadi kekasihnya, sedangkan aku bukan apa-apa nya.

Saat aku duduk di samping Sheila, aku memanggil Sheila. Tapi, ia tidak mendengarkan aku. Sebegitu sedihkah hati Sheila? Sebegitu besarkah rasa cinta Sheila kepada Rama? Sampai-sampai ia tidak mendengarkan aku. Sheila memang pantas menjadi kekasih Rama. Rasa cintaku kepada Rama tidak sebesar Sheila yang sampai seperti ini.

Sheila, memang seorang wanita yang cantik, baik, dewasa dan pintar. Sempurna sekali pribadi Sheila. Semua wanita iri kepada Sheila. Bagaimana tidak, Sheila selalu menjadi Bunga Sekolah di sekolah ini. Sheila, dia-lah yang menjadi wanita idaman para lelaki.

Melihat Sheila yang seperti ini, aku jadi minder. Sheila memang pantas dicintai lelaki seperti Rama. Rama tampan, dan Sheila cantik. Mereka memang benar-benar pasangan yang sangat serasi.

Aku akhirnya lebih memilih ke kantin. Di sana pasti banyak teman-teman. Aku bisa melupakan Rama untuk sejenak dengan berkumpul, bercanda, berbagi cerita dengan teman-temanku.

Saat aku ke kantin, aku menyapa teman sebangku-ku. Kami bercerita, bercanda, ya apapun akan aku lakukan untuk bisa melupakan Rama. Saat aku disinggung soal kepergian Rama, aku mulai mengingatnya lagi. Aku berusaha mengalihkan pembicaraan, tetapi temanku tahu. Dan dia bertanya.

“Ri, lo kenapa sih? Gue kan tadi Tanya sama lo, menurut lo semenjak si Rama pergi, ada yang berubah nggak? Tapi kok lo malah ngomongin yang lain sih, jawab dulu dong pertanyaan gue! Oh, apa lo punya rasa ya sama Rama. Gue jadi curiga.” Kata temanku.

“O..o..ohh.. ng.. ng.. ng.. nggak kok. Gue biasa aja. Menurut gue, ada sih perubahan. Lo bisa lihat kan, Sheila dari tadi melamun aja. Gue rasa, dia pasti terpukul banget. Apalagi, dia kan nggak tau kalo si Rama mau pergi hari itu juga. Rama pun katanya, dia nggak tau kalo dia bakal pindah.” Kataku dengan gugup.

“Ri, lo jujur aja sama gue. Gue kan teman sebangku lo, gue bisa jaga rahasia kok. Lagian, gue juga curiga sama lo. Dari sikap lo, selama ini gue perhatiin kayanya lo ada rasa sama Rama ya? Nggak apa-apa. Jujur aja. Banyak kali yang suka sama Rama.” Kata temanku membujukku agar aku mau mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya kepada Rama.

“Ehmm… Gimana ya? Gue bingung. Kalo gue cerita sama lo, walaupun lo bisa jaga rahasia, tapi lama kelamaan semuanya bakal ketahuan juga. Sama aja sih. Gue cerita, maupun gue gak cerita sama lo, semuanya pasti akan terbongkar juga.” Kataku bingung.

“Ya udah, lo cerita aja. Kan lumayan, hilangin sedikit beban fikiran lo.” Kata temanku membujukku agar mau cerita kepadanya.

“Ya deh. Hmm… sebenernya, gue emang ada rasa sama dia. Lo tau sendiri, dia itu kan banyak yang suka. Gue pun juga suka sama dia. Tapi, semenjak gue lihat Rama sama Sheila, mereka kayanya nggak akan terpisahkan deh. Mereka pasangan yang sangat serasi. Gue jadi minder, apalagi rasa yang gue punya nggak sebesar rasa yang Sheila punya.” Kataku.

“Ri, dalam hidup ini kita mesti banyak berusaha dan berjuang. Jangan negative thinking dulu. Jangan kalah sebelum perang Ri! Lo harus berusaha dapetin cinta lo.” Kata temanku memberikan semangat untukku.

“Tapi, lo lihat sendiri kan, Sheila cantik, pintar, dia jadi cewek idaman para cowok. Banyak yang suka sama dia. Jadi, ya wajar aja lah kalo Rama cinta sama Sheila. Sedangkan gue, gue bukan apa-apa. Gue cuma mimpi bisa jadi pacarnya Rama.” Kataku.

“Ya ampun, Ri. Lo jangan gitu, muka lo nggak jelek amat kok Ri. Lo pasti bisa jadi pacarnya Rama. Apa perlu gue comblangin?” kata temanku memberikan saran untukku.

“Nggak usah lah, ngapain juga lo comblangin gue sama Rama. Nggak bakalan ada hasilnya! Ya, mungkin ada hasilnya. Palingan, yang ada gue ditolak mentah mentah waktu lo comblangin gue sama dia. Ngelawak lo!” Kataku berusaha menolak comblangan temanku.

“Ya, kan kita coba dulu. Kalo hasilnya, siapa yang tau? Kali aja Rama mau nerima lo apa adanya.” Kata temanku memberikan semangat kepadaku.

“Terserah lo deh. Lo lakuin yang terbaik aja ya buat sobat lo ini.” Kataku.

“Ok! Lo pokoknya tinggal terima beres!” kata temanku.

“Siipp” kataku.

Setelah dari kantin, kami berdua menuju ke kelas, karena bel masuk sudah berbunyi. Saat aku masuk ke dalam kelas, aku masih memperhatikan Sheila yang masih melamun sedari tadi.

Aku menghampiri Sheila, dan berusaha membangunkannya dari lamunan panjangnya itu.

“Sheila…” kataku sambil memegang bahunya.

“Ya, ada apa?’ kata Sheila dengan kaget.

“Lo dari tadi gue lihat ngelamun aja. Mikirin Rama ya?” kataku.

“Iya, Ri. Semenjak dia pergi, gue jadi sering ngelamunin dia. Gue takut ada apa-apa sama dia.” Kata Sheila.

Hatiku teriris saat mendengar kata-kata yang diucapkan Sheila. Betapa besar cintanya kepada Rama, jika dibandingkan dengan aku, tidak ada apa-apanya. Tulus sekali cinta Sheila. Aku tadinya ingin menangis, tapi aku berusaha menahan air mata yangingin keluar dari mataku.

“Emangnya ada apa Ri? Tumbenan amat lo nanya gitu ke gue?” katanya curiga.

“Oh, nggak. Gue cuma khawatir aja sama lo, kayanya lo shock banget semenjak Rama pergi kemaren.” Kataku sambil memegang mataku, berusaha menghapus air mata yang sebentar lagi akan jatuh.

“Lo emang bener, Ri. Gue shock banget atas kejadian itu. Apalagi, di antara kita kan gak ada yang tahu kalo Rama mau pindah hari itu juga.” Katanya.

“Ya udah, lo kalo mau curhat sama gue aja. Kan lumayan buat hilangin sedikit beban fikiran lo.” Kataku.

“Ya deh. Nanti pulang sekolah aja yah, gue mau curhat banyak sama lo. Lo bisa gak? Apa lo ada acara nanti sehabis pulang sekolah?” katanya.

“Gue sih bisa-bisa aja. Tapi, biasanya gue dimarahin sama mama gue kalo pulangnya telat. Kalo lo main ke rumah gue sekalian curhat gimana? Mau nggak?” kataku memberikan saran.

“Gimana ya, gue nanti emang nggak ada acara sih. Tapi, gue kan belum pernah ke rumah lo. Rumah lo jauh nggak dari sekolah?” katan Sheila.

“Rumah gue nggak jauh-jauh amat sih dari sekolah. Udah nggak apa-apa. Main aja. Mama gue lagi masak enak hari ini lho!” kataku membujuk.

“Ya udah deh, gue kabarin orangtua gue dulu yah, kalo gue bakalan pulang telat hari ini.” Kata Sheila.

“Oke, siiip! Ya udah, gue ke tempat duduk gue dulu ya.” Kataku.

“Ya, thanks ya, Ri!” kata Sheila.

“Any time.” Kataku.

Aku ingin memberitahu teman sebangku-ku agar tidak usah mencomblangkan aku dengan Rama. Karena aku melihat cinta Sheila, tak sebanding dengan cinta yang aku punya. Aku rasa semua akan percuma. Tapi setelah aku pikir-pikir, apa salahnya sih kalau aku mencoba. Demi mendapatkannya. Nanti, Sheila akan curhat banyak tentang Rama. Sedikit, aku bisa tahu tentang Rama. Mungkin, agak sedikit licik. Tapi, demi mendapatkan Rama, apapun akan aku lakukan.

Aku sudah dibutakan oleh cinta. Demi mendapatkan dia, aku rela melakukan apa saja. Saat Sheila main ke rumah aku, Sheila memang bercerita banyak tentang Rama. Sedikit, aku bisa mengetahui diri Rama. Mulai dari makanan kesukaannya, warna favoritnya, hobinya, band kesukaannya, lagu kesukaannya, ya lumayan lah aku bisa tahu kepribadian Rama sedikit demi sedikit.

Cerpen Karangan: Afifah Fajriani
Facebook: Afifah Fajriani

Cerpen Diary Ku (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Diary Ingatan Ku

Oleh:
Melupakan dia yang pernah hadir dan menjadi bagian dari hidupmu memang sulit, terlebih lagi jika kisah itu terkenang dan itu sungguh menyakitkan. Walaupun indah saat ada penggantinya tapi tetap

Sikat Atau Setrika

Oleh:
Jumat 22 Mei 2015, seperti biasa setiap hari kami ke selokan, eh bukan. Maksudku ke sekolah naik mobil, jangan ciee ciee dulu, karena bukan mobil pribadi tapi mobil sewa.

Arti Sebuah Nama

Oleh:
Berawal dari hidupku yang teramat membosankan dan tidak akan bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Aku terlahir pada malam sabtu pahing dan ditakdirkan menjadi seorang anak. Konon katanya menurut penanggalan

Mawar Fadil

Oleh:
Suara teriakan itu menggetarkan hati, isak tangis pecah saat langkah kaki ayahku meninggalkan ibu yang sedang mengandungku di usia kehamilan 6 bulan, ayah pergi dengan mengucapkan talak cerai kepada

Mengapa Cintamu Bersyarat?

Oleh:
Satu persatu murid memasuki ruang kelas, namun aku tak menyadari bahwa bel masuk telah berbunyi. Hingga seseorang menyadarkanku dari lamunan indahku. “Heh! Kenapa kau senyum senyum sendiri,” tanya Kelvin,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *