Getaran Tanpa Tanda Jasa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 30 November 2019

Cinta itu penerang, namun membutakan. Cinta itu indah, namun menyakitkan. Ungkapan yang sangat sulit dicerna bagiku, sebelum kau datang menggetarkan jiwa ini. Hati ini telah terpaku pada kehadiranmu yang masih menjadi misteri. Mungkin sulit diterima kalau dirimulah getaran pertama yang pernah kumiliki, mengingat aku adalah seorang gadis yang baru mengakhiri masa remaja. Setiap saat, kau terlalu sering datang dalam anganku. Bahkan, kesibukanku mampu kaukalahkan hanya dengan menghadirkan bayanganmu yang tak nyata. Hingga aku menyadari bahwa itulah yang disebut rindu. Namun, getaran rindu itu mengusik hidupku, membuatku susah tidur, tidak selera makan, tidak fokus mengerjakan tugas harianku, dan sering kali membuatku berdebat dengan batinku sendiri.

Suatu hari di kala petang, hujan deras mengguyur diriku yang sedang dalam perjalanan menuju tempat pertama aku berjumpa denganmu. Tiba-tiba getaran itu terasa, sentak membuat batinku merespon.
“Getaran itu terasa lagi?” tanyanya.
“Ya. Aku sangat merindukannya. Dan berharap nanti aku dapat bertemu dengannya,” jawabku tanpa suara sambil mengendarai sepeda motor dengan pandangan ke depan.
“Itu artinya kamu menyukainya. Benar, ‘kan?”
Entah kenapa pertanyaan itu sulit kujawab. Aku memang merindukanmu, sangat. Tapi, aku tidak bisa mengakui kalau aku benar-benar menyukaimu, walau sekedar diucapkan dalam hati.
“Getaran ini terlalu kuat. Sepertinya, aku tidak akan bertemu dengannya hari ini,” sahutku mengalihkan pertanyaan batinku.
“Wah! Bahkan, kamu mampu memprediksi kehadirannya,” ucapnya kagum.
Aku terdiam.

Sesampainya di bimbel, aku bergegas turun dari sepeda motor dan segera masuk ke ruangan. Senyum rindu kupasang di wajah agar saat bertemu dengamu aku bisa melepaskannya dengan senyuman yang lebih lebar. Lalu, aku tidak melihatmu. Seketika, tubuhku lemas dan semangatku memudar. Begitu keras suara canda dan tawa anak-anak di tengah semangat belajar mereka. Namun, itu tidak mampu memecah kesunyian hatiku. Walaupun banyak teman seperjuangan yang menyapaku, aku masih merasa sangat kesepian. Aku kesepian tanpamu.

“Prediksimu sangat tepat. Aku rasa, kamu mempunyai ikatan khusus dengan seseorang yang sedang kamu harapkan saat ini,” kata suara batinku di sela sempit waktu tunggu mengajarku.
Aku hanya bisa menghela napas, tidak menjawabnya.

Hari demi hari berganti. Penyakit rindu ini semakin jadi. Aku melakukan segala cara untuk melepas kerinduan ini. Aku berusaha mengatur jadwal mengajarku agar tepat saat bisa bertemu denganmu. Aku rela basah kuyup dan menghiraukan rasa lelahku agar aku memiliki kesempatan untuk mendengar suaramu. Saat aku sakit, aku tetap pergi mengajar dengan tujuan bisa mengobrol denganmu yang barangkali dapat menyembuhkan rasa sakitku, meski semua itu hanya sesaat. Tapi, aku lebih sering mengalami kegagalan dalam rencanaku itu. Mereka bilang hal paling romantis ketika merindukan seseorang adalah dengan menyisipkannya dalam doa. Ketika aku tidak lagi bisa menahan kerinduan ini, aku mencoba cara terakhir itu dan membuatku lebih tenang.
Kau tidak tahu seberapa tersiksanya diriku. Tak seorang pun yang mengetahuinya. Terkadang, aku pun tidak sadar air mataku meleleh ketika menahan siksaan itu.

“Lagi-lagi, kamu menangis,” ucap suara batinku.
Aku terperanjat sadar dan kubiarkan air mataku tetap mengalir mengikuti keinginannya.
“Kenapa perasaan ini menggangguku? Untuk pertama kalinya, aku sangat takut kehilangan seorang teman, terlebih dia,” kataku.
“Apakah kamu menyukainya?” tanya batinku.
Aku memejamkan mata sejenak sambil berpikir.
“Ya!” tegasku sambil membuka mata, “Aku ingin selalu bersama, di dekatnya. Mengawasinya sepanjang waktu. Walaupun dia tidak menyukaiku, aku rela, aku rela asal aku bisa memastikan dia bahagia.”
Dalam imajinasiku, batinku tersenyum lega mendengar pengakuanku.

Tiba di hari pernikahan teman perempuanku, satu bimbel, menjadi hari yang sangat istimewa. Begitu istimewa, hingga aku tahu bahwa perasaanmu sedang kecewa. Kau ternyata telah menyukai temanku yang saat itu sedang berdiri di pelaminan bersama pria lain. Kekecewaanmu bagaikan debu beracun yang menyesakkan hatiku. Namun di hadapan mereka, kututup rasa sakitku itu. Bahkan, aku berpura-pura memasang wajah penuh tawa kepuasan bersama teman-teman yang lain setelah ikut menyindir dirimu.

Sejak saat itu aku mulai berubah terhadapmu. Cuek menjadi cara terbaikku. Aku mengerti bahwa hatimu tidak pernah terpancing oleh pengorbananku selama ini. Aku memutuskan untuk melupakan perasaanku. Tapi lagi-lagi, aku berdebat dengan batinku.

“Kenapa kamu melakukannya?” tanya batinku kesal ketika aku bergegas pulang dari bimbel, “Tidakkah kamu tahu perasaannya tadi?”
“Kenapa aku harus peduli pada perasaannya? Bahkan, dia tidak pernah menghiraukan aku.”
“Dia tadi kecewa padamu. Perubahan sikapmu mungkin dirasakan olehnya. Kamu masih memiliki getaran itu. Aku tahu itu.”
“Kenapa aku harus memiliki rasa rindu itu? Aku membencinya dan tidak akan pernah kusebut lagi namanya dalam pikiranku, bahkan tidak dalam doaku!”
“Kamu tidak akan pernah bisa melakukannya. Aku adalah bagian dari dirimu. Aku tahu persis bagaimana situasi hati dan pikiranmu saat ini. Kamu mencintainya dan tidak akan sanggup melupakannya. Dan kamu juga tahu bahwa dia pun mencintaimu dalam diam.”
“Tidak!” sangkalku, “Aku tidak mau memikirkannya lagi. Sia-sia jika aku bertahan untuk terus melakukannya.”
“Tidak lama lagi, kamu tidak akan bisa mengelak tentang perasaanmu ini,” ucap batinku lembut.
“Ini keputusanku,” tegasku, “Dan aku harap kamu mendukungku.”
Tidak terdengar lagi suara batinku, mungkin aku memenangkan perdebatan itu.

Siang hari berikutnya, aku kembali bertemu denganmu. Wajah datar kutunjukkan di hadapanmu ketika menyapa. Saat aku sedang istirahat, kau tiba-tiba datang ke ruanganku untuk mengambil spidol papan tulis sambil mengubrak-abrik wadahnya. Aku menjauhimu keluar ruangan, tanpa suara. Aku membalikkan pandanganku padamu sejenak. Entah kenapa aku melakukannya. Tapi ketika itu, pandanganmu sekilas juga mengarah padaku. Hatiku langsung berdebar, lalu pandangan kita seketika berpaling ke arah lain. Aku duduk di luar sembari menunggumu keluar dari ruanganku.

“Perasaan apa yang baru saja kualami?” ujarku gundah dengan tatapan kosong ke bawah.
“Hatimu bergetar,” jawab batinku lembut.
Suasana hening sejenak.

“Aku melihat tatapannya. Gambaran tentang kekecewaannya. Tapi, bukan karena di hari pernikahan waktu itu. Dia kecewa padaku. Seolah-olah, dia sedang mencari sesuatu yang hilang dariku. Apa benar dia…”
“Kamu juga merasakannya, ‘kan?” sahut batinku menyela, “Kenapa kamu harus membohongi dirimu sendiri?”
“Tidak. Dia tidak mungkin menyukaiku.”
Tapi, apa benar kau menyukaiku dalam kebungkamanmu, pikirku yang tak terucap dalam hati.

Tiba-tiba, kau muncul dari bibir pintu samping kursi panjang kayu yang sedang kududuki.
“Jam berapa mulai lesnya?”
Aku terkejut mendengar suaramu. Untuk pertama kalinya kau bertanya padaku. Padahal, selama ini pertanyaan itu yang selalu kulontarkan padamu dikala kau sedang menunggu.
“Jam 3,” jawabku pelan dengan ekspresi wajahku yang bingung.
“Masih setengah jam lagi. Digunakan untuk berbaring dulu saja. Lumayan, ‘kan?”
“Ya,” ucapku singkat sambil meringis menutupi kegalauanku.
Kemudian, kau meninggalkanku. Sementara aku yang telah tersemu oleh perhatianmu, langsung kembali ke ruangan.

Masih di hari yang sama menjelang Maghrib, hanya tinggal kelompok belajar kita yang tersisa. Kau selesai mendahuluiku. Tapi, kau masih menunggu dengan alasan sekalian Maghrib di sana. Menunggu, alasan yang sangat jarang kau gunakan, mengenal kau bukanlah tipe orang yang suka menunggu, terlebih masih 20 menit sebelum azan dikumandangkan. Namun, aku tidak terlalu menghiraukan sikap langkamu itu. Itu urusanmu, pikirku yang masih terbawa kesal.

Malam harinya setelah pulang dari bimbel, aku segera berbaring di ranjang untuk melepas lelah. Tiba-tiba, hatiku bergetar dan pikiranku terbayang mengenai sikapmu hari itu.
“Jadi, apa keputusanmu kali ini?”
Mendadak suara batinku menyela. Aku hanya bisa terdiam, masih berpikir. Aku teringat ketika pertama aku berjumpa denganmu, pandanganmu yang dengan mudah mengarah padaku, kecanggungan yang kita alami, dan hal-hal lain saat bersamamu yang pernah menyentuh hatiku. Dan terakhir, sikapmu yang berbeda terhadap diriku. Aku tidak tahu apakah kau benar-benar menyukaiku atau hanya sekedar perasaanku saja. Tapi, suara batinku selalu meyakinkanku kalau prasangkaku ini tidak salah. Aku diam akan perasaanku padamu, mungkin begitu pun denganmu. Suasana pikiranku hening sejenak. Dan keheningan itu perlahan membuat air mata berlinang di pipiku. Aku sadar dan menyesal akan perlakuanku padamu selama ini.

“Apa yang telah kulakukan? Apakah aku membuatnya khawatir? Apakah dia takut kalau aku membencinya karena sindiran teman-teman saat itu? Aku juga terlibat di dalamnya. Aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya dia rasakan pada saat itu,” ucapku bisu dengan isakan yang tak tertahan, “Aku merindukannya. Aku mengakui masih merindukannya. Bahkan ketika marah, masih saja aku memikirkannya.”
“Benar. Bukankah lega kalau apa yang kita ungkapkan sesuai dengan perasaan kita?”
“Ya,” kataku mengusap air mata sambil tersenyum tipis, “Sekalipun dia tidak memiliki kerinduan padaku, aku akan selalu merindukannya. Kugunakan perasaan ini sebagai motivasiku, semangatku.”

Semenjak itu, perasaanku kembali bersama keyakinanku. Bibit kebencian yang tumbuh di hatiku mampu dicabut hanya dengan secercah kerinduan yang masih melekat. Aku akan membuktikan kalau aku sedang berjuang untukmu, walau tak terlihat. Bahkan sebenarnya, aku tidak ingin perjuanganku terlihat olehmu. Dengan melihatmu tersenyum, itu sudah cukup membuatku lega. Aku masih ingat kata-kata yang pernah kau ucapkan sekitar sembilan bulan yang lalu bahwa rencanamu menjalin ikatan dengan wanita yang akan kaujadikan pasangan seumur hidupmu adalah setelah hari kemenangan tahun ini berlalu. Maka sebelum hari itu datang, aku akan terus meluapkan kerinduanku ini dengan penuh senyum keikhlasan dan menyebut namamu di setiap doaku. Mungkin perasaanku akan terungkap saat hari itu atau tidak akan pernah sama sekali. Jika kemungkinan kedua itu terjadi, terdengar sia-sia memang. Tapi, tidak ada yang sia-sia dalam kebaikan. Karena yang kulakukan merupakan sedekah untuk kebahagiaanmu.

Cerpen Karangan: Noor Aini
Blog: shinnypadelecki.blogspot.com
Noor Aini, gadis kelahiran Pati, 22 Agustus ini merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Tinggal bersama keluarga di Dusun Cucukan, Wonoboyo, Jogonalan, Klaten. Pengalaman menulis puisi, artikel, dan cerpen telah diterbitkan melalui blognya.

Cerpen Getaran Tanpa Tanda Jasa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pertemuan Singkat di Halte Bus

Oleh:
Setiap pagi ku langkahkan kaki dengan ceria menuju Halte Bus dimana akan ada bus yang membawaku ke tempat kuliahku. Ditemani sinar sang mentari dan semilir angin di pagi hari.

Lagu Rindu Untuk Dia

Oleh:
Pagi itu entah kenapa kasur di kamar gue terlihat lebih seksi dari Miy*bi sehingga membuat gue enggan untuk meninggalkannya, gue ngerasa nyaman banget berada di atas dia -kasur. Tapi

Hampir 3 Tahun Penantian Itu

Oleh:
Siang itu, aku duduk di bawah pohon depan kelasku. Aku kelas X SMA. Melihat cowok manis lewat di depanku dengan sepeda modifannya. Tiap jam istirahat, aku pun sering melihatnya.

Perasaan itu

Oleh:
Pukul 15:45, kegelisahan mulai terlihat di wajahku. “15 menit lagi” kataku dalam hati. Setelah salat ashar, aku mulai gelisah menunggu hasil SNMPTN yang resmi diumumkan pada pukul 16:00 wib.

Perempuan Pirang

Oleh:
“Ayah mau kamu tinggalkan profesimu itu!” bentak ayahku. “Tapi, memangnya kenapa, Yah?” sahutku lirih. “Ayah tidak mau kamu bergaul dengan orang-orang yang salah,” “Hilmis sudah dewasa, dan sudah tahu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *