Ku Bawa Hatiku Ke Dalam Damai (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Galau, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 5 April 2014

Malam ini adalah malam yang paling gelap yang pernah kulihat. Tak ada kelipan kejora bintang, pantulan cahaya bulan bahkan, petir yang menyambar-nyambar. Hanya hitam yang tampak. Semburat cahaya kehitaman pun tak dapat ku lihat. Semuanya legam tampak di pelupuk mata.

“Mel, sudah malam… ayo masuk!” Tukas Ibu.
“Gelap Bu, aku gak bisa melihat.” Ujarku dengan pelan.
Entah apa yang baru ku katakan, kata-kata itu terlontar meski tak ada yang mendorongnya ke luar.
“Maksud kamu apa Mel? Kamu dari tadi di sini, tidur? Terus mimpi? Yang baru kamu bilang tadi maksudnya apa sayang?” Ibu mengiraku baru saja terbangun dari tidur dan bermimpi. Aku terdiam, “Ahh… seharusnya aku gak bilang gitu” Gumamku.
“Gak Bu, gak maksud apa-apa. Mungkin tadi aku melamun” Jawabku.
“Apa sih yang kamu lamunin? Ya udah, masuk yuk! Lihat tuh udah jam berapa! Besok kamu ada wawancara kan? Tidur gih nanti kesiangan!”
“Iya Bu”

Betapapun aku berada di dalam kamar yang cukup penerangan, tetap yang ku lihat hanya hitam, gelap dan legam. Ahhh aku benci seperti ini. Tapi aku tahu sebab apa yang menjadikanku seperti ini. Ya, mereka. Alya dan Teo. Alya adalah sahabatku, dan Teo adalah temanku sejak kecil. Sudah lama aku menaruh hati pada Teo. Tapi bodohnya aku yang tak pernah bisa untuk mengungkapkannya. Alya memang pernah berkata tentang perasaannya ke Teo. Tapi saat itu aku tak menghiraukan perkataan Alya. Karena Alya adlah tipe orang yang mudah suka terhadap lawan jenis. Setiap dia suka sama seseorang tak pernah ia bawa ke dalam hubungan yang serius. Awalnya kedekatan mereka ku anggap biasa, tak ada cemburu atau kekhawatiran sedikitpun di benakku. Tapi ternyata, kenyataan ini begitu sangat memukulku. Rasa sakitnya melebihi rasa sakit saat aku mengalami kecelakaan dengan sepupuku. Aku tak tahu apa yang akan terjadi dengan wawancaraku, besok. Semoga aku tak mengecewakan ibu. Oh Tuhan… bawa hati ini ke dalam damai, tuntun aku menggapai kasihMu.

Keesokkan harinya di pagi yang basah karena embun, aku masih berbaring di tempat tidur. Malam yang tampak gelap, telah berganti dengan pagi yang amat dingin. Hatiku begitu menggigil menyambut pagi ini.
“Amel, udah siap belum? Alya udah dateng ni” Suara ibu dari kejauhan terdengar samar di telingaku.
“Alya, kamu masuk aja gih ke kamarnya. Barangkali Amel masih tidur, soalnya tadi malam dia begadang” Seru ibu kepada Alya.

Alya pun baranjak ke kamarku. Sontak Alya kaget, mendapatiku masih berbaring di tempat tidur.
“Ya ampun Amel…!!! Udah jam berapa itu lihat!!! Ayo bangun, bangun, bangun!!!” Alya mambangunkanku sambil menggoncang-goncang tubuhku.
Sebenarnya aku sudah terbangun, tapi aku merasakan semangatku hilang entah kemana. Gigilan hati ini begitu sangat ku rasakan. Aliran darahku seakan berhenti, membeku.
“Iya, iya Al… aku udah bangun kok” Ucapku malas.
“Hei kamu kenapa sih gak kayak biasanya? Kok jadi malas gini. Ayo cepat mandi! Hampir telat ni” Ujarnya.
“Aduh.. males banget nih hari ini” Keluhku sambil mengusap kedua mataku.
“Amel, dari awal kan kamu yang menggebu-gebu pengen kuliah di situ. Sekarang mana semangat kamu? Tingal tahap akhir loh, selangkah lagi. Hari ini kita tes wawancara, abis itu udah deh tinggal nungu hasil” Alya berusaha menyemangatkanku.

Biasanya saat Alya semangat, aku akan lebih semangat. Dan jika Alya mencoba memberiku semangat, aku akan segera berdiri untuk menjadi orang yang paling semangat. Tapi kali ini ku rasakan sangat berbeda. Suport yang Alya berikan justru mencabik-cabik perasaanku. Aku berang, pilar yang selama ini ku genggam justru meruntuhkanku.

“Iya udah aku mandi dulu” Aku beranjak dari tempat tidur. Baru beberapa langkah saja, Alya membuatku tersentak. Langkahku terhenti saat kata-kata itu keluar dari mulutnya.
“Cepat ya mandinya, Teo udah nunggu di luar tuh. Kasihan dia kalau harus nunggu lama, lagi pula takut gak keburu. Hehe…” Ucapnya.
“Tuhan… kenapa harus seperti ini? Sudah cukup terpukul aku dengan pengakuan mereka kemarin. Kenapa hari ini aku harus menyaksikan mereka berjalan beriringan? Aku tak sanggup melihat kebersamaan itu” Gumamku, lantas melanjutkan langkahku dan menjawab perkataan Alya dengan tenang, “Iya, bentar kok mandinya gak lama”.

Dua hari kemudian aku mendapat kabar bahwa aku, Alya dan Teo diterima di Universitas yang selama ini kita impikan. Sekali lagi aku dihadapkan dengan kenyataan yang sulit ku raba. Kabar bahagia yang justru membuatku semakin tersungkur. Malam demi malam ku lalui dengan diam, merenung dan mencoba membawa hati ini dalam kedamaian. Sesekali aku bawa isi hati ini ikut menari bersama pena di atas kertas.

Aku dan malam-malamku
Selalu berjelaga menapaki ketiadaberdayaan ini
Kaulah bunga mawar putih
Dan dia melati
Kau dan dia saling bermekaran
Sedangkan aku hanya layu dalam angan
Apalah arti perasaanku dibandingkan kalian
Hanya saja hati ini belum mampu menerima pahit yang terlihat manis
Aku selalu saja menangis
Alya, Kau tetap sahabatku walau saat ini ada kesal di hatiku
Teo, aku menyayangimu tapi sayangilah Alya sepenuh hatimu

Hari-hari pertama kuliahku ku rasakan tak ada yang istimewa. Aku satu kelas lagi dengan Alya. Empat tahun aku dan Alya ditempatkan dalam satu kelas yang sama. Sejak SMP sampai lulus SMA. Hari berganti hari, aku sudah bisa menerima hubungan Alya dengan Teo. Tapi sampai saat ini mereka tak pernah tahu perasaan apa yang sebenarnya aku miliki untuk Teo. Aku hanya ingin semua ini berjalan tanpa merusak persahabatanku dengan Alya. Aku hanya butuh waktu untuk bisa benar-benar menerima. Dan berharap akan ada seseorang yang dapat menggantikan posisi Teo, yang tulus menyayangiku apa adanya.

“Al, makan yuk!” Ajakku kepada Alya.
“Ayo, tapi aku ke toilet bentar ya. Kamu duluan aja ke kantin. Atau kalau gak, kamu samperin Teo dulu, gimana? Hehe…”
“Ihh.. ogah ah. Gila aja, kelas Teo kan lumayan jauh. Mending aku langsung ke kantin aja deh”.
“Hahaha, bercanda kali. Ya udah nanti pesenin bakso super pedas ya sama jus melon. Ok.. ok…!”
“Siippp”.

Aku pun berjalan menuju kantin. Sendiri aku melangkah melewati ruang-ruang yang telah lama berdiri. Di antara gemuruh suara orang-orang di sekitarku, ada yang ganjal. Sepanjang aku berjalan, seperti ada yang mengikutiku. Lantas aku menoleh ke belakang.
“Hallo..” Seorang pria berdiri tepat di belakangku dan menyapaku.
Aku menghentikan langkahku.
“Iya, ada apa ya kok dari tadi ngikutin aku?” Tegurku.
“Bukan, bukan, bukannya aku ngikutin kamu. Tapi aku mau tanya. Oh ya kenalin, aku Edo” Sambil menyodorkan tangannya.
“Aku Amel. Udah langsung aja maksud kamu tuh apa?”
“Jangan sewot gitu dong, aku mau tanya ruang seni dimana ya? Kebetulan pas OSPEK aku gak ikut, jadi gak tau deh di mana ruang kesenian”.
“Ohh ruang seni. Tuh di lantai dua” Jawabku.
“Ok, thanks ya. Kamu mau ke mana?”
“Ke kantin. Ya udah ya aku duluan, udah ditunggu soalnya”.
“Ok, sampai ketemu lain waktu ya”.
Kakiku kembali melangkah.

Hari telah berlalu. Setelah pertemuan itu, pertemuanku dengan Edo maksudku. Entah kenapa bayangan wajah Edo terus nampak di tiap pandanganku. Ada rasa yang tak biasa. Entah itu perasaan suka, atau hanya perasaan yang mudah hilang. Tapi timbul di banakku suatu keinginan untuk bisa lebih mengenal dia. Aku menunggu saat-saat bertemu dia kembali. Tapi naas, hari berganti hari bahkan sudah dua minggu pertemuan itu tak juga datang menghampiriku. Kenapa rindu ini harus ada untuk seseorang yang baru sepintas ku kenal? Tak biasanya aku mengalami hal seperti ini.

“Hei, Mel!” Alya tiba-tiba datang mengagetkanku saat ku duduk di taman.
“Ahh ngagetin aja sih kamu Al! Mana, katanya beli minum?”
“Lagian tengah hari bolong gini melamun. Minumnya ditunda dulu. Hehe… tadi ada yang nyariin kamu tuh. Makanya aku gak jadi beli minum”.
“Loh, emang apa hubungannya? Kalau ada yang nyari aku ya udah kamu bilang aja aku ada di taman. Terus kamu lanjut jalan, beli minum. Gampang kan? Ada-ada aja sih kamu Al”.
“Ya iya, tapi aku tuh cuma gak mau kamu kaget aja. Soalnya bentar lagi orangnya ke sini. Nah, tuh tuh tuh orangnya! Ya udah aku aku beli minum dulu. Kali ini beneran beli minum deh, hehe. Daaghhh!”
Alya pun beranjak membeli minum. Sementara aku masih terduduk dengan mata yang tiba-tiba sulit kukedipkan. Hatiku dijubeli pertanyaan. Siapa yang aku lihat sekarang? Dia semakin mendekatiku. Benarkah itu Edo? Tuhan, apa aku sedang bermimpi? Kenapa getaran dahsyat menguasai hati ini? Apa yang terjadi?
“Ehemm..” Edo duduk di sampingku.
“Eh kamu?” Aku tersentak.
“Kaget ya? Maaf ya udah ngagetin”.
“Iya, gak apa-apa kok”.
“Apa kabar Mel? Lama nih gak ketemu”.
“Oh baik, baik, baik kok, baik. Iya aku baik-baik aja” Dengan gugup aku menjawab.
“Syukurlah kalau kamu baik-baik aja. Tapi kok gugup gitu, kenapa Mel?”
“Tuhan… tolong aku. Amel, ayo kamu bisa! Tarik napas, lepaskan! Tarik napas, lepaskan!” Desirku dalam hati.
“Mel, kok diem? Kamu kenapa?”
“Gak, gak, aku gak apa-apa”.
“Bener?”
“Iya, bener kok. Tenggorokkanku seret, dari tadi Alya beli minum gak dateng-dateng”.
“Oh.. kebetulan, nih aku bawain minum buat kamu”.
“Gak usah, gak usah repot-repot. Makasih, bentar lagi Alya juga dateng kok”.
“Gak apa-apa. Nih! Lagian aku udah niat beliin buat kamu kok”.
“Ok, thanks ya. Oya, kata Alya kamu nyariin aku ya? Ada apa?”
“Alya?”
“Iya, Alya temenku. Tuh dia anaknya” Aku menunjuk ke arah Alya.
“Nih Mel, minumnya” Alya menyodorkan minuman.
“Udah telat, aku keburu kembung” Tukasku.
“Loh, kok kembung? Kan belum minum?” Ucapnya, heran.
“Yee sok tahu! Aku udah minum, tadi. Lagian kamu lama banget sih! Nyamperin Teo dulu deh pasti!” Ujarku, kesal.
“Gak kok… orang kita ketemu di kantin, tadi” Jawabnya.
“Hei Bro, apa kabar? Ke mana aja baru keliatan?” Ujar Teo kepada Edo.
“Biasalah Bro, urusan penting perusahaan” Di susul gelak tawa akrab mereka.
“Loh, kalian udah saling kenal?” Tanyaku.
“Iya Mel, aku kenal Edo pas di Seminar bulan lalu” Jawab Teo.
“Ohh… Al. kenalin ini Edo. Edo ini Alya, sahabatku yang paling nyebelin!”
“Hei… aku Edo” Sambil menyodorkan tangan.
“Alya” Sambut Alya.

Hari-hari berikutnya aku, Alya, Edo dan Teo menjadi lebih akrab. Bahkan kami sering pergi bersama. Entah sekedar nonton di 21, makan-makan di Cafe atau sekedar duduk-duduk di pinggir taman kota. Aku merasa nyaman dengan kebersamaan itu. Tapi getaran itu belum juga hilang saat aku dekat dengan Edo. Terlebih lagi saat Edo memberikan perhatian lebih kepadaku. Ya, aku tak dapat memungkiri bahwa posisi Teo di hatiku kini telah menjadi milik Edo.

Dear Edo
Gelap yang menggelapkanku kini hilang karenamu
Kau telah mencabut sembilu yang menancap tepat di relung hatiku
Buliran air mata telah kau ubah menjadi titik-titik sinar yang mambuatku
mampu menatap dunia
Indahnya saat bersamamu membuatku selalu ingin dekat denganmu
Tapi lidahku masih kelu tuk sekedar mengucapkan
“Aku mencintaimu”

Aku selalu berharap Edo juga memiliki perasaan yang sama terhadapku. Tapi sekali lagi aku hanya bisa memendam perasaan ini. Aku tak pernah bisa mengucapkan sayang atau cinta kepada seorang pria. Di sisi lain aku tak mau kebodohanku terulang kembali. Aku tak mau cintaku pupus untuk yang kesekian kalinya. Aku harus mangatakan secepatnya kapada Edo. Hatiku benar-benar beradu dengan pikiranku, yang berkata lain. Antara aku harus berkata atau tidak, itu yang menjadi pergulatan di dalam hati dan pikiranku.

Setiap jam istirahat, aku dan ALya selalu menyempatkan diri untuk duduk di taman. Biasanya Teo dan Edo akan menghampiriku dan Alya.
“Mel, kalau aku perhatiin nih ya… kayaknya Edo jatuh cinta deh sama kamu” Ujar Alya, dan membuatku tiba-tiba tersendak.
“Ups… sorry Mel, sorry. Kamu gak apa-apa kan? Pelan-pelan minumnya, keselek kan jadinya!” Ucap Alya sambil memukul-mukul pelan punggungku.
“Udah, udah gak apa-apa kok. Lagian kamu ngomong kayak gitu, ngaco! Bikin aku keselek, tahu!” tegasku.
“Ihhh tapi bener kok!”
“Tahu dari mana Alya? Ini anak kalau ngomong suka ngarang-ngarang. Mending kamu jadi pengarang cerita aja sana, di sinetron-sinetron tuh! Lumayan kan upahnya bisa buat traktir aku… hahahahaha”.
“Siapa yang ngarang? Ini tuh buka ngarang, tapi menerawang!”
“Emangnya kamu Paranormal bisa nerawang? Huu!”
“Kalau bukan cinta, apa coba? Tiap hari perhatian banget sama kamu. Terus setiap kamu sakit, dia yang paling khawatir setengah mati. Kamu lecet sedikit aja, dia paniknya gak ketulungan. Apa coba kalau bukan cinta?”
“Entahlah..” Jawabku, santai.
“Ihh Amel, kamu gak boleh diem aja! Ayo don bertindak!”
“Bertindak?”
“Iya kamu harus tanya tentang persaan dia ke kamu!”
“Kenapa harus aku yang tanya? Dia dong yang seharusnya bilang sendiri, tanpa ditanya”.
“Atau perlu aku yang tanya?”
“Gak usah, buat apa?”
“Ya buat memperjelas hubungan kalian dong. Nah, tuh Teo. Sayang, Edo mana? Kok sendirian sih?” Ujar Alya kepada Teo.
“Edo gak kuliah lagi hari ini” Jawab Teo.
“Tu anak kenapa sih sering banget gak kuliah? Tiap kali ditanya, jawabnya ada urusan penting. Tapi gak pernah bilang urusan pentingnya tuh apa” Ujarku.
“Ciyee, ada yang penasaran nih ye…” Sindir Alya.
“Biasa aja” Jawabku.

Memang ada satu hal yang tidak aku sukai dari Edo. Dua tahun kami berteman dekat, tak sedikit pun Edo mencoba membuka diri. Dia selalu ingin tampak baik-baik saja. Tapi hatiku berkata lain, seperti ada yang Edo sembunyikan. Kerapkali Edo tidak kuliah berhari-hari. Setiap aku menanyakan kenapa, dia akan selalu berkata tidak apa-apa, ada urusan penting dan berbagai alasan yang klimaks. Sehingga aku tak pernah tahu apa persoalan sebenarnya.

Cerpen Karangan: Rita Lestari
Facebook: Rita Lestari
Cirebon – Jawa Barat

Cerpen Ku Bawa Hatiku Ke Dalam Damai (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Semanis Cupcakes

Oleh:
Minggu pagi sekitar jam sembilan, pesawat telepon di Sweet Cake Shop berdering. Operator menjawab panggilan itu dengan ramah dan sopan. Seorang wanita paruh baya bernama Martha menanyakan pesanan kue

Kau dan Keajaiban Kecilmu

Oleh:
Matahari sudah mulai menampakan wajahnya di jagat raya, pukul 05.00 alarm jamku pun berbunyi sehingga membangunkan tidurku yang nyenyak. Hari ini adalah hari yang sangat kunantikan karena hari ini

First Love

Oleh:
Tiga Tahun berlalu, Namun kenangan, perhatian dan kasih sayang yang kamu berikan masih tersimpan rapi di hati ini. Bagiku tiga tahun bukanlah waktu yang singkat untuk melupakanmu, telah banyak

Mematung Sepi

Oleh:
“Masih terngiang akan suara manjanya, kepintarannya, kecantikannya, dan semua hal yang istimewa itu aku sia-siakan ketika aku memilikinya, kini aku hanya mematung sepi, ditemani penyesalan yang teramat dalam, akankah

Kebahagiaan Sesaat

Oleh:
Namaku Regita chantika, dipanggil dengan sebutan Gita. Aku tinggal di Bandung. Aku sekolah di SMAN 2 Bandung dan duduk di bangku kelas 1. Aku lahir di Bandung pada tanggal

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *