Kotak Surat Darimu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 13 January 2015

Kasih, Setelah beberapa pekan kau diam membungkam dan mengacuhkanku dengan tidak menemuiku, ratusan panggilan tak terjawab di handphonemu bahkan pesan via sms dariku tak satu pun mendapat respon darimu. Membuatku memendam rindu, tuk segera kembali bercumbu denganmu. Tak terduga sebelumnya, hari ini kau membuatku begitu terkejut. Kau hadir di hadapanku dengan membawakan sebuah kabar. Yah.. sebuah kabar bahagia.

“Ada apa? Tidak seperti biasanya. Aku rasa ada yang aneh.” Tak kugunakan kalimat basa-basi atau prolog untuk membuka percakapanku dengannya. Dengan sigap kulontarkan kepadanya beberapa pertanyaan. Seperti yang kuduga, dia hanya diam, mengabaikan pertanyaanku.

Aku mengikutinya untuk diam. Kami berdua terdiam. Wajahnya mulai ditundukkan. Sedangkan mataku terus mengawasinya. Menunggunya untuk mengucapkan sepatah atau dua patah kata. Lebih dari 10 menit kami terdiam. Sampai pada akhirnya, dia mengeluarkan sebuah kotak surat kemudian meletakkannya di atas meja, aku mengambilnya yang kurasa ditujukan untukku.

Kasih. Secair air, kau ungkapkan bagaimana perasaanmu ketika beberapa pekan terpisah dariku. Bagai aliran yang tak berujung, kau dengan lugas menceritakan bagaimana perasaanmu ketika kau pertama kali mengenalku. Seakan dipenuhi bunga merona, kau berkata bahwa aku merupakan bunga yang indah. Bunga yang bisa menyejukkan matamu bila kau pandang, bunga yang menenangkan bila kau hirup aroma segarnya, serta bunga yang membawa kebahagiaan jika bisa kau miliki.
Juga, seutas kalimat tertulis di samping foto yang kau lampirkan dalam kotak surat itu. Sebuah gambar yang kau potret diam-diam di sebuah taman bunga, saat kau meluahkan semua perasaanmu tentang diriku, tempat yang menjadi saksi berseminya cinta kita. Yah.. cinta antara kau dan aku. Begitu rapi nan indah kalimat demi kalimat yang kau tuliskan, bahwa tiada kasih yang paling indah selain diriku, akulah kasih yang paling berkesan dalam hidupmu, kasih yang mampu membuatmu ikut bersedih dan melinangkan air mata di saat aku sedang terluka.
Secarik surat juga terlampir bersama kertas berwarna merah jambu, berhias bunga ungu terikat dengan kain pita. Kupikir, surat itu surat kita terdahulu. Surat pertama, yang bernasib sama dengan foto tadi. Bukan! Ternyata, surat itu surat baru. Jika surat yang pertama kau tulis hanya bercerita tentang kau dan aku, kini, surat yang kedua kudapati kata ‘dia’.
Kemudian aku membalik bagian depan kertas berwarna merah jambu, berhias bunga ungu, yang ternyata sebuah undangan. Begitu terkejutnya aku, ketika melihat apa yang kubaca di sepucuk undangan yang terlihat mewah itu. Berita itu telah kau sampaikan kepadaku. Melalui kertas berwarna merah jambu yang berhias bunga ungu, tertera jelas namamu dan namanya. Haikal fikri & Nuraliana.
Kasih. Masihkah pantas kupanggil namamu dengan sebutan kasih? Untaian kata demi kata, bait demi bait telah habis ku baca hingga berada pada bait akhir. Akhir kata dalam suratmu, di antara kertas berwarna merah jambu berhias bunga ungu itu, kau ingin agar aku juga merasakan bahagia, sebahagia yang kau rasakan. Dengan kata lain, agar aku bisa segera menyusul status baru yang dua minggu lagi akan kau sandang.

Kulipat surat itu serapi bentuk awalnya. Sebelum kuselipkan kembali surat itu, kupandangi lekat. Terselip senyum dan doa agar kau benar-benar bahagia sebagaimana yang kau gambarkan dalam alunan syair yang terdapat pada secarik kertas yang kau ceritakan tentang ‘Dia’.

Secepat kilat, kurobek surat dan gambar itu. Kini kertas-kertas itu sudah menjadi kepingan yang begitu kecil, seperti kepingan hati yang baru saja kau hancurkan sehancur-hancurnya. Meski telah ku berusaha membuang perasaan ini seperti halnya dengan kepingan kertas itu yang telah kubuang ke tempat sampah. Dikata berat ataupun tidak, kenangan itu kan selamanya ada dalam diriku. Aku tak bisa melupakannya karena kau pernah menjadi bagian dari cerita hidupku.

Sebuah acara pernikahan digelar dengan sangat mewah di sebuah gedung ternama di tanah kelahiranku. Dia terlihat sangat tampan, duduk di kursi pelaminan itu. Dia memakai kemeja lawasnya, kemeja yang dia beli di rumah butik milikku bersamaan dengan gaun putih. Gaun putih yang telah dipakai oleh wanita pilihanmu, wanita yang sedang bersanding denganmu.
Jika saja kami berdua disandingkan, kami berdua pasti terllihat sangat serasi. Jika saja.. jika saja aku berada di sampingnya, kami pasti terlihat sangat pas. Jika saja aku duduk di pelaminan itu bersamanya. Jika saja aku yang menjadi pengantinnya. Ahh… Tapi sayangnya itu hanya imajinasiku yang terlalu liar. Otakku masih belum bisa menerima kenyataan. Hatiku masih gentar menghadapi apa yang baru saja aku rasakan. Perasaan yang tak karuan membuatku menangis seharian setelah menerima undangan yang dia berikan waktu itu.

Sekuntum bunga jatuh tepat di atas kepala membuyarkan lamunanku terhadap dirinya. Kulihat bunga itu. Ya. Begitu indah. Warna putih gading dipadu kuning telurnya benar-benar memanjakan kesejukan di mataku. Kucoba untuk menikmati aroma harumnya yang berada dalam genggamanku. Tiba-tiba ku melirik pada jari tanganku yang terlilit benda kecil. Yah.. sebuah benda kecil yang telah melingkar di jari manisku. Kemudian kutatap perlahan seorang kekasih, dia yang tengah berdiri di sampingku. Aku tak mau, dia mengetahui bahwa aku pernah beradu kenangan dengan dia. Dia yang tengah duduk di atas kursi pelaminan itu. Meski aku yakin bahwa dia tak kan menyalahkanku atas kenangan itu, namun aku masih punya rasa malu.

Para tamu undangan mengantri untuk bersalaman dan mengucapkan selamat pada kedua mempelai dan keluarga yang telah berjajar rapi. Sekarang giliranku, aku berjalan ke arahnya kemudia kami berjabat tangan dan ku bisikan padanya bahwa, “Tak adil jika kau yang telah berbagi kebahagiaan denganku, tak mendapat kabar bahagia yang kini sedang kualami bersama dia. Dia yang sekarang sedang bersamaku, berdiri di sampingku dan ikut serta memberikan ucapan selamat untuk kalian. Namanya bayu. Aku dan dia sudah menjadi pasangan kekasih, suami dan istri. Ya. Gelar itu lebih cepat kudapatkan. Seminggu sebelum status barumu kau sandang.”

The End

Cerpen Karangan: Fitriani Ulma
Facebook: fitriani ulma

Cerpen Kotak Surat Darimu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Masa Lalu Menghancurkan Masa Depanku

Oleh:
Semua orang pasti pernah merasakan apa itu cinta… ya, cinta… cinta itu indah bagi yang merasakannya, Cinta itu bisa membuatmu bahagia dengan magicnya, karena cinta, juga bisa membunuhmu dengan

Kata Untuk Hujan

Oleh:
Entah sejak kapan pandanganku ini hanya melihat ke salah satu sudut ruangan. Sesosok laki-laki yang sejak tadi asyik mengobrol dengan teman-temannya. Ya… Laki-laki itulah yang selama 2 tahun ini

Sipit

Oleh:
Santi masih stay di depan meja komputernya, mengetik beberapa buah kata pada jendela chat-nya kemudian Enter, setelah menunggu beberapa lama balasan itu pun muncul. “Oke sama-sama, salam kenal aja”

Samudra Cinta

Oleh:
Deburan ombak tepi pantai malam itu, seperti sedang memberiku isyarat bahwa aku hanya terlihat layaknya sebongkah karang yang kesepian di tengah samudra nan deras, entah mencoba menahan derasnya terjangan

Surat Terakhir Untukku

Oleh:
Pagi itu. Suasana pagi menyelimuti hatiku, tak terasa saatnya aku kembali ke sekolah ku di sma jaya negara. Aku teringangat masa laluku dimana aku pernah menyukai teman lamaku zali.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *