Hubungan Ku Dengan Mu Seperti Sebuah Sepasang Sepatu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 8 January 2016

Mengenal seseorang untuk menjadikannya sebagian dari jalan cerita hidup kita memang tidak semudah dengan ungkapan kata-kata. Begitu pun dengan yang ku alami saat ini, hal yang mirip bahkan bisa dikatakan sama ketika itu terjadi dalam kehidupanku. Bulan November tanggal 1, 2015 adalah awal perkenalanku dengannya. Ceritanya berawal dari kesalahan yang tidak sengaja ku perbuat dengannya.

Di hari dimana dosen memberikan tugas kelompok kepada semua mahasiswa di kelas kami, kebetulan sekali aku satu kelompok dengannya, meski awalnya sudah ku ketahui jika ia memanglah pria pendiam pada umumnya. Namun aku tetap saja tidak pada pandanganku dengannya, aku malah berpikir jika dia hanya pendiam di suatu tempat dan tidak pada tempat yang sama, dengan kata lain mungkin saja dia pendiam di luar rumah sedangkan di dalam rumah mungkin saja dia cerewet, 30% dari dugaanku benar dan sisanya salah. Mengapa? Karena di tempat lain dia begitu pendiam sedangkan di kampus tetaplah ia pendiam.

Aku dan ketiga teman kelompokku (termasuk dia) berkumpul untuk membicarakan tugas kelompok kami. Seingatku waktu itu pukul 12:15 tepatnya di lapangan sanusi maggu’ tempat parkiran mahasiswa. Setelah berbincang-bincang dengan mereka bertiga, keputusan pun jatuh di tempat favoritnya yaitu TELKOM. Sebelumnya dia sudah mengatakan lebih awal jika tugas ini dikerjakan di rumah saja tapi kedua temanku termasuk dia tidak ada yang setuju untuk mengerjakannya di rumah. Sebagai ketua kelompok dia tentunya bertanggung jawab atas kelompok kami. Tentunya dia harus tepat waktu. Dan apa yang terjadi?

Beberapa menit setelah aku sampai di tempat tujuan bersama kedua teman kelompokku. Dan dia belum juga muncul. Disms di bilang. “Tunggu, aku sedang minum obat mataku..” Sebenarnya seminggu yang lalu aku sudah tahu jika dia sedang sakit mata karena efek dari kegiatan pesma yang diadakan kampus tapi siapa yang tahu jika matanya belum sembuh dan masih dalam tahap pengobatan. Jadi dengan seluruh kesabaranku.

Aku menunggunya dengan wajah kesal. Inginnya memperlihatkan wajah murung karena kecewa kepadanya tapi lagi-lagi dia memberiku senyum tak berdosanya padaku dalam hati ku katakan. “jangan pernah tersenyum tidak bedosa seperti itu lagi di hadapanku..” Dia masih saja tersenyum dan langsung minta maaf kepada kami bertiga. “Maaf ya.. aku telat.” itu katanya.

Kembali ke rumah aku mulai memikirkan kejadian hari ini ketika bersama dengannya. Sepertinya “aku sedang jatuh cinta.” ataukah “aku sedang hanya kepikiran saja..” Pertanyaan demi pertanyaan pun muncul seiring berjalannya waktu dan tidak dapat ku katakan dengan kata-kata hanya ungkapan tindakan saja yang ku lakukan terhadapnya. Day by day. Kami pun terus bersama layaknya sepasang tali dan sepatu yang terikat dan membutuhkan satu sama lain. Keseharianku bersamanya adalah hal-hal kecil yang menyenangkan dan itu telah menjadi kenangan yang terukir di dalam diaryku.

Terkadang aku memberikannya permen dan dia menerimanya, berbagi hardcover binder di pagi hari, duduk berdekatan bersama, mengirim pesan bersama, tertawa bersama bahkan aku pernah berpikir untuk memeluknya namun tindakan itu ku kurung dalam hatiku. Pernah sekali aku kecewa ketika dia meminta nomor hp perempuan lain padahal sangat jelas jika saat itu aku ada duduk bersamanya. Esoknya dengan wajah tidak bersalah dia tersenyum padaku dan mengatakan. “Ada apa?” dia bertanya pun rasanya aku begitu lega dan tidak marah lagi padanya.

Kejadian yang tidak akan pernah ku lupakan ketika bersamanya. Saat memberikannya permen di siang hari dan saat itu hanya ada kami berdua. Dan hal itu selalu berbekas di ingatanku sebagai seorang wanita yang butuh kasih sayang tentunya ketika diperhatikan oleh orang yang disukai hati kita akan merasa nyaman. Dan hal itu nyaman ketika aku bersamamu. Karena itu kamu. Makanya kau tidak bersedih dan telah menemukan inspirasi baru dalam hidupku untuk tetap hidup dalam senyuman.

Pernah sekali di TELKOM kami, aku, teman cewekku, sahabat cowokku dan si dia (inisail D). Berkumpul di tempat itu untuk mengerjakan sebuah tugas rumah, harapannya bisa mengerjakan tugas dan memperlihatkan kecerdasanku padanya tapi apa yang terjadi? Malah sebaliknya, dialah yang memperlihatkan kecerdasannya padaku, sungguh mengagumkan, bahkan aku telah memiliki biodatanya, beberapa menit kemudian tugas rumah telah selesai dikerjakan, karena sudah saaatnya pulang jadi kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing, dan apa yang terjadi?

Ternyata di dompetku tidak ada sepeser uang pun, tidak ingin berterus terang, teman cewekku mengetahui problemku dan mengatakan, “ada apa Ika?” ku jawab.
“lihatlah hanya ada credit card, dan sepeser uang pun tak ada.” Temanku In bertanya kembali.
“lalu, bagaimana dong?” tiba-tiba sahabatku datang menawarkan dirinya.
“baiklah, salah satu dari kalian ikut denganku dan lainnya ikut dengan dia.” sambil menoleh ke arah dia, dan dia hanya mengatakan.
“ada apa? Kemarilah, ku antar kamu pulang.. di mana alamatmu Ika?” tanyanya singkat. “dekat kampus.” jawabku singkat.

Untuk pertama kalinya dalam catatan kampusku, mau-maunya seorang cowok mengantarku pulang padahal secara logis arah rumah kami berbeda bahkan bisa dikatakan tidak searah. Kejadian selama di kendaraan, inginnya memeluknya karena telah mengganggapnya sebagai saudara tapi aku akhirnya sadar jika tindakanku ini bisa jadi akan mempermalukanku di masa depan.

Ku harap hal itu tidak terjadi lagi, sepertinya aku merasa sedikit menyukainya. Dan perasaan suka itu pun tumbuh dalam hatiku. Dan tiap kali aku melihat dan bertemu dengannya aku selalu merasa bahagia meski di hari itu terkena masalah dengan teman kelas yang lain, tapi jika ada dia, rasanya semua berubah jadi ringan, masalah seberat apa pun akan teratasi hanya dengan senyuman polosnya.

Namun mimpi buruk pun terjadi entah kesalahan ini murni aku yang lakukan ataukah karena ketidaksengajaanku. Smeua orang tahu jika aku ini ceroboh dan panik ketika berbuat kesalahan.
Pertama: tugas persentasi yang tadinya adalah tujuan utamaku untuk menunjukkan bakat alamiku hilang begitu saja karena kebodohan lisanku. Dan ini murni adalah salahku. Dia pantas marah akan kejadian ini. Dan aku menerima kejadian dan marahnya dengan lapang dada.

Kedua: ketika itu di pagi menjelang siang hari, kedua temannya mendatangiku dan mengatakan. “bisakah kamu kembalikan topi miliknya?” Dengan heran ku katakan.
“topi itu bukan miliknya..” Ku kira hari itu kasus tentang topi itu berakhir, nyatanya malah sebaliknya. Kejadian aneh terus terjadi. Dia yang tadinya begitu ramah dan sering membantuku malah berbalik menjadi seseorang yang membenciku bahkan tersenyum di hadapanku pun tidak pernah. Ia hanya memandang acuh padaku.

Permen yang selalunya ku berikan padanya ia tolak, duduk di dekatnya ia menghindar, bahkan saat itu aku sedang dalam mood yang sangat baik namun ketika melihat wajah kecewanya padaku. Moodku seketika berubah buruk. Dan itu telah merubah karakter periangku mejadi murung dan jutek kembali. Karena kau. Karena itu kau karena itu kamu karena itu kamu karena itu kamu keran itu kamu. Karena itu kamu karena itu kamu.

Umur masalah topi ini sudah memasuki 1 bulan 5 hari, setelah mengetahui kalau masalah topi itu tersebar, telah ku ketahui satu hal jika dia memanglah pria yang dingin dan tidak berperasaan. Padahal sudah ku jelaskan dengan berbagai cara untuk mengatakan kebenaran pada dirinya. Jika bukan aku yang mengambil topinya. Sudah ku jelaskan melalui sms bahkan sosmednya sekaligus.

Dan apa yang ku dapatkan? Nihil.. kekecewaan dan rasa amarah itu muncul bersama dengan turunnya air mataku di malam ini. Aku tidak habis pikir dia begitu tega menyebar gosip dan merusak namaku. Tentunya itu berpengaruh dengan kehidupanku. Dan memanglah benar jika perasaan ini telah hilang seutuhnya setelah kejadian itu. Kejadian yang murnia adalah kesalahapahaman yang ia buat untuk membuatku marah.

Sepatu yang tadinya memiliki tali kini berubah menjadi sebuah sepatu tak bertali dan hanya digunakan bagi yang menginginkannya. Begitu pun antara aku dan dia. Sudah tidak memiliki ikatan apa-apa lagi. Hanya tinggal sebuah cerita yang entah kapan akan berakhir.

Lab. 4 informatika.
Sangat pagi bisa dikatakan demikian, mengapa? Karena ada hal lain yang harus kulakukan sebelum memasuki lingkungan kampus tepatnya ruangan Lab. Hal ini tak lain adalah kegiatan yang paling ku benci selama aku hidup yaitu. “menunggu..” Sepertinya menunggu kali ini cukup menyenangkan dari biasanya. Yah menunggu teman untuk kedatangannya demi mendapat gelar “setia..” Harus ada pengorbanan dan itu adalah menunggu.

Kejadian yang cukup menggelikan pun terjadi. Dimana tepatnya biro tempat pembayaran sengaja aku duduk menunggu di sana dan siapa yang ku temui di pagi ini? “dia.” pria dengan tuduhan topinya itu. Astaga dia memandang ke arahku, entah apa yang ia pikir waktu itu yang penting aku ingin melupakan semua kejadian yang ku lalui bersamanya. 1 jam pun berlalu.. Perasaan kesal dan emosi mulai merasukiku, “mengapa dia lama sekali?” gerutuku dalam hati, bahkan perkataan itu telah ku lisankan lima kali sebelum ia datang, dan dia tidak muncul muncul juga?

Karena merasa bosan dengan tempat yang tadi, ku biarkan kakiku melangkah menuju tempat yang lebih merasa nyaman, duduk di dekat atm dan tempat penjagaan kampus.. “Rasanya aku sudah gila.” batinku. Satu persatu pun teman sekelas melihatku, ada yang hanya bertegur sapa, tersenyum dan bahkan mengajakku untuk segera pergi dari tempat itu. Dan apa yang ku lakukan? Hanya duduk tersenyum sesekali, dan menjawab pertanyaan temanku.

Bagai orang aneh yang menunggu kehadiran seseorang yang begitu penting. 30 menit kemudian, ia datang dan mengatakan. “maaf..” kata kata paling bodoh yang telah ku dengar untuk kesekian kalinya. Maksudku tidak bisa apa mengatakan. “terima kasih.” karena waktuku telah kamu ambil 1 jam 30 menit lamanya dan kamu hanya mengatakan. “maaf..” Sejam kemudian dosennya tak kunjung datang “sabar.”

Sejam berikutnya dosennya sudah datang “mengeluh..” Karena telah lama menunggu. Bayangkan saja lab 4 informatika itu berada di atas fakultas letaknya tepat di lantai 3. Betapa melelahkannya jika hal itu terus dipikirkan tanpa merasa jenuh sedikit pun. Kelas pun dimulai dengan rasa bosan. Beberapa menit berlalu, tugas pun bermunculan dari mengerjakan perintah pertama hingga akhir dan itu tidak ada hentinya. Pelajaran menjadi menyenangkan ketika, tugas kedua muncul. Pekerjaan rumah pengganti final dan akan dikumpul minggu depan. Tentunya harus segera selesai sebelum waktunya tiba. Satu kalmat yang ku ucapkan. “Melelahkan tapi menarik.”

Raut wajahnya mulai berubah ketika memandang ke arahku, entah apa yang dia pikirkan tentangku. Yang jelas aku sudah tidak memiliki perasaan lagi terhadapnya. Kami berpandangan 3 menit lamanya dengan jarak 5 kaki tepat di hadapanku, dan itu terasa menggangguku karena dia berada tepat melindung dekat papan tulis. Seorang teman berkata padaku. “dia kelihatan merasa bersalah..” Ku jawab. “ku harap demikian..” Percakapan singkatku dengan temanku.

“kamu masih marah padanya?”
“iya, karena dia telah memberiku kesan buruk”
“maukah kamu memaafkannya?”
“iya jika dia mengatakannya dengan sungguh-sungguh.”
“sepertinya ia merasa bersalah padamu.”
“mengapa? bukankah dia itu sedingin es?”
“ku lihat dia tersenyum tiap kali melihatmu.”
“mungkin karena aku lucu atau apalah itu,” batinku.

Ku harap masalahku dengannya akan segera berakhir secepatnya, sebelum batas kesabaranku berakhir, dan aku tidak ingin hal buruk menimpaku karena kecerobohan yang telah ku lakukan beberapa tahun lalu. Hal itu tidak akan pernah ku lakukan bahkan jika harus berkorban nyawa sekali pun hal buruk itu tak akan terulang lagi. Ingin ku ucapkan kata perpisahan padamu tapi rasanya itu tidaklah penting, terlebih lagi saat kita bertemu kata pertemuan tidak pernah terucap untukku.

Kejadian hari ini membuat hatiku serasa retak dan rasanya hancur berantakan ketika mendengar kamu berkata lembut dan sopan terhadap seorang wanita selain aku, “adik kenapa?” padahal perempuan itu seumuran denganku begitu pun denganmu, pikiran gila menghampiriku “siapa wanita itu?” rasa cemburu itu masihlah ada tapi rasa suka padamu telah lama hilang semenjak kejadian itu.

Dan kau harus tahu satu hal jika “aku begitu membencimu, my D’. di hatiku kecilku tersimpan ruang untukmu tapi kamu dengan mudahnya pergi tanpa berkata sepatah kata pun padaku, bagaikan hampa rasanya ketika tidak pernah mengobrol lagi padamu. Ku harap di bulan ini dan sebelum tahun ini berakhir kita bisa berbaikan dan berteman seperti awal perkenalan kita, karena aku ingin tetap menjadi temanmu. Aku menginginkan hal itu my D.

Ku lihat hari ini kamu begitu mengacuhkanku meski di lain tempat rasanya memang sikapmu sedingin es dan semua orang tahu akan hal itu. Tapi jika ini kamu lakukan tiap harinya apa yang akan dikatakan orang lain? Ada hal aneh yang membuatku bingung, ketika berada di gedung E mengapa kamu memilih duduk berhadap di posisi yang sama denganku? Mungkinkah karena rasa bersalah itu? Ataukah karena memang kamu sengaja duduk di sana hanya sekedar membuatku kagum akan dirimu? Tidakkah kamu sadari jika tindakan kecilmu itu telah membuatku bahagia secara spontan?

“kenapa kamu harus sedingin itu?”
“ramah dengan perempuan itu tidak salah!”
“cobalah, karena ketika tidak mencoba, kamu tidak akan pernah bisa merasakan hal lain.”
“jangan pernah kehilangan jati dirimu.”
“jangan sombong pada orang lain, terlebih lagi padaku.”

Kesannya tidak ada lagi hubungan apa-apa antara aku dan dia. Namun kenapa rasa cemburu ini tetap saja ada jika melihat dia dekat dengan perempuan lain selain teman sekelas. Rasa cemburu itu tumbuh setinggi pohon cabai, dan satu hal yang perlu kau ketahui ialah, aku tidak mudah melepaskan sesuatu yang telah menjadi sebagian hidupku, termasuk kamu seseorang yang telah singgah dan tidak mudah pergi begitu saja sebelum aku bosan.

Kau tidak boleh pergi begitu saja sebelum aku yang pergi lebih dahulu dari hidupku. Bertemu dengan seseorang yang telah kamu panggil “adik.” itu membuatku menjadi membencinya. Jangan salahkan aku jika suatu hari, aku membuatnya marah dan sedih. Karena kamu yang telah memintanya. Siapa suruh melepaskanku tanpa mengatakan sepatah kata pun. Ujian hari ini membuatku dekat denganmu sedikit demi sedikit, meski dia hanya berbalik ke arahku dengan dinginnya.

Kamu hanya mengatakan, “jangan menoleh ke belakang. Lihat jawabanku saja.” kamu berkata ke teman yang seakan kamu memperlihatkan kebahagiaanmu. Dan itu terbukti telah membuatku marah lagi terhadapmu. Perasaaan kesal ini tak dapat ku sembunyikan dan telah membuatku menangis untuk beberapa kalinya. Pertanyaannya ialah.. mengapa kamu terlihat begitu bahagia? Ada apa? rasa penasaranku terhadapnya terus bertambah ketika aku dan dia tidak berteman seperti dulu lagi. Ku rasa aku telah kehilangan teman yang begitu memperhatikanku. Satu hal yang perlu kamu ketahui ialah, “aku merindukanmu my D..”

Masih seperti biasa, wajah cuek tanpa senyuman, tingkah dinginmu yang seakan ingin membekukan semuanya, dan kamu masih tetap saja pura-pura tidak melihat pandanganku? Astaga, kamu tidak peka atau memang sengaja tidak ingin melihatku? di dalam kelas kamu terlihat begitu dingin, bahkan ku lihat kamu hanya mendekati temanmu jika membutuhkan sesuatu, ada apa denganmu? Tidak seperti biasanya kamu menjadi murahan karena sebuah hal yang bisa kamu jangkau.

Satu hal lagi. Mengapa kamu tetap saja akrab dengan anak itu? Siapa wanita yang selalu memanggilmu itu? Bukannnya cemburu tapi ini real jika aku telah cemburu kepadanya. Dan ini berada dalam hatiku yang paling dalam. Ku harap kamu bisa mengerti perasaanku. Beginikah caramu untuk membalas dendam dengan perasaan yang ku punya untukmu? Benarkah dengan apa yang ku dengar jika.. tidak ada waktu untukku? apakah salah tindakanku yang periang di hadapanmu?

Sebenarnya ini dimulai dimana aku bisa tersenyum untuk seorang pria, hufh rasanya sakit sekali ketika aku ingin meminjam laptop sekedar mengcofy file dan kamu mengatakan sedang lowbat. Ada apa ini? Mengapa jika aku yang minta? Selalu saja tidak bisa, tidak dan tidak mengapa selalu tidak untukku? Bisakah kamu mengatakan iya untuk sekali saja? jangan membuatku menangis karena tingkah bodohmu itu. Kenapa kamu masih diam seperti batu?

Ternyata rasa cemburu beberapa hari yang lalu memberikan penjelasan yang sangat singkat, kesalahpahaman yang ku buat karena cemburu ini ternyata… My D meminta nomor hp cewek lain untuk memberikan nomor itu kepada temannya. Dan apa yang terjadi? Cewek itu memberikan nomornya ke D dengan sangat senang dan ternyata my D memberikan nomor cewek itu ke teman my D.

Cewek itu marah besar tadi pagi ke my D. Dan my D hanya cuek dan dingin seperti biasanya. Walau my D terlihat marah karena sempat memukul meja di saat aku menulis. Meski begitu my D tetaplah kesatria bagiku apalagi pas presentasi tadi. Dia memanggilku, “saudari.” bahagianya diriku ketika ku dengar my D mengatakan itu dengan tatapan wajah sayunya ia berhasil membuatku jatuh kembali ke lubang hatinya yang sama. Ia lucu, my D itu benar-benar telah memikat hatiku secara tidak langsung.

Siang tadi habis ujian matematika, ku mulai mendekatinya lagi tanpa mengingat kejadian yang telah beberapa hari yang lalu. Ku hilangkan semua rasa maluku demi mendengarkan suaranya itu. Memulai percakapan dengan basa-basi “tugas persentasinya sudah selesai kamu kerjakan?” tak ku sangka ia menjawab dengan baik.
“belum.” jawabnya singkat. Kemudian dia mulai membuatku emosi. Ketika mengatakan kepada teman sekelasku, “berikan aku nomor temanmu yang kemarin.” Ku lirik dia yang sedang tersenyum. Temanku itu menjawab. “sudah kuberikan bukan?!”

Sambil mencari nomor hp cewek lain itu. Ia pun mulai merengek. “ayolah.. nomornya sudah ku hapus.” Padahal kemarin aja kesalahpahaman itu telah ku hilangkan astaga dia mulai lagi dengan pertanyaaan bodohnya itu. Ku jawab spontan. “berikan saja nomornya.” temanku itu menjawab.
“aku juga tidak menyimpannya..” Jangan membuatku marah dan cmeburu karena tingkah bodohmu itu.

Beberapa jam sebelum mid dimulai. Ku lihat pakaianmu basah kuyup. Ingin sekali rasanya melepas bajumu dan menggantinya. Tapi entahlah rasanya hal mustahil semacam itu tidak dapat ku lakukan hanya dengan kata-kata. Lagi pula siapa aku ini yang berani melepas baju basahmu itu?

Ku rasa perasaaan cemburu semacam ini bukanlah main main, hanya sebatas saudara dan teman sekelas saja. Maafkan aku, tidak ada maksud untuk melukaimu, aku sadar aku bukan siapa-siapa bagimu, hanya sebatas teman kelas. Silahkan mencari perempuan lain yang bisa menjadi temanmu dan jauh lebih cantik dariku. Makasih atas waktu yang kamu berikan selama ini dan telah menjadi kesatriaku di saat aku butuh. Aku menyayangimu brothe, Dedi.

Cerpen Karangan: Riskayukihime
Facebook: Yuki Yuki

Cerpen Hubungan Ku Dengan Mu Seperti Sebuah Sepasang Sepatu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terbelahnya Hati Daku

Oleh:
Saat mentari mulai menampakkan wujudnya, semua makhluk memulai aktifitasnya. Daku yang masih duduk di sekolah negeri Yogyakarta segera bergegas ke sekolah guna menuntut ilmu. Hari demi hari daku lewati

Katakan Padanya Ilalang

Oleh:
Angin menerpa tubuhnya yang terhempas di antara padang ilalang. Angin sore yang menyejukkan. Menyejukkan hatinya yang baru saja panas dibakar api cemburu, dibakar api curiga. Angin sore, menghilangkan semua

Datang dan Pergi

Oleh:
Pada waktu malam hari yang begitu sunyi, aku menyendiri di suatu tempat. Tempat yang menurutku yang bisa membuatku tenang. Sambil kumainkan piano. Entah bagaimanan isi hati dan perasaanku saat

Gara Gara Diary

Oleh:
Aku melangkah menelusuri jalan setapak yang setiap hari kulewati. Aku menatap rumput-rumput kecil yang melambai-lambai tertiup angin. Jadi teringat pada puisi yang kutulis di diary. Ngomong-ngomong masalah diary. Aku

Hafalan Al Qur’an

Oleh:
Sang surya menampakkan cahaya menyinari setiap sudut kota. Gadis dengan rambut diikat tanpa berponi memoles wajah dengan bedak tabur. Tersenyum di depan kaca sembari menghafal surah Al Qur’an yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *