It’s Rain When You’re Gone

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 16 February 2018

Hujan itu kembali lagi bersama tetesan yang memaksa mataku menjatuhkan mutiaranya. Aku kembali lagi mengenangnya. Entah bagaimana? lagu ini pun tepat terputar di playlistku

“Forever and Always by Taylor Swift”
And I stare at the phone, he still hasn’t called
And then you feel so low you cant feel nothing at all
And you flashback to when he said forever and always
Oh, and it rains in your bedroom
Everything is wrong
It rains when you’re here and it rains when you’re gone
Cause I was there when you said forever and always

Liriknya benar-benar membuatku semakin kesal dan angin hujan ini pun membuat mataku semakin perih, rasanya bahkan sampai ke hatiku. Bukan lagu kenangan tapi lagu ungkapan hatiku saat ini tepatnya. Hujan beberapa tahun yang lalu pernah mengukir hariku dengannya. Jariku pun semakin gemulai menuliskan isi hatiku dalam diari tercinta. Huaaa sepertinya ada yang salah dengan diriku mengapa harus mengenangnya?

“Bilaaaa!!!” teriakkan dari luar kamar menghentikan goresanku. Suara yang akrab dan setiap hari seperti itu.
“Iyaa Ma” Aku pun keluar dan memenuhi panggilan dari ratu tersayangku.
“Kamu kok belum makan? katanya tadi lapar?”
“owh iya ya ma, ni deh mau makan”

“Kenapa matanya bil, kok merah?”
“tadi dikucek ma, habis hujannya bawa angin kenceng banget sih”
“Ya ampun Nabila, habis makan jangan lupa dikasi tetes mata ya. Mama mau ke kamar dulu”.
Maaf Ma bohong bisikku dalam hati. Tapi bener juga sih hujan membawa angin masa lalu yang bener-bener bikin mataku yang sipit ini tambah sipit karena nangis.

Aku pun makan dan melakukan semua perintah ratuku tetap aja pikiranku masih terbawa ke hujan beberapa tahun yang lalu. Tentang hujan pertama kalinya dia dan aku berdua. Ya hanya berdua.

“Wake up, wake up, Wake up..!!!”
Alarm dari kedua Hp ku memanggil. Haa suasana setelah hujan kemarin bener-bener bikin badanku jadi malas buat bangun. Tapi adzan memang yang paling manjur deh, aku langsung bangun. Rutinitas seperti biasa setelah hari mingguku. KULIAH. Yah aku Nabila Latifa Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris regular A di salah satu Universitas negeri di Kal-Bar. Setiap pagi pukul 07.30 WIB adalah waktu ngampusku. Mama udah siap aja tuh dengan nasi goreng favoritku di atas meja makan. Emb kembali lagi terkenang. Sebenarnya ini makanan favorit dia, tapi entah sejak kapan juga jadi makanan favoritku. Aah kugelengkan kepala secepat yang aku bisa.

“aduh pusing” ucapku keras.
“Bila makan yang bener, kenapa lagi kepala digeleng-geleng? Kamu masuk jam berapa hari ini?”
“biasa Ma jam setengah 8”

“cepetan tu makannya udah jam 7”
“Haa yang bener Ma?” dengan terburu-buru aku habiskan sarapanku. Yah aku orang yang paling tepat waktu kalau urusan berangkat ke mana-mana apalagi ke kampus. Aku pun langsung berangkat seusai sarapan dan tidak lupa pamit dengan Mamaku tersayang.

Alhamdulillah jarak rumah ke kampus nggak jauh-jauh amat dengan berjalan kaki tepat 15 menit aku tiba di kampusku tercinta. Senyum mengembang di pipi chubbyku karena hujan kemarin membawa matahari hangat pagi ini.

“Din kamu udah buat ppt tugas pak Samir belum?” tanyaku pada teman sekelasku.
“Udah bil, tapi animasinya belum dan rencananya aku mau minta lanjutin sama kamu nih buatnya hehe”
Dengan wajah nyengir flashdisk pun keluar dari sakunya. Yah begini nih kalau udah jadi anak kuliahan nggak jauh-jauh dari makalah, power point, makalah, power point tapi aku nikamatin kesibukan-kesibukanku yang membuatku sibuk sendiri dan menyimpannya jauh di dalam laci memoriku. Kembali lagi pikiranku terjamah olehnya.

Tiba di rumah selesai sholat ashar aku langsung ngerjain tugas-tugasku sampai lupa kalau aku belum mandi. Seusai mandi adzan magrib pun tiba dan waktunya sholat. Kurebahkan tanganku seusai sholat, “Ya Allah ampunilah dosa-dosa orangtua hamba, dosa hamba, lindungilah keluarga kami ya Allah, semoga kami dapat selalu berada di jalan yang Engkau ridhoi, di jalan yang lurus. Aaamiiin.” Itulah doaku setiap kali sholat tapi untuk magrib ini, aku yang otak udang ini hampir tak lupa menyebutkan namanya di doaku.

“Ya Allah sedang apa dia? Adakah dia memikirkan Bila, adakah satu menit saja kenangan juga terlintas di memorinya? Semoga dia selalu berada di jalan-Mu ya Allah. Aamiin.”

Tak terasa usai sholat magrib isya segera menyusul. Waktu berputar begitu cepat tugas-tugasku pun sedikit demi sedikit mulai terselesaikan. Waktu mulai menunjukkan pukul 22.22 WIB
“wah kalau gini artinya dia lagi kangen” haha itu mindset yang kubuat sendiri untuk menghibur hatiku tentangnya. Udah hampir tengah malam tapi sebelum tidur aku melakukan ritualku dulu yaitu menulis di Diariku.

Dear diari
Ri hari ini di kampus biasa-biasa aja, nggak kayak kemarin kami Cuma nonton presentasi kelompok lain. Tapi badanku rasanya tetap aja capek. Oyaa ri karena hujan terus belakangan ini jadi buat aku teringat dia, ya dia yang kemarin hampir terkubur bersama semua kesibukanku kini hadir kembali bersama hujanku. Emb udah dulu ya ri aku mulai mengantuk. Night Ri.

“ma pulangnya agak telat ya Bila kejebak hujan di sekolah ni”
“Iya tapi kalau udah agak teduh pulang ya, ntar ada apa-apa lagi.”
“iya ma kayaknya hujannya juga bentar lagi teduh”. Sembari menutup telepon aku menoleh ke belakang.

“Hai bil” sapa seseorang dari belakangku. Ha apa aku nggak salah dengar? itu dia, ya dia Rangga Putra Permana yang kukagumi em lebih tepatnya yang kusukai sejak kami duduk di kelas 1 SMA sekarang ada di belakangku dan menyapaku lebih dulu. Biasa hanya dapat saling melihat dari sudut bangku, hanya dapat saling bicara kalau aku sebagai bendahara menagih Kas Kelas padanya. Dan hanya dapat sesekali saling mengirim pesan jika ada tugas kelompok. Ada apa ini? Dia menyapa dan sekarang berdiri tepat di sampingku. Kami memang sempat dekat tapi semenjak kejadian waktu itu ini pertama kalinya lagi dia menghampiriku.

“hei bil, dipanggil kok malah muka sok imut gitu sih jawabnya”
Aku berusaha tenang. Ya ampun jantungku berdegup kencang seperti pencuri yang sedang berlari dikejar masa.
“Ya Put, sori aku kaget tau”

“kaget apa grogi? hehe”
“yee grogi apa, kaget donk, orang kamu tiba-tiba datang dari belakang gitu”
“Emb dasar! Tumben Put lagi kemarin ke mana tu panggilan?”
“ha?”

“Ha?”
“idih berarti kamu seneng dong kalau aku panggil Puput? Itu kan kayak panngilan cewek”
“haha bukan seneng. Terbiasa aja. Ada yang hilang Bil.”
“ha apa yang hilang? Kunci motor kamu?”

Maaf, aku tahu maksudmu tapi keadaan kemarin yang memaksaku pergi ucapku dalam hati. Jujur aku rindu kamu Put entah pantas atau tidak tapi sekarang rasanya ingin kabur dari hadapanmu.

“polos beneran apa sok polos neng? Aku serius bil. Kamu jauhin aku, dah jarang sms aku apalagi nyemangatin aku kalau lagi tanding. Aneh liat kamu jauhin aku.”
“haa jadi kamu nggak risih kalau aku selalu gangguin kamu. Aku malu Put semua aku yang mulai”
“Oh jadi kamu bisa malu juga ya?”.
“Puput. Ah udah laa aku pulang dulu udah teduh ni”.

“tunggu bil, aku yang antar”
“serius?”
“7 rius deh hehe”
“Ya udah emb”

Ini pertama kalinya aku dibonceng sama dia.. Sepanjang per jalanan yang harusnya dengan motor bisa 10 menit terasa 1 jam hujan jadi saksinya. “rumah kamu di mana bil? Aku nggak tau alamat rumah kamu nih”
“Ntar juga tau”

Akhirnya tiba di depan rumah. Aku pikir cukup dengan mengucapkan “Dah Put makasih ya” tapi ada hal yang benar-benar nggak mungkin terjadi tapi terjadi. Rangga Putra Permana menarik tanganku.
“Bila, aku sayang sama kamu”. Dengan wajah bingung aku diam, dia pergi dan biuss tanpa menoleh lagi. Aku butuh penjelasan dong untuk ucapannya, tapi tak satu pesan pun darinya. Huh dasar masih saja seenaknya. Aku pun langsung angkat bicara duluan. Satu pesan terkirim. “Maksud kamu apa sih Put? Nggak jelas!” dan sampai satu jam kutunggu nggak ada jawaban. Pesan kedua dengan isi yang sama pun terkirim lagi. Selama 3 jam tak ada satu balasanpun darinya.
Aku bingung sekaligus sedih, aku menangis, berfikir mungkin aku tampak bodoh di matanya. Tiba-tiba Hp-ku bergetar yah telpon dari Rangga. Entah harus kuangkat atau tidak.

“Halo Assalammulaikum” jawabku lesu. Perasaanku campur aduk antara kesal atas perlakuannya, tapi tetap penasaran apa maksud dari ucapannya tadi sore.
“Waalaikumsalam Bil, maaf ya aku nggak balas sms kamu tadi aku lagi les dan Hp aku tinggal di rumah”
“owh iya. Kesal sih tapi ada yang lebih penting dan aku langsung aja ya. Apa sih maksud ucapanmu tadi sore? Jujur aku bingung”.

“Maaf sebelumya bil, aku juga bingung tapi tadi dan memang hari ini rencananya aku mau nembak kamu. Jadi sekarang aku perjelas, Kamu mau nggak kalau aku jadi pacar kamu?”
“haaa? Apaan sih, candanya nggak lucu”
“Bil, bukannya kita udah saling suka dari dulu, Bukannya kita udah deket, kamu yang aneh tiba-tiba jauh dan aku nggak mau kamu bener-bener jauh dari aku. Aku sayang kamu Bil. Kemarin, sekarang, selalu Bil” ucapnya panjang lebar dan aku yang nggak kalah gemetar dengan suaranya pun memutuskan untuk menunda jawabanku. Jujur seneng banget dengar Pangeran hati yang selama ini cuma bisa kuanggap teman sekarang hadir dengan kuda putihnya untuk menjemputku ke istananya. Tapi gimana dengan temanku yang juga menyukainnya. Pikiranku mulai kalut.

“Put aku boleh tunda jawabannya nggak? Aku butuh waktu”.
“Iya bil, jangan buru-buru. Aku tunggu kok” ucapnya tegas dan manis. Aku yakin pilihan itu harus ada. Kemarin aku juga udah liat Gisel jalan sama Gading kok, toh berarti Gisel udah ngelupain Rangga dong, lagipula kan Cuma cinta sepihaknya Gisel. Aku berhak dipilih oleh Rangga tegasku dalam hati.

“Em yang udah pacaran, berduaan terus nih”
“apaan sih Sel, biasa aja kale. Orang kamu juga tuh sama Gading”
Yaa hari ini tepat 3 bulan hubunganku dengan Rangga. Kami jalanin hubungan yang berliku-liku hingga sekarang sedikit mulus mulai membuatku takut., aku takut bahagia ini akan membawanya pergi meninggalkanku , Tapi hari-hari indah bersamanya harus tetap kujalani dan kunikamati.

Hampir setahun kami lalui, entah terasa ada jarak. Tapi kami berhasil menutupinya.
“Bil aku udah capek, aku nggak bisa lagi kayak gini. Kamu masih berhubungan dengan dia, dan kamu ketemuan sama dia kan kemarin. Aku minta kita temenan kayak dulu aja ya bil”
Satu pesan yang membuat gemetar tubuhku. Rasanya sesak.

“Apa sih Put, kamu salah faham, bisa dibicarain dulu kan, kita ketemu aja ”.
“Nggak usah bil, aku udah capek kayak gini, aku juga nggak tega liat kamu sedih dan diam-diam nangis. Aku nggak bisa jalaninnya lagi bil semua nggak bisa dipaksa lagi. Kalau jodoh juga nggak kan kemana-mana kok bil”
“iyalah Put. Aku ikut aja dengan keputusanmu. Tapi jujur aku bahagia kok jalan sama kamu dan aku harap kamu nggak jadiin oranglain alasan buat kamu pergi. Karena aku sayang kamu. Maaf kalau selama ini nggak buat kamu nyaman”.

“Sayang tuh nggak Cuma buat pacar aja kok bil ke teman juga bisa. Aku juga minta maaf udah sering buat kamu nangis karena sikapku. Jangan sedih ya bil”
“Aku sedih Put, rasanya sakit baca pesanmu buat aku mati rasa, tapi kamu minta aku jangan sedih. Jahat. Bahkan airmataku aja sampe nggak keluar rasanya aneh Put. Pacar pertamaku yang aku nggak tau apa maksud dari kata-katanya yang aku juga bingung kenapa harus jadiin cowok lain yang awalnya teman kita bersama sebagai alasan. Aku nggak sebodoh itu put dan aku bukan tipe cewek yang ada di pikiranmu”. Andai pesan ini dapat aku kirim, tapi hatiku melarang. Aku diam dengan semua spekulasi yang dibuatnya karena aku tahu cemburunya yang membuatnya lelah untuk bertahan. Semua itu kusimpulkan sendiri, seperti dia yang menyimpulkan semua semaunya.

Mataku mulai berair lagi. Ini pasti karena angin yang dibawa hujan malam ini hiburku dalam hati. Hujan kembali lagi mengingatkanku padanya. Cinta pertama sekaligus pacar pertamaku pengukir hari tapi si pematah hati.

Entah apa yang kupikirkan tapi hujan selalu membawa kenangan yang harusnya jauh tersimpan tapi kembali, lagi dan lagi.
Setiap hujan kenangan itu hadir bersama senyumnya, candanya dan semua hari indah ku bersamanya. Aku tak pernah membencinya dan aku harap begitu juga dia terhadapku. Playlistku pun kali ini benar-benar mendukung suasana hatiku.
“A thousand years by Christina Perri”

I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you
For a thousand years
I love you for a thousand more

“Love you to day love you everyday” ucapan yang berarti buatku dari seorang Rangga Putra Permana si batu. Aku masih menunggunya. Aku menunggu tanpa ia pinta, tanpa ada pernyataan apapun, hanya menunggu sampai aku sadar bahwa dia tak pantas lagi untuk aku tunggu sampai aku tahu bahwa ada gadis lain diharinya. Meski kadang cemburu mengusik sepi, rindu menusuk kalbuku, aku masih menunggu sampai dia benar-benar bahagia bersama dunia barunya yang tak pernah lagi menghadirkanku. Hujan membawanya di sisiku kemarin, dan kini hujan menghadirkannya kembali tanpa izinku dengan membawa hujan indah di pipiku. Terimakasih hujanku.

Cerpen Karangan: Nana
Blog: hafiza-queennana.blogspot.com

Cerpen It’s Rain When You’re Gone merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Trapesium

Oleh:
Aku Renata Gittashafira, sangat biasa dipanggil Rere, dan inilah kisah sederhanaku di luar rumah tapatnya itu di sekolah, sebuah kisah sederhana yang kusebut itu cinta. Arbian Anggara Putra, seseorang

Jomblo Sejati

Oleh:
Perkenalkan nama ku Rama, pria yang penyayang dan cinta keluarga. Aku pria kelahiran 7 Juli 1996, tapi sepertinya tak ada yang peduli ya kapan aku lahir? ok, fine! kita

Mau Merid Ketemu Mantan

Oleh:
Semenjak hari tunangan berlangsung, tanggal akad nikah dan resepsi pernikahan pun telah ditetapkan. Dua bulan lagi, acara akan segera dilaksanakan. Tak banyak waktu untuk bersantai, segala persiapan pernikahan telah

Malaikat Pelindung Itu Pacarku

Oleh:
“Kenapa kamu? Habis putus lagi?” kata Kakakku sinis. Mendengar kata-kata itu aku hanya dapat tersenyum sambil melanjutkan langkahku ke kamar, namun langkah kakiku terhenti kembali saat Kakakku meneruskan pembicaraannya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *