LDR

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 12 September 2013

Jenny, seorang cewek SMA yang berambut panjang dan berhidung mancung itu kerap disapa Jen oleh teman-teman sebayanya. Jen masuk sekolah SMA dengan tujuan mencari ilmu dan mencari pengganti Jono, pacar terakhirnya. Gemericik air hujan membasahi sepatunya yang sebelumnya telah dilap bersih untuk pergi ke sekolah, namun lumpur basah yang sebelumnya telah menyelimuti sepatu Jen membuatnya terlambat pergi ke sekolah. Alhasil, terlambat lagi.

Dengan penuh percaya diri, aku memasuki ruangan kelas setelah sebelumnya aku telah menandatangani surat perjanjian dengan sekolah bahwa aku telah terlambat melebihi 10 kali. Ketika aku memasuki ruangan kelas dengan wajah yang murung. aku duduk di bangku yang sebelumnya tidak ada yang menempati. Ketika bu guru sedang menerangkan, datang sesosok pria yang mengaku anak baru dan pindahan dari luar kota. Pria itu pun langsung mengambil langkah seribu untuk menuju tempat duduk di sampingku yang kebetulan kosong. Ternyata pria itu adalah pria yang cepat akrab dengan siapapun, pria itu bernama Celvin. Celvin bercerita kepadaku mengenai alasannya pindah sekolah ke sekolah ini, selain itu pula ia bercerita menganai rumah yang ia tempatkan sekarang, yang kebetulan jaraknya tidak begitu jauh dari rumahku. Di sekolah, Celvin sangat dekat denganku sehingga terdengar gossip beredar bahwa aku memiliki sebuah hubungan spesial dengan dia.

Hari demi hari ku lalui, nampaknya senyuman Celvin yang mengisi di setiap hariku membuatku bersemangat untuk pergi ke sekolah, surat keterangan terlambat kini sudah menjadi musuh bebuyutanku yang telah ku lawan habis setiap hari. Begitu pula dengan Celvin, senyuman yang terpancarkan menandakan bahwa ia senang bersahabat denganku. Suatu ketika Celvin sedang menungguku untuk pergi ke perpustakaan bersama, namun karena ulahku yang tidak tepat waktu, ia pergi bersama dengan Siska untuk membaca buku bersama. Aku sangat menyesal sekali pada waktu itu, dan aku kesal bahwa Celvin telah menamukan sahabat barunya.

Pada keesokan harinya, aku tetap bersemangat untuk pergi ke sekolah, sungguh tak sabar rasanya untuk bertemu dengan Celvin, nampaknya aku telah bisa melupakan kejadian yang kemarin, dan aku tidak akan pernah mengulangi satu kesalahan yang sama. Namun, perasaan berubah menjadi kelabu dan pada saat aku melihat ke jendela ruangan kelasku yang becek karena terkena cipratan air hujan, aku melihat Celvin menggandeng tangan seorang gadis yang pergi bersamanya kemarin, tentu saja Siska. Dengan cepat aku duduk dan berusaha untuk menutupi perasaan kesalku pada Celvin. Ketika Celvin memasuki ruangan kelasku — tentu saja dengan tangan yang masih bergandengan dengan Siska — ia menyapaku dengan riang, “hai Jenny” lalu kubalas dengan senyuman. Kini aku sadar, rasanya aku tengah menyimpan rasa kepada Celvin, begitu cemburunya aku ketika aku melihat Celvin bersama dengan Siska. Tapi demi kabahagiaan Celvin, kan ku relakan apa pun yang aku miliki, termasuk aku akan mengorbankan perasaanku dan aku bisa terima jika mereka benar-benar memiliki hubungan spesial.

Setelah beberapa hari setelah itu, entah mengapa aku jarang melihat Celvin dengan Siska lagi. Perasaanku mulai bisa tenang dan aku mulai bisa bercerita lagi dengan Celvin, yang membuat perasaanku berbeda hari ini adalah pagi tadi Celvin mengajakku untuk makan malam bersama, namun ketika aku mananyakan sesuatu tentang hubungannya dengan Siska, ia tidak mau membuka mulut dan ia berkata bahwa ia menyesal telah menyia-nyiakanku demi seorang gadis bernama Siska kemarin.

Tepat pukul 19.00 WIB kami berada dalam suasana hening di sebuah restoran klasik di tengah kota, ditemani dengan 2 buah lilin yang menambah suasana hening. Perasaanku tak karuan ketika aku sedang dihadapkan dengan wajahnya yang tersenyum. Sudah ku duga Celvin menyatakan cintanya disini, pada malam ini. Dan kami resmi berpacaran pada malam ini, perasaanku sangat senang sekali ketika mengingat-ingat ia mengucapkan kata-kata cinta itu. Sungguh membuat hatiku melayang. Akhirnya aku merasakan apa yang telah Siska rasakan kemarin, aku merasa senang sekali bisa menjadi sosok wanita yang selalu ada untuk Celvin, Celvin adalah seseorang yang sangat romantis dan perhatian kepada pasangannya. Berat rasanya untuk meninggalkan tempat indah di malam yang syahdu ini.

Setelah satu tahun aku menjalin sebuah hubungan dengan Celvin, dan kini kami telah lulus SMA, aku mendapat pekerjaan disini dan Celvin melanjutkan studinya ke luar negeri karena perintah ayahnya yang tidak bisa dielak, dengan terpaksa kami harus menjalin hubungan dengan LDR (Long Distance Relationship) yakni hubungan jarak jauh, dimana kuncinya hanya satu yaitu kesetiaan. Kami percaya di antara kami telah terjangkit virus cinta sehingga mustahil rasanya jika satu sama lain tidak saling percaya. Setiap hari aku berbicara dengan dia melalui telepon genggam yang tentunya dengan tarif yang tidak murah.

Kabar baik pun datang, Celvin yang berencana tiga hari yang akan datang akan pulang ke Indonesia dan akan menemui aku, aku sangat rindu padanya rindu sekali dan tak sabar untuk bertemu dengannya. Celvin mengirimi pesan kepadaku ..

“jenny, aku akan memberimu sebuah kejutan, tunggu aku di bandara pada pukul 3 sore, jika kau tak datang maka kau akan menyesal seumur hidupmu, salam sayang Celvin”

Hatiku semakin berbunga ketika membaca kata “salam sayang” dari Celvin dan sangat tidak sabar untuk menemuinya nanti.

Tepat pukul 14.30 aku duduk di bandara ini sendiri, menanti-nanti seseorang yang telah kurindukan, sungguh aku sangat tidak sabar untuk bertemu dengannya. Waktu menunjukkan pukul 15.00 tetapi tak ada seseorang yang menghampiriku, aku mulai kecewa dengan Celvin. Di sampingku, duduk seorang wanita cantik yang mengenakan dress berwarna merah dengan tubuh yang seksi itu menyapaku “hai gadis cantik.. sedang apa kau disini”. Lalu aku menjawab dengan nada halus “aku sedang menunggu seseorang” tiba-tiba ia menatapku dengan tatapan yang misterius, dan aku sangat kenal wajahnya, wajah yang sangat tidak asing bagiku, dan wanita itu memelukku sambil berbisik “KEJUTAN!!”.

… lalu ia memelukku dengan erat sambil mengenakan pakaian dress merah itu, tak luput dari pandangan seorang satpam yang sedang berjaga-jaga di daerah bandara itu. Celvin segera mengganti pakaiannya dan segera pergi ke rumahnya dengan menggunakan mercy pemberian dari sang ayah, aku duduk di sampingnya lalu ia mengerutkan dahi dan berkata halus kepadaku “kau terlihat begitu lelah, Jenny kan kuantar kau pulang ya?” lalu aku mengangguk menandakan jawaban “ya”.

Pagi ini, aku berangkat kerja dengan semangat, karena akan ada seseorang yang berjanji ingin mengantarku ke tempat kerja. Dengan rapi aku menyisir rambutku lalu aku segera berangkat dengan mercy yang di kemudikan oleh sang pangeranku, tentu saja Celvin.
Namun, di tengah kebahagiaanku Celvin memberiku kabar bahwa akan ada pelajaran tambahan di universitasnya, dan ia memutuskan untuk kembali kesana di saaat aku bekerja, tak sempat bepamitan denganku, ia terbang dengan wajah yang masih menyimpan rasa rindu padaku. Aku pun begitu, untuk menghilangkan rasa rinduku padanya aku selalu mengingat perjanjian yang pernah kami buat dikala masa-masa SMA, di saat kami kerinduan, Mengupillah.

Malam ini aku gelisah, Celvin tidak mengabariku. Keluarganya pun turut membantu menyiksa keadaaanku ini. Sudah satu minggu Celvin tidak bisa dihubungi, sepertinya ia memiliki nomor baru, atau mungkin pacar baru? Ahh untuk apa aku berburuk sangka, sesungguhnya berburuk sangka adalah kebohonga yang paling besar.

Hari ini hari Minggu, dimana waktunya aku untuk bersantai dan bersenda-gurau dengan keluarga besarku, namun Minggu ini tak seindah minggu-minggu belakangan, yap benar sekali, Celvin tak lagi di sisiku. Terdengar seseorang mengetuk pintu dengan ketukan yang tidak berirama, aku kira itu adalah Celvin yang datang secara buru-buru untuk menemuiku.
Namun.. ternyata bukan Celvin yang berada di balik pintu reyot itu, melainkan seorang tukang pos yang sedang menggenggam sepucuk surat, lalu kubuka perlahan isi surat itu.

“Jenny.. maafkan aku, ini bukan salahku dan bukan salahmu, kedua orangtuaku tidak merestui hubungan kita, sungguh berat hati aku mengucapkannya, tapi terimalah kenyataan ini, aku dijodohkan dengan seorang gadis yang sebelumnya belum pernah aku kenal, dia kawan ayahku, dan kami akan segera melakukan pertunangan yang akan kami selenggarakan di Australia, jika kau tidak keberatan.. kau datang kesini, temui aku untuk yang terakhir kalinya”

… tanpa sengaja, air mata ini menetes dengan suksesnya. Aku teridam sambil meremaskan sepucuk surat itu, kakiku bergetar membacanya, tak terkendali. Namun semua ini kan kucoba untuk kulupakan semua, masa-masa indah bersamanya kini sirna sudah. Tak ada guna ku bersedih, untuk apa?… namun, perasaanku tak bisa dibohongi, AKU TERLANJUR SAYANG PADANYA!.

Malam ini, hujan gerimis kini membanjiri ruko tempatku bekerja, hujan yang semakin lama semakin deras ini membuat waktuku sedikit tersita untuk pulang ke rumah. Aku duduk di halte bus sendirian, waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB. Jika malam hujan ini, biasanya aku pulang bersama Celvin dengan Mercynya, ahh.. tidak penting mengingatnya.

Krik..krikk.. malam semakin sunyi, dan hujan tak henti-hentinya turun, seketika aku merasa hangat lalu aku tesenyum, ternyata seorang pria yang dulu menjadi pangeranku kini memakaikanku sweater, ya Joko, sang mantan.
“um.. makasih Joko, ngga perlu..” lalu ia tersenyum lebar. Joko adalah salah satu mantan terindahku, aku dan dia berpacaran telah lama sejak itu, hampir 2 tahun. Namun, hubungan kami selesai ketika itu karena dia ternyata telah berpaling pada wanita lain, sahabatku sendiri, bernama Tiara. Beberapa kali Joko mengemis cinta dan meminta maaf padaku, lalu kuabaikan. Mulanya, aku melamar kerja di tempat yang agak jauh dari tempat tinggal Joko, namun apa daya, Joko mengejarku sampai disini, sampai sekarang, dan disini, di tempat kerja.
“jangan pura-pura deh, Jen. Gue tau lo kedinginan disini” dengan gaya yang sok coolnya namun sikap inilah yang membuatku – dan cewek-cewek lainnya — illfeel kepada dia. “ga usah, Joko, makasih.. lagian bentar lagi juga reda ko” balasku. “hmm.. begitu yah, tapi biasanya hujan seperti ini, lama beresnya Jen, yoo kuantar kau pulang ke rumah, anak cewek ga baik lho malam-malam di halte sendirian!” ia berusaha membujukku. Aku menatap wajahnya yang basah kuyup dengan tampang melas dan masih meminta-minta padaku, tepat di sampingnya motor hijau kesayangan diparkirkan disana, seolah setia menunggu dan meminta-minta untuk aku mendudukinya.
“baiklah..” balasku dengan nada halus. Lalu ia memakaikanku sweaternya yang dulu pernah kupakai ketika kami berjalan-jalan mengelilingi kota ini di malam hari, ahh lagi-lagi aku mengingatnya, sungguh tidak penting dan membuang waktu.

Dengan gesit Joko mengemudikan motornya mirip dengan pembalap motor yang sedang berlomba di sirkuit. Setelah jalan pertigaan ini, belok kanan tepatnya Blok Mawar adalah rumah yang kami tuju, ini rumahku. Aku turun dari motor besarnya itu “makasih Joko..” belum sempat aku berkomat-kamit berkomentar tentang kecepatan yang ia laju selama aku duduk di motornya, ia membelah ucapanku “udah, masuk gih.. buru-buru ganti baju, nanti masuk angin lagi.. aku pulang dulu ya, oh iya tolong sampaikan aku salam pada Celvin”. Aku mengangguk sambil tersenyum lebar dan melihat ia memutarbalik motor hijaunya yang sudah hampir lenyap ditelan gelapnya malam.

Cerpen Karangan: Elfina Astin
Facebook: Elfina Astin

Cerpen LDR merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cemburu Mendekat

Oleh:
Apa pantas aku cemburu kepada bayanganmu hanya karena dia selalu lebih dekat denganmu saat engkau sedang bersamaku. Sudah mulai cemburu itu datang dan rasa sayang yang sudah mulai mengental

Dia

Oleh:
Aku masih mematung di sini bagaikan sebuah batu yang tak bernyawa. Semua rasa itu seakan mati tanpa tahu apakah akan bisa hidup kembali. Yaaa.. itulah perasaanku saat ini tanpa

1 Bunga Yang Layu (Part 3)

Oleh:
“Sudahlah kawan, ini hanya sebagian cobaan yang masih belum seberapa,” kata Said menenangkanku seraya memegang kedua pundakku. Aku lepas tangannya tersebut dengan perasaan yang tidak bisa ku terima, “Kau

Aku Terlalu Berharap Padamu

Oleh:
Entah harus mulai dari mana aku menceritakannya, ketika memulai membuka hati dengan orang yang menurutku pantas dan menarik untuk menjadi pengisi hatiku itu. Berbagai cara ku mencoba untuk memberikan

Hey, Apa Kabar Kamu

Oleh:
Hari ini waktu begitu panjang. Aku masih saja tetap terjaga dengan jari menciptakan bunyi-bunyian ketikan di atas papan laptop. Teringat lagi kisah yang masih tersisip lama di otakku. Sebuah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *