Hanya Sebuah Tulisan Kacau

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 November 2016

Mungkin sudah satu bulan lebih kau tak mengabariku dan memberi tanda-tanda kehidupan darimu, memang saat itu kita terpisahkan oleh jarak yang tidak lebih dari 30 km. Apa kau tau? Saat itu aku lelah dan takut menahan rasa rindu yang terus bergentayangan dalam pikiranku yang hampir saja membuatku gila. Tapi yang kau lakukan? Acuh saja dengan perasaanku dan kau tetap bahagia menari-nari dengan lingkunganmu disana, tanpa kau pikirkan aku sangat membutuhkanmu untuk hadir dan menari dengan kehidupanku.

Hingga tahun ajaran baru pun tiba, kau dipercaya untuk menjaga kedisiplinan sekolah saat siswa dan siswi smp mengenal seluk beluk sekolah kita. Aku bangga kau bisa dipercaya, aku senang karena banyak yang mengenalmu dengan paras yang lebih cantik dan menarik daripada aku. Tapi aku tidak akan menegurmu, aku tidak akan marah padamu atau malah membencimu. Karena aku tau kamu bisa menjaga perasaan ini, menjaga sebuah rasa yang dibangun atas dasar rasa sayang dan keinginan untuk mengenal lebih dalam juga saling menjaga perasaan kita satu sama lain.

Satu minggu berlalu dan di suatu malam tiba-tiba kau ingin bertemu denganku, setelah satu bulan lebih kita tidak bertemu karena sebuah hadiah liburan atas keberhasilan kita mengisi sebuah lembar jawaban kerja ujian semester kemarin dan ditambah satu minggu kesibukanmu mengurus tentang kedisiplinan sekolah kita.

Anehnya, kenapa kita bisa merasa canggung lagi seperti saat pertama kita bertemu? Apakah akibat 1 bulan tidak bertemu dan tidak pernah lagi membicarakan hal-hal yang tak penting namun kita tertawakan bersama? Malam itu aku merasa berbeda dengan kata-kata yang kau ucapkan, seakan-akan aku tak mengerti dan tak bisa mengolah apa yang kau maksud. Saat itu pula pikiranku dilanda dengan negative thinking, apakah yang kau maksud itu semacam kata-kata perpisahan? Mengakhiri kisah kita secara perlahan dan dengan jalan yang baik-baik agar aku tidak menangis merengek untuk meminta maaf dan memintamu untuk tidak pergi? Sungguh pada malam itu aku seperti orang yang kebingungan mencari makna dari kalimat-kalimat yang kau lontarkan, berusaha untuk merubah negative thinkingku ini menjadi positive thinking agar aku terlihat baik-baik saja dan menghilangkan rasa kebingunganku terhadap makna yang kau bicarakan.

“mungkin ini adalah terakhir kalinya aku mengunjungimu untuk bertemu dan bercerita di malam hari…”
“hah? Maksudnya apa? Aku gak ngerti…”
“iya, ini semacam yang terakhir kalinya aku mengunjungimu seperti ini. Untuk minggu besok dan selanjutnya mungkin aku gak akan datang lagi, kita cukup bertemu dan berbicara di sekolah saja pas pulang sekolah…”
“kenapa? Apa ada masalah kalau kamu datang kesini untuk bertemu dan bercerita denganku? Kenapa kamu tidak pernah bercerita kalau ternyata dengan bertemu denganku kau akan mendapat masalah? Kau tau? Di sekolah, kita susah untuk bertemu. Aku sibuk dengan rutinitasku dan kau juga sibuk dengan rutinitasmu. Kita memang hidup di zaman modern, dengan kecanggihan alat komunikasi yang menurut orang yang sudah lama hidup itu lengkap dan nggak ribet. Tapi menurutku itu tidak berarti, itu tidak mampu untuk menghilangkan rasa rindu ini yang membuatku lega dan bahagia dengan hari-hariku…”
“anehya kita, kita satu sekolahan. Satu angkatan, kelas kita berseberangan. Tapi kenapa untuk bertemu pun susah, pulang sekolah aku langsung pulang dan kau juga. Sore harinya di hari-hari tertentu aku pergi ke bimbingan belajar dan kau juga, padahal tempat bimbel kita sama. rasanya waktu untuk bertemu dan bercerita itu tidak ada, di waktu luang kau menggunakannya untuk beristirahat dari rutinitasmu dan aku juga.”
“makannya, malam bisa jadi waktu kita untuk bertemu dan banyak bercerita. Seperti malam ini, tak apa aku bercerita denganmu dalam jangka waktu satu minggu sekali…”
“tapi aku ingin fokus belajar, kita sekarang kelas 3 sma. Beberapa bulan lagi kita akan lulus dan mencari kuliahan, aku takut gagal. Untuk malam hari meski satu minggu sekali aku rasa aku nggak bisa, aku ingin pulang ke rumah untuk minggu-minggu selanjutnya. Berkumpul bersama keluargaku disana…”
“jadi kau mau fokus belajar? Ya silahkan kau fokus belajar, lalu tinggalkan saja aku. Maaf kalau aku hanya sebagai penghalang kesuksesanmu, yang selalu memberimu beban dengan keegoisanku. Sekali lagi maaf dan terimakasih untuk segalanya selama ini, aku tetap menyayangimu…”
Tiba-tiba kau memelukku, dan kau berkata “tolong, jangan tinggalkan aku. Aku tidak bermaksud kesana, kamu jangan negative thinking dulu. Aku sayang kamu, aku ingin bersamamu selamanya. Aku ingin kita bahagia dengan kesuksesan”.

Jujur saat itu aku bingung, bingung aku harus menjawab pernyataan-pernyataanmu tadi. Kau ingin fokus belajar secara tidak langsung aku menafsirkannya kalau kau ingin sendiri dulu, lalu kau menegaskannya dengan kata aku takut gagal dan itu makin membuatku merasa kalau aku memang tak pantas bersamamu. Tapi kau malah menghalangiku untuk pergi, menahanku dengan pernyataan yang seketika membuatku lupa dengan segala pikiran kacauku.

“ok, berarti bukan itu maksudmu? Maafkan aku kalau aku selalu negative thinking terhadapmu. Mungkin rasa rindu ini yang membuatku begitu, sekali lagi maaf. Lalu apa yang harus aku lakukan?”
“iya, it’s ok. Apa yang harus kamu lakukan? Jalani saja, meski kita tidak berkomunikasi secara langsung atau tidak langsung. Atau bahkan tidak bertemu, yakinkan saja hatimu. Percayalah akan ada waktu dimana kita akan merasakan kembali kebahagian yang lebih bahagia dari momen-momen sebelumnya suatu saat nanti, kamu juga harus bersabar dan kuat menahan rasa rindumu itu. Percayalah aku dan kamu akan baik-baik saja, jangan takut, jangan cengeng kalau terjadi apa-apa. Karena aku ingin kamu menjadi seseorang yang kuat dan bahagia, aku juga mendo’akan kamu supaya sukses dan kita sama-sama menjadi orang sukses nanti…”

Tapi tetap saja aku merasa bingung, bingung dengan tindakan apa yang harus aku lakukan dengan pernyataan-pernyataanmu. Apakah aku bisa melakukannya? Melakukan seperti apa yang kau katakan dan yang kau inginkan? Apa aku mampu menjalaninya dengan sifat dan karakterku? Mungkinkah aku bisa menahan rasa kalau kau tetap menjadi milikku tapi aku tidak merasa kau adalah milikku? Dengan fokus terhadap tujuan masing-masing untuk saat ini dan kedepannya dan memberikan waktu kita untuk belajar dan mencapai kesuksesan? Aku sangat berharap ini berhasil dan tidak sia-sia, supaya kau tidak menyesal dan mampu membuatku bahagia. Semoga pernyataan-pernyataanmu itu benar-benar akan terjadi disuatu saat nanti. Aku harap kamu sukses, meski aku harus menanggung rasa rindu dan kacau ini sendirian. Aku menyayangimu..

Cerpen Karangan: Ajeung Nur Fauziah
Blog / Facebook: ajeungnf.blogspot.co.id / Ajeung Nur Fauziah

Cerpen Hanya Sebuah Tulisan Kacau merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Untukmu Aditiya Nugraha (18022013)

Oleh:
Dalam bayanganku, semua orang tertawa. Rumor tentang cowok lain ini menyebar. Apakah kau lakukan apa yang kau lakukan bersamaku? Apakah dia mencintaimu seperti cintaku padamu? Apakah kau lupa semua

Cinta Bisu Untuk Si Tampan (Part 2)

Oleh:
Nisa segera mengembalikan beberapa buku yang dibacanya ke rak perpus. Kemudian, Nisa melangkah keluar dari perpus. Ternyata Arul sudah menantinya di sana. Nisa segera melangkah menuju Arul. Kini, Nisa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *