Dinda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 28 August 2016

Aku rindu hal yang bodoh itu, saat aku tak ingin pulang padahal sudah tengah malam. Hanya untuk mendapat kata “iya” dari maaf karena kesalahanku. Aku ingin sekali mengulanginya, sungguh.

Aku rindu menangis denganmu, adu argumen denganmu, kapan terakhir kali kita seperti itu? Menyusuri jalan dan tak tau tujuan hanya untuk membuang waktu bersamamu, aku rela meninggalkan kegiatan rutinku hanya untuk menikmati waktu-waktu sebelum perpisahan kita.

Aku masih menyimpan rapi rasa sayang ini, jelas di matamu, sangat ingin melupakan semua. Tapi tak semudah itu bagiku, aku tahu walaupun ini sakit, kau tahu? rasa sakit ini tak pernah putus, begitu juga kedalaman rasaku ini terhadapmu. Tak ada yang bisa melihat apalagi menjangkaunya.

Kau apa kabar? Masih ingin minum susu bersamaku? Bukankah susu murni minuman kegemaranmu saat itu? Hey jangan lupa tersenyum ya…
Cuma senyummu yang membuatku sampai sekarang belum bisa kulupa, terlalu lama memang untuk melepas semua itu. Kau masih suka tertawa nyaring hingga lepas kontrol? Itu juga kebiasaanmu.

Kau bukan wanita yang dengan malu demi menjaga kefeminiman, kau tetap wanita yang dengan bebas mengekspresikan pribadimu, aku rindu. Kuharap jangan ada airmata lagi yang mengalir di pipimu, aku bisa gila bila itu harus terjadi.

Oh ya, kira-kira kapan terakhir kita bertemu? Mungkin saat kau memberiku secarik kertas karton dengan tulisan “NDA”. Itu apa? Aku sulit mengerti tentang apa yang kau maksud dari pemberian itu. Selama ini aku terus mencarimu, tapi aku tak pernah berkesempatan untuk bertemu, selalu saja ada yang menghalangi.

Terakhir aku ingat, aku pernah mimpi dan ada kehadiranmu turut memperindah mimpiku, sekitar dua minggu yang lalu, aku sangat ingat. Kau hanya meninggalkan senyum manis yang terlalu ambigu hingga sampai saat ini aku tak mengerti apa artinya itu. Kau selalu meninggalkan teka-teki yang manis.

Kapan aku bisa sepertimu? Kapan posisi ini akan bertukar? Aku juga ingin sepertimu. Selama aku masih ingat denganmu, selama itu juga waktu ini terasa lama berputarnya.
Selalu ada keinginan untuk melupakan, tapi apalah artinya melupakan apabila aku masih satu kota denganmu.

Aku tak habis pikir, jika suatu saat nanti aku harus melihatmu dengan yang lain. aku senang, bahagia, tapi sakit yang terselubung akan menjadi bahagia yang abadi.

“Apa kabar nda?”

Dua atau tiga hari kau membalas,
“Baik saja hehe, kamu gimana?”

Aku mencoba ingin mengingatkan kenangan-kenangan yang dulu, tapi kau selalu menepis.
Baiklah, aku tak ingin memaksanya.

Aku ingin menangis, dengan puas aku harus menghabiskan airmata ini seandainya bisa. Biar tak ada lagi airmata selanjutnya. Jahatkah aku apabila harus dendam yang berkepanjangan? Haruskah ada lagi perjuangan yang bodoh saat dulu? Sampai sekarang kau tak pernah menjelaskan kenapa kau begini. Setiap pertanyaanku, kau selalu membalikkan pertanyaan itu. Aku sangat rindu saat kita ke alun-alun kidul. Tempat itu sangat bersahabat bagi kita. Aku menemukan kesederhanaanmu selaras dengan alun-alun kidul. Terasa ramai tapi ramah. Ditempat itulah kita pertama kali bertukar sebuah gantungan kunci yang begitu berkesan sejarahnya. Dan sampai saat ini masih kau simpan. Jangan kau berhenti untuk tersenyum sayang, hanya itulah yang membuatku bertahan sampai saat ini.

picesty nur fitriani, wanita pertama yang pernah nangis bersama denganku.

NDA

Cerpen Karangan: M. Hadinata
Facebook: Nata Timothy

Cerpen Dinda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kau Tetap Sahabatku

Oleh:
Bayangan tentang dirinya tak pernah bisa hilang meski beberapa kali kucoba menepisnya, namun semakin kucoba bayangannya semakin tergambar jelas di benakku. Aku bingung dengan perasaanku saat itu, perasaan yang

Hari Ulang Tahun Pernikahan Maria

Oleh:
Pagi baru juga datang, sementara matahari masih enggan naik, namun Maria sudah bersiul-siul ringan dalam kamar mandi. Bukan karena pagi yang terlambat datang, hanya saja Maria yang terlalu bahagia.

Dear Friend, Forgive Me (Part 2)

Oleh:
Suasana sore hari yang indah. Di kota, sedang ada karnaval yang ramai dipadati orang-orang. Doni dan Luna berjalan jalan dengan bahagia di sana. Melihat-lihat kemeriahan dan euforia yang menghangatkan

Cinta Terhalang Lautan

Oleh:
“Tolooong!” Sontak seisi ruangan riuh dan berhambur keluar menuju sumber suara tersebut. “Hey bunga!, itu bunga cepat tolong dia, dia tidak bisa berenang”. Teriak Citra dengan wajah yang sangat

Tuhan, Kembalikan Cinta Pertama Ku

Oleh:
“Nah anak-anak, sekarang kita sudah sampai di tempat untuk latihan kepemimpinan. Kalian sudah siap untuk menjalani pelatihan ini?” begitu tutur seorang guru yang kini sedang membimbing kami. “Siap Pak!”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *