I’m Not Going Back

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 12 May 2018

Kebodohan yang menenggelamkanku dalam kesendirian.
Sejak saat itu, tak pernah ada lagi kebahagiaan yang bermakna.
Bisakah kita kembali bersama…?

Terik matahari menyinari kota di hari yang mulai senja ini. Dibalik meja kerjanya, Wildan menatap kosong ke layar handphonenya. Gadis yang ada di foto itu adalah Safira yang berpredikat sebagai mantan pacarnya. Ia menatap foto itu dengan wajah yang sendu.

“Di mana kamu sekarang?”
“Mengapa aku merindukanmu?”

Itu adalah foto Safira saat kencan terakhir mereka sebelum putus. Sejak hubungan mereka berakhir, Safira dan Wildan sama sekali tak berkomunikasi dan tak lagi bertatap muka.
Jika diingat-ingat, ini sudah hampir dua tahun sejak Wildan dan Safira putus hubungan. Sudah terbilang cukup lama, namun perasaan itu tetap masih ada. Bahkan Wildan masih menyimpan nomor telepon Safira di kontaknya.

“Apa kabar?” tulis Wildan di kolom pesan singkat.

Kemudian ia menekan tombol ‘send’. Dua puluh menit sudah berlalu dan Safira tak kunjung membalas pesan itu. Kantor sudah mulai sepi karena ini adalah jam pulang kantor. Wildan pun beranjak dari bangkunya dan segera pulang.
Ia mengendarai mobilnya dengan perasaan yang hampa. Entah kenapa, kerinduan yang melanda membuat Wildan jadi teringat masa-masa saat ia dan Safira masih menjalin kasih.

Saat sedang berada di dalam mobil, Safira suka sekali melihat kedai-kedai di pinggir jalan. Dia seolah-olah menghitung ada berapa gerai yang dilewati selama perjalanan. Itu merupakan hiburan tersendiri bagi Wildan. Menurutnya apa yang dilakukan Safira itu lucu.

Ia menginjak rem saat lampu menyala merah. Para pejalan kaki pun bergegas menyeberangi zebra cross. Tiba-tiba pandangan Wildan tertuju pada seorang gadis berkaki jenjang yang sedang menyeberangi jalan.

“Itu Safira ya…?” gumamnya, nyaris berbisik.
“Gak mungkin! Dia terlihat beda sekali.”

Wildan buru-buru memarkirkan mobilnya di sisi kiri jalan dan mengikuti gadis yang mengenakan dress putih tersebut.
Setiap kali ia melangkah, ia tak henti-hentinya berpikir, mungkinkah itu Safira? Itu tak mungkin Safira. Safira tidaklah selangsing itu. Ia masih ingat terakhir kali ia melihat Safira, tubuh Safira termasuk kategori ‘berisi’, bukan ramping seperti ini.

Tiba-tiba gadis itu menghentikan langkahnya, kemudian memutar badannya 180 derajat dengan anggun.

“Kenapa kamu mengikutiku?” tanyanya dengan nada datar juga sorot mata yang serius.
“Ternyata itu benar kamu.”

Wildan benar-benar pangling. Gadis yang sedari tadi diikutinya benar Safira. Bagaimana tidak? Safira yang ia kenal adalah gadis dengan image cute yang tidak terlalu suka berdandan. Tapi sekarang, tidak hanya rambut panjang bergelombang yang dicat coklat pirang, tubuh ramping dan high heels hitam menambah keanggunan dalam dirinya.

“Kenapa-kamu-mengikuti-aku?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas.

Sejurus kemudian mereka beralih ke kafe. Wildan mengajaknya dengan dalih ‘sudah lama tidak ketemu’. Sekarang mereka berhadapan dengan kebekuan yang belum pecah di antara keramaian kafe ini. Tak sedetikpun Safira mengubah ekspresi dinginnya.

“Senang bisa ketemu kamu lagi. Kamu terlihat kurusan,” puji Wildan.

Niat hati ingin mencairkan suasana, ingin membuat Safira tersenyum lebar atas pujian kecil itu. Namun Safira tak bergeming. Wildan heran, dulu Safira akan tertawa girang bila ada yang menyebutnya ‘kurusan’. Itu juga merupakan jurus ampuh untuk menenangkan Safira apabila ia sedang bersedih.

“Apa kabar? Sekarang kamu kerja di mana?” Wildan mencoba ramah.
“Baik. Aku kerja di Rumah Sakit daerah sini.”
“Biar kutebak, kamu pasti sudah mencapai cita-cita kamu. Kamu adalah seorang Psikolog! Selamat, ya!”
“Terima kasih,” jawabnya singkat.

Suasana jadi awkward karena respon Safira tak sesuai dengan yang diharapkan Wildan. Ia bingung bagaimana memulai kedekatan lagi dengan Safira.

“Anu… Safira…”
“Kalau gak ada yang penting untuk dikatakan, tolong pergi dari sini,” potong Safira tanpa menatap mata Wildan sedikitpun. Ia fokus menyedot latte yang baru saja dibawakan pelayan.

Perasaan Wildan tertohok seketika. Apakah ini benar-benar Safira? Mengapa dia sangat tidak ramah?

“Jadi kamu mau aku langsung berterus terang?”
“Hm,” Safira mengangguk pelan.
Wildan terdiam selama beberapa saat dan menundukkan kepalanya.
“Begini.. sebenarnya.. aku masih ada rasa denganmu, Fir..”
“Kita udah gak ada hubungan lagi,” jawaban Safira yang secepat kilat itu menyambar hati Wildan.
“Tapi, aku benar-benar tersiksa setelah kehilangan kamu. Please, Fir. Bisakah kita kembali seperti yang dulu?” nada bicara Wildan benar-benar merendah.

Safira menyunggingkan senyum sinisnya.

“Kenapa? Kamu kesepian?”
“Mana pacarmu si Azura? Apa dia mencampakkanmu? Cih, dulu kamu bangga-banggakan dia. Tapi sekarang kamu ngemis-ngemis minta balikan denganku. Ada gak sih cowok brengsek selain kamu?”
Kata-kata yang terlontar dari mulut Safira sukses membuat Wildan bungkam seribu bahasa.

“Mau kamu kemanakan Azura?” tanyanya dengan mata melotot nan sinis.
“Tolong jangan ungkit-ungkit soal dia.”
“JAWAB AKU!” bentaknya hingga semua pengunjung kafe melihat ke arah mereka.

Sayup-sayup Wildan mendengar bisikan, “Mereka lagi berantem. Kayaknya bentar lagi putus deh.”. Wildan berdehem sekali kemudian berpikir untuk menjawab pertanyaan Safira.

“Aku sudah putus dengannya.”
“Kenapa?”
“Em.. gimana ya mengatakannya? Intinya, dia berbeda denganmu. Kuakui kamu adalah wanita yang setia, gak seperti Azura. Sejak dia bekerja di perusahaan F, dia mulai jatuh hati dengan teman sekantornya. Kemudian dia mutusin aku secara sepihak.”

Safira tertawa kecil kemudian meletakkan sedotan ke dalam gelas latte-nya.

“Dulu kalian sangat mesra dengan membagikan foto-foto kalian di sosmed. Tapi setelah aku tahu kalian sudah putus, tentu saja aku adalah orang pertama yang akan tertawa paling keras. Tapi karena ini tempat umum, aku harus menjaga etikaku.”
“Eh, kamu tahu gak sebodoh apa kamu?”

Lagi-lagi Wildan bungkam dibuatnya.

“Bahkan aku masih ingat bagaimana caramu mengkhianatiku.”
“Bukannya dulu kamu yang berjanji, “Aku gak akan ninggalin kamu apapun yang terjadi. Aku gak akan mutusin kamu sampai kamu yang mutusin aku duluan.”. Itu adalah kata-kata ter-bullsh*t yang pernah aku dengar. Kamu yang berjanji, kamu juga yang mengkhianati.”

Sekarang Wildan percaya bahwa wanita akan mengungkit suatu hal di waktu yang tepat.

“Kamu bilang aku adalah wanita yang setia. Kalau itu benar, kenapa kamu masih menyia-nyiakan wanita yang setia? Itu menunjukkan kalau kamu bodoh. Kamu meninggalkan berlian demi seonggok cabe-cabean.”
“Kemudian kamu akhiri hubungan kita secara tiba-tiba sehari sebelum ulang tahun kamu. Padahal kurang dari 2 minggu lagi adalah anniversary jadian kita yang ke-2 tahun. Kamu putusin aku dengan dalih ‘aku gak suka sikap kamu’. Kalau kamu ikhlas mencintai aku, kamu akan menerima aku apa adanya. Kamu gak akan menyuruhku menjadi orang lain.”
“Tapi aku gak sebodoh itu kok. Kamu cuma menggunakan sikapku sebagai alasan untuk mutusin aku. Sebenarnya aku tahu kamu udah lama ada rasa sama Azura. Kamu pernah sekelas dengannya, dan cinta itu tumbuh karena terbiasa. Siapa sih yang gak suka dengan Azura? Si imut yang rangking 3 dari seluruh siswa.”
“Kamu pernah bilang, “Aku ini tipe orang yang susah move on.” dan “Aku mencintai kamu lebih dari apapun.” Tapi baru putus sehari aja udah punya yang baru. Siapa lagi kalau bukan Azura.”

“Sejak saat itu orang-orang terus menyindirku. Mereka bilang aku iri karena Azura berhasil mendapatkan kamu. Haha, aku duluan yang pacaran sama kamu. Dengan kata lain Azura itu cuma macarin bekasku. Lantas, kenapa aku harus iri? Kamu juga pernah bilang, “Azura, kamu adalah perempuan yang paling setia.” Hahaha, apa sekarang itu terbukti?”

Lama kelamaan mata Safira mulai berkaca-kaca setelah menumpahkan semua unek-unek yang dipendamnya selama ini.

“Ketika kamu meninggalkan seseorang karena orang lain, maka kamu juga akan ditinggalkan demi orang lain. Itulah karma.”

Setelah bungkam selama beberapa saat, akhirnya Wildan bersuara kembali.

“Kesimpulannya, kamu benci aku?”
“Aku gak benci kamu. Hanya saja hati ini sudah keras untuk menerima kehadiranmu lagi.”
“Tak bisakah kita kembali seperti dulu?” tanyanya dengan wajah yang memelas.
“Jadi kamu nyesel udah ninggalin aku?”
“Iya, aku nyesal. Sangat menyesal.”
“Safira… please. Tak bisakah kita kembali seperti dulu lagi? Aku janji akan menerima kamu apa adanya. Aku akan membuat kamu bahagia, aku janji..”
“Maaf, aku sudah kenyang termakan janji manismu.”
“Safira, kenapa kamu berubah? Dulu kamu gak seperti ini, kan?”
“Kekecewaanlah yang telah mengubahku. Ketika kamu telah mengecewakan seseorang, maka orang itu tak lagi sama.”

Wildan menarik napas panjang kemudian memohon yang kesekian kali untuk mengajak Safira memperbaiki hubungan yang telah kandas ini.

“Maaf, pintu hatiku sudah terkunci rapat untukmu. Kalau aku menerimamu kembali di kehidupanku, itu sama saja aku memberimu kesempatan untuk menyakitiku lagi.”

Pertama kali seumur hidup, Safira melihat seorang pria dewasa menangis di hadapannya. Air mata Wildan tak juga melunakkan hati Safira yang sudah sekeras batu.

“Carilah perempuan lain. Jaga perasaannya, jangan sakiti dia seperti kamu menyakitiku. Anggap aja kita gak pernah kenal.”

Safira memakai tas selempangnya dan bangkit berdiri.

“Aku pergi.”
“Tunggu! Ada yang ingin kukatakan padamu. Kamu semakin semakin cantik setelah kita putus.”
“Gak ada mantan yang makin cantik atau ganteng setelah putus. Mungkin kamunya aja yang waktu bersama dia, kamu malah sibuk memerhatikan yang lain.”
“Aku juga ingin mengatakan sesuatu sama kamu,” lanjut Safira.
“Terima kasih. Karena kamu, aku belajar untuk lebih berhati-hati dalam memilih hati. Agar aku tak dikhianati lagi oleh orang yang gak punya hati.”
Safira tersenyum simpul kemudian melangkah pergi.

THE END

terima kasih sudah membaca ^^

Cerpen Karangan: Sadila Hidayati
Facebook: Sadila Huang
Hai, namaku Sadila Hidayati. Umur 15 tahun. Terima kasih sudah membaca cerpenku 🙂 ^^ terus berikan komentar dan kritik supaya aku semakin baik dalam menulis ya 🙂

Cerpen I’m Not Going Back merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sembilan

Oleh:
Denting jam melaju sangat cepat. Gadis seumurku tak bisa untuk menahan waktu. Tak akan mungkin. Tapi tuntutan untuk menyelesaikan tugas sebelum bel pulang berbunyi terus menggerogotiku. Maklumlah untuk kelas

Hanya Sekedar Mimpi Sempurna

Oleh:
Kupandang jauh ke atas langit, ku mencoba mencari jawaban atas apa yang selama ini ada dalam pikiranku, menerawang jauh kedalam ilusi yang seakan tiada pernah terhenti. hingga aku pun

Love 1 Month (Part 2)

Oleh:
Pernah suatu ketika saat aku makan bareng bersama Lia dan Nikma di kantin sekolah. Nikma menanyakan satu hal yang sering dia tanyakan padaku, dan bahkan dia juga menanyakannya pada

Cinta Yang Berhenti

Oleh:
Pada suatu hari pada waktu itu aku sedang ulangan, oh iya aku sampai lupa, perkenalkan nama aku Dinar. Pada waktu ulangan aku dipanggil teman aku yang bernama Mia. “Din

Cinta Berujung Persahabatan

Oleh:
Aku sudah mulai nyaman dengan Alfin dia adalah teman satu kelasku. Wajahnya bisa dibilang pas-pasan tetapi aku sangat nyaman padanya. Aku sering bercanda dengan dia dan suatu hari entah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *