Love Really Hurts (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 11 January 2014

Aku terperangah begitu melihatnya. Melihat sosok tubuhnya di belakang calon suami Mama, Papa baruku. Yeah malam ini, Mama dan Om Ardi berencana makan malam di rumah. Sudah lama aku mengenal Om Ardi sebagai pacar Mama. Mereka sudah menjalin hubungan sejak beberapa bulan yang lalu. Dan mereka berniat meresmikan hubungan mereka ke jenjang pernikahan bulan depan.

Dan malam ini, Om Ardi berniat mengenalkan anak laki-lakinya pada Mama dan aku. Tidak sepenuhnya betul, karena sebelumnya Mama sudah lebih dulu mengenal anak Om Ardi. Sementara aku baru kali ini melihatnya, dikarenakan aku berada di Aussie tiga tahun terakhir ini.

Dan pertemuan yang mengejutkanku, sangat mengejutkanku. Memaksaku kembali menuju ke masa lalu. Masa lalu yang ingin kulupakan, kini muncul tiba-tiba di depanku. Bahkan kali ini lebih menyakitkan dengan membawa lukanya.

“Sayang, kenalin ini Fallendra, kau bisa memanggilnya Fallen.” Ujar Mama sambil menunjuk ke arah anak Om Ardi itu. “Fallen, ini Mikhayla, anak tante. Kau bisa memanggilnya Mikha.” Ujar Mama kedua kalinya yang tambah membuatku terluka.

“Oh ya, nanti kalian akan jadi kakak-adik. Jadi bersikaplah akur.” Ucap Om Ardi.

Sementara aku tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa mengulurkan tanganku dengan gemetar. Tapi sekuat mungkin kusembunyikan perasaan kaget itu dari Mama dan Om Ardi, terlebih lagi dari anak Om Ardi, abang baruku, Fallen.

Aku baru saja bangun dari tidurku saat kudengar suara ribut di bawah. Sudah seminggu Mama dan Papa Ardi menikah. Sekarang aku sudah memanggilnya Papa bukan Om lagi. Dengan malas kuregangkan tubuhku dan beranjak dari tempat tidur menuju dapur. Di meja makan, kulihat keakraban Mama, Papa Ardi dan Fallen yang tengah tersenyum bahagia. Aku senang melihatnya, karena Mama begitu bahagia. Baru kali ini kulihat senyum bahagia itu merekah di bibir merah marun Mama.

Kuakui, dulu aku jarang melihat senyum itu ketika Mama masih bersama Papa kandungku. Mama tak sepenuhnya mencintai Papa, karena mereka menikah bukan atas dasar cinta, melainkan karena dijodohkan.

Terkadang aku merasa seperti batu sandungan bagi keduanya. Dimana pihak Mama, aku akan seperti beban untuk bercerai dari Papa, walau pada akhirnya Mama meminta cerai pada Papa dan membawaku pergi. Sedangkan di pihak Papa, aku merasa seperti karunia, yang bagi Papa, aku adalah alasan untuk mengekang Mama dan melarang pergi dari sisi Papa. Dan pada akhirnya pula, Papa membiarkan Mama berpisah darinya dan membawaku pergi, walau tetap tak merelakan hal itu.

Lima tahun aku ikut Mama, merasakan bagaimana kehidupan keras yang dijalaninya. Mencari pekerjaan untuk menghidupi dirinya dan juga aku. Itu tak mudah, karena status Mama yang sudah menikah dan punya anak, membuatnya kesulitan mencari pekerjaan. Tapi itu tak menyurutkan semangatnya. Sampai pada akhirnya ada sebuah perusahaan yang dipimpin Papa Ardi yang mau memperkerjakannya. Dan betapa beruntungnya Mama ketika pemimpin perusahaan itu meminta Mama untuk menjadi kekasihnya. Terlebih Papa Ardi adalah seorang pria yang selama ini Mama idamkan.

Kekayaan bukan berarti pilihan bagi Mama untuk mau menikah dengan Papa Ardi. Karena Papa kandungku pun adalah seorang yang kaya, bahkan kekayaannya melebihi Papa Ardi. Cinta, yang dibutuhkan Mama. Seperti anak remaja yang baru mengenal cinta, seperti itulah saat Mama mengenal Papa Ardi. Ia seperti kembali ke masa mudanya yang tersita oleh perjodohan orangtuanya. Ia akan senyum-senyum sendiri ketika Papa Ardi menelepon atau sehabis pergi bersama.

Aku senang melihat kebahagiaan Mama sekarang. Walau hatiku harus terluka. Melihat sosok pria muda di antara mereka berdua. Sosok pria 23 tahunan yang banyak menyita hati dan perasaanku, kini berdiri santai di antara Mama dan Papa Ardi dengan senyum mengembang di sudut bibirnya. Diam-diam aku masih berharap bahwa ini adalah mimpi.

“Oh, pagi sayang.” Sapa Mama yang membuyarkanku dari lamunan. Aku tersenyum balik membalas Mama.

“Pagi Ma, pagi Pa… pagi Fallen.” Ucapku yang diakhiri dengan kegagapanku. Karena bingung harus memanggilnya apa.

“Sayang, kau harus terbiasa memanggilnya kakak mulai hari ini. Kalian kan sudah jadi kakak-adik.” Protes Mama padaku. Aku hanya tersenyum menanggapi protes mama dan ikut bergabung dengan mereka untuk sarapan.

Pagi ini aku mulai berkerja di sebuah perusahaan telekomunikasi setelah tiga hari yang lalu dipanggil untuk menjadi salah satu pegawai di perusahaan tersebut. Aku tak berbangga hati dengan nilai dan tempat kelulusanku, yakni dengan nilai A dari salah satu Universitas terkenal di Aussie membuatku dicari perusahaan ternama dan terkenal di Indonesia. Aku senang dengan keputusanku dulu untuk mengambil kuliah di luar negeri, bukan karena aku tak cinta kampus-kampus tanah air. Tapi ada sebuah alasan di balik kepergianku ke Aussie. Alasan yang cukup kuat membuatku pergi.

“Pagi-pagi sudah melamun. Nanti ayam tetangga pada mati lho.”

Aku terperangah mendengar suara renyah itu. Aku berbalik menatap pemilik suara itu. Dan kulihat Fallendra tengah berdiri bersandar di sebuah pohon di pinggir jalan. Senyumnya mengembang di bibirnya, mampu menggetarkan hatiku.

“Sedang apa kau di situ?” tanyaku mengusir rasa aneh itu.

“Bukankah seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kau disini?” tanyanya balik. Ia selalu bersikap seperti itu. Acuh dan selalu membuat orang lain jengkel.

“Bukankah aku yang bertanya duluan, kenapa kau malah balik bertanya?” tanyaku kesal.

Aku memandangnya dengan berpura-pura kesal dengan sikapnya. Lalu ia berjalan mendekatiku dan tersenyum. Kedua tangannya dimasukan ke dalam saku celana. Kebiasaannya sejak dulu. Dan itu salah satu tentang kebiasaannya yang membuatku tertarik.

“Kebetulan lagi suntuk di kantor. Maukah kau menemaniku jalan-jalan sebentar? Sekedar menghilangkan kesuntukanku.”

Jujur aku merasa melayang sekarang begitu mendengar perkataannya. Tapi…

“Apa kau sudah gila?!” jeritku dengan tampang yang kubuat marah. “Hari ini kan hari pertama aku masuk kerja. Nanti apa kata bosku? Lagipula apa untungnya aku menemanimu jalan-jalan?” Aku bersikap tak peduli dengan perasaan kesuntukannya.

“Tenang, aku sudah menelepon bosmu dan memintamu izin datang terlambat untuk menemaniku jalan-jalan.” Ucapnya tenang sambil melayangkan senyum jahilnya.

“Memangnya siapa kau bisa meminta izin pada bosku seenaknya? Apalagi aku baru masuk kerja.” Kataku masih cuek seperti semula.

“Bukankah kau berkerja di Fallendra Telecommunications dan kau tahu kalau aku ini adalah bosnya?”

Astaga! Aku lupa. Kalau ternyata Fallendra Ardi Wiratama adalah bos perusahaan tempatku berkerja. Bisa mati berdiri aku dibuat jengkel olehnya.

“Tapi kau harus bersikap profesional. Walaupun kau adalah bos perusahaan, kau tak boleh sembarang mengambil keputusan demi kepentingan dirimu sendiri. Nanti…”

Ia merangkul pundakku dan mengajakku berjalan. “Sudahlah jangan kau pikirkan. Hari ini adalah waktunya untukku.” Ucapnya yang tak kumengerti. “Oh ya, apa kau tahu, kalau kau sedang cerewet dan marah kau tambah cantik.”

Ya Tuhan! Apa yang harus kulakukan. Aku tak boleh memiliki perasaan seperti ini. Aku tak boleh menanggapi semua perlakuan dan perhatiannya sebagai rasa cinta. Aku tak boleh!

Jantungku hampir copot melompat karena mendengar kata-katanya dan sikapnya yang merangkul bahuku. Jujur aku merasa bahagia. Tapi aku tak boleh memiliki perasaan itu. Aku harus bersikap dewasa dan berpikir, bahwa sekarang aku adalah adiknya. Bukan seorang wanita yang dengan gampang mencintainya kapanpun aku mau. Andai waktu bisa kuputar kembali, aku takkan dalam posisi membingungkan seperti saat sekarang ini. Dan andai kubisa, aku ingin tak mencintainya, karena mencintainya benar-benar menyakitiku.

“Apa kau sudah punya pacar?” tanyanya yang membuatku hampir berteriak mendengar pertanyaannya.

Aku menolehnya. Menatapnya yang tengah menunduk membuka minuman soda berkaleng, kemudian di dekatkannya kaleng soda itu ke mulutnya dan diteguknya minuman segar di dalamnnya. Sekilas aku menatapnya kagum. Melihat betapa kharismatiknya yang terpancar cukup jelas dari sikapnya. Aura pria dewasa kini memenuhi dirinya. Berbeda sekali dengan tujuh tahun lalu, dimana dia yang masih sangat muda. Masih menyandang cowok remaja yang imut digandrungi banyak cewek, termasuk aku.

Ia menoleh padaku tiba-tiba. Tersipu aku dibuatnya, karena memergoki diriku yang tengah memandanginya.

“Kenapa kau tak menjawab pertanyaanku?” tanyanya. Untung ia tak menyadari sikapku yang nerveous di depannya. “Apa kau sedang bertengkar dengan pacarmu?”

“Heh?” jawabku bingung dan menatapnya. “Tidak. Aku tidak sedang bertengkar dengan pacarku.”

“Habis kau terlihat sedih dan murung, kukira kau sedang bertengkar dengan pacarmu.”

Aku tertawa dalam hati. Bagaimana mungkin aku bertengkar dengan pacarku. Punya pacar saja tidak, apalagi bisa bertengkar dengan pacarku. Aku tak pernah berpacaran dengan pria manapun. Karena di hatiku sudah ada satu pria yang selalu mengisinya. Yaitu kau! Kau yang dari pertama kali aku melihatmu langsung memasuki hatiku dengan paksa. Tanpa bisa kucegah kau masuk begitu saja. Bahkan sampai sekarang, hanya kau satu-satunya yang tetap berada di hatiku. Batinku meratap.

“Melamun lagi.” Serunya. “Kalau tak mau cerita ya sudah. Tapi jangan memasang tampang sedihmu di depanku. Aku tak suka.” Ketusnya sedikit kesal.

“Bukankah tadi kau memintaku menemanimu jalan-jalan? Kenapa sekarang kau jadi menginterogasiku seperti ini? Mencoba ikut campur urusan orang lain.” Kataku keras.

“Jangan marah dong.” Katanya melembut. “Aku cuma bercanda. Jangan diambil hati.” Ia kembali merayuku. “Habis bingung mau ngapain, ya sudah muncul keinginan untuk menjahilimu.” Terdengar tawa khasnya yang renyah. Dan lagi-lagi aku merasa terluka karenanya.

“Kalau mau bercanda, bukan aku orangnya…” kalimatku menggantung, ‘lagipula aku tak mau kau membuat perasaanku sebagai bahan candaanmu saja. Aku tak mau kau mempermainkan hatiku yang sudah terlanjur sakit untuk kembali kau permainkan.’ Aku membatin.

Kutinggalkan dia dengan perasaan jengkel. Tak peduli ia memanggilku dan mengejarku. Aku tetap berjalan pergi dan kembali ke kantor. Aku tak mau di jam kerjaku, aku membolos. Aku tak mau dicap sebagai pegawai yang malas. Dan hanya karena aku lulusan luar negeri membuatku bersikap semena-mena di perusahaan dengan membolos.

Sebelum aku kerja, aku tak mau semua karyawan di kantor tahu kalau aku dan si bos perusahaan adalah kakak-adik tiri, aku memberitahu Fallen untuk tidak mengatakannya pada siapapun. Sikapnya di kantor pun harus bersikap seperti aku adalah pegawainya tanpa tedeng bahwa aku ini adik tirinya. Dan bila aku melakukan kesalahan, ia pun harus menegur dan menghukumku dengan peraturan kantor, seperti pegawai lainnya.

Aku lebih memilih berada di kamarku dengan alasan aku sedikit pusing. Yeah malam ini, Fallen membawa kekasihnya ke rumah untuk diperkenalkannya pada Mama dan Papa Ardi. Mengetahui itu, Mama dan Papa terlihat sangat senang, itu berarti sebentar lagi mereka akan melihat Fallen menikah. Lain halnya denganku yang lebih memilih mengurung diri di kamar, dengan alasan sakit kepala karena pekerjaanku akhir-akhir ini benar-benar menyita tenagaku. Dan untungnya Mama dan Papa Ardi percaya dengan alasan yang kuajukan.

Aku berdiri di dekat jendela. Kusandarkan tubuhku di kusen jendela, sambil menikmati angin malam yang masuk dari jendela, yang sengaja kubuka. Aku menatap kosong pada langit yang tak berbintang malam ini. Tertutup awan kah bintang-bintang itu hingga tak menampakkan dirinya? Atau ikut merasakan kesedihanku saat ini?

Krek!

Aku menoleh ke arah pintu yang dibuka seseorang. Di sana kulihat tubuh jangkung Fallen yang menatapku. Sekilas aku lupa akan siapa dirinya dan diriku. Aku terlalu dalam menatapnya.

“Apa kau baik-baik saja? Kudengar dari Papa dan Mama kau sedang sakit?” tanyanya bernada cemas.

Aku gugup dengan pertanyaannya. Mengapa ia mau datang ke kamarku dan menanyakan keadaanku yang bukan siapa-siapanya. Sedangkan di ruang tamu, ada kekasihnya. Wanita yang ia cintai dan sebentar lagi akan menjadi istrinya.

“Ah tidak. Cuma sedikit pusing kok. Istirahat mungkin akan membuatku lebih baik.” Jawabku ragu, karena melihat tatapan matanya yang ragu. Ia menghampiriku di dekat jendela. Tangannya menutup jendela kamarku dan menutup tirai biru laut.

“Kalau sakit kenapa berdiri dekat jendela terbuka? Kau ingin tambah sakit?” tandasnya penuh perhatian.

Tapi hatiku merasa ini adalah hunjaman yang paling menyakitkan. Kenapa ia bersikap begitu baik dan perhatian padaku. Seolah memberi harapan untukku terus mencintainya. Padahal aku tahu itu tak boleh, karena sekarang kami adalah keluarga.

“Ah ya. Aku bosan tiduran terus. Jadi aku ingin melihat bintang malam ini. Tapi ternyata tak ada yang muncul satu pun.” Elakku dan menjauh dari Fallen. Aku berpura-pura membereskan meja riasku yang sebenarnya sudah rapi. Aku tak ingin jantungku semakin cepat memompa darahku saat berdekatan dengannya. Aku tak ingin ia mendengar suara degup jantungku yang begitu keras hingga membuatnya bertanya-tanya.

“Katakan saja apa yang sudah membuatmu resah. Belakangan ini kuperhatikan kau begitu murung dan tak bersemangat. Aku tak yakin pekerjaan yang sudah membuatmu jadi begini, karena aku tahu kau menyukai pekerjaanmu?” tanyanya yang kutanggapi dengan kekesalan.

Kenapa ia harus menanyaiku dengan rentetan pertanyaan yang tak bisa kujawab dengan mudahnya. Kenapa ia harus bersikap seperti ini kepadaku? Sungguh aku tak bisa bersikap lagi di depannya. Aku sudah tak punya kekuatan untuk terus bersikap aku baik-baik saja.

“Ah tidak. Aku baik-baik saja.” Elakku lagi yang aku sesali. “Bukankah kekasihmu sedang menunggumu di bawah? Pergilah. Temui kekasihmu. Nanti ia marah, karena terlalu lama menunggumu.” Usirku halus. Berharap ia mau pergi meninggalkan kamarku tanpa ada pertanyaan-pertanyaan lainnya yang keluar dari mulutnya.

“Baiklah. Aku akan turun.” Ia berjalan menuju pintu dengan wajah datar. Sebelum menutup pintu, ia berhenti dan menoleh padaku, “Besok kau bisa luangkan waktumu? Aku ingin bicara denganmu.” Tanpa menunggu jawabanku, ia langsung menutup pintu dan pergi ke ruang tamu, menemui Mama, Papa dan tentunya kekasihnya.

Sepeninggalnya Fallen, aku mulai menitikkan air mata. Kubekap mulutku agar tak terdengar suara isakanku. Tapi aku terlalu kalut dan sedih, hingga tak bisa kusembunyikan tangisku. Tapi aku beruntung, karena Mama-Papa dan Fallen tak mendengarnya. Malam ini aku ingin menangis sampai perasaanku lega. Sampai tak tersisa rasa sakit itu di hatiku.

To Be Coontinued…

Cerpen Karangan: Mia
Facebook: www.facebook.com/der.laven3

Cerpen Love Really Hurts (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hening

Oleh:
Mobil Avanza melaju menyerobot derasnya hujan bahkan aku hampir tidak bisa melihat jalan dengan jelas. Irwan mencoba mengelapnya untuk mengurangi embun yang menempel di kaca depan. Lampu temaran mobil

Where Love Sleeps

Oleh:
Ini adalah kisah cinta antara manusia dan robot, antara Eiry dan Rachel. Eiry adalah pemuda yang tak punya waktu banyak untuk hidup di dunia ini sedang Rachel adalah robot

Bye My Star

Oleh:
“Bagaimana bintang bisa bersinar bila matahari nggak memancarkan sinarnya?” ucapan itu selalu terngiang-ngiang dalam otakku. Terus berlari dan berputar di otakku. Satu tahun lamanya aku tidak mendengar ucapan itu

Lelaki dan Pohon Cemara

Oleh:
Di bahu jalan terdapat sebatang pohon cemara yang tumbuh rindang. Sudah dua puluh tahun pohon itu menemani Jalan Harapan. Di bawahnya terdapat beberapa bangku yang terbuat dari kayu. Walaupun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *