Hanya Untuk Lili

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Galau, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 23 December 2013

“Halo..?” Desisku menanggapi orang yang menelphone ku tengah malam seperti ini, sekitar jam 00.30.
“Halo Callista Gabriel atau Lili adek sayang, apa kabar malam ini?” sahutnya.
“Oh kak Ray, baik. Ada apa sih telphone malam-malam begini?” tanyaku pada kak Ray, kekasihku.
“tidak apa, hanya sekedar menanyakan kabar kok..” jawab kak Ray. “Hehe, ya udah lanjutin lagi tidurnya ya dek.. selamat malam.” lanjutnya.
‘ihh.. kebiasaan deh telphone malam-malam cuman buat nanyain kabar.’ gerutuku dalam hati. “Oh iya, kakak juga tidur jangan begadang mulu, entar sakit.. selamat malam juga kak.” jawabku sambil segera menutup telephone.

Itulah kebiasaan kak Ray, menelphone ku tengah malam hanya untuk menanyakan kabar atau sekedar mendengarkan puisi yang ia buat untukku. Tapi aku tak pernah keberatan dengan itu. Perbedaan umurku dengannya 4 tahun, saat ini aku duduk di bangku kelas 3 SMP, sedangkan kak Ray kelas 3 SMA. Orang-orang yang tidak tau sering menyangka kalau aku dan kak Ray itu saudara (kakak-adek), karena memang wajah kami sangat mirip. Bedanya mungkin hidungku tidak semancung kak Ray. Pesek, begitulah kata orang-orang.

Sore itu aku jalan-jalan bersama Melisa sahabatku di mall, tadinya aku mengajak kak Ray, tapi ia sedang sibuk jadi tak bisa menemaniku. Aku pikir tak apa, jadi sekarang aku bisa mencari suatu benda untuk hadiah ulangtahunnya. Sudah dua jam aku keliling-keliling mencari hadiah ulangtahun yang tepat untuk kak Ray, yang bertepatan dengan hari ulang tahunku, 21 Juni.
“Eh Li, bukannya itu kak Ray yah?” Ucap Melisa tiba-tiba sambil menunjuk orang yang ia bilang kak Ray.
“Lho, iya Lis. Katanya tadi dia gak bisa keluar, disuruh jaga rumah. Itu malah jalan sama cewek.” sahutku, memasang wajah cemberut.
“Coba kamu telphone saja.” Usul Melisa. aku hanya mengangguk mengiyakan.

Saat itu aku memang marah, bahkan sangat marah. Kak Ray lebih milih jalan sama cewek lain ketimbang bersamaku, pacarnya. Tapi aku mencoba untuk mengontrol emosi untuk tidak melabraknya. Siapa tau itu sepupu kak Ray atau temannya, pikirku saat itu.
“Halo.. ada apa dek?” Tanya kak Ray saat mangangkat telephone.
“Kakak dimana?” aku balik bertanya.
“Kakak di rumah, kan lagi jaga rumah dek..”
“bohong!!”
“Beneran dek, ini kakak lagi bikin puisi buat adek.”
“Mana? coba bacakan!!”
“nggak sekarang dong, nanti malam yah.”
“kakak gak usah bohong kakak di mall kan sama Jeasy?” tanyaku sedikit membentak.
“Ng.. nggak kok dek..” Jawabnya gugup.
“Sudah lah kak, aku barusan melihat kakak memakaikan kalung itu pada Jessy. Bahkan sekarang aku ada di depan kakak.” Ucapku sambil menghampiri kak Ray, sengaja waktu itu telephonenya tidak aku matikan. “Aku tidak sangka, ternyata kakak sama saja seperti cowok lain. Kakak selingkuh, kakak udah khianatin Lili!” lanjutku, memakinya dan menangis tidak lupa juga mematikan telephone yang tadi belum aku tutup
“i.. ini.. Tidak seperti yang adek kira. Maafin kakak..” elaknya sambil medekat padaku. Tapi aku tak menanggapinya, kupikir semuanya sudah jelas jadi tak perlu lagi ada yang harus di jelaskan. Aku mendorong kak Ray dan berlari meninggalkannya. tidak seperti yang aku ingin, kak Ray tidak mengejarku, tidak juga memanggilku saat itu. Aku sangat kecewa, orang yang berjanji akan selalu setia itu ternyata mengkhianati delapan bulan kebersamaan manis itu.

Sudah dua minggu aku mengacuhkan kak Ray, setiap hari sepulang sekolah ia selalu menungguku dan mencoba mengajaku bicara. Tapi aku tak pernah menggubrisnya, aku masih sangat kecewa. Sakit hati, perih. Rasanya ingin sekali segera melupakan dia, tapi tidak bisa semuanya begitu sulit untuk dihapuskan. Saat itu aku benar-benar tak bisa berfikir jernih, untung saja semua itu terjadi setelah UN sekitar satu minggu sebelum kenaikan kelas, jadi tidak terlalu berpengaruh dengan nilaiku.

Siang itu tidak sengaja aku melihat Melisa sedang bercakap-cakap dengan kak Ray. Tidak tau apa yang mereka bicarakan, dan aku bersikap sok tidak peduli di depan siswa-siswi yang menatap prihatin kepadaku. Wajahku mulai memerah menahan tangis, rasanya saat itu aku ingin sekali menangis, menjerit dan mengatakan ‘kak Ray, aku menyangimu, aku ingin melupakanmu, ingin menghapus semua luka yang kau torehkan saat itu. Kenapa semuanya begitu sulit?’. Tapi aku berusaha untuk menahan semuanya. Untungnya saat itu jemputanku datang di waktu yang tepat, sehingga segera saja aku masuk ke dalam mobil. Aku pikir, di dalam mobil aku bisa menangis semauku, tanpa ada yang menatap prihatin ke arahku selain Bang Romy, sopirku.
“Nangis aja non, menangis aja sepuasnya, agar bisa sedikit mengurangi rasa sakit yang non Lili Rasa.” ucap bang Romy. Dia benar mengerti dengan perasaanku karna memang umurnya pun tidak terlalu tua. Meskipun seorang sopir, tapi dia juga adalah seorang mahasiswa yang bekerja menjadi sopir di rumahku, kerja sampingan katanya.

Malamanya, kira-kira jam 08.05 malam, Melisa datang ke rumahku mengantarkan amplop surat berwarna biru. Dia menyuruhku untuk segera membacanya karena itu sangat penting, tapi aku tak menurutinya, karena tau pasti itu dari kak Ray. Setelah kira-kira setengah jam Melisa membujukku untuk segera membaca surat itu, akhirnya ia putus asa karena aku yang bersikeras ingin mebacanya besok saja dan mengusir halus Melisa untuk segera pulang.

Waktu sudah menunjukan jam 11.00 malam, aku masih belum bisa memejamkan mata. Rasanya sulit sekali, sementara hujan sudah mengguyur tempat tinggalku 15 menit yang lalu. Aku mulai penasaran dengan surat itu, dan segera membacanya.

“Dear Lili pecek..

perintah: baca surat ini di depan cermin!! …”

aku pun bergegas menuju meja riasku. Dan segera melanjutkan mebaca surat itu.

“Kakak benar-benar minta maaf dengan kejadian waktu di mall, itu salah paham sayang. Jessy itu sepupu kakak, kakak mengajaknya untuk mencarikan hadiah ulang tahun untuk adek. Dan dia menyarankan kalung ini, kakak sengaja berbohong karena tidak mau adek tau kalau kakak akan memberikan hadiah untuk adek. Tadinya kakak mau pura-pura lupa akan hari ulang tahun kita.
perintah kedua: pakai kalung itu, dan lihat betapa adek sangat cantik mengenakannya.”
Aku pun mengenakan kalung yang ku temukan dalam amplop surat kak Ray. Aku menangis, aku benar telah salah paham terhadap kak Ray.
“Sudahlah, jangan menangis, coba tersenyum untuk kakak!!”
“Sok tau kamu kak, dari mana kau tau kalau aku menangis membaca suratmu?!” Ucapku disela-sela membaca surat sambil menyeka air mata dan tak terasa aku tersenyum karena itu.
“Nah jika adek tersenyum itu lebih cantik… 😉
Sekarang jika adek memaafkan kakak, kakak ada di luar menunggu adek.”

“Astaga.. Kak Ray?” pekikku. Sadar akan kak Ray yang kehujanan di luar sana. Segera aku berlari menghampirinya.
“Ahhss pintunya di kunci…” dengusku.
“Kak Raaayyy…!!” teriakku di depan pintu memanggil kak Ray yang basah kuyup. Dia merentangkan tangannya. Aku berlari menghampiri dan memeluknya erat.
“Adek maafin kakak?” tanyanya.
“Maaf, adek salah paham. Maaf juga karena udah bikin kakak kehujanan kaya gini. Maafin adek.” Tangisku di pelukan kak Ray. Aku sangat merasa bersalah karena tak pernah mau mendengar penjelasannya.
“Kakak gak bisa bertahan lama di cuekin sama adek, besok 21 Juni, hari ulang tahun kita. Dan kakak mau pamit sekarang sama adek karena kakak harus melanjutkan sekolah di Australi, bersama ibu kakak. Kakak janji bakal setia.”
“Adek gak percaya, kenapa harus di Australi?” aku melepaskan pelukan kak Ray.
“Kalau adek gak percaya, adek boleh bunuh kakak, supaya adeklah yang jadi cinta terakhir kakak sekarang!!” Kak Ray mulai berkata serius.
“tidak!!” jawabku
“kenapa?” tanyanya.
“Karena aku akan membiarkan orang yang aku cintai menetapkan pilihannya. Meskipun ada perih, disini.” jawabku menggenggam tangannya, dan kak Ray memelukku lagi.
“Tidak ada pengkhianatan untuk kita. Jika orang bertanya siapa jodohmu katakan ‘aku’ jika bertanya lagi dimana dia, katakan ‘jodohku sedang menyelesaikan urusannya’.” ucap kak Ray meyakinkan di tengah guyuran hujan, juga sambil tertawa “Hanya untuk Lili..” lanjutnya. Aku hanya menggaguk mengiyakan. Dan akan berjanji menunggu kak Ray pulang, untuk bersamaku lagi.

END

Cerpen Karangan: Ayu Dewi Lestari
Facebook: Ayu Dewi lestari
I’m newbie here, mohon kritik dan sarannya ^_^

Cerpen Hanya Untuk Lili merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cerita Khayalan Basah Hujan

Oleh:
Karena semua berhak mendapat kesempatan kedua. Hujan sudah lama turun dan sudah lama pula pikiran terlarung dalam kenangan. Hujan masih tetap sama, masih tetap dingin. Dingin yang mengembun di

Friend and Boyfriend (Part 1)

Oleh:
Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di SMA Darmawangsa. Di sinilah ia, dengan dandanan super norak, yaa seperti MOS biasanya. Rambut dikepang empat, memakai pita berwarna kuning, menggendong tas

Ada Pelangi di Air Terjun itu

Oleh:
Aku selalu menyukai hal-hal yang indah. termasuk pelangi. impianku yang tidak pernah tercapai dan mungkin tidak akan tercapai adalah ketika aku bermimpi menjadi salah satu bidadari yang melewati jalan

Intensi Lengkara

Oleh:
Akhir tahun memang selalu membawa hal yang sama, harapan. Ya, dari sekian banyak makhluk hidup di bumi, harapan akhir tahun mereka untuk menyambut tahun yang baru, hanya satu. Lebih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *