Illusions

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 19 November 2015

Malam ini angin berhembus tidak biasa. Terlalu liar untuk hanya disebut sebagai angin semilir. Entah apakah aku tengah mengambil keputusan yang tepat dengan duduk di serambi depan, sementara cuaca benar-benar menunjukkan kebengisannya. Besok aku berangkat pagi, ada Baksos yang harus dikerjakan. Sudah terpikir oleh otakku bagaimana lelahnya suasana besok. Di balik semua pemikiran itu, ada juga yang mengganjal hatiku.

Aku belum punya celana hitam yang harus ku kenakan besok. Kebiasaan yang membuatku selalu mengenakan jilbab dan sesekali baju potong berstelkan rok panjang, membuatku tak memiliki stok celana panjang sama sekali. Rasanya aku tidak ingin hadir saja besok. Sesuatu yang membuatku berpikir keras ini, makin bertambah saat keluargaku dengan berisik menyaksikan sinetron di ruang sebelah dengan Ayahku yang menyetel tinju di ruang tamu di belakang jendela yang kini ku punggungi.

Aku lelah sekali. Aku ingin tinggal di sebuah tempat yang luas, yang bisa memberiku sedikit ruang untuk bernapas, menyalurkan hasrat dan cita-citaku. Melakukan hal yang ku sukai, mendendangkan musik tanpa mengganggu orang lain. Hah! Semakin aku memohon semakin aku merasa terlalu sempit ruang yang kini ku singgahi. Nyatanya, aku tidak punya uang sepeser pun. Aku tidak punya uang sepeser pun untuk membuktikan kepada keluargaku kalau aku bisa makan dari hobiku. Kalau aku bisa menghasilkan uang dari mendendangkan musik kesayanganku. Aku tidak berharga sama sekali, di dunia ini. Setidaknya di mataku dan di mata kedua orangtuaku, jangan lupakan saudara-saudaraku.

Angin jahil menyapu ujung kerudungku, membawanya menutupi wajahkku, seolah-olah tamparan pelan dari alam. Aku benci saat aku berpikir aku tidak ada gunanya, dan mulai menyalahkan orang lain atas hal yang terjadi padaku. Aku benci! Aku tertekan! Bahkan, tidak ada hal yang cukup membuatku tersenyum malam ini. Seperti yang ku bilang, Ibuku dan saudaraku tengah menikmati sinetron. Ayahku menyaksikan tinju legendaris. Di seberang mataku, tetanggaku menyalakan televisi dengan volume yang terlalu keras untuk didengarkan oleh telinga yang normal. Agak jauh, ada juga yang menyetel lagu dangdut layaknya ia tengah punya hajatan menikahkan anak kembarnya. Memuakkan!

Namun, dari semua hal yang terdengar di telingaku, ada satu yang hampir tak tertangkap oleh indera pendengaranku. Sayup-sayup aku mendengar petikan gitar. Iya! Itu benar, petikan gitar dan aku tahu lagu ini.
“Geuriwuh. Geuriwuhseo. Geudaega Geuriwuhseo Meil Nan Honjasoman Geudereul Bullobwayo. Bogopa. Bogopaseo Geudaega Bogopaseo Ije Na Seupgwancheoreom. Guedae Ireumman Buruenaeyeo. Oneuldeo.”
(Aku merindukanmu, Sangat merindukanmu. Karena aku sangat merindukanmu. Setiap hari aku sendiri. Dan aku memanggilmu. Ingin melihatmu, sangat ingin melihatmu. Karena aku ingin melihatmu. Sekarang hanya seperti sebuah kebiasaan. Aku hanya menyebut namamu. Bahkan saat ini.
Lagu itu familiar. Nada itu familiar. Suara itu. Benarkah ini?
“Jung Yong Hwa.”

Entah dari mana orang itu sebelumnya, tapi kini ia berada di depanku. Tepatnya tengah duduk di tangga depan rumahku, tempat biasa aku menaruh sendal di sana. Ia –Jung Yong Hwa- duduk memunggungiku. Dari punggungnya saja, aku bisa mengenalinya. Dia adalah Jung Yong Hwa! Dia adalah Jung Yong Hwa. Ketika ia menoleh, memperlihatkan wajah manisnya, waktu seolah-olah berhenti. Angin tak lagi terasa dingin. Dan yang terpenting, aku melupakan masalahku untuk sejenak. Ya. Untuk sejenak, karena setelah petir menyambut. Semua kembali nyata. Jung Yong Hwa tidak ada. Sejak awal, dia memang tidak ada. Ia hanyalah khayalan dari seorang gadis yang terlalu kesepian sepertiku.

Cerpen Karangan: Ai Zhi Lan

Cerpen Illusions merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pendant of Memories

Oleh:
“Kalau jadinya akan seperti ini.. daun gugur pun takkan kubiarkan menyentuh tanah..” — Langit tampak mendung. Salju un tidak turun sama sekali. Dan lelaki ini. Lelaki yang sedari tadi

Pada Akhirnya Kamu Akan Memilihku

Oleh:
“Aku suka padamu. Maukah kau jadi pacarku?” Hana terdiam mendengar pengakuan itu. Butuh waktu baginya untuk menjawab pernyataan itu. “Besok saja kujawab. Sampai jumpa,” katanya yang kemudian berlalu pergi.

Hati Munafik yang Berbicara

Oleh:
Ketika hati berlabuh pada suatu penantian panjang, akan ada peperangan yang terjadi antara jiwa dan fikiran. Rani masih memikirkan kata-kata tersebut, tiba-tiba ia tersentak dikagetkan Aya sahabatnya. “Siang Bolong

Galau

Oleh:
Sore ini seperti sore yang lainnya. Sore yang biasanya ku lewati hanya dengan secangkir kopi di tempat tongkrongan ku biasa. Namun keadaan berubah seketika saat awan menjadi gelap dan

Bahwa Akhirnya

Oleh:
Aku masih ingat, betapa sakitnya berpisah dan sakitnya dipisahkan secara tiba-tiba, ketika cinta menumbuhkan kebun bunga dan seketika datang pemangkas pisau kepala dua meratakan semua, ketika waktu mengurung kita

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *