Dilema Menikah Muda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 16 August 2013

Semilir sepoi-sepoi angin malam itu, menerpa setiap sudut wajahku, wajah sendu yang sedang bimbang di tengah hiruk pikuk di malam itu, kuperhatikan beberapa anak muda mungkin beberapa tahun dibawahku sedang sibuk membuat hiasan pernikahan di panggung yang sudah didirikan bapak-bapak sore tadi, di sisi lain, para ibu-ibu juga sedang sibuk masing-masing ada yang masak, ada yang menyiapkan prasmanan, dan berbagai kegiatan lainnya, beberapa anak kecil sibuk berlari dari satu tempat ke tempat lainnya, wajah ceria dan senyum lepas mereka menyejukkan bagi siapa saja yang melihatnya.

Bimbang, ya hatiku bimbang saat itu, aku kembali bertanya-tanya kedalam lubuk hatiku yang paling dalam, sudah siapkah aku?, sudah mampukah aku?, akankah ini tak terlalu cepat di usiaku yang masih 20 tahun ini? Apa kata orang-orang dengan pernikahan diniku ini?, semuanya berkecamuk mesra di dalam setiap sudut pikiranku.

Besok adalah acara besar tersebut, acara yang akan membuatku segera melepas masa lajang tersebut, melepas masa bujang tersebut, dan melepas masa kesendirianku tersebut, yah… besok akan dilaksanakan akad nikah yang akan digelar berbarengan dengan pesta syukuran setelahnya.

Melepas masa lajang? Kembali pikiran itu berkecamuk di hatiku, apakah aku siap?, siap untuk melepas masa mudaku, aku sering teringat dengan kata-kata temanku untuk tak terlalu terburu-buru menikah dahulu, ia bilang masa muda itu singkat, tak akan mungkin terulang lagi, dan aku baru sebentar sekali menyicipnya, namun dikala itu aku tak begitu menghiraukan kata-katanya.

Melepas masa bebas? Ahh… akankah aku akan begitu terkekang ketika sudah beristri kelak?, tak bisakah aku kumpul dengan teman-temanku lagi?, ehmm.. tunggu dulu, di masa bujangku aku tak begitu sering sekedar kumpul-kumpul atau begandang tak jelas dengan teman sejawatku, mungkin karena aku tak begitu punya banyak teman, atau aku memang yang tak suka dengan kegiatan tersebut.

“Ahh… lebih baik aku kembali ke kamar dan tidur saja..” gumamku, ini lebih baik agar bisa terbebas dari pikiran-pikiran ngelantur tak jelas ini, segera saja aku masuk ke kamar, kurebahkan badanku di kasur empuk tersebut, kasur indah yang mungkin akan kutempati dengan istriku di besok malam.

Namun tiba-tiba pikiranku melayang lagi, usia 20 tahun aku sudah menikah, apakah tak terlalu cepat?, apakah aku dan calon istriku kelak yang usianya juga 20 tahun sekarang bisa melewati setiap badai yang akan menghadang rumah tangga kami?, apakah aku kelak dan ia bisa merawat anak kami dengan sebaik-baiknya?, apakah kami bisa tak bergantung lagi dengan orang tua kami kelak?, begitu banyak pertanyaan yang mengelayut bak monyet tua dipikiranku, membuat hilang sudah rasa kantukku, akupun bangkit dari kasur tersebut, terdengar suara detingan gitar yang bertalu-talu, juga disambut suara cekikikan pemuda-pemudi yang seumuran denganku, mereka tak lain saudara sepupu dan beberapa temanku, saling bernyanyi dan bersendau gurau, aku yakin mereka tak merasakan beban seberat yang kurasakan saat ini.

Aku keluar dan ikut bergabung bersama mereka, mereka menyambutku dengan hangat dan menyenangkan, timbul di benakku ingin seperti mereka, masih bujang, masih gadis, lepas dan bebas…, namun segera kuusir perasaan tersebut, toh aku yang menginginkan pernikahan dini ini, mensegerakan menikah adalah sebuah pahala apalagi dalam sisi materi aku sudah berkecukupan karena di usiaku yang masih muda ini, alhamdulilah aku sudah dikaruniai sebuah pekerjaan tetap, dan juga alasanku untuk segera menikah ini yah untuk menghindari pacaran, kegiatan yang mengandung 1001 maksiat tersebut,

“Weiii… pengantin muda…” ujar salah satu dari merka
Aku hanya tersenyum kecut saja membalas panggilan tersebut.
“Jangan terlalu malam tidurnya, ntar besok malah kecapean, kan malamnya bakal kerja keras, hahahaha” celetuk salah satunya lagi yang disambung oleh gelak tawa lainnya
“Ah kalian bisa saja” jawabku ringan

Setelah itu kami saling bernyanyi dan bersendau gurau, hilang sudah penat di hatiku, namun karena memang tak terbiasa begadang, mataku berat juga, ku lihat beberapa dari kami juga sudah menghilang dan bertumbangan, aku pamit dan kembali ke dalam kamarku.

Cerpen Dilema Menikah Muda

Kurebahkan lagi badanku ke kasur empuk tadi, dan kini hanya dalam beberapa hitungan detik saja dan hisapan nafas, aku sudah melayang ke dalam dunia mimpi yang siap membuai angan-anganku.

“Assalamualaikum…” ujarku pelan didampingi kedua orangtuaku di hari yang terik itu
“Waalaikumsalam… masuk.. masuk..” jawab seorang ibu dari dalam sana, kami bertiga segera masuk dan duduk di kursi ruang tamu,
“Waduh ada apa nih adik dan orang tuanya datang main kesini..?” tanya ibu tersebut, beberapa saat kemudian seorang gadis dengan jilbab panjangnya dan baju jubah panjangnya yang menutup setiap sudut auratnya tersebut datang membawakan kami minuman dan beberapa makanan ringan..
“Silahkan…” ujarnya pelan
“Terima kasih” jawab ibu, gadis itu tersenyum dan masuk kembali ke dapur
“Begini bu, kami disini selaku orang tua dari anak kami mau mengantarkan dia… ehmm… kamu saja yang lanjutkan nak..” ujar ayahku
“Bismillahirahmanirahim, insyaallah, maksud kedatangan aku, ayah dan ibu kesini karena ingin menyempurnakan setengah dari agama islam, aku ingin mengkhitbah anak ibu…” jawabku lantang dan lancar..
“Waduhh… alhamdulilah, kalau ibu sih terserah kepada anak ibu saja yang memutuskan, karena sejak awal ibu juga sudah menyerahkan calon suami kepadanya” jawab ibu tersebut sedikit kaget, namun ia bisa mengendalikan diri dan memberikan senyum ramahnya.
“Naakk… sini nak…” panggil ibu itu lagi
Gadis tersebut keluar dari belakang dan duduk di sebelah ibunya
“Gimana nak, kamu sudah dengar tadi dari belakangkan?” tanya ibunya lagi
“Bismillahirahmanirahim… insyaallah, dengan mengharap Ridho-Nya, aku terima lamaran mas..” jawab gadis tersebut sembari tersenyum simpul..
“Alhamdulilah…” hampir serentak kami yang berada di ruangan tersebut melafaskan hamdalah, senyum merkah bermekaran dari bibir kedua orangtuaku dan ibu gadis tersebut, aku menutupkan wajahku sembari mengucap syukur tiada henti kepada sang pencipta…

“Allahuakbar… Allahuakbar…” suara adzan subuh membangunkanku dari mimpi panjangku, ah… lagi-lagi mimpi itu terulang, mimpi ketika aku mengkhitbah sang calon istriku tersebut, segera aku mengambil air wudhu untuk segera sholat subuh, sempat sudut mataku melihat para ibu-ibu dan bapak-bapak berjibaku dengan asap-asap menggepul dari kayu bakar yang tengah menanak nasi dan air tersebut,

Pagi itu juga tukang rias sudah bersiap meriasku, di hadapan kaca besar tersebut, lelaki yang agak gemulai itu sibuk menyisir dan memoles wajahku agar terlihat lebih tampan, dari kaca besar itulah kulihat..

Ah…, aku tampan juga ya? Tapi apalah guna ketampanan ini lagi kelak jika aku sudah tak bisa nongkrong di mall? Atau menarik perhatian gadis-gadis di kampusku, namun segera ku beristighfar atas kekhilafanku, tak lah ada manfaatnya jika aku melakukan seperti pikiran yang dibisikkan setan barusan.

Acara akad pagi itu sekitar pukul 10 segera dilaksanakan, dengan menggunakan adat rejang yang tersusun atas 4 bagian acara yang dimulai dari acara satu, terlihat para pengurus adat berdiri sambil memegang bakul sirih, dilanjutkan dengan beberapa prosesi lainnya hingga masuklah pada acara inti, yakni akad nikah..

Dalam hati aku melafaskan basmallah…dan dilanjutkan qobul
“Aku terima nikahnya dan kawinnya Fatimah binti Samir, dengan mas kawin seperangkat alat sholat tunai”
“Sah…, sah…, sah…” berulang suara tersebut menggema dipikiranku
“Alhamdulilah…” ujar seluruh yang berada diruangan tersebut berbarengan

Setelah itu penghulu membacakan doa dan acara prosesi pernikahan dengan adat rejang tersebut ditutup dengan acara ke 4 yakni penutup.

Suasana begitu ramai siang itu, beberapa anak kecil berjubel berlari dari sini kesana, sibuk tak karuan, para tamu undangan juga ada yang mulai mengambil makanan yang disediakan oleh panitia, alunan musik nasyid yang didendangkan teman-temanku terdengar syahdu mengiringi acara siang itu, aku dan fatimah tegak berdampingan di peraduan menyalami setiap tamu undangan yang memberi selamat,
“Selamat ya ukhti… selamat, akhirnya walimahan juga” ujar salah satu teman istriku tersebut.
“Selamat ya bro, selamat ya akhi, selamat cuy, selamat ya kak, selamat ya Firman..” berbagai macam ucapan selamat dari berbagai panggilan kuterima.

Alhamdulilah, akhirnya acara dihari itu selesai juga, acara walimahan alias pernikahan kami berjalan dengan lancar, dan sekarang kami sudah halal… alhamdulilah…

Entah mengapa semuanya lepas sekarang, lega dari lubuk hatiku, semua yang kurisaukan dahulu kini sirna sudah, aku sadar ini adalah keputusan tepatku untuk menikahinya atas mengharap ridho dari Allah Swt, insyaallah…

Sore itu aku dan fatimah duduk di teras rumah kami..
“Pacaran yuk…” godaku ke istriku tersebut..
“Yuk, pacaran selepas menikah kan halal” jawab istriku dengan senyum manis merona di pipinya
“Amin.. ya rabb…” jawab kami berbarengan

Aku starter motor bebek tuaku, motor bebek yang tak pernah sekalipun membonceng wanita yang belum halal di jok belakangnya, kini akhirnya jok belakang motor tersebut duduki seorang wanita juga, iya dia adalah istriku, seseorang yang telah halal bagiku.

Kami telusuri setiap sudut kota sore itu, tak ada yang menghalang, berboncengan dan duduk berdua kami di pinggir pantai sore itu, kami tak khawatir karena kegiatan inipun juga bukanlah sebuah kegiatan maksiat seperti yang dilakukan orang pacaran, alhamdulilah akhirnya aku merasakan juga, dan aku dan istriku beruntung kami berdua bisa merasakannya ketika kami berdua telah halal, dan ternyata keputusan aku dan fatimah untuk menikah muda bukanlah suatu hal yang sia-sia, dan salah satu nikmat yang kami rasakan ialah sore ini, berpacaran selepas nikah itu nikmat, apalagi di usia muda, dan tentunya kami sudah tak sabar menanti nikmat-nikmat lainnya dari menikah muda yang diRidho-Nya ini, dan pada akhirnya perjuangan kami menjaga kehormatan masing-masing dijawab dengan indah oleh Allah Swt dengan sebuah mahlinggai pernikahan yang begitu indah

Cerpen Karangan: Redho Firdaus
Blog: Http://redrunningstory.blogspot.com/
Facebook: Https://www.facebook.com/redho.firdaus
seorang penulis muda amatir yang sedang belajar untuk menulis, berambisi menjadi penulis besar dan membuat tulisan penggugah semangat kaum muda seperti bang fuadi dan bang andrea..

Cerpen Dilema Menikah Muda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Saat Aku Kembali

Oleh:
Bruumm… Bruumm.. Suara stom kedua kapal mengaum membelah sunyinya malam di kota ini. Pun seperti mengamuk mengalahkan bisingnya keramaian di pelabuhan. Orang-orang hilir mudik, entah apa yang mereka kerjakan.

Mencinta Tanpa Dicinta

Oleh:
Samar-samar terlihat larik-larik cinta meruah. Di tabir megah jagad raya, yang senantiasa membiaskan setiap kata-kata. Berpadu dalam pekatnya asa, yang membuat perbandingan antara langit dan bumi menjadi nyata. Seperti

Key

Oleh:
Helaan nafas tiada henti sore itu membuatku kelelahan Mengadah dan tertunduk bukanlah sebuah keputusan Bukan mauku begini, tapi kemauanmu Ah! Tidak juga sepertinya Kalau saja bisa kugenggam, tidak akan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Dilema Menikah Muda”

  1. Adit Pradita Yusuf says:

    Keren, menggugah kesadaran, pacaran setelah nikah lebih barokah! Nikah muda yes, pacaran no!

  2. yup… makasih mas adit…

    ayo kita sama – sama dukung nikah muda dan pacaran setelah nikah di generasi muda jama sekarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *