Gundah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Olahraga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 27 November 2019

Aku sedang duduk melamun di taman saat tiba-tiba dikejutkan oleh Rama yang datang dari belakang menepuk pundaku.

“Oi Hil! Gimana kabar? Aku punya permintaan nih!”
“Y-yo Ram. Jangan suka ngagetin gitu ah. Bahaya tahu buat orang tua.”
“Kamu kan masih muda Hil.. Oke. Jadi gini. Sebentar lagi ada turnamen bola antar fakultas nih. Tim kami kekurangan orang. Jadi kamu mau gak bantuin kita? Kita kekurangan kiper sih. Nah kamu kan udah pengalaman jadi kiper di Porprov dulu. Jadi gimana? Want to join us?”
“Hmm.. iya deh aku pikir-pikir dulu ya Ram.” jawabku dengan senyum kecut sembari berdiri dan berencana untuk pergi ke kelas. Aku tahu cepat atau lambat pasti ajakan-ajakan semacam ini akan datang kepadaku. “Mau ke mana? Jangan kelamaan mikir ya! Minggu depan udah main soalnya. Kita berharap banyak sama kamu.” Rama menahan tanganku yang membuatku tidak bisa bergerak. “Ke kelas. Udah mau masuk. Iya siap.” Sembari melangkah menjauh aku mengacungkan jempolku.

Aku melangkah dengan guntai menuju kelas. Entah kenapa hari ini aku sedang tidak ingin melakukan apa-apa. Semacam ingin istirahat menenangkan jiwa dan raga. Aku hampir mendapatkan ketenangan itu jika saja Rama tidak mengganggu waktuku. Gara-gara itu hatiku menjadi kota dengan hujan lebat, gemuruh petir yang sangat memekakkan telinga, tumbuh-tumbuhan layu, kotanya sepi tak punya harapan. Tapi di saat yang sama di bagian hatiku yang satu lagi terdapat kota yang cuacanya sangat bagus. Matahari bersinar terang memberikan sumber kehidupan bagi tanaman, manusia dan harapan pada kota itu. Aman, damai dan tentram.

Aku ada kelas siang ini. Cuma dua jam. Tapi cukuplah untuk menguras tenagaku. Setelah kelas selesai aku berencana untuk langsung pulang. Tetapi Sarah menarik kerah bajuku dari belakang dan membuatku tercekik.

“Hei mau kemana? Jangan coba-coba kabur ya! kamu kan udah janji mau ngerjain tugas bareng!”
“Iya Sarah aku gak lup—“ Dengan gerakan yang cepat Sarah berpindah ke depanku dan menarik kerah baju depanku sehingga wajah kami sangat berdekatan. “Jangan bohong kamu. Tadi kamu barusan mau pulang kan?” dengan nada yang lembut dibarengi dengan senyuman dia mengintimidasiku. “E-enggak kok..” aku terbata-bata menjawab tuduhannya dan hanya bisa dibarengi dengan senyuman terpaksa. Dasar perempuan psikopat. Tambahku dalam hati.
“Yaudah, yang penting kamu udah janji. Ayo sini ikut!”
“Iya-iy— eehh! Jangan diseret-seret kaya kucing dong! Lepasin dulu tanganmu nih!” Mimpi apa aku semalam sampai diseret-seret oleh wanita begini. Bisa-bisa orang yang melihat jadi salah sangka. Aku terlihat seperti laki-laki yang ketahuan selingkuh oleh pacarnya dan diseret-seret menuju tempat pembuangan akhir terdekat untuk dibuang. Ini sangat tidak lucu abis men.

Sarah membawaku ke taman. Taman yang sama saat aku duduk melamun sebelum masuk kelas tadi. Sebenarnya aku ragu menyebutnya taman. Faktanya tempat ini adalah lapangan yang sangat luas dan terdapat beberapa bangku panjang mengelilinginya. Kami duduk di salah satu bangku dan berhadapan langsung dengan lapangan yang hampir penuh karena mahasiswa.

“Hil.”
“Hmm”
“Semangat ya buat turnamen bolanya nanti” Sarah mengatakannya dengan senyum yang tersimpul manis di wajahnya. “Jadi kamu udah denger dari Rama ya? Hmm.. aku belum pasti ikut turnamen itu Sar.” Jawabku cuek tanpa membalas senyumannya. “Kenapa? Kamu kan lumayan bagus mainnya?” Kepala Sarah yang mulanya memerhatikan lembar kerja sekarang mendongak lurus ke arahku. “Kalo kamu emang mau ya ikut aja Hil. Udah saatnya kamu bisa menentukan apa yang akan kamu lakukan. Jangan ragu. Apapun keputusan yang kamu ambil kamu harus menerima akibatnya.” Tambahnya.

Aku terdiam. Hanya seruan untuk kembali mengerjakan tugas yang kulakukan. Sarah pun memajukan sedikit mulutnya tanda tak setuju. Ini membuatku tambah ragu untuk ikut atau tidak. Masalahnya adalah aku merasa tidak siap. Karena aku sudah lama tidak berlatih. Dan memang sudah saatnya aku untuk berhenti dari bidang itu dan fokus ke hal lain yang lebih serius. Untuk saat ini aku sedang tidak ingin berkaitan dengan yang namanya sepakbola.

Seminggu berlalu. Aku sedang duduk di sebuah bangku panjang dengan tenang. Ralat, aku berusaha tenang untuk menikmati pertandingan. Tetapi itu agak sulit karena aku berada di antara orang-orang yang sedang bersorak-sorai mendukung timnya bertanding. Yap. Aku sedang duduk di bangku penonton. Aku akhirnya memilih untuk tidak mengikuti turnamen itu. Tidak ada penyesalan. Sepertinya.

Fakultasku ketinggalan satu gol tanpa balas di babak pertama. Dan sekarang sudah saatnya untuk memasuki babak kedua. Penampilan timku tidak terlalu buruk. Semuanya bermain dengan baik. Terutama Rama. Dia bisa mengatur tempo permainan dengan sangat bagus. Sesuai yang diharapkan dari kapten tim.

Kita berhasil menyamakan kedudukan, walaupun begitu aku punya feeling buruk. Tinggal satu gol lagi maka kami bisa lolos ke babak berikutnya. Tetapi bencana itu datang. Kiper kami cidera. Dia bertabrakan dengan penyerang lawan saat ingin menangkap umpan lambung dari sisi kanan gawang. Tabrakan itu menyebabkan dia jatuh dengan salah pijakan dan membuatnya tidak bisa berdiri. Dan parahnya kulihat kita tidak mempunyai kiper cadangan. Hatiku gundah. Jantungku berdetak makin kencang. Membuatku bisa merasakan darah yang mengalir di tubuhku. Aku melongo dengan wajah heran.

Hasilnya sudah bisa ditebak. Fakultasku kalah tipis. Karena kiper pengganti yang notabene adalah seorang gelandang melakukan kesalahan yang berujung gol bagi tim lawan. Diriku menyesal kah? Bisa dibilang iya. Karena akan lain cerita jika aku yang berada di sana. Sebuah panah datang dari langit menuju bumi, lalu menuju ke diriku dan langsung menghujam dadaku. Rasa sesak yang tak tertahankan karena rasa penyesalan yang amat dalam benar-benar berefek panjang pada pola pikirku. “Harusnya aku berani ambil kesempatan itu. Hilang sudah emas di depan mata” Gumamku lesu meninggalkan lapangan.

Cerpen Karangan: Gaban
Blog: gusgallerio.blogspot.com
Pencinta buku, fotografi, wanita, dan teh rasa kafein. Memiliki hobi berhalusinasi di dalam pikirannya sendiri.

Cerpen Gundah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Si Telon

Oleh:
“Itu…” teriak Rusdi sambil menunjukkan ke semak-semak yang ada di depan mereka. “Mana?” Rusdi berjalan membungkukkan badannya. “Itu, aku melihat ekornya!” “Ya, betul itu ekor si telon. Pelan-pelan, jangan

Waktu Itu

Oleh:
DETIK demi detik berlalu begitu lamban. Jarum panjang jam paris di pergelangan tanganku tak juga mau bergerak cepat. Entah sudah yang keberapa kali aku melihat, menghitung dan berharap. Adakah

Ya Sudahlah

Oleh:
Aku begitu putus asa saat ini. Ingin rasanya bunuh diri. Aku hidup atau mati pun gak berpengaruh banyak bagi orang lain. Alasanku ingin mati yang pertama aku sangat obsesi

Rindu Pelangiku

Oleh:
Sore ini kota jogja tampaknya kurang bersahabat dengan banyak orang, di luar tampak suasana kota yang mendung dan diselimuti dengan rintik-rintik hujan, tapi tidak untuku, aku lebih menyukai keadaan

Dosaku Kepada Ayah

Oleh:
Aku seakan tak bisa mengampuni diriku sendiri. Aku tega berbuat sekeji itu kepada orang tua, yang setengah mati berjuang demi kehidupanku, berjuang agar hidupku bisa selayak anak lain. Tapi,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *