Ku Bawa Hatiku Ke Dalam Damai (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Galau, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 5 April 2014

Tiga hari kemudian, Edo datang menghampiriku. Saat itu aku sedang duduk di taman, sepulang kuliah. Sementara Alya dan Teo pergi, kencan.
“Hei Mel, kok sendirian aja?”
“Alya kencan sama Teo”.
“Ohh..”.
“Kamu kemana aja sih? Kebiasaan buruk, ngilang berhari-hari tanpa kabar terus muncul tiba-tiba. Udah kayak Jelangkung aja!” Ucapku, kesal.
“Kayaknya masih mending Jelangkung deh dari pada aku, hehe. Bercanda”.
“Tahu ah!!!”
“Yee jutek gitu, jangan jutek gitu dong Mel. Maaf deh, maaf”.
“Kamu tuh kenapa sih Do? Udah berapa lama kita temenan? Tapi kamu gak pernah sedikitpun terbuka sama aku. Berlagak gak punya masalah, padahal aku tuh yakin banget kalau kamu lagi punya banyak masalah. Setiap kamu gak kuliah, terus aku tanya kenapa, kamu selalu bilang gak apa-apa lah, ada urusan penting lah. Kamu bohong Do! Iya kan? Kamu tuh…” Belum sempat aku selesai bicara, Edo memotongnya.
“Kamu tuh apa? Udahlah Mel, kamu gak akan ngerti!”
“Emang aku gak ngerti, karena kamu gak pernah ngomong apa-apa!”
“Terus kalau aku cerita ke kamu atau ke yang lainnya, apa masalahku bakal selesai, bakal ilang gitu aja? Gak kan?”
“Ya, gak gitu. Tapi kan..”
“Udahlah Mel, gak usah pusing-pusing mikirin masalah aku. Lagi pula hak aku dong mau cerita atau gak, toh kamu bukan siapa-siapa aku. Yang bisa ngerti masalah aku, ya cuma aku”.
Aku langsung terpukul dengan kata-kata Edo. Seketika itu juga buliran bening menetes di celah-celah mataku. Aku kembali melihat gelap yang sangat menggelapkan. Hatiku sakit, batinku tiba-tiba meradang. Ingin berlari sekencang-kencangnya hingga tak ada yang mampu mengejar.
“Mel, maaf Mel. Aku gak bermaksud…” Ucap Edo.
“Aku emang bukan siapa-siapa kamu, seharusnya aku sadar itu. Aku emang gak ada hak buat tanya ini itu sama kamu. Aku cuma patung di mata kamu. Ya, memang aku patung. Itu sebabnya kenapa aku gak mampu berpikir bagaimana mungkin seorang patung menanyakan suatu hal atau bahkan berbicara sepatah kata dengan manusia sejati tapi memiliki hati batu seperti kamu!” Ujarku dengan suara bergetar karena menahan tangis.
“Mel..”
“Udahlah Do, sekarang aku pengen sendiri!”
“Maafin aku Mel”.
Aku pengen sendiri! Mendingan kamu pergi dan jangan muncul-muncul lagi! Ngerti?”
“Ya udah aku pergi, tapi kamu hati-hati ya!” Edo pun pergi dengan wajah penuh sesal.

Bagaikan menyambung nyawa tanpa pengait, aku benar-benar terguncang. Seharusnya aku tak pernah berharap lebih. Harapanku hanya berakhir kosong. Selama ini aku terlalu percaya diri bahwa Edo pun memiliki perasaan yang sama terhadapku. Tapi kenyataannya aku bukanlah siap-siapa di mata Edo. Apa ini yang dinamakan cinta bertepuk sebelah tangan?

Bom Atom tengah meledak di dalam hatiku
Lalu bagaimana mungkin aku tak hancur?
Aku yang dulu melayang karenamu
Kini telah terjatuh, juga karenamu
Lalu bagaimana mungkin aku tak patah?
Bumbungan yang tinggi kini telah merendah
Salahkah aku jatuh cinta?
Kau tutup segala pintu yang pernah terbuka lebar
Kenapa tak kau bunuh saja cinta ini?
Agar aku tak pernah berharap yang tak mengharap

Dua hari berlalu, aku belum bisa melupakan kejadian dua hari yang lalu. Pernyataan Edo benar-benar telah menghancurkan hatiku. Kenapa tak dari awal saja Edo menjauhiku? Kenapa dia mendekatiku, sedangkan dia tak pernah menganggapku siapa-siapa? Lantas apa arti pertemanan selama ini? Edo hanya menganggapku, Alya dan Teo hanyalah patung yang bisa dia bawa ke mana-mana tanpa dia ajak bicara. Dan tepat hari ini aku berjanji akan menemani Alya berbelanja. Beberapa saat kemudian, Alya pun datang.
“Mel, kita naik Taxi aja ya… mobilku lagi di bengkel soalnya” Ujar Alya.
“Iya, ya udah yuk ah berangkat! Keburu badmood lagi ntar”.
“Iya, iya… yuk! Kenapa sih suntuk gitu mukanya? Dua hari libur kuliah, masih aja suntuk!”
“Gak kok, gak apa-apa”.
“Oh ya, dua hari yang lalu kamu ketemu Edo? Soalnya pas aku jalan sama Teo, Teo bilang Edo nyariin kamu”.
“Iya”.
“Terus dia bilang apa Mel? Dia nembak kamu ya? Hehe..”
“Iya dia nembak aku, sampe sakit banget nih hati! Puas?”
“Yee, serius!”
“Aku serius kok’.
“Cerita dong! Kok diem aja sih kalau kalian udah jadian. Uhh jahat!”
“Siapa yang jadian? Gak kok?”
“Kamu tolak dia? Parah kamu Mel!”
“Dia tuh yang parah”.
“Maksud kamu Mel?”
Saat itu juga aku menceritakan kejadian dua hari yang lalu di taman. Sontak Alya pun kaget.

“Apa? Edo bilang gitu? Wah parah tuh anak”.
“Bener kan dia yang parah, bukan aku?”
“Terus kamu bilang apa ke dia?”
“Aku kesel Al, aku langsung nyuruh dia pergi”.
“Bener-bener tuh anak. Kalau kamu nganggep kamu bukan siapa-siapa, berarti dia juga gak nganggep aku sama Teo. Terus selama ini kita apa? Pertemanan kita selama ini, dia anggap gak ada artinya?”
“Entahlah, tanya aja sendiri ke orangnya!”
Alya tampak sangat kesal, sedikit berbeda denganku. Karena selain kesal, aku juga merasakan sakit yang sangat dalam. Aku kembali merasakan angan tak sampai, dalam percintaan.

Hari-hari berikutnya Edo tak pernah lagi menampakkan diri di hadapanku. Timbul rasa rindu yang berjubel di relungku. Aku kesal, aku hancur, aku sakit hati tapi perasaan cinta dan sayang ini masih menyemuti hatiku. Berhari-hari, berminggu-minggu bahkan sudah lebih satu bulan aku tak bertemu dengan Edo. Rindu ini tak bisa kubendung lagi. Hingga kuputuskan untuk menghampiri Edo di kelasnya. Tapi apa yang ku dapat? Pernyataan yang membuatku tercangang. Seorang temannya berkata bahwa, Edo tidak kuliah selama satu bulan ini. Tak ada yang tahu di mana dan ke mana Edo. Timbul lagi rasa sesal itu, aku menyesali kejadian satu bulan yang lalu. Tak semestinya aku berkata agar dia tak muncul lagi di hadapanku. Oh Tuhan… aku merasa sangat kehilangan dia.

“Gimana Mel, Edo ada di kelasnya?” Tanya Amel sekembalinya aku dari kelas Edo.
“Gak ada Al” Jawabku lemas.
“Loh, ke mana?”
“Temennya bilang, dia udah satu bulan ini gak kuliah”.
“Apa? Kok sampe selama itu? Biasanya kan paling lama dia bolos tuh ya cuma empat sampe lima hari”.
“Parahnya lagi, tak ada seorangpun dari temannya yang tahu di mana dan ke mana Edo”.
“Wah Teo juga pasti kaget nih kalau tahu kabar ini”.
“Emang kapan Teo balik?”
“Bulan depan Mel. Dia masih harus nyelesein proyeknya. Masi ada dua kota lagi yang belum dia observasi”.
“Aku merasa bersalah sama Edo, Al”.
“Loh, kok jadi merasa bersalah?”
“Iya, kan waktu itu aku bilang ke dia buat gak muncul-muncul lagi. Sekarang dia bener-bener pergi, Al. Harusnya waktu itu aku lebih bisa ngontrol emosi aku. Setelah aku pikir-pikir lagi, emang bener kok apa yang dibilang Edo. Dia punya hak buat cerita atau gak tentang masalahnya ke kita. Cuma waktu itu akunya aja yang terlalu maksa. Jadi Edo kesal, terus bilang kayak gitu. Aku nyesel Al. Aku gak mau kehilangan Edo”.
“Kehilangan Edo? Maksud kamu?”
“Aku sayang Al sama dia, aku cinta sama dia”.
“Ya Tuhan, Amel? Kenapa kamu gak bilang dari awal? Ya udah, ya udah… jangan sedih gitu ya! Kita nanti cari Edo bareng-bareng. Aku pasti bantu kamu Mel. Sabar ya sayang!”
“Iya Al, thanks ya.. kamu emang sahabat aku.”

Sudah dua minggu kemudian, Edo belum juga muncul. Dan sudah tepat dua bulan aku tidak bertemu Edo. Entah apa yang sedang ia lakukan. Aku sangat menghawatirkannya, selain itu rindu dan rasa sesal ini terus berkecamuk memenuhi heri-hariku. Hingga pada suatu hari, Alya menunjukkan alamat sepupu Edo padaku. Hanya alamat sepupunya yang ia dapat, sementara alamat rumah Edo tidak ada yang tahu. Pihak kampus rupanya telah diminta Edo untuk tidak memberikan alamatnya kepada siapapun. Aku dan Alya saat itu juga pergi ke rumah sepupu Edo. Dan beruntung orang yang kami tuju saat itu sedang berada di rumah.

“Oh jadi kalian ke sini, nyari Edo?” Ujarnya setelah aku dan Alya menjelaskan maksud kedatangan kami ke rumahnya.
“Iya, kita nyari Edo. Kamu tahu di mana Edo?” Tukas Alya.
“Yang namanya Amel, mana?” Tanya sepupu Edo
“Aku Amel, ini Alya” Jawabku.
“Oh.. jadi kamu yang selama ini ditaksir Edo?”
“Maksud kamu?” Tanyaku penuh heran dan penasaran.
“Edo banyak cerita tentang kamu. Dia cinta banget sama kamu. Tapi ada satu hal yang membuat dia gak bisa terus terang ke kamu”
“Apa?” Serentak Aku dan Alya bertanya.
“Kisah hidupnya. Banyak yang kamu gak tahu tentang Edo. Tiga tahun yang lalu, usaha ayahnya bangkrut. Rumah mereka disita Bank. Lalu mereka pindah ke rumah kontrakan. Di situasi yang masih sulit, ternyata ayahnya selingkuh dengan wanita kaya raya yang usianya jauh di atasnya. Kemudian ayahnya menceraikan ibunya, karena ia memilih menikah dengan wanita selingkuhannya. Sejak perceraian itu, ibunya sangat terpukul dan menjadi sering sakit-sakitan. Edo berusaha tegar. Dia mati-matian untuk bisa menyambung hidup. Dia kemudian memutuskan kerja sambil kuliah. Merasa tabungannya semakin menipis, dia memutuskan pindah kontrakan. Dia pindah ke kontrakan di kawasan kumuh. Itu sebabnya ia selalu merahasiakan di mana dia tinggal. Sejak saat itu kuliahnya jadi keteteran. Dia sering gak kuliah karena harus bekerja atau karena harus menjaga ibunya yang sakit. Dan dua bulan yang lalu, ibunya meningal, bunuh diri. Nampaknya ibu Edo masih depresi atas kejadian-kejadian yang menimpa keluarganya. Terlebih lagi mendapati laki-laki yang sangat di cintainya selingkuh, dan menceraikannya kemudian menikah dengan selingkuhannya. Puncak kesabaran Edo terhenti sejak kepergian ibunya. Edo menjadi berubah sangat drastis. Sang ibu yang selama ini menjadi satu-satunya alasan untuk dia menyambung hidup, telah pergi. Setelah dua minggu dia mengurung diri sejak kematian ibunya, Edo pergi. Aku juga gak tahu dia ke mana. Sampai saat ini aku belum juga mendapat kabar dari Edo. Aku udah coba cari tahu sana sini, tapi hasilnya nihil” Jelas sepupu Edo, panjang lebar.

Pernyataan sepupu Edo membuatku semakin terjuntai lemah. Tak ada yang mampu menghalangiku untuk tidak menangis di sepanjang siang dan malam. Aku semakin merasa kosong. Edo yang selama ini mengisi kekosonganku, telah pergi entah kemana. Tangis memecah, tak dapat tertahan. Kenyataan ini telah melumpuhkanku, melumpuhkan hati dan pandangku. Aku semakin tak punya daya.

“Mel, jangan kayak gini terus dong! Udah seminggu kamu ngurung diri kayak gini. Aku kangen kamu yang kayak biasanya. Ini bukan kamu, Mel. Kamu jangan kayak gini dong Mel!” Bujuk Alya.
“Edo mana Al?” Desirku.
“Mel, Edo pasti kembali kok, percaya deh! Tuhan lagi menguji kesabaran kamu. Kalau kamu kayak gini, gimana kamu bisa ketemu Edo? Yang sabar ya sayang! Kalau memang jodoh, kalian pasti dipertemukan lagi kok. Please Mel kamu jangan kayak gini terus. Kamu sama aja nyiksa diri kamu sendiri. Orangtua kamu juga aku merasa tersiksa juga lihat kamu kayak gini terus” Alya berkata sambil memelukku erat.

Hari berganti hari, aku mencoba hadirkan semangat itu lagi. Ku coba tata kembali hidupku tanpa Edo. Hingga tahun berganti, Edo belum juga muncul. Sekalipun aku telah lama tak berjumpa dengan Edo, tapi wajah dan setiap geriknya tak pernah lepas dari pandanganku. Hingga tiga tahun berlalu, dan tiba saatnya aku resmi mendapat gelar S1, seharusnya Edo juga ada dan mendapatkan gelar S1 juga sepertiku dan mahasiswa lainnya. Tapi kehidupan terus berjalan. Tiga tahun kemudian, Alya dan Teo resmi menikah, dan hijrah ke Thailand. Teo mendapat tugas kerja di sana. Sebagai seorang istri, Alya pun harus mendampingi suami.

Melihat teman-temanku telah berkeluarga, kedua orangtuaku resah. Mereka mendesak aku untuk segera menikah. Suatu hari mereka memperkenalkanku dengan seorang pengusaha yang ayahnya ialah seorang Kyai terkemuka di Jawa. Dia bernama Fajar. Satu bulan kemudian, Fajar dan keluarganya datang ke rumah untuk melamarku. Aku dan keluargaku menerima lamaran mereka. Satu bulan berikutnya, kami resmi menjadi pasangan suami istri. Fajar sangat menyayangiku, tutur katanya sangat lembut. Dia benar-benar soleh. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan yang telah mengirimkan jodoh sebaik dan sesoleh Fajar. Tapi aku masih belum bisa lepas dari bayang-bayang Edo. Tuhan, jangan biarkan aku mendustai suamiku, jodoh yang telah kau kirimkan untuk ku. Anugerahilah aku rasa sayang, cinta, dan kasih yang tulus untuknya Tuhan! Jangan biarkan dia terluka karena bayang-bayang masa lalu ku.

“Dik” Itulah panggilan sayang Fajar untuk ku.
“Iya Mas?” Dan dengan panggilan itulah aku menghormati suamiku.
“Besok rencananya Mas mau ke luar kota, ada meeting di sana untuk beberapa hari. Berkenankah Adik ikut?” Ujarnya, lembut.
“Tentu saja Mas. Insya Allah, aku ikut” Jawabku.
“Alkhamdulillah. Makasih ya Dik” Balasnya, sementara aku membalas dengan senyuman.

Di pagi yang begitu sejuk, kami telah bersiap berangkat ke Surabaya. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa sunyi. Fajar begitu konsentrasi memacu mobilnya. Sedangkan aku lebih memilih diam, karena tidak ingin memecah konsentrasinya. Tiba-tiba dari kejauhan aku melihat seorang pria berdiri di trotoar, tepat di samping tempat sampah. Ia berpakaian compang camping, pandangannya kosong, sesekali ia tersenyum, entah kepada siapa ia tersenyum. Tempat sampah di sampingnya, bahkan ia ajak berbicara. Mataku terus tertuju pada laki-laki yang bergangguan jiwa itu. Sepertinya aku mengenalinya. Dan terang saja, semakin dekat demakin jelas ku lihat wajahnya.
“Edo?” Ucapku pelan.
“Kenapa Dik?” Tanya Fajar, heran.
“Stop Mas! Stop! Kita minggir sebentar, itu, itu, di situ!” Aku meminta Fajar menghentikan mobilnya.

Mobil pun berhenti, tapi aku tak beranjak dari dalamnya. Aku membuka kaca jendela. Dan seketika itu juga air mataku menetes lagi untuk Edo.
“Dik, kenapa menangis?” Tanya Fajar, semakin heran.
“Edo” Jawabku, lirih.
“Siapa Edo?”
“Laki-laki itu” AKu menunjuk ke arah Edo.
“Astahfirullahaladzim, Adik mengenalinya?”
“Iya Mas”.

Aku pun kemudian menceritakan panjang lebar tentang Edo kepada Fajar. Juga termasuk tentang perasaanku terhadap Edo dari dulu sampai sekarang.
“Begitula Mas, maafin aku Mas!”
“Loh, kenapa minta maaf Dik?”
“Maafin aku, karena sampai saat ini pun aku masih dibayang-bayangi Edo. Selain karena rasa sayang ini, juga karena aku ngerasa bersalah sama Edo. Aku gak mau hianatin kamu, Mas”.
“Saya mengerti Dik, justru saya berterimakasih karena Adik sudah jujur. Yang lalu biarlah berlalu. Jadikan kisah Edo pelajaran bagi kita yang masih dikaruniai akal yang sehat. Dan tentang perasaan Adik kepada Edo biarlah menjadi kenangan manis. Adik harus bisa membuka lembaran baru. Saya mencintai dan menyayangi Adik, tulus” Ucapnya, tenang dan menenangkan.
“Aku juga mencintaimu, Mas. Makasih ya”.
Kemudian Fajar memelukku. Ia mencoba menenangkanku yang masih terisak dalam tangis. Sementara di seberang sana tampak petugas RSJ mengejar-ngejar Edo yang mencoba kabur. Selang beberapa detik, tubuh Edo terpental diterjang BMW yang sedang melaju kencang. Aku langsung tersentak, dan teriak.
“Edo..!!!” Sambil ke luar dari mobil dan berlari ke arah Edo. Fajar pun ikut bergegas mendekati Edo. Tubuhku seketika lunglai melihat Edo terkapar tak bernyawa dengan berlumuran darah. Fajar begitu kuat menopang tubuhku.
“Inalillahiwainailaihiraji’un…” Ucap Fajar. Sementara aku tak henti-hentinya menangis.
“Edo…” Lirihku.
“Ikhlaskan kepergiannya, Dik!”

“Mas, aku boleh minta satu hal?”
“Insya Allah, apa itu Dik?”
“Kita urus jenazahnya ya, kita urus pemakamannya. Hanya itu yang bisa aku lakukan buat nebus rasa bersalah aku, Mas. Kasihan Edo, dia udah gak punya siap-siapa lagi. Ayahnya entah di mana. Nanti biar aku menghubungi sepupunya yang di Jakarta”.
“Tentu saja Dik’.

Aku dan Fajar memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Kami segera mengurus jenazah dan pemakaman Edo. Pada sore harinya, Edo dikebumikan di samping mendiang ibunya di TPU Bekasi, Jawa Barat. Keluara Edo yang hadir di pemakaman hanya sepupu dan tantenya.

Ketika satu bunga telah layu
maka akan tumbuh bunga-bunga baru
Aku tak pernah menyesali adanya ufuk barat
yang menenggelamkan Matahari
Karena selama bumi ini masih berputar
kan ada ufuk timur yang akan menerbitkannya kembali
Tak ada yang ku takuti lagi, dan tak akan ku lihat gelap kembali
kini telah hadir Fajar yang akan selalu bersinar
yang tak akan membiarkanku berada dalam gelap dan kegelisahan
Dan tiba saatnya kini ku bawa hatiku ke dalam damai
bersama Fajar sejati, dan bunga yang akan selalu tersemai

Selamat jalan Edo. Akan kubingkai perasaan ini. Kau yang telah tenang, akan selalu ku kenang. Kini izinkanlah aku menggapai sang Fajar, agar aku tak lagi berada dalam gelap dan kesepian.

The End
– Thanks to all –

Cerpen Karangan: Rita Lestari
Facebook: Rita Lestari
Cirebon – Jawa Barat

Cerpen Ku Bawa Hatiku Ke Dalam Damai (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gadis Keturunan Karaeng

Oleh:
Lagi-lagi Faisal akan dijodohkan dengan anak pengusaha terkenal dari Makassar. Dini, seorang pengarang buku yang cukup ternama dan memiliki garis keturunan karaeng. Hubungan keluarga Faisal dengan keluarga itu cukup

Penantianku Yang Tak Berujung

Oleh:
“cinta itu sabar, seperti pelangi yang menunggu hujan reda” Hari itu kulihat senja di bawah pohon tempat dimana aku meluangkan segala kepedihanku dengan pena dan buku kecilku. “mega yang

Cinta Pertama Rangga

Oleh:
Melamun sambil menatap Hp. Itu merupakan kegiatan baruku akhir-akhir ini. Nando dan Evan, kedua temanku itu sampai bosan menegurku. Tapi memang beginilah sekarang. Seseorang yang baru beberapa minggu aku

Cinta Yang Tak Bisa Bersatu

Oleh:
Zaki. Cowok ini begitu populer di sekolahku, meskipun dia begitu cuek, tapi dia mempunyai karisma yang disenangi oleh para wanita, tak terkecuali aku. Aku adalah siswa baru di sekolah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Ku Bawa Hatiku Ke Dalam Damai (Part 2)”

  1. Nyoenyun says:

    Like the stories (y)
    ceritanya gk galau teruus,..

  2. robihat says:

    I Like Story…
    sungguh mengharukan cerita’a

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *