Jawaban Atas Dilema

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 4 January 2016

“Apa aku salah. Mungkin tidak. Hubungan ini salah sedari awal seharusnya tak begini. Yang ku mau tidak begini, ya Allah.” Tina bersedekap pasrah. Di meja salah sudut kafe ia hanya sendiri termenung. Ia menutup wajahnya, menyanda air mata. Ekspresi itu ia dapati tak lama sebelum sahabatnya, Aisyah pergi dari kafe tersebut.

“aku kasihan Tin sama Ika. Ika itu mantannya Bagas. Mereka sudah berpacaran selama 2 tahun. Ika masih sayang banget sama Bagas. Ika sering cerita ke aku bagaimana sifat Bagas ke dia, Ika sering dihadiahi bunga dan surprise lainnya dulu. Itu yang buat dia susah lupa dari Bagas” Kata-kata itu begitu memukul. Sebelumnya ia tak tahu tentang semua ini. Lantas siapa yang pantas disalahkan jika begini?

Dering telepon masuk tertera di layar ponselnya, “Bagas sadewa” ugh.
“halo”
“kamu lagi di mana Tina?”
“kafe, kamu di mana gas?”
“aku lagi latihan downhill”
“oh sudah duhur nih berhenti dulu gas salat dulu”
“iya aku nanti salat, kamu main dong ke sini, ke tempatku. Katanya kamu mau aku kenalin temen-temen aku”
“aku gak bisa” jawabnya lirih.

“kenapa? Kamu sakit? Aku ke rumah kamu ya sekarang?”
“gak, jangan. Aku lagi di luar. Lagi pula nanti malem aku mau kerjain tugas makalah. Kamu istirahat aja kasihan kamu cape gas”
“kamu baik-baik aja kan? Ya udah nanti malem aku mau temenin kamu. Kamu gak boleh nolak soalnya aku maksa. Aku gak cape kok sayang. Ya udah dulu ya aku mau salat dulu. Miss you”
Aku harus ngelepas kamu gas. “oh ya udah, makasih ya. Miss you too”

Ia tak mau menyakiti perasaan wanita lain. Tapi di sisi lain ia terlanjur menyayangi Bagas. Dia terbiasa bergantung pada Bagas. Melepas sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan bukan hal yang mudah. Tak pernah mudah. Apalagi Bagas sudah menemui ibu dan ayah Tina. Bilang apa ia jika sudah tak bersama Bagas lagi?

Saat malam hari. Bagas mengetuk rumah Tina. Tak lama Tina membukakan pintu.
“assalammualaikum”
“walaikum salam, masuk gas” Bagas masuk dan duduk di ruang tamu.
“Ibu Bapak di mana Tin?” tanya Bagas.
“ada, di dalam sudah tidur.” kata Tina sambil membawakan kopi.
“mana tugasmu, katanya mau kerjain tugas?”
“ada di kamar sebentar aku pindahin dulu”
“mau aku bantu?”
“nggak usah” ucap Tina tersenyum. Tina memindahkan buku vocabulary dan setumpuk kertas tak lupa laptopnya ke ruang tamu.

Tina duduk di lantai persis depan layar laptop itu. Diikuti Bagas yang duduk di sebelahnya dan membaca beberapa buku tumpukan tersebut.
“tugas macam apa sih ini? Materinya sebanyak dosa” gerutu Bagas. Tina pun tertawa.
“baru lihat aja udah ngeluh, payah nih”
“tapi Tin ini banyak banget, udah kamu baca semua?”
“udah, tinggal disimpulin aja” Tina sibuk mengetik sementara Bagas menulis kesimpulan di lembaran kertas. Saat suasana sedang hening tiba-tiba Tina melontarkan pertanyaan.

“kamu pacaran sama Ika berapa lama?” Bodoh! Kenapa tanya itu.
“ha? Tidak lama. Cuma 2 tahun”
“dua tahun lama gas, terus perasaan kamu sekarang sama dia gimana?” Bodoh!! Lagi-lagi.
“oh lama ya” Bagas tak berkata lagi. Ia tengah memandangi Tina. Tina pun membalas tatapannya. Wajahnya yang berwarna kecokelatan dan rahang yang kukuh itu terkesan tegas dan serius.
“kamu cemburu sama dia?” tanya Bagas.
“nggak,” Tina berpaling dan mengetik lagi. Sebenarnya ia sedang berusaha untuk tidak terlihat sedih. Bagas tahu betul bagaimana ekspresinya saat sedang sedih.
“aku minta maaf karena gak cerita sebelumnya tentang dia aku pikir gak penting buat kamu” ucap Bagas sambil bersender di bahu Tina.

“dia masih menyimpan rasa sama kamu gas”
“dari mana kamu tahu?”
“ya gak penting dari mana. Apa kamu gak berpikir buat balik lagi sama dia?”
“gak, buat apa? Aku udah pasnya sama kamu. Semua yang aku cari ada di kamu buat apa aku cari yang lain”
“tapi dia lebih baik dari aku, dia lebih cantik, dia lebih dalam agamanya lebih segalanya dibanding aku”
“orang aku maunya sama kamu”
“kamu pacaran sama aku karena supaya bisa lupain dia ya?”
Bagas terdiam sejenak lalu berkata, “udah ah kok ngomongnya gitu sih, jangan ngomong gitu lagi ya aku gak suka”
Mereka melanjutkan tugas itu lagi sampai selesai kemudian Bagas pun pulang.

Di kamar Tina tak bisa tidur. Ia memikirkan hubungannya. Banyak pertimbangan yang berat antara melepaskan atau mempertahankan. Di satu sisi ketika ia memilih mempertahankan Bagas ia ragu dengan cinta Bagas, sebab dibandingkan hubungannya dengan Ika yang selama 2 tahun tak ada apa-apanya dengan Bagas yang baru satu bulan. Sahabat-sahabat Tina juga kurang setuju jika ia berpacaran dengan Bagas karena kesan Bagas yang dingin ditambah sahabat-sahabatnya juga lebih mendukung Bagas dan Ika dibanding dengannya.

ia takut disangka merampas kebahagiaan orang lain. Bagas pun tak pernah memberi bunga seperti yang ia lakukan pada Ika itu berarti ia tak se-spesial Ika. Tapi jika melepaskan Bagas, ia sudah terlanjur jatuh cinta dan itu mutlak sekali pengaruhnya. Ia pun melihat cara Bagas memperlakukannya sangat tulus. Ditambah kedua orangtua yang sudah merestui hubungan mereka berdua. Ia kalut.

Saat Tina baru saja ke luar dari kelasnya. Tiba-tiba ada notifikasi baru,
“1 undangan menunggu: Ika Mahardika”
Mantan pacar Bagas. Tina merasa agak takut. Takut dia akan marah-marah. Tapi dengan segala resiko yang ada ia akan terima mau tak mau harus dihadapi. Tina meng-accept invite tersebut.
“ping! Ping!” sebuah bbm masuk dari Ika.
“kenapa?” tanya Tina.
“pacar Bagas?”

Duh..

“iya, mantannya Bagas ya?”
“iya udah dua tahun kita pacaran”
“oh gitu ya”
“iya”
“kuliah di mana? Jurusan apa?”
Dia sedang mengorek-ngorek aku.
“UI, sastra inggris. Kamu?”
“UIN Syarif Hidayatullah, kedokteran, dan dikit lagi sidang skripsi”
“wah hebat ya?”
“alhamdulillah barakallah”
Ika tak seburuk yang ia kira. Setelah mengenalnya sendiri ia mengerti Ika adalah perempuan yang sabar dan penuh tawakal pembawaannya juga sangat baik.

Tina tengah terduduk di sebuah kafe outdoor. Ia menunggu kekasihnya, yang tak lain adalah Bagas. Ia sudah janjian untuk bertemu di sini. Ia pikir mungkin tak apa jika ia memutuskan untuk melanjutkan karena hubungan ini nantinya mereka yang jalani terserah orang bilang apa.
“Tina?” sosok lelaki tinggi tersebut datang.
“Bagas? Duduk gas”
“maaf ya lama nunggu saya” Saya? Sejak kapan dia membiasakan diri berbicara dengan kata saya.
“gak apa-apa Bagas aku juga baru sampe”
“pesan gih”
“ini udah dari tadi sampai kopinya dingin”
“itu berarti kamu lama nunggunya aduh maaf ya sayang”

“gak apa-apa, abis dari mana?”
Bagas terdiam sejenak lalu berkata “ah kamu kenapa sih curiga terus.”
“nggak ah aku nanyanya biasa” Tina bingung.
“ya udah” raut wajah Bagas langsung kecut. Dan sibuk dengan ponselnya.
‘Kamu tidak biasa begini Bagas. Kamu berubah, ada yang kamu sembunyikan dariku.’

Hari mulai petang tapi tak ada kalimat yang ke luar dari bibir Bagas maupun Tina. Pertemuan ini menjadi cambukan bagi Tina. Membuatnya berpikir dua kali tentang keputusannya. Karena Tina juga agak kesal ia pun pamit pulang. “kok pulang sih, baru juga sebentar?” protes Bagas.
“lihat deh langitnya, udah mau maghrib. Dunia itu bukan selalu di ponsel. Tapi kamu sibuk sama diri kamu sendiri” ucap Tina bernada kecewa lalu pergi.

Ponselnya tak berhenti berdering. Notifikasi masuk dari Bagas. Tapi tak sedikit pun ia menanggapi. Ia sedikit kecewa dengan Bagas. Ia cukup lama berdiam diri di depan meja belajarnya. Kemudian memutuskan menjawab telepon Bagas. “Tina kenapa sih gak diangkat-angkat?!” Bagas langsung marah-marah.
“gak apa-apa”
“tadi sore kamu marah sama aku? Gak jelas tahu gak kamu”
Kamu berubah Bagas. “iya terserah” terasa ketir nada bicara Tina.

“kamu kenapa lagi sih?”
“nggak, aku mau kerjain tugas dulu, matiin aja teleponnya ya”
“tuh kamu kenapa sih!”
“aku gak apa-apa, kalau kamu telepon aku untuk marah-marah atau caci maki aku lebih baik kamu matiin, karena tanpa kamu pun aku bisa ngelakuin semua sendiri tanpa emosi kamu. Wassalammualaikum”

Telepon langsung dimat9kan oleh Tina. Sikap Bagas lama kelamaan semakin membuatnya yakin untuk melepaskan Bagas. Sekitar 30 menit kemudian terdengar derungan suara motor. Yang tak lain adalah motor Bagas. Masyaallah kenapa orang ini tak berhenti mengangguku. Bagas menyalimi Ayah Tina yang sedari tadi berada di kursi teras depan kemudian masuk mengetuk pintu kamar Tina. Mau tak mau ia harus menerima Bagas.

“masuk” ucap Tina sembari mempersilahkan Bagas masuk ke kamarnya.
“jangan tanya tentang yang di telepon. Aku malas berdebat” ucap Tina lagi.
“mau kamu apa sih Tin? Kenapa sensi banget”
“gak apa-apa Bagas aku bilang gak apa-apa ya gak apa-apa”
“beneran?”
“iya” Bagas kembali begitu. Ia sibuk dengan ponselnya. Hingga tak mempedulikan Tina.

“kamu kalau mau main hp di rumah aja gas ini juga udah malem, aku mesti tidur besok ada kuliah pagi”
“kamu bosen ya aku cuekin?”
“bukan Bagas, aku pikir lebih baik juga gitu lagi pula besok kamu kuliah juga kan? Nanti kesiangan lagi”
“ya udah deh aku pulang dulu. Anterin aku pamit sama Bapak” Tina mengantar sampai halaman depan sampai Bagas pergi dari halaman rumahnya malahan.
Ia melamun. Terlihat sekali lekuk wajahnya yang sedih dan dilema.
“Bagas udah pulang dek?” tanya ibunya.
“udah bu,” Tina langsung pergi ke kamarnya dan tidur.

Keesokan harinya. Saat Tina sedang berjalan pergi ke arah kantin tiba-tiba seseorang menghampirinya, Linda sahabatnya.
“eh Tina, lama gak ngelihat” sapanya.
“hai apa kabar? Iya lagi sibuk sama pekerjaan”
“baik alhamdulillah. Oh ya? Di blog kamu masih banyak post baru ah”
“hahaha, iya itu perkerjaanku menulis di blog”
“oalahh. Iya aku suka baca blog kamu makin hari makin bagus aja tulisan kamu Tin”
“aku masih amatiran”

“tulisan kamu sangat berkesan Tin. Udah putus sama Bagas?”
“belum lin”
“hah?” Linda kebingungan.
“kenapa? Kamu mengetahui sesuatu?”
“nggak” Ada yang Linda sembunyikan.

“udah cerita aja tentang dia yang kamu tahu lin, ini penting” Tina medesak Linda.
“baik, ayo kita cerita di kantin” kami berdua lalu ke kantin. Lalu duduk di salah satu meja di sana.
“jadi kemarin Ika si mantan Bagas itu cerita kalau mereka ketemuan dua hari yang lalu kalau gak salah, Bagas dekati dia lagi. Ya aku senang dia berdua bisa dekat lagi. Karena mereka cocok banget menurutku. Aku pikir kamu sama dia sudah nggak lagi”

Ya Allah. Air mata Tina menetes. Bahkan raut wajah Linda kurang suka ketika dia tahu bahwa Tina dan Bagas masih berpacaran. Tak satu pun yang mendukungnya dengan Bagas, tak ada yang mengerti perasaannya. Dan Bagas, ia diam-diam menemui mantannya. Tina merasa dikhianati. Bagaimana bisa? Ia menghapus air mata yang tak bisa ia bendung satu persatu.

“Tina kamu nangis? Tina maaf ya bikin kamu nangis. Maaf kalau kata-kata aku bikin kamu sedih”
“gak apa-apa, terus apa lagi yang kamu tahu lin?”
“dia juga cerita kalau malam ini mereka mau ketemu. ”
“di mana, jam berapa tepatnya?”
“kafe kintamani dekat taman musik, jam setengah 8”
“oh gitu ya udah makasih ya” Tina langsung beranjak dari meja tersebut, namun Linda memanggilnya.
“semangat Tina, jangan sedih. Cinta gak akan beranjak hanya karena satu orang yang mengkhianati kamu. Aku dukung kamu Tina”
“makasih Linda”

Tanpa berpikir lagi Tina langsung pergi ke tempat tersebut. Ia ingin melihat sendiri mereka berdua bertemu. Sesampai di sana ia langsung mencari tempat duduk di kafe yang berada di seberang tepat kafe kintamani. Tangannya gemetaran, emosi ia tahan sampai ke ulu hati. Terasa sesak tak apa. Ia sangat ikhlas dan tabah atas semua ini. Sekitar pukul tujuh malam wanita itu datang. Wanita berhijab hijau tosca, dandanannya rapi sekali. Wanita itu menunggu seseorang, senyum penuh harap itu tak berubah sedikit pun sejak ia datang. Wanita itu adalah Ika. Dia lebih cantik dibanding aku.

Tak lama datanglah Bagas. Senyum wanita itu langsung sumringah dan menyambut Bagas. Hati Tina sangat terpukul bagaimana bisa Bagas mengkhianatinya? Lagi pula Ika adalah wanita, apa ia tak mengerti bahwa lelaki yang temui ini telah memiliki kekasih. Bukan, bukan saja ia temui bahkan ia harapkan untuk menjadi pelabuhan hatinya kembali. “Mulai dari mana? Aku takut. Tidak, aku harus siap. Bismillah..” Tina mencoba menelepon Bagas.

“assalamualaikum gas”
“walaikumsalam, ada apa?”
“kamu lagi di mana gas?”
“aku lagi di rumah Tin, kenapa?” Kamu berbohong.
“oh lagi ngapain? Bisa ke rumah aku?”
“aduh gak bisa, aku lagi ngerjain tugas” kata Bagas sambil membungkuk membetulkan sepatunya.
Kamu berbohong lagi. “aku kira kamu lagi ngebungkuk, ngebetulin sepatu kamu”

Bagas sontak kaget. Kenapa Tina bisa tahu, “ah engg.. iya lagi pakai sepatu mau ke rumah kamu aja”
“katanya ngerjain tugas? Gak perlu, nanti tugas ngajak dia ngobrol bareng jadi gagal.”
Bagas semakin kaget. Matanya membelalak, mencari-cari. Pandangannya ke segala arah membuah hasil. Tepat di seberang ia melihat Tina tengah tersenyum ke arahnya sambil mengusap antara peluh dan air mata di wajahnya. Ika pun kaget saat melihat Tina di seberang.

“kita sampai di sini, terima kasih Bagas atas kebaikanmu selama ini”
“tapi Tin.. ”
“terima kasih kamu berbaik hati kepada orangtuaku, luka darimu hanya sementara, aku tahu. Suatu saat saya akan baik-baik saja” telepon itu dimatikan oleh Tina. Tina langsung pergi. Menahan air mata yang berusaha ia bendung. Berjalan di tengah kota sendiri.

Berbulan-bulan semua itu berlalu. Di setiap kesakitan pasti ada pelajaran. Tak mungkin Allah memberikan luka tanpa sebuah bekas. Ika dan Bagas pun berbaikan dan menjalin hubungannya kembali. Tina pun juga mendengar kabar itu dan ia mencoba berbahagia. Bagi Tina, Ika dan Bagas mungkin memang begitu. Satu pasang yang tak mungkin pantas berpasangan dengan yang lain. Mereka ditakdirkan berjodoh. Mana tahu?

Cerpen Karangan: Yustina Wigati
Facebook: Wigati Yustina
Nama saya Yustina Wigati. Nama panggilan yustina atau tina. Saya adalah penulis baru, bisa disebut pemula. Saya duduk di bangku kelas 1 SMA di SMA Kharismawita depok. Ini adalah karya pertama yang saya bagikan ke orang banyak. Terima kasih.

Cerpen Jawaban Atas Dilema merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Alasan Sederhana

Oleh:
Semua berawal ketika aku diajak untuk menghadiri salah satu acara ulang tahun teman sekalasku, Ika. Aku merasa terkejut ketika Ika mengundangku ke acara ulang tahunnya, bagaimana tidak? Aku dan

7200 Hari

Oleh:
Hari ke 6120 dalam hidupku. Dari pertama aku lahir, sampai tepat pada ketujuh belas usiaku. Aku tidak setua itu, kan? Tujuh belas tahun adalah masa di mana aku harus

Karena Aku Dia Pergi Darimu

Oleh:
Hari-hari yang dulu kujalani sangat suram, sekarang menjadi cerah karena kehadiran mu. justin, kakak kelas XII dia adalah pria yang memikat hatiku saat pertama aku menginjakkan kaki di SMA

Dia

Oleh:
Malam ini entah mengapa mataku begitu sulit tuk mengatup. Dalam pikiranku hanya penat dengan 1000 macam masalah yang tak berakar. Akhirnya ku bangun dan mengambil buku harian. Ku buka

Ingatan Manis dari Jani

Oleh:
Dengan mengucap bismillah dan rasa syukur kepada Tuhan, aku gunakan jari-jariku untuk menceritakan kisah asmaraku dengan Rinjani (Rinjani Nadiva Rahma) mahasiswi teknik sipil salah satu perguruan tinggi di Jakarta.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *