Fisika Kuantum

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 25 March 2014

Entah kenapa, ia tak pernah datang lagi. Menyapaku di tempat ini. Atau sekadar menjengukku. Ia menghilang dari peredaran waktu yang berjalan sekian lama. Satu hari, dua hari, lima, 10 tahun, atau 30 tahun. Aku tak sempat lagi mengingatnya. Berpuluh tahun aku selalu diam di tempat ini. Dalam posisi seperti ini. Ya, posisi sama seperti saat itu. Dan aku yakin, aku selalu datang pada waktu yang persis sama dengan hari itu. Aku sangat yakin.

Gemericik air, hembusan angin, serta aroma peluh mengendus hidung dan mengacaukan kegiatanku. Aku yang kala itu menikmati nafas alam dan keheningannya, mendadak kesal dengan suara bising yang keluar dari teriakan seorang gadis. Seorang gadis pengejar kupu-kupu biru. Sebiru matanya kurasa.
“Maaf, bisa aku menganggumu sebentar?” Celotehnya.

“Apa? Kenapa harus aku? Tak ada orang lain kah yang bisa kau ganggu selain aku?”

“Owh, ayolah.. Aku tak bermaksud”.
“Tapi…”

“Tapi apa?”

“Kau menarik!”

“Hey, kau bisa serius bukan? aku bukan orang yang suka menghabiskan waktu dengan gadis gila sepertimu. Jadi, apa yang kau mau dariku?”

“Aku bilang kau menarik! Itu salah? Hey, otakmu terlalu rumit kurasa. Kau suka fisika?”
“Owh.. Ayolah, jangan kau ubah hidupmu dengan hal serumit itu! kau bebas disini.”
“Apa kau suka kupu-kupu biru?”

“Tidak. Kataku.”

“Lantas, siapa namamu? Fred? George? Justin? Atau Enstein? Karena ku yakin kau orang dengan pikiran rumit serumit fisika.”
Dia tertawa lepas sambil mengerjap.

“Bukan, namaku Oska. Dan satu lagi. Aku tidak suka kupu-kupu! Kupu-kupu biru katamu?”
“Hhhh apa itu? Hal penting dalam hidupmu?”

“Oh, iya. Kurasa iya.”
Ia tesenyum simpul.

“Iya apa? Hey gadis, lebih baik kau habiskan waktumu bersama kupu-kupu birumu itu. Jangan mengannggu lagi. Mengerti?”

“Tapi…”

“Apa lagi?”

“Nampaknya aku harus menganggumu”. Katanya sambil mengibas-ibaskan poni pirangnya itu.

“Kenapa harus aku??”

“Karena kupu-kupu biruku hinggap di kepalamu!”
“Hey, jangan bergerak!”
“Ia berjinjit menangkap binatang itu di kepalaku.”

“Terima kasih.” Katanya sambil berlari menjauh.

“Hey, itu tidak sopan! Dasar! Siapa namamu?”

“Fisika Kuantum!”
Jawabnya ketika ia mulai jauh dan menghilang dari pandanganku.

Gadis aneh! Pikirku.
Tak tau adat, kurang sopan dan… Bau keringat itu menenangkan sarafku seketika.
Siapa dia? Peri kah? Tidak.. tidak. Ia hanya gadis aneh dengan sikap yang sangat tidak sopan. Sungguh.
Tapi, siapa gadis itu?
Senyumnya, rambut, dan mata biru itu. Terlebih lagi bau peluhnya. kupu-kupu biru kesukaannya dan sikap refleks itu mengangguku. Menganggu pikiranku sejak saat itu. sehari setelahnya, dua hari, 5 tahun hingga saat ini hal itu terus menggangguku!
Cukup!
Aku tak mampu berpikiran jernih sejak saat itu. Mata biru itu selalu mengganggu tidur ku. Poni pirang itu selalu terlukis di setiap buku fisika yang aku baca dan bau keringat itu selalu mengendus hidungku kala aku diam dalam posisi yang sama di taman itu. Selalu terjadi, bukan hanya satu dua kali. Tapi setiap saat, setiap detik ketika nafasku terhembus.
Ku rasa, aku telah jatuh cinta!
Jatuh cinta dengan gadis bermata biru. Jatuh cinta dengan gadis pengejar kupu-kupu biru. Dan jatuh cinta dengan gadis yang menyebut dirinya Fisika Kuantum.

Hari ini, aku mendatangi tempat yang sama lagi. Duduk di tempat yang sama. Dengan waktu yang persis sama seperti kala itu, 60 tahun silam. Aku sudah tak mengharapkan gadis itu kembali. Aku bahkan hendak melupakannya sejak saat ini. Menghapusnya dari serpihan kenangan yang sangat kecil itu dan menutupnya dengan kenangan baru yang jauh lebih baik.
Apakah mungkin bisa lebih baik?
Hhhh.. kurasa tidak! Aku tak yakin.

Mataku memandang jauh ke balik pohon sakura yang mulai berguguran. Musim gugur telah datang. Tepat saat aku mulai menggugurkan segala ingatanku tentang si gadis pengejar kupu-kupu biru.
Namun, pandanganku terhenti.
Aku melihat gadis kecil berumur sekitar 4 tahun, bergaun biru dan berponi pirang di sana! Ya, tepat disana! Di sebelah pohon sakura. Ia tengah mengejar sesuatu. Sesuatu yang bergerak terbang mendekatiku. Sesuatu yang berwarna biru. Ya. Itu kupu-kupu biru!

“Selamat sore kakek. Dapatkah saya menganggu kakek sebentar?” Gadis kecil itu menyapaku dengan senyum lembutnya.

“Hey gadis kecil, apa yang bisa kakek lakukan untukmu?”

“Hal kecil.”

“Apa itu? Harus kakek kah yang menolongmu?”

“Aku rasa iya, karena kupu-kupu biruku hinggap di kepala kakek.”

“Oh.. Tentu gadis kecil, kau bisa mengambilnya sendiri.”
Kataku sambil berjongkok di depannya.

“Terima kasih kakek.”

“Oh tentu gadis kecil, siapa namamu?”

Ia mencium pipiku dan berbisik “Fisika Kuantum”

Cerpen Karangan: Ayu Dessy Andriani
Facebook: Ayu Dessy Andriani
Mahaswiswi jurusan Manajemen Universitas Udayana
Penggemar novel karya Andrea Hirata, Ilana Tan.

Cerpen Fisika Kuantum merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tentang Sandy

Oleh:
3 Juli 2006 Namanya Sandy. Sandy Nur Huda. Aku mengenal sesosok dia ketika awal masuk SMP ini. Ya, ketika aku dan dia sama sama masih siswa baru, di sebuah

Betapa Sakitnya Hati Ini

Oleh:
Awal melihatmu ada rasa tertarik di dalam hati. Aku mencoba mengumpulkan informasi-informasi tentangmu dari teman-temanmu. Awalnya, aku ingin cukup mengenalmu saja. Namun, kau yang memulai lebih dulu memulai percakapan

Like We Used To

Oleh:
Aku memergokinya sedang melihat ke arahku saat kita sama-sama sedang menunggu hujan reda di Loby gedung fakultasku. Ketika aku membalas tatapannya, dalam beberapa detik matanya tetap tertuju padaku, mata

Hanya Perlu Menyadari

Oleh:
Di ruang tamu, aku duduk sendiri. Mondar-mandir ga jelas. Aku sedang memikirkan sesuatu. “Apa yang harus aku lakukan. Aku harus segera mengambil tindakan sebelum batas waktunya tiba.” Gumamku. Aku

Menanti Lara

Oleh:
‘Maafkan aku, Keith… Aku pergi tanpa mengatakannya padamu terlebih dahulu Kau boleh marah padaku… Tapi satu fakta yang pasti… Dan aku tahu ini akan membuatmu sangat senang, Keith… Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *