Like We Used To

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 14 February 2016

Aku memergokinya sedang melihat ke arahku saat kita sama-sama sedang menunggu hujan reda di Loby gedung fakultasku. Ketika aku membalas tatapannya, dalam beberapa detik matanya tetap tertuju padaku, mata yang terlihat sayu seperti sedang memohon. Aku pun berusaha sebisa mungkin untuk menyapanya dengan senyum. Belum sempat ku tarik ujung bibirku ke samping, ia justru membuang muka dan berjalan menerobos hujan.

Akhir-akhir ini hariku berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Aku memulai pagiku dengan bangun tepat waktu dan sampai ke kampus beberapa menit lebih awal karena aku tidak perlu lagi menjemputnya. Setelah usai perkuliahan, aku menghabiskan waktu dengan teman-temanku bahkan aku bisa bebas mer*kok tanpa takut ada yang melihat. Aku sempat melihatnya melintas di depan perpustakaan dengan membawa sesuatu yang nampaknya tumpukan laporan praktikum. Ia nampak berjalan terburu-buru sambil menelepon seseorang. Namun aku tak peduli, karena hari ini untuk pertama kalinya, aku dapat fokus mengikuti rapat koordinasi BEM fakultasku tanpa harus membagi waktu dengan mengecek handphone.

Dan di sisa hariku, aku masih bisa menyempatkan diri untuk bersenang-senang bersama teman-temanku dengan menonton film dan minum di kedai kopi. Tawaku tak kunjung reda saat salah seorang temanku melontarkan guyonan tentang salah seorang dosen killer kami. Ia bahkan dengan konyolnya mempraktekkan bagaimana cara dosen tersebut memakai kacamata. Aku menertawakannya hingga mataku berair. Walaupun dengan mata berair dan mulut terbuka karena tertawa, aku masih bisa meyakini bahwa meja di sudut kedai kopi ini diisi oleh laki-laki dan perempuan yang ku kenal.

Dalam beberapa detik, hatiku dilema. Apakah aku harus berhenti tertawa dan fokus melihat apa yang ada di depanku? Atau aku harus terus tertawa untuk melupakan apa yang baru saja ku lihat? Namun akhirnya, aku memilih untuk tidak melakukan keduanya. “Guys, gue balik dulu ya.” Kataku sambil memasukkan handphone dan powerbank ke dalam tas. “buru pulang lo. Jangan gosipin itu dosen mulu.” kataku sambil menjitak kepala salah seorang temanku sambil tertawa dan kemudian berjalan ringan ke luar dari kedai kopi.

Kali ini aku menunggu hujan reda sendirian. Aku terduduk di depan loby fakultasku sambil mendengarkan musik melalui earphone. Saat sedang mengatur agendaku untuk satu minggu ke depan, tiba-tiba aku mendengar suara yang tidak asing dari earphone-ku. Lantunan lagu Hoobastank yang berjudul The Reason.

“That i just want you to know
I’ve found a reason for me
To change who i used to be
A reason to start over new”

Aku sangat menggemari lagu ini. Maka saat lagu ini memasuki refrainnya, aku menghentikan aktivitas menyusun agendaku, kemudian ikut menyanyikan lagu ini sambil melihat hujan turun. Dulu dia yang memintaku mendengarkan lagu ini. Dan dia kini sedang berjalan di tengah hujan. Entahlah, dia sangat benci hujan. Namun sekarang, dengan santai dan senyum mengembang ia berjalan menyeberangi tempat parkir menuju ke arah tempat parkir mobil. Di mana di sana ada seseorang yang sedang tergesa-gesa membukakan pintu mobil untuknya. Kemudian dia dengan rambut setengah basah masuk ke dalam mobil itu bersama dengan pemilik mobil itu dan melaju meninggalkan tempat parkir.

“And the reason is you…”

Hubunganku dengannya berakhir tepat setelah kami menonton film Divergent bersama. Saat itu kami baru saja baikan setelah sedikit bersitegang karena aku lupa memberitahunya bahwa aku harus mengikuti rapat BEM dan membiarkannya menunggu hujan sendirian di loby. Saat itu ia terlihat sangat senang, ia bahkan menggandeng tanganku dan mengayun-ayunkannya. Dia berjanji akan mengajakku melihat lanjutan dari Trilogi Divergent yang berjudul Insurgent.

Namun lagi-lagi kami bersitegang karena setelah mengantarnya pulang, aku sibuk bermain game online sampai lupa mengabarinya. Biasanya aku selalu mendapat maaf ketika aku lupa memberikan kabar padanya. Kalaupun harus terlebih dahulu break atau dia harus marah sedahsyat yang ia bisa sampai mengancam putus, ia tetap memaafkanku. Namun saat itu berbeda. Ia meminta putus, kemudian ia mengakhiri hubungan kami. Benar-benar mengakhiri. Aku mengiyakannya. Dan aku merasa baik-baik saja saat itu.

Lamunanku tentangnya sudah berjalan sejak semalam. Atau bahkan sejak aku melihatnya di kedai kopi. Entahlah. Perasaan aneh ini datang dan pergi semenjak kejadian itu. Perasaaan aneh yang datang ketika aku pergi ke kampus tanpa harus mampir ke rumahnya untuk menjemputnya. Perasaan aneh ketika aku memegang r*kok di kantin dan tidak ada dia yang mengguyur r*kokku dengan es tehnya. Perasaan aneh yang datang ketika aku lelah bermain game online kemudian mengecek handphone dan tidak ada seseorang yang mengirimiku pesan dengan huruf capslock diakhiri tanda seru. Semua perasaan aneh yang selalu ku tolak setiap kali ia datang. Karena lelah memikirkannya dan mungkin merindukannya, aku pergi menonton film sendirian. Film yang sangat ia tunggu, Insurgent.

Apakah dia melihat film ini bersamamu? Apakah dia mau mendengarkan celotehmu tentang ketertarikanmu pada karakter Tris? Apakah dia cemburu karena kamu selalu memuja-muja tatto dan tubuh macho Four? Apakah dia mau menggenggam tanganmu saat kamu ketakutan melihat adegan tembak-menembak? Apakah dia memesankanmu Caffe latte ketika kalian pergi minum kopi? Apakah dia tetap tertawa walau candaanmu sama sekali tidak lucu? Apakah dia menemanimu menunggu hujan reda? Apakah dia melakukannya dengan baik? Dia pasti melakukannya lebih baik dariku. Karena dia tidak menemanimu menunggu hujan reda. Namun dia mengajarimu bagaimana menerobos hujan.

Bahagiakah kamu sekarang?

Cerpen Karangan: Dea F Sukmaylena
Blog: http://d-pixiedust.blogspot.co.id

Cerpen Like We Used To merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sakitnya Melupakan

Oleh:
Berawal dari kita satu kelas di SMA, yang biasa cuman menganggap kamu sebatas teman sampai akhirnya aku jatuh cinta padamu. Beribu upaya kulakukan demi mendapatkan hatimu hingga sampai akhirnya

Bad Anniversary

Oleh:
Malam ini hujan tak henti-hentinya membasahi atap rumahku. aku yang termenung menatap hujan di balik jendela kamarku dan tak sadar bulir-bulir air mata jatuh di pipiku. Drrrtt drrrrtttt… Well

Bayangmu Rindu Dalam Malamku

Oleh:
Pancaran sinar sang rembulan mengenai wajahku dari jendela yang sedikit terbuka. Kerutan keningku memaksaku untuk bangun dari tempat tidur. Ku lihat jam telah menunjukkan pukul 23.48 malam. Mataku sudah

My First and Last Love

Oleh:
Selama 15 tahun hidupku ini, aku hanya pernah sekali jatuh cinta, sekali mencintai, sekali punya pacar, hanya satu kali, benar-benar hanya satu kali dan itu pun pada satu orang

Berharap

Oleh:
Namaku Rahayu, aku adalah orang yang selalu merasakan sakitnya berharap. aku mempunyai pengalaman yang bisa akujadikan pelajaran yaitu berharap kepada seseorang. Dulu aku pernah menyukai seseorang namanya Alfian, aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Like We Used To”

  1. rana dakka says:

    Cerpennya baguuussss … Aku suka ..

  2. Igant says:

    Sweeeeeeet 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *